Young Mom

Young Mom
PART 61


__ADS_3

Airin mengerjap ngerjapkan matanya saat merasakan tepukan pada pipinya. Terlihat ayahnya yang memanggil manggil namanya, Airin tersenyum kecil sembari bergumam, "Ayah."


"Iya, ini ayah sayang. Kamu bertahan ya, ayah akan melepaskan talinya dulu," Ucap Raymond sambil melepaskan lilitan tali pada tangan serta kaki Airin.


Setelah terlepas Raymond segera memeluk Airin yang terlihat lemas, "Kamu gak papa kan sayang? muka kamu..."


Airin hanya terdiam dengan air mata yang mulai turun dari pelupuk matanya, bahunya naik turun dengan nafas yang memburu, "Hiks ayah...takut, mereka jahat."


Raymond mengelus bahu Airin lembut lalu menggendongnya ala bridal style, "Kita keluar yuk sayang, tapi tutup mata kamu. Jangan membukanya sebelum ayah bilang oke?"


Airin hanya mengangguk dengan Isak tangis yang masih terdengar. Raymond keluar dari ruangan sekap Airin, berjalan melewati orang orang yang terbaring dengan berlumuran darah.


Tenang saja, itu bukan ulahnya. Tapi ulah Alex serta Azrel yang dengan santainya membantai mereka, untung saja dirinya sudah biasa dengan kejadian seperti ini di simulasi perangnya.


"Menantuku baik baik saja?" Tanya Alex yang baru datang dengan keadaan yang kacau berlumuran darah.


Raymond menghela nafas lemas, "Sepertinya, aku tidak yakin."


"Sudah? ayok kita pergi," Ucap Azrel yang datang dengan wajah tanpa dosa nya.


"Tapi bagaimana dengan Raynald, Damian dan Agion?" Tanya Raymond.


"Tenang saja mereka akan aman. Lagian kita harus membawa menantuku ke rumah sakit, aku yakin si bajingan itu pasti bermain dengan mental menantuku," Jelas Alex.


Raymond mengangguk lalu mereka pun berjalan keluar dengan langkah Raymond yang terburu buru, dia takut apa yang di ucapakan Alex itu benar.


Sedangkan di sisi lain, ruangan yang tidak luas itu kini terasa mencekam dengan tatapan lawan yang saling menatap tajam.


"Aku tidak menyangka kita akan bertemu kembali. ku kira kau sudah mati," Ucap Raynald dengan nada yang tenang.


Jadrel tertawa lirih, tangannya memainkan katana miliknya dengan lihai, "Aku tidak mudah mati, bukankah kau sudah tahu itu..Ketua."


Raynald mengepalkan tangannya, "Mulut penuh dosa mu itu tidak pantas memanggilku dengan seperti itu."


"Hahaha, benarkah? Berkacalah jika ingin berbicara ketua!"


Agion terdiam, bingung dengan pembicaraan mereka sementara Damian hanya termenung menyaksikan pembalasan dendam keduanya.


"Aku tidak suka bertele tele, kau juga tahu kan?" Ucap Raynald sambil menggulung kemejanya sampai siku, lalu tangannya mengambil belati yang ada di saku celananya, "Jadi, ayo kita akhiri."


Jadral tersenyum miring, "Ah, kau ingin berduel denganku? aku tidak yakin, kau akan menang."


Raynald berdecih pelan, "Cih, kau terlalu percaya diri. Aku akui, aku sudah tua. Tapi, orang tua ini tidak pernah membiarkan bawahannya naik pangkat."


"Kita lihat saja," Sinis Jadrel lalu mulai mengayunkan katana kesamping leher Raynald, Raynald dengan cepat menagkis nya.

__ADS_1


Sreng...


"Refleks yang bagus," Sindir Jadrel saat ujung katananya menggores sedikit leher Raynald.


Sedangkan Raynald masih tetap tenang, "Ini hanya awalan, Aku sudah berjanji. Akan membalas perbuatanmu kepada putriku, dan inilah waktunya."


Sreng...


Bugh.


Jadrel mundur beberapa langkah saat Raynald menendang dadanya. Raynald tersenyum sinis sedangkan Jadrel menggenggam katananya erat dengan penuh emosi.


Bugh.


Bugh.


sreng...


Suara aduan kekuatan itu tampak terus beradu, Agion berdiri di belakang Damian yang berdiri dengan tenangnya melihat keadaan Jadrel dan Raynald yang sudah tidak bisa di katakan baik.


"Kek, kenapa gak di pisahin. Entar ada yang modar gimana?" Tanya Agion.


"Meskipun salah satu dari mereka nanti mati, balas dendam ini tidak akan berakhir. Kau anak kecil, diam saja berlindung di belakangku. Ini area 21+," Celetuk Damian.


Agion mencibir pelan meskipun dirinya menuruti perintah Damian. Sesungguhnya, Agion jujur dia sangat takut. Apalagi melihat keadaan kedua pria paruh baya itu yang sudah berlumuran darah.


