
Kecepatan waktu memang tidak akan terasa, satu hari seperti mimpi hari berikutnya layaknya angan angan dan harapan. Tak terasa dua Minggu sudah Airin keluar dari ruang sakit dan juga seminggu sudah Airin selesai dengan ujian kelulusannya.
Airin tersenyum menatap kearah depan dimana kerabat, sahabat serta orang orang yang berarti baginya tengah berkumpul ria. Saling bercanda, tertawa dan ada juga yang mungkin cuek dengan sekitar atau hanya memperhatikan interaksi orang orang di sekitarnya.
"Kenapa?"
Airin tersentak kecil saat merasakan sebuah tangan yang memeluknya dari samping, "Tidak apa apa, hanya menikmati momen yang mungkin sekali dalam seumur hidup."
Agas tersenyum kecil, tangannya semakin mengerat di perut Airin, "Kamu bahagia?"
Airin menganggung sambil mengelus lengan Agas yang melingkar di perutnya, "Tentu saja. Ini adalah impian semua orang, bukan?"
"Hmm. Ini juga mimpiku yang paling kunanti."
Airin menengok ke samping dimana Agas berdiri, seulas senyum manis muncul di bibir Airin, "Kamu sangat tampan hari ini."
"Aku tau," Ucap Agas dengan pedenya, Airin hanya tertawa gemas.
Ckrek...
"Ya Allah pengantin baru, uwu uwuan Mulu. Hargai para jomblo, noh liat Kasin mereka. Udah tua, jelek, jomblo pula," Ucap Joshua yang baru saja memfoto Airin serta Agas di atas pelaminan lalu menunjuk ke arah asisten Agas yang tak lain adalah Riza dan sekretaris nya yaitu Tira serta sahabat Agas dan juga Azrel dan Agion dkk.
"FITNAH! GUE GANTENG GINI DI BILANG JELEK CIUH!" Teriak Agion.
"Mana ada gue yang kayak opa opa ini jomblo," Sanggah Jehon.
"Bocah sialan, gue belum tua cuman nambah umur aja," Ucap Daniel di akhiri kekehan.
Plak!
"AWS BANGSAT!" Pekik Daniel saat dengan santainya Azrel menampar pahanya dengan keras, "Ya Allah, lo ngapain pukul paha gue bocah!"
"Jangan salahin Azrel om, salahin aja tangan Azrel yang getal pengen nampol otak om yang pindah ke paha itu," Ujar Azrel dengan nada sok polosnya.
Airin tertawa melihat ke ributan di meja sana, "MOMMY!" Teriakan itu mengalihkan perhatian Airin.
"Mommy!" Teriak Alga yang berlari menghampiri Airin serta Agas sambil membawa buket bunga.
"Alga!" Ucap Airin girang.
Hap.
Airin mendekap Alga dengan erat seolah tak ada hari esok untuk mereka, "Mommy rindu sama Alga."
"Alga juga rindu sama mommy," Ucap Alga sambil memeluk leher Airin erat.
"Ekhm, Alga gak kangen sama daddy?" Tanya Agas.
Alga melepaskan pelukannya dari Airin lalu melihat Agas biasa saja, "Nggak! Alga bosen sama daddy mulu."
Agas merengut kesal sedangkan Alga hanya mengangkat bahu acuh, lalu memberikan buket yang baru saja di belinya kepada Airin, "Mommy. Ini buat mommy, selamat atas pernikahan nya. Semoga mommy betah sama daddy yang otaknya sedikit miring."
Agas menatap Alga tajam sedangkan Airin tersenyum tipis lalu mengusap kepala Alga gemas, "Makasih sayang."
"Kita foto dulu yuk," Ajak Airin, Alga mengangguk lalu berdiri di tengah tengah mereka.
"UNCLE JOJO! POTOIN ALGA SAMA MOMMY EH DADDY JUGA, BURUAN GAK PAKE LAMA! KALO LAMA ALGA PECAT!" Teriak Alga sambil berdecak pinggang melihat Joshua yang sedang menggoda Ayla.
