
Alga berjalan dengan riangnya memasuki mansion mewah beserta ketiga temannya. Meskipun tadi sewaktu mendarat daddynya menceramahi nya lewat telepon dan pastinya akan ada hukuman kembali yang akan diterima Alga. Tetapi Alga tidak takut karena sekarang ada mommy nya yang akan membelanya.
"Opa!" Teriak Alga sambil berlari menuju lelaki paruh baya yang sedang duduk memainkan laptopnya.
"Oo cucu kesayangan opa! sini peluk," Alga langsung memeluk opanya dengan erat, sedangkan ketiga temannya duduk disofa panjang.
"Cucu opa makin besar ya, ini pipinya juga kenapa malah makin besar sih? daddy kamu ngasih apa sama kamu sampai sampai pipinya chubby begini?" Tanya lelaki paruh baya itu sambil mencubit pipi bulat Alga.
Alga cengengesan dibuatnya, "Alga suka makan buah opa, telus Alga suka makan ice cream sama kue lembut yang manis. Oh iya, Alga juga suka makan masakan mommy, opa tau gak? masakan mommy itu enak loh. Pokoknya kalau opa ke Indonesia, opa halus makan masakan mommy, dijamin pasti bakal ketagihan."
Lelaki paruh baya itu menyerngit kan dahinya bingung, seingatnya daddy dari cucu yang satunya itu belum menikah.
"Oh ya? Yaudah nanti kalau opa kerumah Alga. Alga harus siapin makanan buatan Alga sama mommy Alga," Ucapnya dengan senyum manis.
"Oke opa!"
"Kenapa ini rame rame? bagi bagi sembako kah?" Tanya seseorang yang baru datang sambil membawa sebuah apel.
"Om Albie!" Pekik Alga sambil berlari mendekati Albie lalu meloncat menuju gendongan nya.
"Ya Allah cil, untung lo kagak jatoh," Alga hanya tertawa kecil.
"Wah cil lo punya temen baru ya, mana gemoi gemoi lagi. Eh kecuali sidatar Zio."
Zio menatap Albie malas, "Datar juga tampan."
"Dih narsis banget lo cil. Eh yang dua ini siapa namanya? kok kalian mau mau aja temenan sama si Alga, dia kan cengeng. Gak LAKIK."
Alga menepuk pipi Albie keras, "Ih kata siapa Alga gak lakik, Alga juga lakik tau. Nih liat nih otot Alga," Ucap Alga sambil memperlihatkan otot tangannya.
"Ini bukan otot cil, ini mah daging Ya Allah. Lo itu bukan berotot tapi gemuk!" Geram Albie sedangkan Alga hanya mengangguk mengerti.
"Belalti selama ini bang Azlel bohong dong! katanya kalau Alga makan banyak bakalan punya otot kaya daddy."
Albie menepuk jidatnya pelan mendengar ucapan keponakannya, "Dahlah cil, pusing gue. Kenalin noh temen temen lo."
Alga mengangguk, "Nah yang duduk diujung itu nanya Delen dia tetangga mommy tapi sekalang jadi temen Alga, telus disebelah Delen ada Lion, Alga ketemu Lion dilumah sakit. Nah disamping Lion ada Zio, Alga sayang banget sama Zio huhuhu. Zio itu ganteng, tapi masih gantengan Alga, Zio itu kayak setengah nyawa Alga, i love you Zio."
Albie melongo tak percaya mendengar tuturan Alga sedangkan sang opa hanya tertawa gemas, "Cil, lo kenapa bucin banget sama si Zio sih! lo gak belok kan cil?"
Alga menatap Albie bingung, "Bucin apaan om? belok juga apaan? Alga dari tadi diem kok gak belok? Om Albie gak jelas banget!"
"Astaghfirullah, kenapa papa bisa punya cucu kayak si Alga sih pah?"
"Kenapa nanyain ke papa? tanya saja pada yang membuat," Ucap Lelaki paruh baya itu, sedangkan Albie hanya menghembuskan nafas kasar.
"Opa, Oma kemana?" Tanya Alga.
"Omanya lagi tidur, katanya capek habis kerja," Ucap lelaki itu.
__ADS_1
"Kasian Oma. Lagian opa kok jahat sih bialin oma kelja," Ucap Alga.
"Oma yang mau sayang, opa gak bisa nolak."
Alga turun dari pangkuan Albie lalu berjalan kearah tiga temannya, "Yasudah lah. Awas aja kalo Oma sakit, Alga bakalan malah sama opa!"
"Ayo teman teman kita tidul, Alga udah ngantuk," Lanjutnya.
"Good night semua," Pamit keempat bocah itu lalu berjalan kekamar Alga yang berada dilantai dua.
"Opa, dimana adikku?" Tanya seorang remaja perempuan yang baru saja datang.
"Baru saja naik keatas, jangan dulu diganggu. Jika ingin bertemu besok saja, biarkan dia beristirahat sejenak," Ucapannya.
Perempuan itu medengus kesal, lalu berjalan keluar dengan muka betenya. Sedangkan lelaki paruh baya itu menyenderkan tubuhnya kesofa dengan pelan lalu menghembuskan nafasnya panjang.
"Permisi tuan Raynald, tuan Agas menelepon Anda," Ucap Seorang lelaki sambil menyerahkan sebuah handphone.
