Young Mom

Young Mom
PART 62


__ADS_3

Agas berjalan di antara lorong-lorong yang gelap dan terasa pengap, kakinya berhenti melangkah di depan sebuah pintu besi yang terlihat kokoh. Kedua bodyguard yang berada di depan pintu membungkuk hormat lalu membuka pintu dengan pelan.


Sreng...


Senyum miring seketika tertampang di wajah Agas yang datar. Suara hentakan sepatu terdengar sangat nyaring di ruangan yang tekesan hening ini.


"Bagaimana? siap untuk bertemu ajal?" Tanya Agas kepada LC yang terduduk menunduk. Di sekitar tubuhnya dipasang borgol serta rantai yang kuat.


"Aku tidak akan mati secepat itu!" Sarkas LC.


Agas terkekeh pelan lalu mengambil sarung tangan kulit berwarna hitam, "Dengan keadaan seperti ini saja. Kau masih bisa percaya diri...luar biasa."


"Cih, apakah itu sebuah pujian!?" LC berdecak sinis sambil mengangkat wajahnya melihat Agas yang sepertinya sedang memilih senjata.


Agas mengusap pisau lipatnya yang terdapat ukiran kuno di gagangnya, "Kau bisa menganggapnya. Jika kau mau."


Agas berbalik badan menghadap ke arah LC yang menatapnya sinis, kakinya berjalan pelan dengan tangan dan mata sibuk mengagumi pahatan pisau lipatnya.


"Aku membuat ini khusus untukmu. Aku belum pernah mencobanya karena ini pisau kesayanganku. Tapi, karena kita kedatangan tamu istimewa. Aku dengan senang hati memberikanmu hadiah dengan pisau ku," Ucap Agas.


LC hanya terdiam tak menanggapi, sedangkan Agas mulai menjalankan aksinya dengan menggores pipi LC menggunakan ujung mata pisaunya, "Aku tidak akan segan segan, LC. Kau yang memulai ini, dan aku yang akan mengakhirinya. Dengan mengirim dirimu ke neraka tentunya."


"Mafia sepertimu tidak takut kan? jika aku membuat tubuhmu terbagi menjadi beberapa bagian, kau pasti akan senang," Ucap Agas dengan nada datarnya saat tidak mendengar ringisan dari mulut LC.


LC hanya berdecih pelan membuat senyum Agas semakin merekah. Tangannya mulai mengukir di wajah LC dengan wajah datarnya tetapi bibirnya tersenyum lebar.


scary! seperti tidak ada emosi yang dominan di wajahnya. Sedangkan LC hanya menutup matanya menahan perih pada wajahnya, tangannya terkepal kuat saat Agas dengan sengaja menekan pisaunya.


"Berbicaralah. Aku tidak suka permainanku terasa hening!"


Diam, LC tetap menutup mulutnya dengan mata tertutup rapat hingga terlihat kerutan di sudut matanya, "Kau tau? memendam sesuatu itu tidak baik!" Gumam Agas.


Tangan dengan balutan sarung tangan itu mengambil benang jahit dengan jarum lalu menjait luka yang dia sebabkan.


"Akhs!"


"Bagus! teruskan! aku suka jika "teman mainku" bersuara!" Pekik Agas senang dengan bibir yang senantiasa tersenyum.


Sedangkan LC menatap Agas tajam, Agas hanya terdiam dengan wajah datar dan senang itu. Jahitannya terhenti di samping hidung LC, lalu berdiri membawa sebuah palu yang terlihat berkarat.


"Kau ingat dengan benda ini?" Tanya Agas sambil mengusap palu tersebut.


"Kau membunuh saudaraku dengan ini. Dan sebelum aku menghabisimu aku ingin memberimu sebuah wajengan hahaha."


Agas berbalik badan menghadap LC yang terlihat sedikit meringis, sedangkan Agas tersenyum bangga melihat karyanya, "Kau di sini karena perbuatanmu. Apa yang kau lakukan, itulah yang akan kau dapatkan nanti. Terbukti bukan?"


Prak...


"Akkh!" Pekik LC ketika Agas melempar palu itu pada lututnya, rasanya tulangnya mengalami patah atau tidak retak.

__ADS_1


"Ups, maaf. Aku sengaja!" Ucap Agas dengan senyum miring.


Agas mengambil kembali palu itu dengan mata yang melirik LC, seketika senyum itu menghilang terganti dengan raut wajah tanpa emosi.


Trakk...


Brak...


"Akhhh sialan!" Teriak LC saat merasakan tulang yang berada di bahunya itu retak.


"Hihihi menyenangkan! aku seperti berada di pesta ulangtahun anak-anak. Apakah kau juga mempunyai permen di tubuhmu?"


Trak...


Trak...


Trak...


"BAJINGAN!" Teriak LC penuh dendam dan amarah.


Agas tertawa elegan lalu berjalan mengelilingi kursi yang di duduki LC, "Permainanku elegan, bukan?"


"Ternyata begini juga menyenangkan. Aku bisa memaju mundurkan kematianmu, sangat menyenangkan!" Ujar Agas antusias.


