Young Mom

Young Mom
PART 16


__ADS_3

Airin duduk bersandar dengan pandangan yang mengarah pada Agas. Helaan nafas panjang terdengar, dia bosan melihat Agas yang sedari tadi berkutat dengan laptopnya.


"Alga kok lama banget sih? jangan jangan Alga kenapa napa lagi?" Gumam Airin.


"Om," Panggil Airin.


Agas mengangkat kepalanya sebentar lalu menunduk kembali dengan pandangan fokus pada laptopnya, "Kenapa?"


"Om yakin Alga bisa kesini sendiri?"


"Dia sudah bisa, jadi tidak akan terjadi apa apa."


Airin menghela nafas gusar, "Tapi om, kalo terjadi apa apa gimana? kalo Alga nyasar gimana? terus nanti ada orang jahat gimana om?"


Agas melepaskan kacamata yang dipakainya, lalu menatap Airin dengan lembut, "Jangan khawatir, dia anak yang cerdas."


Airin terdiam, perasaan cemas belum hilang dari hatinya. Bayangkan saja, siapa yang tidak cemas jika bocah 4 tahun jalan jalan sendiri di sebuah kota besar tanpa pengawasan.


"Om bener Alga gak akan kenapa napa?"


Agas mengangguk anggukan kepalanya, "Iya tenang saja, sebentar lagi mereka pasti sampai."


Cklek.


Dan benar saja, setelah mengucapkan itu, pintu terbuka menapilkan dua orang anak kecil berseragam TK.


"Mommy!"


"Alga!"


Alga berlari lalu memeluk Airin dengan erat, begitupun Airin, hatinya sekarang merasa jauh lebih baik kala melihat Alga datang dengan selamat.


"Alga, mommy kangen."


"Alga juga kangen sama mommy, maafin Alga mommy, Alga gak tau kalo mommy lagi sakit," Ucap Alga dengan kepala menunduk.


Airin membawa Alga agar duduk disampingnya, lalu menangkap kedua pipi gembul Alga, "Gak papa, yang penting sekarang Alga ketemu mommy."


Alga mengangguk menyetujui, lalu Alga turun dan menarik tangan Zio, "Mommy ini yang Alga bilang tadi, ganteng gak mom? cocok kan jadi temen Alga yang ganteng juga."


Airin tersenyum manis, lalu mengangguk, "Iya ganteng kok."


"Eh kalian sekolah?" Tanya Airin kala menyadari jika Alga dan Zio masih memakai seragam sekolah.


"Iya mommy, tadi lagi istilahat."


"Lah kalau gitu kalian bolos dong sekarang?" Tanya Airin.


"Kita gak bolos mom, tadi Alga sama Zio udah ijin sama kepala sekolah."


Airin mengangguk, "Yaudah, kalian duduk dulu, masa mau berdiri terus?"


Alga menarik tangan Zio menuju Agas yang masih fokus pada laptopnya, "Zio duduk disini ya, tungguin Alga."


Zio hanya mengangguk pasrah, lalu duduk disamping Agas. Alga kembali kehadapan Airin lalu duduk disamping Airin.


"Mommy sakit apa?"


Airin mengelus kepala Alga yang lebat, "Cuman demam kok, Alga gak usah khawatir."


"Mommy udah makan? minum obat?" Tanya Alga dengan cemas, dia tidak mau mommy nya sakit.


"Udah kok, Alga tenang aja."

__ADS_1


"Yaudah mommy sekalang mommy istilahat, bial cepat sembuh," Ucap Alga sambil membantu Airin berbaring.


Airin tersenyum gemas melihat tingkah perhatiaan Alga, memang anaknya ini beda dari yang lain.


"Alga udah makan?"


"Nanti aja mom."


"Kenapa belum makan sayang? ini kan udah lewat jam makan siang nanti perut Alga sakit, mau?"


Alga menggelengkan kepalanya, "Gak mau mommy, Alga gak mau sakit."


Airin tersenyum, "Yaudah makan yuk, Alga mau makan sama apa?"


Alga menggeleng, "Mommy diam dulu disini, Alga mau kekantin sama Zio."


"Alga tau kantinnya dimana?"


"Tau kok mom, mommy tunggu ya, nanti Alga balik lagi. Kalau mommy ngantuk, mommy tidul aja," Ucap Alga sambil berjalan kedepan Zio.


"Tapi kamu kan baru nyampe, gak cape apa?"


"Nggak kok mom."


"Zio, ayok kita makan, "Ajak Alga lalu menggandeng tangan Zio.


Zio hanya menurut saja pada sahabat polosnya ini, "Dimana?'


"Di kantin aja."


Alga berjalan sambil menggandeng tangan Zio, sebelum membuka pintu, suara seseorang mengalihkan perhatian mereka.


"Emang adek punya uang?"


"Punya kok dad, nih di handphone Alga," Ucap Alga sambil mengacungkan Handphone keluaran terbarunya.


