
Azila duduk termenung di ruangan kerja Arsen, sedangkan Arsen sibuk mengerjakan pekerjaannya dengan sesekali bertelepon. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, Arsen meregangkan kedua tangannya karena merasakan kaku.
Tatapannya melihat ke arah Azila dengan heran, Arsen berjalan mendekati Azila lalu duduk di sampingnya, "Kenapa melamun, hm?"
Azila tetap diam tak bergerak, dahinya mengerut dalam dengan bibir yang di kerucutkan, "Ssh, Kamu tau?"
"Apa hm?" Tanya Arsen sambil mengelus rambut Azila lembut.
"Aku gak ngerti. Bagaimana bisa adik kelasku tiba tiba meninggal secara tidak manusiawi?" Tanya Azila dengan bingung.
"Mungkin memang takdirnya. Hm, jadi beberapa jam lamanya kamu termenung hanya memikirkan itu?"
Azila menatap Arsen, "Apasih! aku baru duduk setengah jam juga."
Arsen tersenyum tipis, "Sayang, coba lihat jam."
Azila seketika melirik jam yang tertempel di dinding, dengan jarum pendek yang menunjukkan angka sepuluh, "Hah? kok udah jam sepuluh?"
Arsen dengan gemas mencubit kedua pipi Azila, "Gemes banget sih, istrinya kepsek ini. Makanya jangan banyak melamun sayang, gak baik."
Azila hanya mengangguk, lalu dengan tiba tiba memeluk Arsen sambil tersenyum manis. Arsen mengelus kepala Azila lembut sesekali di kecupnya puncak kepala istrinya itu, "Kenapa hm?"
"Aku. Boleh minta sesuatu gak?" Tanya Azila dengan ragu.
"Apa? kamu mau apa, hm?" Tanya Arsen lembut.
Azila seketika tersenyum lebar, tangannya dia lingkaran kan di leher Arsen, "Ke kamar yuk."
Mata Arsen seketika membola, "K-kamu ngantuk?"
Azila menggeleng dengan senyum manisnya, "Nggak. Ayok ke kamar."
Arsen hanya menurut lalu berjalan di belakang Azila dengan tangan kanannya yang di seret Azila. Pintu kamar terbuka, Azila menuntun Arsen masuk lalu menutup pintu kamar tak lupa menguncinya dua kali.
"Mau ngapain hm?" Tanya Arsen yang kini sudah duduk si samping ranjang.
Azila berjalan mendekati Arsen dengan senyum manisnya, lalu duduk di pangkuan Arsen, "Mau manja manja!"
Arsen tersenyum tipis, dia gemas melihat tingkah Azila jika sedang manja dengannya, "Gemes-sin."
Azila tersenyum lebar hingga terlihat gigi kelincinya, jari jarinya memainkan kancing kemeja Arsen, "Em, Arsen."
"Hm," Jawab Arsen dengan tangan yang fokus merapikan rambut Azila.
"Em... Aku mau sesuatu, tapi kamu jangan ketawa," Arsen mengerutkan dahinya, "Emang kenapa? kamu mau ngelawak?"
"Ish bukan!" Arsen mengangkat sebelah alisnya, "Terus apa?"
Azila menunduk dalam dengan jari jari tangannya menggambar dengan abstrak di dada Arsen, "Em, itu...Aku boleh gak?"
Arsen menatap Azila dengan muka penasaran, sedangkan Azila menggigit bibirnya gugup, "Aku, boleh ngambil hak aku gak?" Tanya Azila dengan gugup.
"Hah?" Arsen termenung seketika, apa dia tidak salah dengar? Arsen menggaruk belakang lehernya gugup.
"H-hak apa sayang?"
"Itu loh! yang suka pengantin baru lakukan. Masa kamu gak tau sih?" Tanya Azila dengan kesal, Arsen menelan salivanya gugup.
"Aku kan belum sepenuhnya jadi milik kamu. A-aku pengen punya bayi, tadi Ayla juga bilang nitip ponakan yang lucu lucu, Agion juga gitu. Tapi kan, kamu belum nyentuh aku."
Arsen terdiam masih mendengarkan cerita Azila, "kenapa kamu gak nyentuh aku? kita udah suami istri, udah halal kan? gak haram. Tapi kok kamu adem ayem aja walaupun gak aku kasih jatah."
"Aku kan pengen punya bayi. Jadi, ayok Arsen kita bikin..." Rengek Azila.
__ADS_1
Arsen terdiam dengan mulut ternganga, Arsen mengoceh di dalam batinnya, "Apa ini gak kebalik? kan normalnya, gue yang harusnya nagih sama istri. Tapi ini kok, istri yang nagih sama suami. Malu dong, huaa harga diri gue..."
