
"Lo kenapa sih?" Tanya Mario heran, pasalnya sejak tadi pagi Azrel seperti mayat hidup.
"Bidadari," Ucap Azrel lesu.
"Maksud lo?"
Azrel menyender pada kursi koridor, "Masa daddy pergi pergi gak ngajak ngajak, mana bidadari Azrel dibawa lagi. Nyebelin!"
Mario pun akhirnya paham, tangannya mengeluarkan lollipop dari saku almamaternya lalu disodorkan kepada Alga, "Mau?"
Alga dengan cepat mengambil lollipop itu, membuka kemasannya dengan kasar lalu melahapnya dengan tergesa, "Makasih."
"Hm, sama sama."
"Tapwi gwue maswih kwesel!" Ucap Azrel tak jelas.
"Ntar gue traktir di kantin," Ucap Mario seolah tau apa yang diinginkan Azrel, Azrel melirik kearah Mario dengan tertawa kecil.
"Peka banget sih lo! ah jadi sayang!" Pekik Azrel sambil memeluk Mario erat.
Mario segera menjauhkan Azrel darinya, dia merasa jijik dipeluk oleh sesama jenis, "Ngapain sih lo! sana gak usah peluk peluk!"
"Nggak mau," Rengek Azrel sambil menggoyang goyangkan tubuh Mario kekanan dan kekiri.
Mario menutup mukanya dengan tangannya malu karena tingkah Azrel saat ini mereka menjadi tontonan siswa siswi yang berlalu lalang dikelas mereka, "Lepasin gak lo! kalo nggak. Gak jadi gue traktir."
"CK, mainnya ancaman," Cibik Azrel sambil melepaskan pelukannya.
Mario memutar bola matanya malas, "Lo gak usah peluk peluk gue lagi."
"Yaelah, harusnya lo seneng gue peluk. Secara kan gue tuh pelukebwel buanget," Ucap Azrel dengan alaynya.
"Alay lo," Ucap Mario sambil menoyor jidat Azrel, Azrel merengut kesal karena selalu saja jidatnya yang jadi sasaran toyoran Mario.
"JOJO SETAN JANGAN IKUTIN GUE LO!"
Teriakan menggema diseluruh koridor terdengar, Azrel beserta Mario melihat kesisi mereka dimana Ayla dan Joshua saling beradu mulut sambil berjalan.
"Dih! pede lo boncel siapa juga yang ngikutin lo."
Ayla berjalan sambil mendorong dorong Joshua penuh dendam, "Gue gak pede! buktinya Lo dari tadi ngikutin gue? sana lo ah!"
"Buset dah, jangan dorong dorong neng. Ntar gue jatoh woy!" Pekik Joshua.
"Romantis ya," Celetuk Azrel sambil menompang dagunya dengan tangan tak lupa mulutnya yang sedari tadi mengemut lollipop.
"Nanti juga jodoh," Timpal Mario.
Ayla tak hiraukan pekikan Joshua, "Ih sana lo jangan Deket Deket!"
"Ya ampun boncel, ini gue mau jatoh woy," Ucap Joshua sambil menahan keseimbangan tubuhnya.
"Ih sana!"
Bruk.
"Aws," Ringis Azrel dan Mario bersama saat melihat Joshua jatuh menubruk tong sampah.
Sedangkan Ayla terdiam membeku, Joshua pun bengkit perlahan, "Toh kan gue jadi jatuh, untung ni tong sampah kosong."
Joshua melirik kearah Ayla yang terdiam, "Woy Lo kenapa diam?"
"T-tangan lo?" Tanya Ayla terbata bata sambil menunjuk belakang tangan Joshua yang berdarah.
"Lah kok ada darahnya!" Pekik Joshua.
"Lo kena ujung wastafel bang," Celetuk Azrel sambil menunjuk wastafel yang menggunakan bata dekat tong sampah.
"Aws," Ringis Joshua saat tak sengaja menekuk tangannya.
__ADS_1
"Eh eh, kenapa? aduh maaf gue gak sengaja. Ayok gue anter ke uks," Ucap Ayla saat sadar dari lamunannya.
"Ah gak papa, ntar gue obatin di rumah."
"Kalo disini ada ngapain dinanti nanti! ntar luka Lo infeksi!"
"Gak akan, gue jamin," Ucap Joshua mencoba menenangkan Ayla.
"Udah deh gak usah ngeyel! ayo gue antar," Ucap Ayla sambil menyeret tangan Joshua.
Azrel serta Mario masih menatap drama di depannya dengan tenang, pandangan mereka terus melihat kearah Ayla yang menyeret Joshua sambil mengomel.
"Ih! Lo sih, kan gue bilang jangan deket deket. Jadi gini kan," Omel Ayla sambil terus berjalan menyeret Joshua.
"Kan Lo yang dorong dorong gue," Timpal Joshua.
"Lo yang ngeyel."
"Lo yang nyebelin," Celetuk Joshua.
"Gak nyadar. Yang ada lo yang nyebelin," Ucap Ayla sinis.
"Lo boncel."
"Lo setan!"
Joshua terkekeh melihat kekesalan Ayla, "Lo gemesin."
"Ha!" Ayla menatap Joshua kaget, seketika pipinya memerah sampai ke telinganya.
"Lo gemesin," Ulang Joshua sambil tersenyum manis.
