
Airin menghembuskan nafasnya kesal, sudah beberapa jam dia menunggu Agas yang katanya sedang membelikannya cemilan. Bola mata hitam Airin melirik ke arah jam tangan Agas yang tertinggal, terlihat jarum jam yang menunjukan pukul lima sore.
"8 jam! ck, seperti sedang sekolah saja. Sebenarnya, supermarket mana yang dia datangi!" Pekik Airin kesal.
Lagi lagi, helaan nafas kasar terdengar jelas di ruang rawat yang terasa sepi ini. Hanya ada Airin sendirian dengan dua bodyguard yang ada di depan pintu masuk.
"Apa aku bertanya kenapa mereka? Sebenarnya kemana semua orang itu, kenapa tiba tiba semuanya menghilang begitu saja."
Airin melirik ke meja nakas, terdapat handphone Alga yang sepertinya tertinggal ketika akan berangkat ke sekolah. Airin mengambil handphone Alga, lalu mencoba membuka kata sandi dengan acak.
"Berhasil," Gumam Airin senang saat berhasil membuka sandi handphone Alga.
"Maafkan mommy Alga. Mommy tau ini tidak sopan, tapi ini juga untuk kebaikan," Ocehnya sambil mengotak atik handphone Alga.
"Hallo Alga kenapa? Tumben telepon daddy?" Terdengar suara Agas di dalam handphone.
Airin menempelkan handphone itu ke telinganya, "Bagus ya, sekarang berani berbohong hm?"
Agas yang berada di seberang sana memelotot kan matanya, tangannya menepuk pelan dahinya, "Eh, sayang kenapa?"
Airin mendelik kesal, tidakkah Agas sadar jika dia sudah menunggunya selama delapan jam demi sebuah cemilan, "Aku sudah menunggu delapan jam. Sebenarnya kamu belanja di supermarket mana? ujung dunia? atau ujung tanduk rusa? kenapa kamu lama sekali! tidak taukah kamu bahwa menunggu itu lelah!"
Agas meringis pelan, "Maaf sayang. Aku lupa," Ucapnya diakhiri cicitan.
"Ouh lupa ya. Yaudah deh aku juga tadinya gak nunggu kamu, soalnya aku lupa kalau aku punya pacar. Lanjutkan saja aktivitas mu, aku tadi hanya ingin menanyakan cemilanku."
Tut.
Agas mengacak acak rambutnya frustasi, bagaimana bisa dia lupa jika sudah berjanji kepada Airin untuk membelikannya cemilan kesukaannya.
"Kenapa?" Tanya Arsen yang baru datang dengan penampilan acak acakan.
__ADS_1
"Airin?" Tebak Arsen, Agas hanya mengangguk lesu.
"Kau ingin pulang? jika mau tidak apa apa, di sini ada kita yang menghandle," Timpal Jehon yang datang dengan Daniel serta Angel.
"Tidak apa apa, lagipula kita saat ini jauh dengan kota. Bahkan negara, lanjutkan saja pekerjaan kalian. Aku akan memantau gadisku dulu," Ucap Agas lalu berjalan ke sebuah ruang dengan berbagai monitor yang terpasang rapi.
Airin meletakkan handphone Alga dengan kesal, matanya melirik kesana kemari hingga senyum manis terukir di wajahnya. Airin turun dari hospital bed nya dengan pelan pelan.
Kaki pendeknya itu berjalan menuju sofa depan televisi dengan tiang infus yang dibawanya. Airin duduk di sofa dengan senyum lebarnya, dinyalakannya televisi dan tangannya sesekali mencomot keripik pedas yang ada di meja.
"Em, enak. Gak papa kan ya, gue makan pedes abis operasi. Lagian operasi nya kan beberap hari yang lalu, pasti di bolehin," Ocehnya dengan nada girang.
Tak terasa toples yang berisi keripik pedas itu kini berada di pangkuannya, mulutnya sesekali tertawa kecil saat melihat adegan yang lucu di film yang di putarnya.
Sementara, Agas melihat layar monitor dengan tatapan datar, "Gadis nakal. Kau akan di hukum untuk ini."
...~o0o~...