Joshua melirik kearah Alga sambil mengusap dadanya, "Ya Allah, Gini amat si Airin punya anak. Berasa jadi babu gue."
"UNCLE JO!" Teriak Alga lagi.
__ADS_1
"Ck iya iya elah. Sabar cil, jangan teriak teriak gue takut pita suara lo putus."
Alga tak menghiraukan ucapan Joshua, "Buruan Poto Alga sama mommy Daddy."
"Iya iya," Ucap Joshua malas lalu mulai menggambil gambar keluarga baru itu.
"Lain kali, kerja yang bener om. Jangan keluyuran ke mana mana, saya pecat nanti om nangis," Omel Alga setelah berpoto dengan mommy dan Daddy nya itu. Sedangkan Joshua hanya mengangguk anggukan kepalanya saja, terserah tuan mudanya dia mah ngikut aja asal tidak mendapat gorokan dari bapak Agas saja.
Sementara Airin tertawa kencang melihat drama di depannya itu, sungguh lucu melihat tingkah Alga yang layaknya seorang bos besar. Airin tersenyum lega, impiannya menikah dengan orang yang di cintai dan mencintainya tercapai. Ya, setelah kejadian di rumah sakit waktu itu mereka langsung menyelenggarakan tunangan di rumah sakit.
Cup.
"Terima kasih untuk semuanya, aku tidak menyangka. Hidup yang menurutku monoton seketika berubah karena mu. Thanks my wife, i love you," Bisik Agas setalah mencium kening Airin.
"I love you to, my husband."
...~o0o~...
"Huaaa! nasib gue jelek banget dah, udah di tinggal nikah sama sahabat, gak di terima di universitas yang gue mau, jomblo pula. Ya Allah gini amat hidup saya," Oceh Ayla sambil mencabuti rumput yang ada di depannya lalu melemparnya ke danau di depannya.
Kini waktu menunjukan pukul tujuh malam, ada waktu setengah jam untuk kembali ke resepsi Airin yang di adakan outdoor. Ayla berjongkok di depan danau yang tak jauh dari lokasi resepsi, dress berwarna hitam itu di biarkan menjuntai ketanah, tangannya dengan rajin mencabuti rumput dengan ocehan nya itu.
"Huaaa.... Ayla pengen nikah juga, tapi mau sama manu Rios gimana dong? tipe gue tuh tinggi banget, pantes gak ada yang gue taksir selain mas manu," Ocehnya.
"Apa gue susul aja kerumah mas manu terus bilang, kalo gue tuh jodoh masa depanmu. Eh tapi...ntar gue di tolak lagi, lagian masa iya cewek lamar duluan."
"Nggak! Ini tidak bisa dibiarkan, kalo mas manu tolak lamaran eklusif gue. Masih ada cara lain hohoho, Cinta ditolak dukun pun bertindak!" Pekik Ayla.
Tanpa di sadari Ayla, Joshua berdiri di belakangnya dengan kedua tangan yang menyilang di depan dadanya, kekehan pelan terdengar dari mulut Joshua.
"Mau ngapain segala bawa bawa dukun?" Tanya Joshua sambil duduk di samping Ayla.
"Buset, suara mu pembunuh telingaku," Ucap Joshua.
Ayla mendelik kesal lalu kembali mencabuti rumput dan melemparnya ke danau, "Ngapain lo kesini? ganggu orang lagi ngayal aja."
"Gak baik ngehayal malam malam, apalagi di tempat gelap kayak gini. Banyak pohon juga, ada danau juga," Ucap Joshua.
"Emang kenapa?" Tanya Ayla sambil melirik ke kanan dan kekiri, sungguh jika sudah berhadapan dengan yang berbeda alam. Nyali Ayla akan menciut seperti permen kapas yang diberi air.
"Syut.." Joshua menyimpan jari telunjuknya di depan bibirnya.
