
Hari ini Airin beserta Azila kembali bersekolah, karena sebentar lagi mereka akan ujian jadi akan ada belajar tambahan. Sedari tadi Alya bercerita panjang lebar kepada Airin dan Azila tentang keseharian nya tanpa kedua sahabatnya itu.
"Sumpah ya, gue gedek banget sama si Joshua, apalagi gak ada kalian berdua. Jadikan gue gak ada tempat berlindung," Cerocos Ayla.
Airin menangkup dagunya dengan tangannya, "Gitu gitu juga Lo suka kan?"
Ayla terdiam sejenak lalu tertawa hambar, "A-haha, apasih lo ngaco. Gue udah gak suka kali sama dia."
"Emang lo suka sama siapa?"
"Huah!" Pekik Ayla kaget saat merasakan bisikan ditelinganya, sedangkan Airin dan Azila hanya tertawa ngakak.
"S-se sejak kapan lo disini?" Tanya Ayla dengan gugup.
Joshua duduk disamping Ayla dengan muka yang nampak berfikir, "Em, sejak Lo bilang gak suka kali sama dia."
Ayla mengusap dadanya sukur, "Lain kali Lo jangan muncul tiba tiba, untung gue gak punya penyakit jantung."
"Hm, mungkin kalo lo punya pun. Lo udah mati sekarang," Ucap Joshua dengan santainya.
"Wah sialan! lo ngedoain gue mati!"
"Lah siapa juga yang nge doa, gue kan cuman ngomong," Bantah Joshua, Ayla menatapnya geram, "Ucapan adalah doa bego!"
"Lah berarti lo juga nge doa kalo lo punya penyakit jantung," Ucap Joshua.
Ayla mengepalkan kedua tangannya geram, ”Jojo, dalam hitungan ketiga. Kalo lo masih berada dalam pandangan gue, gue janji bakal bunuh Lo sekarang juga."
Joshua tidak gentar dengan ancaman Ayla, malah tubuhnya sengaja dia sandarkan dikursi dengan kaki yang menyilang angkuh.
"Satu."
"Dua."
Airin dan Azila duduk dengan tenang melihat pertengkaran calon sepasang kekasih itu, Azila berbisik keAirin, "Menurut lo mereka jodoh kagak?"
"Menurut gue sih iya," Balas Airin.
Ayla menatap Joshua tajam sambil membawa buku tebal fisika ditangannya, "Tig-"
Cup.
"Omo!" Pekik Airin dan Azila bersamaan saat melihat adegan plus plus didepannya.
Ayla terdiam kaku saat benda kenyal itu menempel dipipinya dengan sebelah tangan yang terangkat memegang buku paket fisika, matanya mengerjap ngerjap kaget.
Joshua menjauhkan kembali wajahnya, matanya menatap mata Ayla intens, "Jangan galak galak by gak cocok sama muka lo yang manis."
Joshua mengacak acak rambut Ayla pelan, "Gue pergi dulu."
Keadaan kelas hening, mereka terdiam dengan pemikiran nya sendiri hingga suara teriakan Airin dan Azila memecahkan lamunan mereka, "Aaaa so sweet!"
"Cie Ayla."
Ayla dengan cepat menutup mukanya dengan buku paket fisika ditangannya, pipinya terasa panas dengan perut yang terasa geli.
Airin menangkup kedua pipi Azila dengan tatapan yang disamakan dengan tatapan Joshua tadi, "Jangan galak galak by gak cocok sama muka lo yang manis."
Ayla menggeplak tangan Airin keras, Airin pun meringis pelan, "Aws, jangan galak galak by gak cocok sama muka lo yang manis."
"Si Jojo semakin terdepan ya bun," Celetuk Azila.
__ADS_1
"Diem deh lo berdua!" Pekik Ayla dengan muka memerah lalu berjalan keluar kelas dengan buku yang senantiasa dibawanya yang entah dia sadar atau tidak.
Airin dan Azila tertawa keras, lucu sekali melihat muka merah Azila yang seperti kepiting rebus.
...~o0o~...
Airin berjalan menaiki anak tangga yang lumayan banyak lalu membuka pintu dengan pelan saat sampai diatas anak tangga. Sapuan angin serta terik matahari menyambutnya.
Airin berjalan menuju sofa yang berada disamping tembok, "Kenapa?"
Airin duduk disamping Azrel yang sedang duduk sambil memejamkan matanya. Azrel menatap Airin sebenatar lalu berbaring dengan paha Airin sebagai bantalan.
"Elusin," Pinta Azrel sambil membawa tangan Airin menuju rambutnya.
Tak tunggu lama Airin mengelus rambut Azrel yang memang dia suka dengan rambut lembut Azrel, "Ada masalah?"
"Tidak," Jawab Azrel dengan mata tertutup.
"Terus?"
"Pengen gini aja," Ucap Azrel.
Beberapa menit keadaan hening dengan Airin yang senantiasa mengelus rambut Azrel. Hingga Azrel membuka suara terlebih dahulu.
"Bidadari mau nikah sama daddy?" Tanya Azrel dengan mata yang masih tertutup.
Airin terdiam sejenak hingga menundukan kepalanya melihat Azrel yang sudah membuka matanya, "Tidak tau, emang kenapa?"
"Em, Azrel mau kasih pilihan," Ucap Azrel ragu.
"Apa?"
Azrel memegang tangan Airin yang ada diatas kepalanya, Matanya menatap Airin sendu dan juga ada sedikit rasa khawatir disana, "Menikah denganku atau dengan daddyku?"
...~o0o~...
