Young Mom

Young Mom
PART 42


__ADS_3

Agas berdiri didepan kasurnya dengan melipat kedua tangannya didepan dada. Matanya menatap Arsen yang tidur dikasurnya dengan nyenyak nya. Tubuh besar itu tengkurap dengan bagian tubuhnya yang tidak memakai baju.


"Berapa lama dia tidur Om?" Tanya Airin yang berdiri disampingnya.


Agas melirik jam tangan yang melingkar ditangan kekarnya, "Kurang lebih dua belas jam."


Airin membulatkan matanya terkejut, sungguh itu rekor tidur yang panjang menurutnya. Airin berjalan kesamping kasur lalu menggoyang goyangkan tangan Arsen, "Bangun pak."


"Em, Azila maafkan saya," Racauan terdengar lirih dimulut Arsen.


Azila menggelengkan kepalanya lalu menarik tangan Agas agar keluar dari kamar apartemen Agas, "Dia minum ya om?"


"Hm, ntah berapa botol dia minum."


Airin menarik Agas agar duduk disampingnya, "Kenapa gak om cegah? kasian tau sampe tepar lama gitu? dua belas jam tidur itu beneran tidur atau simulasi mati?"


Agas terkekeh pelan lalu berbaring disofa dengan paha Airin sebagai bantalan nya, "Mau saya ceritakan?"


Airin mengangguk mengiyakan, Agas pun mulai menceritakan bagaimana kekesalan dia tadi malam dikarenakan tingkah Arsen.


Flashback.


Brak.


"Aish, pundak ku," Ringis Agas sambil menggoyang goyangkan pundaknya yang terasa pegal setelah membopong Arsen menuju lantai 16 dimana apartemen nya berada.


"Cih sungguh merepotkan, pantas saja tidak ada yang ingin membelimu tadi. Rupanya mereka tau jika denganmu bukannya membahagiakan malah membebankan," Cerocos Agas sambil meregangkan otot-otot tubuhnya.


Agas menghela nafas lelah lalu berjalan ke kamar mandinya. Dia ingin berendam di air hangat sebentar, tubuhnya perlu di rileks kan sepertinya.


Dua puluh lima menit berlalu, Agas keluar dengan hanya memakai jubah mandi. Tangannya menggosok gosok rambutnya dengan handuk kecil.


"Segar sekali," Gumam Agas sambil berjalan kearah walk in closet, baru beberapa langkah tubuhnya berhenti kala melihat keganjalan dikamar nya.


Agas dengan cepat membalikan badannya kearah kasur dan benar saja, tidak ada Arsen disana, "Huft kemana kembaran Dajjal itu?"


Prang.


Agas tersentak kaget saat mendengar suara pecahan dari arah kamar sebelahnya. Seketika mata Agas melotot kala mengingat sesuatu lalu dengan cepat berlari kearah kamar sebelahnya.


Brak.


"Yak! minumanku!" Pekik Agas kaget saat melihat beberapa minuman beralkohol yang harganya puluhan bahkan ratusan juta itu pecah begitu saja.


"Azila," Gumam Arsen sambil sesekali meminum Vodka.


Agas mengepalkan tangannya mencoba untuk tidak membunuh Arsen sekarang, "Merepotkan, sungguh merepotkan! kenapa aku tidak benar benar menjualmu tadi. Akkh, sialan! uangku terbuang sia sia karena mu!"


Agas berteriak kesal lalu menyeret Arsen yang sedang duduk sambil memegang botol Vodka, "Berhenti minum bodoh! kau ingin mati!"


Bruk.


Agas membaringkan Arsen dikasurnya lalu mengambil botol Vodka yang sedari tadi dipegang Arsen. Arsen menggeliat tak nyaman lalu perlahan membuka bajunya dan melemparkannya begitu saja.


"Awas saja jika kau sudah bangun. Aku benar benar akan membunuhmu."


Agas mendelik kesal lalu kembali memasuki kamar mandinya, sepertinya dia harus berendam kembali guna menghilangkan emosinya yang membara.


Flashdisk off.


"Apa! jadi om juga suka minum!" Pekik Airin.


"Nggak kok Rin, saya gak minum. Saya hanya koleksi saja," Bantah Agas.


Airin membangunkan Agas dari rebahannya lalu berjalan kedapur dengan membawa ember yang lumayan besar ditangannya.


"Buka pintunya," Titah Airin sambil mengetuk pintu kamar sebelah kamar Agas.

__ADS_1


Agas dibuat keringat dingin, apa yang akan Airin lakukan dengan minuman minumannya?