"Arsen kok malah bengong sih! Ayok kita bikin!" Pekik Azila di samping telinga Arsen.
Arsen terlonjak kaget, tangannya mengusap dadanya yang berdetak kencang, "Ya ampun sayang, ngapain teriak di samping telinga aku, hm?"
"Hehe, maaf. Lagian kamu sih, aku ajak "iya iya" kok malah bengong. Biasanya cowok kan agresif," Ucap Azila dengan cicitan di akhir kalimat.
Arsen menatap Azila tajam, bibirnya tersenyum miring dengan tangan yang mengusap kedua pipi Azila, "Kamu gak akan nyesel?"
Azila menggeleng dengan yakin, Arsen tersenyum lebar. Dahinya dia tempelkan dengan dahi Azila, "Terima kasih sayang telah bersedia menjadi milikku. And now, you've awakened another part of me. Get ready baby, I'm getting started. Don't forget to call me that spoiled tone of yours."
Azila hanya mengangguk dengan polosnya, sementara Arsen tersenyum senang lalu dengan sekali hentak membaringkan Azila sehingga kini berada di bawahnya.
Tak.
Lampu kamar mati bertepatan dengan itu Arsen memulai aksinya dengan Azila, lihatlah nanti. Dia yakin Azila akan habis olehnya malam ini.
...~o0o~...
Di tempat lain, ruang rawat Airin kini sepi. semuanya sudah tertidur dengan nyenyak nya, terkecuali dua sejoli yang sedang bermesraan di atas hospital bed Airin.
Agas yang kini duduk di samping Airin dengan tangan yang mengelus surai rambut Airin. Sedangkan Airin bersandar dengan nyamannya di dada Agas yang kini sedang mendekapnya.
"Tidur yuk," Ajak Agas.
"Nggak mau. Aku gak ngantuk, nanti aja," Tolak Airin.
"Tapi ini udah malem sayang. Kamu juga kan harus banyak istirahat," Ucap Agas.
"Hm, yaudah deh. Tapi temenin," Rengek Airin, Agas tersenyum manis lalu berbaring dengan tangan yang dia jadikan bantal untuk Airin.
"Kamu nggak akan kemana mana kan?" Tanya Airin dengan nada lirih.
"Nggak. Aku akan disini sama kamu," Ucap Agas lembut.
"Giri."
Agas melihat ke arah kasur yang lumayan besar, di sana ada Agion, Azrel serta Alga yang tertidur dengan nyenyak nya tetapi sepertinya tidak dengan Agion saat ini.
Agas bangkit dari hospital bed secara pelan pelan, lalu melangkah mendekati Agion yang sedang mengigau. Agas mengelus elus rambut Agion pelan.
"Ssst, tidur lagi ya," Ucap Agas lirih.
Tak lama Agion kembali tertidur nyenyak, Agas mengusap mata Agion yang terlihat membengkak. Memang hari ini, tepat pukul tiga sore jasad Giri di makamkan setelah penemuan jasad Giri tadi siang.
Agas hanya terdiam sambil mengelus rambut Agion, "Bukankah akan lebih bagus jika dia tidak kembali," Ucap Agas pelan dengan seringai di bibirnya.
Di lain tempat, dengan suasana yang berbeda. Tampak kedua remaja yang duduk dengan tenang menonton televisi sambil memakan cemilan yang di bawanya. Malam ini, di rumah Ayla hanya ada dia, bi Darmi, bi Nunu dan juga pak satpam di depan.
Ah tidak, tambah satu personil. Joshua, yang sedari sore berada di rumah Ayla. waktu menunjukan pukul sepuluh lewat tetapi kedua remaja itu anteng dengan tontonan mereka.
"Yah abis," Ucap Ayla lemas kala menyadari pop cornnya habis.
Ayla melirik kearah Joshua yang asik memakan pop cornnya tanpa terganggu apapun. Meresa ada yang memperhatikan, Joshua melihat kearah Ayla yang kini menatapnya dengan mata berbinar.
"Kenapa?" Tanyan Joshua yang peka akan tatapan Ayla.
"Mau itu boleh?" Tanya Ayla sambil menunjuk wadah yang berisi pop corn penuh di tangan Joshua.
"Lo kan punya," Ayla seketika merengut lalu berbalik menatap layar televisi yang menyiarkan film thriller.
Joshua terkekeh pelan, tangan kanannya menarik Ayla agar duduk berdempetan di sampingnya, "Bercanda, nih," Ucap Joshua sambil menyerahkan wadah yang berisi pop corn penuh ke paha Ayla.