Lelaki paruh baya yang bernama Raynald itu mengambil handphone nya lalu menggeser tombol hijau, "Kenapa?"
"..."
Senyum miring terlihat saat mendengar jawaban dari Agas, "Ah, semoga berjalan dengan lancar. Tenanglah Agas, jika kau kesulitan opa akan membantumu."
"...."
Tut.
"Kenapa pah?" Tanya Albie penasaran karena jarang jarang adik ipar kalanya itu menelepon.
"Oh tidak, sepertinya masalah ini akan cepat selsai."
"Maksudnya?" Tanya Albie tak mengerti.
"Dia bergabung kembali," Albie mengangguk kan kepalanya mengerti, sedangkan Raynald menatap Poto sepasang kekasih didalam handphone nya dengan senyum miring.
"Tenang saja sayang, papa akan menemukan satu lagi dalangnya. Meskipun harus mengorbankan nyawa papa sekalipun." Batin Raynald.
...~o0o~...
Suasana malam kini terlihat ramai apalagi ditempat hiburan yang rasanya seperti sedang ada diskon besar besaran. Kelima remaja itu berjalan sambil berpegangan tangan, katanya biar tidak hilang.
"Ya Allah pusing gue, kenapa disini banyak orang sih!" Pekik Agion, niatnya ingin melepas stres ditaman hiburan kini malah menjadi stres berlebihan.
"Air panas woy! awas air panas!" Teriak Giri sambil berjalan menerobos kerumunan.
"Woy naik itu yuk! kayaknya seru deh," Ucap Azrel sambil menunjuk roller coaster.
"Yuk lah gas ken! gue mau teriak sampe hilang suara gue," Timpal Giri.
__ADS_1
Mereka berlima pun berjalan ketempat pemesanan tiket lalu duduk dikursi gerbong, "Ini gak akan kenapa napa kan?" Tanya Fiter sambil melihat lintasan yang akan dilalui.
"Kenapa? Lo takut?" Tanya Giri yang duduk disebelahnya.
Fiter dibuat gelalapan, "Nggak! g-gue gak yakin aja."
"Gak usah ragu, nikmati aja Fit," Ucap Agion yang kini duduk disamping Azrel sementara Mario duduk dibelakang mereka bersama seorang perempuan berhijab.
"Haduh ya Allah bismillah bismillah," Gumam Fiter sambil memejamkan matanya saat gerbong yang mereka naiki sudah bergerak, sedangkan Giri hanya terkekeh mendengar gumaman Fiter.
"AAAA BUSET BUNDA TINGGI BANGET HUAA," Teriak Fiter ketika kecepatannya semakin tinggi juga rel yang semakin tinggi.
"HUAAA HAHAHA SERU BANGET WOY!"
"AAAA KENCENGIN LAGI MANG!"
"BANG TAMBAH KECEPATAN!"
Mario menggelengkan kepalanya melihat tingkah teman teman didepannya. Sedangkan dia malah sibuk memejamkan matanya menikmati terpaan angin malam yang menyambutnya.
Gadis disampingnya pun menatap Mario heran, "Santai sekali."
"Huaaa, aduh pusing pala gue," Ringis Giri ketika mereka sudah turun dari wahana tersebut.
"Hahaha, gila ngakak banget muka lo Fit," Ucap Agion sambil tertawa kencang melihat muka pucat Fiter serta kaki yang sepertinya lemas seperti jeli.
"Sialan lo, bukannya bantuin malah ngetawain. Gandeng gue woy kaki gue lemes,"
Agion merangkul bahu Fiter lalu mendudukkan nya dikursi samping tukang gula kapas, "Halah payah lo gitu aja lemes, liat noh si Mario. Dia mah menikmati."
"Gue kan takut ketinggian. Udahlah kagak usah banyak bacot lo, sana beliin gue gula kapas," Ucap Fiter sambil mendorong Agion menuju penjual permen kapas.
"Ih lucu banget!" Pekik Azrel saat melihat gula kapas berbentuk panda.
"Jijik Zrel, Lo kayak cewek tau gak," Ucap Agion.
"Serah gue dong sewot aja lo," Ucap Azrel lalu mengambil gula kapas berbentuk panda dan beruang kutub, setelah itu membayarnya, "Nih Yo, gue beliin kembaran lo."
"Hm, makasih," Ucap Mario sambil mengambil gula kapas berbentuk beruang kutub.
"Gio mana punya gue," Agion menyerahkan gula kapas berbentuk kucing kepada Fiter lalu gula kapas berbentuk Harimau kepada Giri sedangkan punya nya berbentuk domba.
"Eh bentar dong! Poto dulu Poto dulu," Ucap Azrel saat mereka akan memakan gula kapasnya.
"Yaelah ribet lo, yaudah buruan," Titah Agion.
Azrel hanya cengengesan lalu membuka kamera handphone nya, mengambil beberapa gambar dengan berbagai gaya. Azrel tertawa melihat kondisi muka Agion saat dirinya tak sengaja memotretnya.
"Ah, bahagia sekali. Tapi tenang saja, akan ku pastikan bahagia mu hanya untuk sementara," Ucap Seseorang yang duduk disebrang mereka dengan senyum miringnya.
__ADS_1