Young Mom

Young Mom
PART 14


__ADS_3

Agas memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya, lalu berjalan dengan cepat kedalam rumahnya.


"Azrel, Az-," Ucap Agas terhenti karena melihat kedua orang tuanya duduk dengan tenang di ruang tamu.


"Ayah, bunda," Panggil Agas lalu berjalan mendekat.


"Kenapa teriak teriak?" Tanya bunda Gina.


Agas duduk disamping bundanya lalu mencium punggung tangan bunda serta ayahnya, "Bunda liat Azrel gak?"


"Tuh di kamarnya," Jawab bunda Gina.


Agas pun mengangguk lalu berdiri, tetapi bundanya menariknya duduk kembali, "Apa sih bun, Agas mau ke Azrel."


"Diem, kamu jahat gak cerita sama bunda kalau udah punya calon," Ucap bunda Gina, Agas mengerutkan keningnya bingung.


"Calon apa sih bun? gak jelas banget deh."


"Airin Morgena Alatas, putri pertama dari seorang Jendral Raymond da kaylo Alatas, umur 18 tahun, mempunyai adik lelaki seumurannya Azrel, Tinggi 160, golongan darah O, cita cita menjadi Psikologi, dan baru baru ini dekat dengan seorang ceo muda, Agas Rion Xaverius, jelaskan," Timpal Damian a.k.a ayah Agas.


"Apa maksud ayah, ayah mata matai Agas lagi!" Ucap Agas tak terima jika dirinya kembali di mata matai oleh sang ayah.


"Jelaskan, atau ayah yang cari sendiri," Ucap ayah Damian dengan tenang.


Agas mengendus keras, menyebalkan sekali orang yang memberi laporan kepada sang ayahnya itu, "Kakak kelas Azrel."


"Maksud ayah tuh, hubungan kalian Agas," Gemas bunda Gina.


"Gak ada,"


Damian menatap anaknya penuh selidik, "Gak jujur, ayah selidiki."


Agas menatap ayahnya geram, "Kan udah Agas bilang gak ada, gak usah selidik selidik."


"Bukan gak ada tapi belum ada, ya kan?" Tanya Bunda Gina dengan tatapan berharap.


Agas memutar bola matanya malas, "Terserah bunda, dibilang gak ada juga."


Bunda Gina menatap Agas dengan senyum liciknya, lalu mengambil handphone nya, "Terus ini apa?"


Agas menatap beberapa Poto dirinya dengan Airin, "Pasti kelakuan ayah."


Ayah Damian menatap anaknya malas, "Ngapain? buang buang waktu."


"Terus siapa? awas aja kalo poto ini kesebar," Ucap Agas.


"Mata mata cilik yang mengirimnya, dan sayangnya, mereka sudah tau," Ucap bunda Gina dengan tertawa kecil.


"Apa! dari kapan? kenapa bisa? Agas gak mau jadi bahan eksekusi lagi, bunda...siapa yang ngirim Poto itu!"


Bunda Gina tertawa pelan, rupanya Agas tidak sadar jika disekitarnya ada bocah licik yang bekerja sama dengannya.


"Siap siap, bawa gadis itu kesini, hari Jum'at jam tujuh malam," Ucap Ayah Damian.


"Nggak! mau ngapain? Agas gak mau," Tolak Agas.

__ADS_1


Ayah Damian mengangguk lalu berdiri dari duduknya, "Hm, yaudah. Ayah yang akan membawanya."


Agas melemas, "Jangan ayah, mau ngapain sih? Agas gak mau."


"Sayangnya sudah terlambat, mereka akan datang pada hari Sabtu," Ucap ayah Damian, lalu berjalan meninggalkan Agas yang menggurutu kesal.


"Sabar, nanti jangan lupa bawa calon mantu ya," Ucap bunda Gina lalu tersenyum manis.


...~o0o~...


Airin menggigil dalam tidurnya, rasanya dirinya seperti tidur dikutub Utara, padahal Airin sudah mengenakan dua selimut tebal.


"Aish menyebalkan, demam sialan!"


Airin dengan tangan bergetar dan mata yang sayu itu mengambil handphone nya yang berada dinakas samping tempat tidur.


Tut Tut


"Aish, kenapa gak diangkat sih? gak tau apa gue rasanya mau sekarat ini," Ucap Airin lemah.


Ingin berteriak memanggil Agion tapi suaranya bahkan hampir hilang. Airin memegang kepalanya erat, dengan asal menelepon seseorang didalam kontak teleponnya, terlihat sambungan telepon terhubung.


"Halo, tolong gue Azila, gue rasanya mau sekarat, buruan ke rumah gue, gak pake lama," Ucap Airin dengan suara kecil bahkan seperti bisikan.


Tak lama terdengar suara langkah kaki yang terburu buru, Airin hanya mendengarnya samar samar, matanya terasa berat dan panas, sesekali air matanya menetes karena suhu tubuh yang panas, perut yang tidak enak serta tubuhnya yang lemas.


"Rin,"


Terdengar samar samar seseorang memanggil namanya hingga kegelapan menghampirinya.