__ADS_1
Seketika Ayla tersenyum senang, "Yey, makasih!"
Joshua tersenyum manis dengan tangan yang kini melingkar dengan pas pinggang Ayla. Sedangkan Ayla fokus dengan pop cornnya, Joshua tersenyum manis, "Habis ini tidur ya."
Ayla seketika menatap Joshua, "Kok gitu?"
"Udah malem, bergadang itu gak baik."
Ayla menunduk dengan mulut yang mengerucut, "Kok cepet banget."
"Gue harus pulang, nanti terlalu malem lagi," Ayla seketika lemas mendengar ucapan Joshua.
Ayla menyimpan mangkuk yang sudah kosong itu, bibirnya dia gigit dengan pelan, "Emang gak papa, pulang malem gini."
"Gak papa, emang kenapa. Biasanya juga kan gue pulang jam sepuluh malam," Ucap Joshua.
Ayla meremas kedua tangannya gugup, ada rasa tak rela saat Joshua akan pulang ke rumahnya. Padahal satu komplek, cuman beda blok doang.
"Yaudah gue pulang dulu ya, "Pamit Joshua sambil berdiri dari duduknya tetapi tubuhnya kembali di tarik hingga duduk di tempat semula.
"Kenapa?" Tanya Joshua pelan.
Ayla memilih milin kaus yang di pakai Joshua, sedangkan Joshua tersenyum tipis melihat tingkah menggemaskan Ayla, "Kenapa hm?"
"Jangan pulang," Cicit Ayla pelan tetapi masih di dengar oleh Joshua.
"Tapi ini udah terlalu malam, gue harus balik," Ucap Joshua sambil berdiri dari duduknya, tetapi belum sempat beridiri total. Tubuhnya di tubruk dengan pelukan yang keras hingga dia tidur terlentang dengan Ayla yang memeluk dirinya erat.
"Ihh jangan pulang," Rengek Ayla.
Joshua tersenyum tipis, "Kenapa hm?"
Ayla menggeleng pelan dengan tangan yang melingkar di pinggang Joshua dengan erat, "Di sini aja," Cicit Ayla.
Joshua mengalun bibirnya menahan senyum manisnya, tangannya mengelus surai rambut Ayla lembut dengan tangan satunya mendekap Ayla.
"Tidur yuk," Ajak Joshua.
Ayla mengangguk lalu bangkit dari atas tubuh Joshua, "Mau kemana?" Tanya Ayla saat melihat Joshua yang akan pergi.
"Mau ke kamar tamu lah," Ayla merengut tak terima, "Di sini aja. Tunggu," Ucapnya lalu berlari keatas kamarnya.
Joshua hanya menggelengkan kepalanya dengan senyum manisnya, ntah kenapa hari ini. Sikap Ayla berbeda terhadapnya, tetapi Joshua senang akan itu.
Tak lama Ayla datang dengan dua bantal dan selimut besar yang di bawanya. Ayla menarik sofa ruang keluarga yang kini berubah menjadi ranjang kecil lalu mulai menata bantal.
"Ayok tidur!"
"Hah?" Tanya Joshua bingung.
"Kenapa?" Tanya Ayla dengan polosnya dan kini dia sudah berada di atas sofa dengan memegang selimut tebalnya.
"Mau tidur disini?" Tanya Joshua, Ayla hanya mengangguk, "Yaudah, gue tidur di kamar tamu aja."
"Jangan," Cegat Ayla lalu dengan segera menyeret Joshua agar tertidur di sampingnya.
Joshua masih melongo melihat tingkah Ayla yang menurutnya aneh. Sedangkan Ayla kini tengah bersiap siap tidur tetapi dia terlebih dahulu mematikan televisi yang sedari tadi menyala.
Ayla memakaikan selimut besar itu kepada tubuh mereka berdua, Joshua hanya termenung bingung. Ayla mendekatkan tubuhnya dengan Joshua lalu tanpa aba aba memeluk Joshua erat dengan hidung yang di gesek gesekan di dada bidang Joshua.
"Eh," Kaget Joshua.
Wajahnya dia tundukan melihat Ayla yang kini sudah memasuki alam mimpi. Joshua tersenyum kecil dengan tingkah Ayla yang penuh kejutan.
__ADS_1
"Gemes-sin banget sih hm," Bisik Joshua lalu mencium jidat Ayla pelan.
Joshua tersenyum senang, apa ini artinya Ayla sudah terbuka dengannya? ah sepertinya dia harus menanyakan nya besok.