Brak...


"Akhs! akhhh!" Teriakan LC kembali terdengar sesaat setelah Agas memukul kepala LC dengan palunya.


Darah terlihat sudah melumuri wajah LC, Agas semakin terkikik dibuatnya. Menurutnya ini terlihat lucu seperti memainkan permainan anak anak, "Hm. Sepertinya aku tidak bisa memundurkan kematianmu. Aku harus menemui gadisku."


LC hanya terdiam sibuk mengumpulkan sebagian nyawanya yang enatah hilang kemana di tambah pandangan matanya yang terlihat sangat buram.


Prak...


Trak...Trak...


"Akkh, ba-jingan. Aku akan membalasmu!"


Agas tak menghiraukan ucapan LC, tangannya sibuk memukul punggung LC dengan palunya, Byur... Darah segar keluar dari mulur LC dengan jumlah yang banyak.


Trak... jelb.


Agas dengan tak sabaran menusuk punggung LC dengan bruntal sedangkan LC meringis, berteriak memberontak saat Agas akan melepaskan pisau yang menancap di punggungnya.


"Katakan kata kata terakhirmu?" Tanya Agas dengan nada datar serta tangan yang memegang gagang pisau yang menancap di punggung LC yang sepertinya menggores sedikit jantungnya.


"A-aku ak-kan membunuhmu A-gas," ucap LC dengan terbata bata.


"Tentu saja," Agas tersenyum manis lalu melepaskan pisaunya dan menancapkan kembali tepat pada jantung LC.

__ADS_1


Jelb...


"AAAKH!" Teriakan LC terdengar nyaring.


"Itu tidak mungkin," Lanjutnya dengan senyum manis.


...~o0o~....


"ARSEN! APA INI! KENAPA DENGAN WAJAHMU! KAU KENAPA SEKARANG TERLIHAT JELEK!" Teriakan yang menggema di seluruh penjuru mansion itu mengagetkan Arsen yang baru saja menginjakan kakinya di ruang tamu.


"Kenapa? bagaimana bisa? Arsen, kadar ketampanan mu menurun nol koma sekian persen!" Pekik Azila.


Arsen memutar bola matanya malas, pulang pulang bukannya di sapa dengan senyum manis dan perhatian yang lembut malah sebuah teriakan serta pekikan tak lupa tingkah Azila yang memang selalu random itu.


"Aku capek sayang. Ke kamar yuk," Ajak Arsen sambil membuka kancing kemejanya.


"Ke kamar? ngapain?" Tanya Azila dengan polosnya tak lupa kepalanya yang memiring dengan dahi mengerut dalam.


Arsen tersenyum paksa, sungguh dia bingung dengan dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia cinta pada wanita dengan segala tingkah yang random seperti Azila, bukankah jodoh itu cerminan diri? tapi kenapa rasanya Arsen mendapatkan jodoh yang berbanding terbalik? apa saat pembagian jodoh, jodoh mereka tertukar?


Arsen menggandeng tangan Azila menaiki lift menuju kamar mereka lalu mendudukan Azila di pinggir kasur mereka saat sudah sampai kamar.


"Tunggu disini ya, aku mandi dulu," Ucap Arsen.


Dengan polosnya Azila mengangguk lalu duduk dengan anteng sampai Arsen keluar dari kamar mandi dengan tampilan yang terlihat fresh. Arsen duduk di samping Azila lalu memeluk Azila dengan erat, dia rindu dengan wanitanya ini. Meskipun kurang lebih baru dua hari berpisah.


"Kenapa pulang terlambat? gak tau apa kalau aku kangen," Ujar Azila dengan memeluk Arsen erat, hidungnya sedari tadi mengendus wangi tubuh Arsen yang sangat candu untuknya.


"Kan Agas ngurus dulu Airin, jadi di sana aku yang menggantikan tugasnya," Jelas Arsen.


"Kamu udah nengok Airin?" Tanya Azila sambil mendongakkan wajahnya melihat setiap pahatan pada wajah Arsen yang terlihat sempurna.


"Sudah sebelum kesini," Jawab Arsen.


"Aku jadi takut," Gumam Azila, Arsen melonggarkan pelukannya lalu menatap Azila dalam.


"Takut kenapa?" Tanya Arsen, "Seperti Airin," Jawab Azila pelan.


Arsen tersenyum tipis, "Itu tidak akan pernah terjadi. Tenang saja, aku akan selalu menjagamu honey."


"Hm benar. Dan juga mulai dari sekarang, kamu mendapatkan majikan dua," Ucap Azila dengan senyum manisnya sedangkan Arsen menatap Azila bingung.


"Bukankah aku hanya punya kamu?" Tanya Arsen bingung.


Azila menggeleng dengan senyum manisnya, "Tidak. Aku sudah membelah diri sayang."


Bola mata Arsen membola setelah mengerti apa yang di bicarakan oleh Azila, "Kamu--?" Tanya Arsen menggantung sambil menatap perut Azila sedangkan Azila hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Hamil!!"

__ADS_1


__ADS_2