"M-mau ngapain?" Agas menggigit bibir bawahnya gugup.


"Gak usah banyak tanya, tinggal buka aja kenapa harus repot!" Agas tersentak kaget mendengar teriakan Airin lalu dengan cepat berjalan kedekat Airin.


Agas membuka pintu itu dengan ragu, sedangkan Airin melotot kearah Agas. Agas menelan salivanya susah payah, kenapa dia bisa merasakan aura singa bundanya saat melihat Airin yang sepertinya marah itu.


"Buruan!"


"I-iya," Sial! kenapa Agas menjadi gugup sekarang.


Cklek.


Pintu terbuka setelah Agas menempelkan ibu jarinya. Airin menatap sekitar, ternyata Agas menyimpan banyak minuman yang dibencinya.


Airin berjalan sambil membawa ember yang senantiasa berada disamping pinggangnya. Airin berjalan kearah rak yang berjejer minuman berwarna putih.


"Airin!" Pekik Agas ketika melihat Airin menumpukan isi botol itu kedalam ember yang dibawanya.


"Diem disana! jangan bergerak sebelum ini selesai saya buang!" Peringat Airin.


Agas terdiam kaku, batinnya menangis melihat Airin yang dengan santai membuang minuman yang satu minuman harganya hampir setara dengan membeli motor satu.


"Kenapa kamu buang minuman saya?" Tanya Agas penasaran.


Airin menghela nafas pelan lalu melirik Agas sekilas, "Saya gak suka om minum minuman yang kayak gini. Kenapa bisa om punya banyak minuman beralkohol? apa bunda tau?"


"Maaf, bunda gak tau. Lagian saya minum kalau lagi ada masalah doang kok."


Airin berjalan mendekati Agas, "Om tau kan minuman kayak gini gak baik buat kesehatan. Jadi walaupun om cuman minum sedikit saja itu bisa berpengaruh buruk untuk tubuh om."


"Airin mohon, jangan minum minuman kayak gini. Jika om ada masalah, bicara saja dengan Airin jangan melampiaskan nya pada minuman yang hanya membuat rugi buat tubuh."


Agas mengangguk pelan, Airin tersenyum sebentar lalu menarik tangan Agas, "Sana buang yang masih ada."


"Minimal lah ya om tuh kalau mau minum minum, beli aja minuman bersoda. Itu juga sama kok meMABUKKAN! tapi kalo om minum sepabrik."


Poor Agas.


...~o0o~...


"Kamu makannya apa? tempe! saya juru masaknya, oke! ada sate bangkai, ada tempe gosong. Semuanya direbus, bus bus bus bus bus bus."


Suara nyanyian terdengar dari seorang perempuan yang sedang menyiram tanamannya. Tubuhnya bergoyang kesan kemari sesuai irama lagu yang dinyanyikan nya.


"Buset dah makin cakep aja gue. Pantas aja banyak yang suka sama gue. toh muka gue kayak bidadari kek gini," Monolog Ayla sambil mengaca mukanya dispion motor yang ada dihalaman rumahnya.


"Sesungguhnya, hanya orang gila lah yang mengakui kelebihan paras mereka."


"Ngapain Lo disini?" Tanya Ayla sinis saat mendengar suara Joshua.


Joshua yang sedang menyandar dimotor nya pun berjalan menghampiri Ayla, "Dari tadi, lo nya aja yang sibuk memuji diri sendiri."


"Serah gue dong, lo siapa ngomen ngomen?" Tanya Ayla sewot.


Joshua mengangkat kedua bahunya acuh mendengar pertanyaan Ayla, "Lo belum mandi ya?"


Ayla seketika langsung mengendus aroma tubuhnya, "Masih wangi kok."


Joshua menggelengkan kepalanya melihat kebiasaan Ayla yang tidak berubah, "Jorok banget lo, jadi cewek jangan jorok jorok Ay. Nanti gak ada cowok yang mau sama lo mampus!"


"Bodo amat, emang gue peduli!"


"Jangan gitu Ay, sana mandi bau tau gak!"


"Gak mau! lagian gue masih wangi! lo aja yang mandi, noh noh makan noh mandi," Ucap Ayla sambil menyemprotkan air kearah Joshua dengan selang yang sedari tadi dipegangnya.

__ADS_1


"Woy jangan woy! gue udah mandi!" Teriak Joshua sambil mencoba merampas selang yang dipegang Ayla.


Ayla tertawa terbahak-bahak, bukannya menghentikan airnya Ayla malah membuat airnya semakin deras, "Hahahaha mampus lo! rasain noh mandi mandi."