Airin memlihat kearah depan, ternyata Agas yang berdiri didepannya sambil membawa sebuah keresek. Airin berdiri dari duduknya lalu menghampiri Agas dengan wajah bingung.
"Om sejak kapan ada disini? ayo duduk," Ucap Airin sambil menggiring Agas agar duduk dikursi teras depan rumahnya.
"Baru tadi, kamu kenapa malam malam begini duduk termenung didepan rumah begitu, hm? apa ada masalah?" Tanya Agas sambil menyimpan bingkisan nya dimeja yang menjadi jarak duduknya dengan Airin.
"Tidak ada, Airin hanya rindu bunda sama ayah," Ucap Airin sambil melihat Agas.
Agas tersenyum kecil, tangannya mengusap rambut Airin lembut, "Kenapa tidak menelepon nya?"
"Sudah tapi kata bunda mereka sedang sibuk. Tapi Airin gak tau lagi sibuk apa. Om ngapain malam malam kesini?"
Diam diam Agas tersenyum lebar lalu menormalkan kembali raut wajahnya, "Sudah, nanti juga mereka menelepon. Sekarang masuk ya, gak baik malem malem termenung. saya kesini karena saya rindu kamu."
Airin mengangguk pelan sambil tersenyum manis, "Ini saya juga belikan kamu donat."
"Makasih," Ucap Airin sambil tersenyum kecil.
Agas membalasnya dengan senyum manisnya lalu menuntun Airin agar masuk kedalam rumah, "Masuk ya, udara malam gak baik buat kesehatan. saya pulang dulu, kamu hati hati dirumah."
Airin lagi lagi mengangguk, "Om juga hati hati dijalannya."
Agas mengangguk lalu menangkup wajah Airin dengan tangannya, Cup. Agas mengecup dahi Airin lama, "Saya pergi dulu."
Airin sempat memejamkan matanya saat Agas mencium dahinya lembut, lalu tangannya melambai saat Agas ingin melajukan mobilnya.
__ADS_1
Airin berbaring ditempat tidurnya, Dia masih teringat dengan ucapan Azrel tadi siang.
Flashback.
"Menikah denganku atau dengan daddyku?"
Airin mengerjap ngerjapkan matanya sambil menatap Azrel, "Hah? maksudnya gimana?"
Azrel menatap Airin dengan senyum manisnya, "Kalau bidadari gak nikah sama daddy, bidadari nikah aja sama Azrel."
Airin menghela nafas lega, kirain Azrel suka dengannya, "Kenapa harus nikah sama Azrel?"
"Karena Kalau bidadari nikah sama yang lain, nanti Azrel gak bakal bisa manja manjaan lagi."
"Kalau gitu Azrel cari pacar aja biar bisa manja manjaan atau langsung aja cari calon istri," Saran Airin.
"Azrel gak mau. Azrel gak minat nikah."
"Hah?" Airin mengerjap ngerjapkan matanya mudeng dengan perkataan Azrel.
"Kenapa gak minat nikah?"
Azrel menatap Airin serius, "Azrel mau bahagia sama keluarga Azrel dulu, menyelesaikan masalah Azrel dulu baru cari pacar atau calon istri. Azrel gak mau pacaran sekarang karena Azrel takut nanti pacar Azrel kena masalah Azrel."
Airin terkekeh pelan, "Manis banget sih."
"Bidadari."
"Hm?" Airin mengusap kembali rambut Azrel pelan.
"Karena bidadari bakalan nikah sama daddy, Azrel mau kasih tau sesuatu."
"Apa?"
"Azrel dan Alga bukan anak kandung daddy," Airin terdiam sebentar lalu kembali mengusap rambut Azrel memberi waktu agar Azrel kembali berbicara.
"Daddy itu adiknya Ayah, dulu waktu Ayah sama bunda udah gak ada, daddy mohon mohon sama opa buat menjadi kan kita anak daddy. Dan akhirnya opa menyetujui permintaan daddy, Daddy waktu itu senang karena katanya berada didekat kita itu berasa didekat dengan Ayah."
Azrel menghembuskan nafasnya pelan, "Dari situ daddy bilang, katanya jangan memanggilnya dengan sebutan om lagi sebut saja daddy. Azrel seneng karena bisa mempunyai orang tua lagi meskipun bukan kandung."
"Azrel punya kembaran?" Tanya Airin saat mengingat Poto yang ada dirumah Agas.
"Punya, dia perempuan. Dia kakaknya dan Azrel adiknya, tapi sekarang gak tau, soalnya dia gak ingat Azrel," Ucap Azrel sendu.
"Kenapa?"
"Kakak punya trauma dan waktu itu kakak juga pernah kecelakaan. Kata dokter ingatan kakak sebagian hilang, kakak hanya mengingat Alga tapi gak ingat Azrel."
Airin mengusap air mata yang keluar dari mata Azrel, "Kenapa Azrel gak bilang kalau Azrel itu kembarannya?"
"Azrel gak sanggup. Kakak juga gak tinggal disini, dia tinggal sama opa setelah kecelakaan itu. Azrel gak pernah ketemu kakak setelah kejadian itu, Opa juga pernah bilang kalau dia akan menangis histeris jika ketemu Azrel."
"Bagaimana bisa?" Tanya Airin bingung.
"Opa pernanh nanya sama kakak, ingat gak sama Azrel. Tapi kakak jawab nggak terus opa kasih Poto Azrel, kakak malah nangis sambil mukul mukul kepalanya."
Azrel menatap Airin sendu, "Bidadari Azrel punya permintaan."
"Apa?"
"Azrel pengen ketemu kakak."
__ADS_1
Flashback off.