Ayla merapatkan bibirnya kedalam menahan senyum, lalu berdehem pelan, "A-aa itu gue lupa kalo gue dipanggil keruang guru, g-gue duluan."
Ayla berlari meninggalkan Joshua yang lagi lagi tertawa gemas dengan tingkah Ayla.
"Setan!" Pekik Joshau kala mendengar suara dibekangnya, lalu Joshua pun membalikan badannya matanya membola melihat Azrel yang duduk menyila sambil menompang dagunya dengan tangannya tak lupa lollipop yang ada dimulutnya serta Mario yang menyender ditembok sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
"Astaghfirullah bocah! ngagetin aja lo setan!" Pekik Joshua.
Azrel tertawa keras lalu tersenyum manis, "Cie cie ada yang jatuh cinta."
Pipi Joshua memanas seketika lalu menatap Azrel tajam, "Gak jelas Lo bocah!"
"Ih setres, situ yang kagak jelas!" Pekik Azrel saat Joshua pergi dengan langkah kaki yang cepat.
Azrel pun mendongak menatap Mario, "Jatuh cinta bikin orang gila ya Yo."
...~o0o~...
"Satu satu Alga sayang mommy, dua dua juga sayang daddy, tiga tiga sayang abang juga. Satu dua tiga sayang semuanya."
Suara Alga terdengar diruangan kelas yang sepi, saat ini Alga sekolah dengan penuh semangat karena ada Deren yang masuk kesekolah yang sama.
"Zio," Panggil Alga dengan semangat kala melihat Zio yang baru datang.
Zio mendekati Alga lalu duduk disampingnya, "Tumben Alga datang awal?"
"Alga mau aja hehe, Zio udah tau kalau Delen mau sekolah sama kita?" Tanya Alga.
"Tau, kan waktu itu Deren juga udah bilang. Rion juga mau sekolah disini."
"Wah, yey kita satu sekolah. Jadi bisa main deh hehe, eh Alga jadi mau mangga Delen lagi deh Zio," Ucap Alga sambil menatap Zio dengan mata yang kedip kedipannya.
"Minta aja sama Deren."
"Yaudah deh nanti Alga minta sama Delen, dududu senangnya dapat mangga muda, nanti Alga ajak bang Gio ngelujak," Oceh Alga.
Drrt drrt.
__ADS_1
"Alga ada yang nelepon," Ucap Zio kala merasakan getaran pada mejanya.
Alga mengambil handphone yang ada dikolong mejanya, "Is, besal banget sih handphone nya. kan Alga susah pegangnya."
Zio menghela nafas pelan lalu menyimpan Handphone Alga diatas meja, "Gini aja neleponnya."
"Hehe makasih Zio."
Zio mengangguk lalu kembali lagi keaktifannya. Alga pun menggeser tombol hijau yang ada dilayar, "Hallo opa!"
"Hallo Alga, kamu gimana kabarnya?" Tanya seorang lelaki disebrang telepon.
"Baik opa. Opa Alga kangen, opa kapan mau ke sini?" Tanya Alga sedikit merengek.
"Uh cucu opa kangen rupanya sama opa, nanti sayang. Opa masih ada tiga bulanan lagi disini."
Seketika raut wajah Alga melemas saat mendengarnya, "Yaudah, Alga kesana aja ya opa?"
"Boleh, kamu masih hafalkan jalannya?" Tanyanya.
"Masih opa, tapi opa."
"Kenapa? apa ada sesuatu?" Tanyanya.
"Jangan kasih tau daddy ya opa, jangan kasih tau nenek sama kakek juga," Bisik Alga.
Terdengar tawa renyah disebrang sana, "Haha, tenang aja gak akan opa kasih tau."
"Yaudah opa, Alga kesana sekalang!" Pekik Alga semangat.
"Eh, kamu kesini sama siapa sayang?"
"Em, Zio mau ikut?" Tanya Alga sambil melihat kearah Zio.
"Kemana?" Tanya Zio sambil menutup bukunya.
"Ke lumah opa."
Zio menganggukkan kepalanya, "Boleh."
Alga tersenyum senang, lalu mendekat kembali dengan handphone nya, "Alga kesana sama Zio ya opa."
"Oke, opa pesankan tiketnya ya."
"Baik opa."
"Kalau gitu opa tutup dulu, Sampai jumpa nanti malam. Hati hati dijalan juga."
"Iya opa, dadah opa."
Tut.
Panggilan tertutup, Alga segera mengemasi barang barangnya lalu mengecek sesuatu didalam tasnya. Merasa semuanya beres Alga menggendong tasnya sambil tersenyum tak sabar.
"Ayo Zio, nanti kebulu bel masuk," Ajak Alga.
"Ayok."
Mereka berdua berjalan keluar kelas, baru sampai didepan kelas tampak Deren dan Rion yang menyapanya.
"Halo Delen, Lion," Sapa Alga dengan senyum manisnya.
"Kalian mau kemana? kan bentar lagi bel masuk," Tanya Rion.
"Kita mau kelumah opa Alga Lion, Lion sama Delen mau ikut?" Tanya Alga.
"Mau mau, tapi rumah opa Alga dimana?" Tanya Deren.
Alga tersenyum sumringah, "Di Amelica!"
__ADS_1