"Akh! akhirnya aku bisa membobol keamanan nya!" Pekik Daniel dengan tangan yang di rentangkan nya.
"Hm bagus, amati dengan teliti kapan mereka berganti orang. Dan di bagian mana saja keamaanan mereka lemah," Jelas Agas dengan tangan yang sibuk mengetikkan sesuatu.
"Oke. Itu tugas yang sangat mudah," Ucap Daniel lalu kembali ke mode serius dengan laptopnya.
"Ternyata si bajingan itu berhutang dengan berbagai bank dunia. Kalian tau, bank yang khusus untuk elite global?" Ucap Arsen dengan tatapan fokus kepada laptopnya.
"Ck, si bodoh itu benar benar ingin cepat mati. Ah iya, bukankah kakek serta opamu masuk kedalam elite global itu?" Tanya Jehon.
"Sepertinya, aku tidak tau. Bukankah itu sebuah rahasia, dari mana kau bisa tau?" Tanya Agas balik.
Jehon menghedihkan bahunya lalu menyandarkan tubuhnya pada sofa, "Aku hanya menebak, tetapi aku pernah mendengar bahawa kakek serta opamu itu bergabung dengan elite global."
__ADS_1
Agas terdiam, jika benar kakek dan opanya itu bergabung dengan elite global. Bukankah akan lebih mudah menghancurkan musuhnya itu.
"Tapi bagaimana dia bisa lolos ke dalam bank itu? bukannya bank itu sangat ketat. Apalagi dengan identitas?" Tanya Angel yang sedari tadi sibuk dengan handphone nya.
"Apa dia mempunyai orang dalam?" Timpal Daniel.
"Sepertinya, tetapi biarkan itu menjadi urusan kakek nya Agas. Aku punya firasat jika ada yang bekerja sama, menghancurkan dua orang berbeda di dalam satu keluarga," Jelas Arsen.
"Sudahlah. Kita pikirkan itu nanti, sekarang kita harus melanjutkan rencana yang sudah kita susun," Ucap Daniel sambil berjalan ke depan dimana terdapat layar proyektor yang sudah terhubung dengan laptopnya.
"Oke mari kita mulai. Di kantor paman bajingan terdapat tiga ratus tiga buah cctv, dengan empat puluh tujuh bodyguard yang berada di depan gerbang, di lantai paling atas. Loby kantor dan juga beberapa ada yang keliling di setiap lantai," Jelasnya.
Daniel menujuk sebuah ruangan, "Lihat, ini ruang pengendali. Nanti sebelum melanjutkan rencana, aku akan berada di sini."
"Dan ini, bagian depan, samping kanan dan kiri. Sesuai dengan rencana kita, Agas melewati gedung samping kanan sedangkan Arsen memulai di gedung sebelah kiri. Terakhir kau," Ucap Daniel sambil menunjuk ke arah Jehon.
"Apa? dan tidak usah tunjuk tunjuk," Sarkas Jehon.
Daniel mencibik kesal, "Serah gue dong. Lo always sewot sama gue. why?"
Jehon tidak mendengarkan ucapan Daniel, dirinya kembali di sibukkan dengan aktivitasnya. "Oke Jehon, kau akan lewat depan. Seperti biasa bersikap dengan sikap yang asli, jangan di buat buat.
"Setelah semuanya masuk, kalian bertiga langsung memasuki ruangan paman bajingan itu. kita nanti hanya ada wkatu sepuluh menit," Ucap Daniel.
"Nah, sekarang untuk Angel. Kau akan berada di gedung sebelah yang masih dalam perbaikan itu. Jangan lupa ambil pistol kebanggaan mu itu, kau harus bersiap siap jika ada penyerangan di dalam gedung."
"Ck, yang benar saja di misi yang kesekian kalinya ini, aku harus jadi penembak!" Ucap Angel tak terima, dia bosan dengan pekerjaannya yang harus ada di belakang layar.
"Kau kan penembak jitu, nikmati saja. Kau tidak akan mengalami kejadian seperti ini lagi jika sudah menikah, eh tapi aku lupa. Kau kan belum punya jodoh, Oceh Daniel.
Angel berdecak kesal, "Ck, menyebalkan."
__ADS_1