Sedikit demi sedikit Ayla bergeser mendekati Joshua dengan memeluk kedua kakinya, "Kenapa?" Bisiknya.
"Di pinggir lo," Ayla menegang dengan susah payah menelan salivanya, "A-apa? kenapa? ada apa?"
"Ada..." Gantung Joshua.
"Hua ini apa di samping gue Jojo!" Pekik Ayla saat merasakan sapuan di lengannya.
"Syut...jangan berisik, nanti dia ngamuk," Ayla dengan polos nan begonya itu mengangguk.
"Lo pengen tahu?" Ayla mengangguk lalu menggeleng dan mengangguk lagi, sementara Joshua hanya menggigit pipi dalamnya menahan senyum yang akan terbit di bibirnya.
"Di belakang lo ada mahluk," Bisik Joshua.
Ayla seketika pias dengan keringat yang keluar dengan sendirinya, "Huaaa...lo jangan bohong."
"Gue gak bohong, coba lo pegang sama tangan lo," Titah Joshua.
"Nggak mau gue takut, eh, emang mahluk bisa di pegang?" Tanya Ayla dengan polosnya.
__ADS_1
"Ya makanya di coba dulu," Ayla mengangguk lalu meraba raba di sampingnya.
Krek...
MEONG.
"AAAA," Teriak Ayla sambil melompat ke pangkuan Joshua, matanya menutup erat sedangkan Joshua tertawa terbahak bahak.
"Ahahaha! ngakak banget sumpah,"
"JOJO! HIKS LO NYEBELIN BANGET SIH!"
Joshua menghentikan tawanya lalu menatap Ayla dengan kelimpungan, "Eh eh eh. Kok nangis, cupcupcup maaf ya. Gue kira lo gak akan nangis."
"Hiks...Nyebelin dasar anak setan!"
Plak...
"Aws," Ringis Joshua saat merasakan pukulan di kepalanya.
Sedangkan Ayla masih menangis dengan keadaan seperti tadi, duduk menyamping di paha Joshua. Joshua memeluk Ayla erat, tangan satunya mengusap air mata Ayla yang mengalir di pipinya.
"Udah jangan nangis lagi. Nanti make up-nya luntur gimana?" Ucap Joshua sambil mengusap pipi Ayla lembut.
"Hiks hng Ng-nggak hng bakal lun-tur," Ucap Ayla dengan tangis yang sudah reda.
Joshua tersenyum tipis, "Cantiknya Jojo, maaf ya. Tadi cuman bercanda, janji deh gak bakal ngulangi."
"Janji?" Cicit Ayla.
Joshua tersenyum tipis, "Janji sayang."
Cup...
Ayla memejamkan matanya saat merasakan benda kenyal dan dingin itu menyentuh keningnya.
"Huft, drama picisan yang sangat kental," Gumam Azrel dan Mario yang sedari tadi menyaksikan kejadian itu, tak lupa kedua tangan mereka yang membawa makanan yang lumayan banyak.
"Ada yang kurang," Ucap Mario.
"Apa?" Tanya Azrel.
"Bagaimana jika diadakannya pelakor or pebinor?" Tanya Mario.
Azrel memiringkan kepalanya seolah berfikir keras, "Tidak itu sudah klise. Bagaimana jika yang mencintai tapi tak dapat memiliki?"
"Aku tidak setuju. Itu terdengar menyesakkan," Bantah Mario sambil memasukan makanan kemulutnya.
"Lantas. apa yang cocok?" Tanya Azrel.
Secara bersamaan Azrel dan Mario memperhatikan Ayla dan Joshua yang sedang berpelukan itu, lalu keduanya melirik secara bersamaan, "Mereka terjebak," Ucap Mario.
"Sebuah hubungan yang melibatkan perasaan," Sambung Azrel.
Mario mengangguk, "Dan tidak bisa diungkapkan."
"Di dalam pertemanan," Ucap Azrel.
Srek...
Azrel dan Mario seketika saling bertatapan, "Friendzone?"
__ADS_1