"Iya daddy, Daddy juga jaga mommy yang benel jangan kelja mulu," Agas mengendus kesal mendengar sindiran anaknya.


...~o0o~...


Setelah kepergian Alga dan Zio, Airin terdiam bosan, lalu memandangi Agas kembali.


"Om."


"Hm?"


"Em, bantuin Airin kekamar mandi," Pinta Airin dengan ragu.


Agas melihat kearah Airin, lalu berjalan mendekat, "Ayok."


Agas membantu Airin berdiri, meskipun badannya sudah sedikit enakan tapi tetap saja dirinya tak bisa berdiri sendiri. Airin berjalan dengan memegang tiang infusan, tangannya dan bahunya dipegang Agas dengan erat.


Airin duduk di closet kamar mandi, "Om keluar dulu, Airin mau mandi."


"Apa? mandi? kamu masih sakit Rin, jangan dulu mandi, cuci muka saja," Bantah Agas.


Dengan terpaksa Airin mengangguk, Agas keluar terlebih dahulu mengambil handuk kecil, "Biar saya yang lap tangan sama kaki kamu, biar gak lengket."


"Em, emang gak papa om?" Tanya Airin ragu.


"Hm, kamu diam disana."


Agas mengambil baskom yang berisi air hangat lalu mencelupkan handuk kecil kedalamnya tak lupa memerasnya.

__ADS_1


"Maaf ya, angkat dulu baju ditangan kamu," Pinta Agas.


Airin mengangguk lalu menggulung lengan bajunya sampai atas siku, Agas mengelapnya dengan hati hati, dia tak mau menyakiti Airin.


Airin memperhatikan Agas yang berjongkok didepannya, tangan yang bekerja dengan hati hati seolah Airin benda yang mudah pecah.


Setelah selesai, Agas mengelap kaki Airin sampai atas mata kaki, "Maaf Airin ngerepotin om."


Agas mendongak kala mendengar suara Airin, "Tidak apa apa, hanya denganmu, saya suka direpotkan."


Airin terdiam dengan kepala menunduk melihat Agas, "Orang tua kamu mana?'


"Ayah sedang ada tugas jadi bunda ikut."


Agas menganggukan kepalanya mengerti lalu kembali mengelap kaki Airin. Airin sedari tadi terus memperhatikan Agas, dilihat dari atas saja Agas terlihat tampan. Airin tanpa sadar mengelus rambut hitam legam Agas yang mempunyai harum menenangkan.


Agas terdiam saat merasakan elusan lembut pada rambutnya, lalu mendongakkan kepalanya melihat Airin, tatapan mereka bertemu dengan wajah yang jaraknya sangat dekat.


Airin terdiam gugup, matanya berkedip kedip saat melihat muka Agas berjarak dekat dengannya.


"Tangan kamu."


Airin tersadar lalu dengan cepat menjauhkan tangannya, "Maaf."


"Hm, tidak apa apa."


"Mm, om aku- itu aku ada panggilan alam dulu, om bisa keluar dulu gak," Pinta Airin dengan gugup.


Agas terdiam lalu mengangguk, berdiri dari jongkoknya lalu berjalan meninggalkan Airin yang sedang menunduk.


"Ais malu," Gumam Airin sambil menutup mukanya menggunakan kedua tangannya.


Sedangkan Agas terdiam di depan pintu kamar mandi, tangannya meraba rambut yang tadi dielus Airin.


"Nyaman."


Agas menggigit bibir bawahnya, rasa gugup yang ntah kenapa tadi dia rasakan hilang seketika.


Telinga Agas memerah saat mengingat muka Airin yang sangat dekat dengannya, wajah cantik Airin yang terlihat lebih cantik jika dilihat dari dekat.


"Sial!"


Cklek.


Agas berbalik badan saat mendengar pintu kamar mandi terbuka, dilihatnya Airin yang berdiri sambil berpegangan dengan tiang infusnya.


"Maaf, lama ya om."


Agas menggeleng lalu membantu Airin kembali ke hospital bed nya, setelah membantu Airin duduk, Agas menempelkan punggung tangannya di dahi Airin.


"Apa masih pusing?"


"Nggak kok om."


Agas memegang pinggiran kasur dengan tangan kiri dan kanannya mengkung Airin, "Lain kali jaga kesehatan mu, jangan sampai sakit, saya gak suka."


"Mengerti?" Airin mengangguk nurut, senyum manis terlihat dibibir Agas.


Cup


Airin melotot kaget saat merasakan bibir yang dingin dan lembut mengenai dahinya. Sedangkan Agas masih mengecup dahi Airin dengan lembut, hingga.


Cklek.

__ADS_1


Agas dengan cepat menjauhkan dirinya dengan Airin saat mendengar suara pintu terbuka, matanya membelalak kaget melihat dua orang melihatnya dengan senyum jahil.


"Ayah, bunda."


__ADS_2