Young Mom

Young Mom
PART 44


__ADS_3

Hari ini hari istimewa untuk siswa siswi disalah satu sekolah populer. Bagaimana tidak istimewa jika para guru serta dewan yang terlibat akan ada rapat untuk persiapan ujian kelas dua belas.


Di lapangan basket, voly maupun putsal terdengar sorak Sorai penonton, di free class hari ini para murid lebih memilih bermain basket serta yang lainnya. Seperti Azrel dan Agion yang beradu basket saat ini.


"Gio!" Teriak Giri sambil melambaikan tangannya, Agion yang sedang berlari pun langsung mengoper bola kepada Giri.


"Aish," Dengus Azrel kesal saat gagal merebut bola basket yang dipegang Agion.


Giri segera berlari dengan sesekali mengecoh Mario yang mencoba merebut bolanya. Merasa tidak ada celah Giri segera melempar bolanya menuju ring dengan jarak yang lumayan jauh.


Tet.


"Wow!"


"Mantap! Bang Giri memang jago!" Teriak Fiter.


"Asek menang nih kita!" Pekik Agion sambil bertos ria dengan ketiga temannya.


Azrel menunduk sambil mengatur nafasnya sesekali tangannya menyeka keringatnya dengan punggung tangannya, "Curang!" Pekiknya.


"Yaelah curang apaan sih? dari tadi kita main sportif kok," Ucap Agion.


Azriel mengerang kesal, "Arrgh, pokoknya curang. Masa kita berdua lo bertiga, ya kalah dong."


"Dahlah, pusing gue. Mending kekantin," Ucap Agion sambil berbalik badan lalu berjalan meninggalkan Azrel, tetapi baru saja satu langkah suara tembakan terdengar keras.


Dor.


Dor.


Azrel dengan cepat menarik Agion lalu menunduk, Siswa siswi yang mendengar suara tembakan pun berlarian kekelas mereka. Suasana yang awalnya santai kini terlihat riuh dengan lalu lalang siswa/i yang berlarian. Untungnya ruang rapat jauh dari lapangan olahraga.


"Anjir siapa itu?" Tanya Fiter dengan posisi jongkok.


Azrel menatap sekitar dengan perasaan was was. Seketika matanya menajam saat melihat seseorang yang berada digedung olahraga sedang mengarahkan pistol kearah mereka.


"Lari woy, berlindung dibelakang tembok itu buruan!" Pekik Azrel lalu berlari secepat mungkin dengan tangan yang masih menyeret Agion.


Dor.


"Hah!" Ucap Azrel lega, telat satu detik saja makan peluru itu akan tertancap disalah satu tubuh mereka.


"Anjir hah, siapa itu?" Tanya Giri sambil ngos-ngosan.


"G-gue gak tau. Agion, lo bisa kekelas kakak lo?" Tanya Azrel, Agion mengangguk dengan tatapan yang masih bingung.


"Terus lo mau kemana? Apa hubungannya dengan kak Airin?" Tanya Mario heran, Giri serta Fiter pun menatap Azrel dengan tatapan bertanya. Sedangkan Agion sudah lebih dulu berlari menuju kelas kakaknya.

__ADS_1


"Udah gak usah banyak tanya, sana lo pada jagain bidadari gue."


Mario menahan tangan Azrel saat Azrel akan berjalan menuju gedung olahraga, "Lo mau kemana?"


"Gue harus cari orang itu, lo disini aja," Ucap Azrel lalu berlari sambil sesekali mengendap endap agar tidak terlihat.


"Tapi Zrel, Azrel!" Pekik Mario tanpa dihiraukan Azrel, Mario menghela nafas kasar melihat tingkah sahabatnya yang keras kepala.


Azrel mengendap endap memasuki gedung olahraga, langkah kakinya berjalan dengan pelan dengan sesekali tatapan matanya mengedar kesegala tempat.


Azrel merogoh sesuatu didalam celana sekolah, terlihat pistol kecil dan ramping yang memiliki desain khusus serta ukiran cantik dibody pistolnya. Azrel menoleh kearah tangga, suara seseorang berjalan membuat Azrel segera bersembunyi dibawah tangga.


Tap tap tap. Pegangan tangan Azrel pada pistolnya semakin mengerat kala mendengar suara langkah kaki semakin mendekat. Merasa orang itu sudah dibawah Azrel dengan cepat menembakinya dibagian tangan.


Dor.


"Akhhh!" Pekik seseorang tersebut kala merasakan peluru yang sedikit menggores lengannya.


"Siapa lo!" Pekik Azrel sambil menodongkan pistolnya kewajah seseorang tersebut.


"Akh, kau rupanya. kita bertemu lagi, Azrel," Ucap Seseorang itu sambil memegang tangannya yang terkena sambatan peluru.


Azrel semakin mengeratkan pegangan pistolnya, "Apa mau lo?" Tanya Azrel tenang.


Seseorang tersebut terkikik geli, "Oh, bocah ingusan ini to the poin sekali hihi. Sayangnya aku tidak akan memberitahu sekarang, aku akan memberitahumu ketika kamu kehilangannya semuanya Azrel hihi," Ucapnya sambil.


Bruk.


