
Pagi buta ini, Azrel merengek ingin segera pulang. Sedangkan Agas hanya duduk dengan santai sambil menatap laptopnya tanpa menghiraukan rengekan Azrel.
"Daddy!" Teriak Azrel kesal.
Agas memasang earphone dikedua telinganya, badannya bersandar disofa dengan laptop dipahanya. Azrel menggigit selimutnya geram, "Daddy! daddy Tuli! mau pulang!" Pekik Azrel.
Agas melirik Azrel sekilas lalu fokus kembali dengan laptopnya, "Daddy menyebalkan! dasar, om om."
Azrel membaringkan badannya dengan kasar lalu berguling guling kesal tanpa menghiraukan jarum infus yang tertancap dipunggung tangannya.
"Aaaa daddy, mau pulang mau pulang mau pulang," Oceh Azrel.
"Diam Azrel. Kau mau tanganmu berdarah!" Tekan Agas.
Azrel tidak menghiraukan ucapan Agas, malah dengan sengaja tangannya dia gerak gerakan secara bruntal. Agas menghela nafas kesal lalu berjalan menuju hospital bed Azrel.
"Diam!" Ucap Agas tegas sambil memegang bahu Azrel agar terdiam, Azrel menatap sang daddy dengan muka yang akan menangis.
"Mau pulang," Cicit Azrel.
"Kau tidak akan pulang sebelum cairan infusnya habis. Diam dan jangan membantah!" Mata Azrel terlihat berkaca kaca lalu melihat kearah kantong infusnya yang terlihat masih banyak cairan disana.
"Tap-" Agas menatap tajam Azrel, "Jika membantah maka akan daddy tambah masa opname nya."
Azrel seketika menutup mulutnya lalu mengangguk pelan, Agas mengacak acak rambut Azrel, "Bagus, diam disini sebentar. Daddy akan bekerja sebentar, Jangan berulah."
Agas mengambil laptop serta jasnya yang ada di sofa lalu berjalan keluar ruangan Azrel yang dijaga oleh dua bodyguard disamping pintu masuk. Azrel menghela nafas pelan, dia bosan harus berada diruangan sunyi ini sendirian.
Trang.
Suara lemparan keras terdengar melalui jendela ruang rawat Azrel. Azrel melihat keluar jendela, tidak ada orang yang mencurigakan dibawah sana. Azrel turun dari bangkar nya lalu mengambil benda yang dilemparkan seseorang.
"Perak? surat?" Tanya Azrel heran.
Tak mau semakin penasaran, Azrel membuka bungkusan perak serta kertas, "Kau sedang sendirian?"
"Apa maksudnya? apa dia memata mataiku?" Mata Azrel terus melihat isi surat itu, dahinya mengernyit dalam.
Azrel melihat benda bulat berbahan perak tersebut, dibagian depan terlihat gambar topeng sebelah dengan ornamen emas dipinggiran nya.
"silver palace," Guamam Azrel saat tidak sengaja melihat kata itu disekitar pin perak itu.
Cklek.
"Apa yang sedang kamu pegang?" Tanya Agas sambil berjalan cepat menuju Azrel.
"Daddy? bukannya Daddy kerja?" Tanya Azrel.
"Ponsel daddy ketinggalan," Ucap Agas lalu mengambil ponsel yang ada disofa, "Apa itu? ini juga surat apa?"
__ADS_1
Tanya Agas sambil merebut surat yang dipegang Azrel, tangannya mengepal saat membaca surat itu, "Azrel sudah baca dad," Ucap Azrel.
"Kau mengerti?" Tanya Agas, Azrel dengan polosnys menggelengkan kepalanya, "Sedikit."
Agas menghela nafas lega, "Siapa yang berani meneroromu?"
"Azrel gak tau dad, tapi sepertinya dia orang yang sama pasca penembakan disekolah itu," Jelas Azrel, Agas mengangguk pelan lalu memasukan surat itu kedalam saku jasnya.
"Dad," Panggil Azrel.
"Kenapa?" Azrel mengacungkan pin perak yang besarnya setelapak tangan imutnya.
Agas mengambil benda yang dipegang Azrel sedangkan Azrel menatap Agas bingung, "Apa perak itu ada hubungannya dengan Azrel?"
Agas segala menggeleng ribut, "Tidak, kamu tidak ada sangkut pautnya dengan ini."
Agas meneliti pin perak itu, bagaimana dia bisa mendapatkan barang ini?
"Sepertinya aku membutuhkan bantuan bang Deon," Gumam Agas pelan.
...~o0o~...
"Apa ini? bagaimana benda ini bisa ada denganmu?" Tanya Deon.