...~o0o~...


Airin membuka matanya perlahan, meringis saat tak sengaja menggerakkan kepalanya, bibirnya yang kering dan pucat mencoba mengatakan sesuatu, tenggorokan nya sakit saat akan berbicara.


"Ya Allah gini amat gue kalau sakit," Ringis Airin dalam batinnya.


Airin mengedarkan pandangannya dengan pelan, melihat kearah sofa dimana Azrel dan Agion sedang tertidur, ingin memanggil mereka tapi suaranya saat ini masih hilang.


Airin menggerutu dalam batinnya, miris sekali dirinya, seperti orang bisu yang tidak bisa berbicara, "Gue haus huaaa, kapan sih itu dua bocah bangun!"


Setelah beberapa menit akhirnya Airin berbafas lega kala melihat Azrel yang terbangun, "Azrel," Panggil Airin dengan suara lirih.


Azrel mengedarkan pandangannya saat merasakan ada yang memanggilnya, Azrel mendekat kearah Airin dengan semangat, "Bidadari!"


Airin tersenyum lega, lalu berkata dengan suara lirih, "Air."


Azrel menyerngit, "Bidadari mau minum?"


Airin mengangguk, dengan segera Azrel mengambil gelas yang berisi air putih dimeja dekat sofa tak lupa dengan selang agar memudahkan Airin meminumnya.


"Bidadari kapan bangun? ada keluhan sakit gak? atau pusing?" Tanya Azrel setelah memberi Airin air.


Airin menggelengkan kepalanya, tenggorokan nya kini terasa jauh lebih baik, "Gue kenapa? Tanya Airin dengan suara yang serak.


"Bidadari kena gejala tipes, jadi harus dirawat beberapa hari," Jelas Azrel, Airin hanya mengangguk.

__ADS_1


"Makasih udah bawa gue kesini," Ucap Airin pelan.


"Bukan Azrel yang bawa bidadari ke rumah sakit," Ucap Azrel.


Airin mengerutkan dahinya, "Terus siapa?"


"Daddy."


...~o0o~...


"Pekerjaan sialan, bisa bisanya datang diwaktu yang tidak tepat," Gerutu Agas kala mendengar bahwa perusahaan cabangnya semakin bermasalah.


"Jika saja kerugian ini tidak besar, sudah dari tadi ku abaikan."


Agas menghela nafasnya kasar dengan tubuh yang dia sandarkan di kursi nya, tatapan matanya menatap ke atap ruang kerjanya.


"Bagaimana bisa dia sakit tiba tiba," Gumam Agas saat mengingat bagaimana tadi melihat Airin dengan tubuh yang lemas serta suhu yang panas.


"Hah aku tidak bisa menjenguknya, apa dia sudah sadar? apa kondisinya baik baik saja? apa sakitnya tidak parah? semoga saja Azrel menjaganya dengan baik,"


Agas memejamkan matanya, dia tidak bisa fokus dengan pekerjaannya. Pikirannya selalu tertuju pada Airin, helaan nafas kasar terdengar.


"Aish, sial!"


Agas mengacak acak rambutnya kasar lalu beranjak dari duduknya, mengambil kunci mobil yang berada dimeja kerjanya, lalu berjalan dengan tergesa gesa tanpa memperdulikan tatapan orang tuanya serta bungsunya.


Agas terlebih dahulu mampir ke toko buah, membeli segala macam buah buahan, serta tak lupa dirinya sempat membeli buket bunga mawar pink kesukaan Airin.


Cklek.


Agas membuka pintu ruang rawat Airin, terlihat Airin yang sudah terbangun dengan pandangan mengarah pada televisi dan Azrel dan Agion yang sedang bermain handphone.


"Kapan bangun?"


Airin melihat kearah Agas, "Dari tadi, makasih udah bawa Airin kesini."


Agas mengangguk lalu duduk dikursi samping hospital bed Airin, Agas menyimpan buah yang tadi dia bawa di meja depan sofa, lalu menyerahkan bunga yang dia bawa pada Airin.


"Mawar pink, untukmu. Semoga cepat sembuh."


Airin tersenyum manis sambil menerima buket mawar kesukaannya, "Makasih."


"Sudah minum obat?" Tanya Agas.


Airin mengangguk, tangannya mengelus Elis kelopak bunga mawar, "Udah, tadi dibantu Azrel."


"Yaudah istirahat jangan nonton TV," Ucap Agas sambil mengambil buket mawar yang dimainkan Airin, Agas menyimpannya di nakas.


"Bosen tau om."


"Biar cepat sembuh," Agas dengan segera menyelimuti Airin sampai kedadanya lalu membenarkan bantal Airin agar terasa nyaman.


"Om," Rengek Airin.


"Tidur," Titah Agas dengan tegas.

__ADS_1


Airin menggerutu sebal, lalu dengan terpaksa menutup kembali matanya. Agas mengelus rambut Airin dengan lembut, lalu berbisik di telinga Airin.


"Cepat sembuh, saya tidak suka melihatmu sakit."


__ADS_2