"Akh!" Pekik Azrel kala tubunya terdorong begitu saja saat orang itu menenedang dadanya, "W-woy, berhenti Lo sialan!" Teriak Azrel saat seseorang tersebut berlari meninggalkannya.


Azrel dengan cepat mengejarnya, tetapi baru saja sampai diluar dadanya terasa sesak dan sedikit perih karena tendangan yang tidak biasa itu. Azrel meluruhkan tubuhnya kelantai saat nafasnya terasa tersedar sesat, sedangkan seseorang itu hanya menatap Azrel dengan tertawa pelan.


"Hihihi lemah sekali keturunanmu sayang," Gumamnya sambil terkikik geli.


...~o0o~...


Airin berlari dilorong rumah sakit saat mendengar Azrel masuk rumah sakit. Dia merasa cemas dengan keadaan Azrel, Airin memperlambat larinya saat melihat keluarga Agas. Airin berjalan dengan pelan menghampiri bunda Gina.


"Bunda," Panggil Airin pelan.


Gina menoleh kepada Airin lalu tersenyum manis, tangannya menyuruh Airin agar duduk disampingnya, "Azrel kenapa?" Tanya Airin.


"Tidak apa apa, kata dokter nafasnya sempat terhimpit karena tendangan yang langsung menuju paru parunya," Jelas Gina sambil mengelus rambut Airin.


"Tapi sekarang gak papa kan bun?" Gina menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa apa, Nafas Azrel sudah membaik. Sekarang juga sudah siuman," Airin menoleh, "Airin boleh liat?"

__ADS_1


"Boleh, masuk aja kedalam. Didalam ada Agas sama Alga," Airin pun mengangguk lalu masuk kedalam ruangan Azrel.


Azrel menoleh saat mendengar pintu terbuka, bibirnya melengkung keatas kala melihat bidadari nya, "Bidadari."


Airin tersenyum tipis lalu berjalan pelan menuju hospital bed Azrel, Airin sempat melirik Agas yang sedang mengayun ayun Alga, "Udah baikkan?"


"Udah, lagian Azrel gak papa. Hari ini juga pulang, tapi kata dokter tunggu infusannya habis dulu. Huh, padahal kan Azrel gak papa. Kenapa dokter itu nginfus tangan Azrel sih," Cerocos Azrel tak henti.


Airin hanya menghela nafas lega lalu duduk dikursi samping Azrel yang sedang duduk menyender di hospital bed nya, "Kenapa bisa begini?"


"Kena tendang, tendangan keras banget apalagi pake sepatunya yang bawahnya tinggi. Liat dada Azrel aja jadi merah gini," Adu Azrel sambil membuka bajunya memperlihatkan bagian dadanya yang sedikit memerah.


Airin tersenyum lembut, tangannya mengusap rambut Azrel pelan, "Udah dikasih obat?"


"Udah tadi sama dokter. Bidadari tau dokternya galak banget, masa tadi maksa maksa Azrel minum obat. Terus juga dokternya nyuntik tangan Azrel kasar banget, kan tangan Azrel jadinya berdarah," Agas memutar bola matanya malas, "Itu salah kamu yang memberontak."


"Apasih daddy nyambung aja," Sinis Azrel sedangkan Agas mendelik lalu berjalan menuju Azrel.


"Jaga dulu adeknya, daddy mau ke Kakek dulu," Ucap Agas sambil membaringkan Alga disamping Azrel tetapi sebelum itu Agas mengubah hospital bed menjadi mode berbaring.


"Alga nangis ya?" Tebak Airin saat melihat muka Alga memerah.


"Iya dia nangis kejer tadi, untung bisa ditangani," Ucap Agas sambil mengusap surai lembut Alga.


"Jagain mereka ya, saya keluar dulu," Ucap Agas sambil menunduk melihat Airin, Airin hanya mengangguk pelan.


Cup.


Azrel melotot melihat daddy nya yang dengan santai mengecup dahi Airin dihadapannya, "Dasar gak tau tempat," Batin Azrel kesal.


...~o0o~...


"Bagaimana Agas, kau sudah menemukan nya?" Tanya Damian.


Saat ini mereka berdua berada didalam ruangan kerja Agas. Agas menggeleng lemas, "Belum, tapi sepertinya ini ada kaitannya dengan kejadian dulu."


Damian mengangguk, "Cepat cari dia, ayah takutnya dia mengincar anak abangmu atau mungkin akan merambat sampai kepada gadismu."


Agas mengangguk tegas, "Iya, akan segera Agas cari. Tapi dia lumayan cerdik jadi kemungkinan Agas akan meminta bantuan sama opa Raynald."


"Hm, Raynald ya," Pikir Damian lalu meminum kopinya dengan santai, "Boleh juga, mungkin ini kesempatan baginya untuk balas dendam."


Agas menghela nafas berat lalu menyandarkan tubuhnya kekursi kerjanya, tangannya mengambil selembar Poto yang ada didalam laci kerjanya.


"Agas rindu abang," Ucap Agas didalam batinnya.


Tangannya mengelus Poto yang sudah sedikit lusuh itu, yang terdapat dua laki laki yang terlihat tersenyum bahagia. Agas membalikkan potonya terlihat sebuah nama dibelkang Poto.

__ADS_1


Agas Rion Xaverius & Saga Adrenal Xaverius.


__ADS_2