Bugh.


Jadrel mengusap sudut bibirnya yang berdarah, "Ini, bentuk balas dendam dari anakku. Kau sudah sepantasnya mendapatkan ini."


Bugh.


Sreng.


prang.


Raynald menendang Jadrel hingga terlempar ke lemari kaca, kakinya menginjak dada Jadrel, "Kau akan menyesali perbuatanmu, Jadrel."


Jleb.


Agion menutup matanya dengan erat saat tak sengaja melihat Raynlad menancapkan belatinya di dada Jadrel, Raynald mencabut belatinya dengan cepat, "Maafkan aku. Tapi kau pantas mendapatkan nya."


...~o0o~...


Agas berdiri di depan pintu rawat Airin, tangannya terkepal erat dengan dadanya yang terasa sesak. Hatinya sakit melihat gadisnya yang lagi lagi harus memasuki rumah sakit dengan keadaan yang buruk dan itu karenanya.

__ADS_1


"Kau tidak ingin masuk?" Tanya Raymond.


"Aku, tidak berani," Jawab Agas tanpa mengalihkan pandangannya.


"Kau harus menjaganya, bukankah kau sudah berjanji padaku? Aku, maafkan kejadian ini. Karena ini bukan sepenuhnya kesalahan mu, tenagkan anakku. Dia pasti membutuhkan mu," Ucap Raymod lalu berlalu pergi setelah menepuk bahu Agas seolah memberi kekuatan.


Agas menghela nafas kasar, matanya kembali menatap kearah Airin yang berbaring dengan lemas serta tatapan yang kosong. Tangannya dengan perlahan membuka kenop pintu kamar rawat Airin, Agas masuk dengan pelan lalu berjalan menuju Airin.


"Maaf," Gumam Agas.


Airin menatap Agas yang sedang menundukan kepalanya, lalu tangannya menepuk pinggir kasur seolah menyuruh Agas duduk di sana, "Duduklah."


Agas mengangguk lalu duduk di pinggir kasur Airin, wajahnya tetap menunduk malu untuk melihat wajah pucat Airin. Airin menggenggam tangan Agas dengan lembut, Agas mendongak melihat kearah Airin yang tersenyum.


Rasa bersalah Agas semakin membuncah kala melihat sebuah ketakutan di senyum serta tatapan mata Airin, dengan cepat Agas memeluk Airin erat, "Maaf, maafkan aku."


Airin terdiam sebentar lalu tangan yang tak terinfus itu mengusap kepala Agas pelan, "Aku tidak ingat jika kau punya salah. Jangan meminta maaf."


"Tapi, ini semua kesalahanku."


"Tidak," Bantah Airin dengan suara lemasnya.


Agas semakin mempererat pelukannya, wajahnya dia sembunyikan di samping leher Airin. Hidungnya menghirup dalam dalam wangi tubuh Airin yang membuatnya tenang, "Kamu pasti ketakutan kan?"


Airin hanya terdiam sambil mengusap kepala Agas, "Bolehkah aku berbohong?"


"Tidak."


Airin tersenyum tipis, "Aku...tidak takut, mereka baik."


"Sudah kubilang jangan berbohong!" Sarkas Agas sambil melepaskan pelukannya, Airin hanya tertawa hambar tangannya mengelus rahang Agas yang mengeras.


"Maaf. Aku takut, tapi...aku bukan takut dengan mereka. Tapi aku takut tidak bisa melihatmu lagi," Lirih Airin, matanya menatap mata Agas dalam.


"Mereka jahat, mereka tidak punya hati. Jika aku tidak kuat, mungkin tadi sudah bagianku-"


"Tidak! jangan bicara seperti itu!" Potong Agas yang langsung memeluk Airin dengan erat.


"Hatiku sakit melihat saudaraku di perlakukan tidak pantas. Aku wanita, dia juga, aku bisa melihat dengan jelas arti tatapannya. Ketakutan, kekosongan, kepasrahan. Sepertinya mereka terlebih dahulu melakukan sesuatu terhadapnya sebelum kejdian yang aku lihat terjadi, karena aku bisa melihat tatapannya sebuah kebencian, harapan dan kekecewaan."


"Mereka seperti monster berdarah dingin, memperlakukan manusia layaknya hewan yang sudah di sembelih. Ah, tidak ini bahkan lebih tidak manusiawi."


Airin menatap dinding putih itu dengan tatapan kosong, "Kamu tau? mentalku terganggu melihatnya. Aku takut, aku akan di perlakukan seperti dia."


"Tidak. Itu tidak akan pernah terjadi," Ucap Agas tak terima.

__ADS_1


"Aku sudah bersamamu, aku akan menjagamu. Maafkan aku untuk kelalaian ku, Aku berjanji ini tidak akan terjadi lagi," Ucap Agas lalu mengecup dahi Airin lembut membuat Airin tenang sebentar.


"Aku...percaya."


__ADS_2