"Aku tidak tau. Seseorang melemparkan ini pada kamar rawat Azrel, dan juga surat ini," Agas memperlihatkan surat yang setengahnya berisi tulisan tulisan asing.
Deon menyerngit bingung, "Bukankah ini tulisan yang sama, sebelum kejadian beberapa tahun yang lalu?"
"Apa seharusnya kita beritahu opa Raynald? bukankah opa sangat menanti pelakunya?"
"Apa tidak apa apa?" Deon menggeleng lalu membuka ponselnya.
"Aku akan meneleponnya terlebih dahulu," Ucap Deon lalu melangkah menjauh.
Agas memijat hidungnya pelan, nafasnya terdengar tak teratur. Suara deringan ponselnya terdengar nyaring diruangan gelap ini.
"Halo sayang kenapa?" Tanya Agas lembut saat suara gadisnya terdengar.
Dilain tempat Airin berdiri dengan tangan yang berdecak pinggang, "Om kemana? ini anaknya kok ditinggal sendiri sih?"
"Maaf, saya ada perlu dengan bang Deon," Ucap Agas.
"Seharusnya om bilang dulu sama Airin kalau mau keluar jadi kan Azrel gak sendirian. Gimana kalo Azrel kenapa napa? hah!" Agas menjauhkan ponselnya dari telinganya kala suara Airin yang melengking.
Agas menghela nafas pelan lalu melihat jam tangan yang berada dipergelangan tangannya, "Maaf, apa Azrel sudah makan?"
"Lagi makan. Om buruan pulang, Airin tunggu di rumah sakit sepuluh menit. Jangan telat!"
Tut.
__ADS_1
"Airin?" Tanya Deon yang baru saja duduk didepannya.
"Hm."
"Bagaimana? apa kau akan menikahinya bulan depan?" Agas menggeleng, "Ntahlah, aku tidak yakin."
"Jadi kau hanya main main!" Pekik Deon.
"Ck bukan! aku tidak yakin karena masalah ini belum selesai. Aku tidak mau membuat Airin dalam bahaya," Jelas Agas.
"Bukankah sama saja? sekarang ataupun nanti. Jika kau sudah masuk kembali kedunia itu, Airin akan selalu dalam bahaya," Agas terdiam mendengar ucapan Deon. Kenapa dia tidak memikirkan itu?
...~o0o~...
Azrel duduk dengan tenang sambil melihat Airin yang mondar mandir tak jelas sesekali mulutnya berdecak kesal lalu mengomel tak jelas kembali.
"Bidadari duduk," Titah Azrel.
"Syut diam Azrel. Bagimana bisa om om itu meninggalkan anaknya yang sedang sakit sendirian?" Ucap Airin, Azrel menatap Airin jengah.
"Yaudah terserah bidadari aja," Azrel menyuapkan bubur yang tadi dibawa Airin.
"Hari ini lo pulang?" Tanya Airin.
"Iya, kayaknya sore deh soalnya kata daddy tunggu infusan habis," Jelas Airin.
Airin duduk disamping Azrel, matanya menatap Azrel lekat, "Azrel."
"Hm."
"Kemana Alga? seharian ini gue belum ketemu," Azrel mengangkat bahunya acuh.
"Gak tau, mungkin sama nenek," Airin mengangguk mengerti.
"Azrel," Azrel menatap Airin lekat, "Kenapa?"
"Apa tanggapan lo kalau gue jadi mommy sambung lo? Apa Lo keberatan?" Azrel terdiam mendengar pertanyaan Airin.
"Tidak. Azrel justru senang punya mommy kayak bidadari. Meskipun umur kita terpaut dua tahun, tapi Azrel bisa merasakan sikap keibuan bidadari. Bidadari tau kenapa Azrel selalu berdekatan dengan bidadari?"
Airin menggelengkan sedangkan Azrel tersenyum manis, "Karena, bidadari seperti bunda. Senyumnya bidadari seperti senyum bunda, suara lembut bidadari membuat Azrel tenang. Dekat dengan bidadari itu layaknya Azrel dekat dengan bunda, Azrel nyaman."
"Azrel terima kok kalau bidadari nikah sama daddy, Azrel gak akan larang. Karena sekarang, kebahagiaan daddy kebahagiaan Azrel juga."
Mata Airin terlihat berkaca kaca sedangkan Azrel tetap dengan senyum manisnya, "Manis banget sih," Ucap Airin sambil mencubit kedua pipi Azrel.
Azrel terkekeh pelan lalu memeluk Airin dengan lembut, "Azrel sayang bidadari."
"Gue juga."
__ADS_1
Agas terdiam didepan balik pintu, hatinya menghangat mendengar ucapan Azrel, "Anakmu ternyata sudah dewasa bang. Andai lo bisa liat ini," Batin Agas.