"Berhenti gak! jambul badai gue jadi rusak lagi setan!" Pekik Joshua dengan kedua tangan yang berusaha menutup mukanya serta jambul badainya.


"Gak mau wle!" Ayla memeletkan lidahnya sambil tertawa keras.


Joshua segera menarik tangan Ayla kencang, "Akkh!" Pekik Ayla.


Bruk.


"Aws," Ringis Joshua saat punggungnya mendarat begitu saja dibata yang terbuat dari semen begitu keras. Ditambah Ayla yang jatuh diatasnya, double kill sekali.


"Aduh maaf maaf," Ucap Ayla sambil bangkit dari jatuhnya lalu membantu Joshua berdiri.


"Akh punggung gue!" Pekik Joshua.


Ayla meringis seolah merasakan apa yang dirasakan Joshua, "Aduh maaf maaf gue gak sengaja sumpah! lagian lo sih kenapa tarik tarik gue."


"Nanti dulu ngomelnya, awas gue mau duduk. Punggung tampan gue," Joshua masuk kerumah Ayla dengan santainya tak peduli dengan pakaiannya yang basah.


"Lo tunggu disini," Ucap Ayla lalu berlari kelantai dua dimana kamarnya berada.


Joshua hanya mengangguk tangannya mengusap usap punggungnya, rasa perih seketika menjalar ke sekujur tubuhnya. Tak lama Ayla datang dengan penampilan fresh sepertinya dia sudah mandi.


"Ini ganti dulu baju lo," Titah Ayla, Joshua hanya mengangguk lalu berganti pakaian dikamar mandi dapur.


Ayla mengambil baskom kecil yang berisi air dingin serta handuk kecil lalu mengambil kotak P3K Serta teh hangat. Ayla duduk disofa sambil menunggu Joshua cemas.


"Sini duduk," Titah Ayla saat melihat Joshua yang sudah berganti pakaian.


Joshua duduk disamping Ayla, Ayla membalikan tubuh Joshua, "Buka bajunya."


"Mau ngapain? mau mesum ya lo!" Pekik Joshua, Ayla memutar bola matanya malas.


"Gak usah banyak bacot, buruan," Joshua pun dengan terpaksa melepaskan bajunya tapi belum sempat terlepas Ayla lebih dulu mencegahnya.


"Gak usah semua, belakangnya aja," Titah Ayla, Joshua pun mengangkat baju belakangnya sampai bahu.


"Punggung lo memar," Gumam Ayla lalu mulai mengompres punggung Joshua.


"Ash pelan pelan woy, perih nih."


"Iya iya ini juga pelan pelan," Ucap Ayla sambil terus mengompres punggung Joshua dengan handuk yang sudah dicelupkan diair dingin, sesekali Joshua meringis pelan.


Setelah selesai Ayla mulai mengobati dengan berbagai obat dikotak P3K nya, "Beres."


Joshua menurunkan kembali bajunya lalu menyandarkan tubuhnya kesofa tapi sebelum itu ringisan kembali terdengar, "Akh."


"Aduh, jangan nyandar dulu dong! duduk tegak aja," Ucap Ayla lalu menyerahkan teh hangat kepada Joshua, "Nih minum dulu."


Joshua meminum teh nya dengan santai setelah itu menyimpan kembali cangkir teh dimeja, "Pegel dong gue tegak mulu kayak gini."


"Yaudah tengkurap aja sana," Joshua mengangguk lalu tengkurap disofa dengan paha Ayla sebagai bantalan.


"Siapa suruh tengkurap disofa? gue nyuruh Lo tengkurap dibawah!" Joshua mengendus kesal, "Yaelah jahat banget lo, gue mau disini soalnya empuk hehe."


Tak.


Ayla menjitak kepala Joshua keras, "dasar anak setan!"


Joshua terkekeh lalu mengambil tangan Ayla dan menyimpannya di kepalanya, "Elusin," Rengek Joshua.


Ayla dengan nurut mengelus rambut halus Joshua pelan, Ayla menunduk melihat muka Joshua yang hanya terlihat setengah. Nafas Joshua yang teratur bertanda bahwa lelaki tersebut sudah memasuki alam mimpinya.


"Kenapa tampan banget sih? manis lagi, kalo gini kan susah move on," Gumam Ayla.

__ADS_1


Ayla mendekat kan wajahnya dengan wajah Joshua, lalu mengecup pelipis Joshua pelan. Ayla berbisik pelan ketelinga Joshua, "Semoga mimpiin gue ya."


__ADS_2