
Tepat jam lima lebih tiga puluh menit, sekitar empat mobil itu mulai melaju menuju perkemahan. Mobil satu berisi Airin dan Agas, yang kedua ada pasangan Azila dan juga Ayla, yang ketiga ada kedua sahabat Agas serta asisten dan sekretaris nya dan yang terakhir mobil yang diisi oleh bocil bocil bucin.
Dan di mobil ke empat ini, keadaan sangat berisik yang di isi oleh celotehan celotehan mereka hingga sang supir pribadi Alga pun meringis kasihan dengan keadaan kupingnya.
"Syut, sudah ya tuan tuan dan juga nona nona. Kita sedang dalam perjalanan, jika kalian berisik dan nanti om kehilangan fokus gimana. Kalian tidak mau ada hal hal negatif yang terjadi kan?"
"Iya om botak. Maaf ya, sekarang om fokus aja nyetir. Kita bakalan diem kok," Ucap Alga yang duduk di tengah dengan Zio di samping kanannya dan Deren di samping kirinya.
Rion berada di kursi depan, sedangkan ketiga anak perempuan itu duduk di kursi paling belakang dan sedari tadi mereka berdua lebih tepatnya Nataya dan Amora berebut idolanya.
"Ipin itu punya aku, kamu si Fizi aja! jangan ambil punya aku!" Pekik Nataya dengan suara keras.
"Nggak! aku gak mau Fizi, dia gak baik. Gak cocok sama aku!" Teriak Amora tak kalah nyaring dengan tangannya memeluk tablet yang sedang menyiarkan video kartun anak bocah kembar botak itu.
Sang supir yang sudah tak tahan dengan kegaduhan kedua anak perempuan itu menepikan mobilnya lalu keluar dari mobil, pintu penumpang di buka lalu memindahkan Nataya kedepan dan Zio kebelakang. Setelah itu sang supir pun kembali ke kursi kemudi lalu kembali mengemudi menyusul ketiga mobil lainnya.
"Uncel kenapa aku di pindahin?" Tanya Nataya.
"Biar gak gaduh, Jadi uncel pecah. Udah ya, kalian pada diem aja atau nggak tidur lagi. Perjalanan juga masih lumayan jauh," Ucapnya.
"Tapi Nataya masih pengen nonton kaltun," Ucap Nataya lesu.
"Ini," Ucap Deren sambil menyerahkan handphone nya, "Pakai punya aku aja."
"Eum, gak papa emang? kan Delen lagi main game?" Tanya Nataya.
"Gak papa, lagian kita sudah selesai mainnya. Alganya juga udah tidur, jadi main sama siapa?" Ucapnya.
Nataya pun mengambil handphone Deren dengan mata berbinar lalu dengan segera memutar video kartun kesukaannya, Deren pun hanya memperhatikan sambil menyandarkan tubuhnya di kursi mobil tak lama matanya memberat dan alam mimpi pun akan segera mulai.
"Kenapa gak dari tadi gini aja? adem," Gumam sang supir saat melihat tuan muda dan nona mudanya itu tertidur pulas.
Berbeda juga dengan keadaan di dalam mobil Azila, sedari tadi Ayla mengelus perut Azila tanpa lelah. Katanya biar nanti anaknya Azila sudah terbiasa dengan sentuhan atau keberadaan nya.
"Perut lo makin gede aja nih," Ucap Ayla.
"Yaiyalah bayi gue kan hidup ya pasti akan tumbuh dan berkembang," Ucap Azila sewot.
"Hehe, gemes gue. pengen letupin perut lo," Ucap Ayla.
"Ye...Lo kira anak gue balon apa?" Pekik Azila.
Ayla hanya tertawa, "kali aja bisa, pfft. Mikirin nya aja gue ngakak."
Azila mendengus kesal, "Sono lo bikin, terus coba tuh letusin perut lo bisa gak? kalo bisa gue kasih mansion."
__ADS_1
Ayla seketika terdiam dari tawanya lalu menatap Azila jengkel, "Bikin bikin. Dikira gampang! iya sih kalau udah nikah. Lah gue?" Ucapnya menggantung.
Sedangkan tanpa Ayla sadari sedari tadi Joshua mengamati segala pergerakan nya dari tempat duduknya, "Kamu mau cepat cepat nikah karena pengen cepat cepat bikin anak?"
"Pfft," Azila menutup bibirnya menahan tawa.
"Matamu, siapa juga yang mau bikin anak sama kau!" Sinis Ayla.
"Ya terus? niatnya nanti kita nikah apa sayang?" Tanya Joshua dengan senyum miring.
"Ya...," Ayla ngebug seketika, dia bingung alasan apa yang harus diucapkannya. Sedangkan Azila sudah tak tahan untuk tertawa pun akhirnya mengeluarkan tawa renyahnya.
"Hahaha ngakak banget anjir," Arsen mendelik mendengar suara Azila, "Baby, bahasamu."
"Eh hehe, maaf Daddy," Ringis Azila.
"Kayak sugar baby sama sugar daddy aja Lo berdua," Ucap Ayla mencoba mengalihkan pembicaraan sedangkan Joshua di depan sana tersenyum tipis.
"Lah lo bener banget coy, gue itu berasa punya sugar daddy. Arsen tuh kan tipe tipe Sugar Daddy, uang berlimpah, muka tampan menolak tua padahal umurnya dah hampir kepala tiga."
"Jadi kamu nikah sama aku karena harta dan wajah ku?" Tanya Arsen sinis.
Azila cengengesan tak jelas, "Hehehe, salah satunya sih itu. Kan hidup itu harus punya pilihan yang benar, aku milih kamu selain cinta karena memang terjamin hidup aku untuk saat ini ataupun nanti gitu," Jelasnya.
"Oh, syukurlah. Pasti nanti anak kita bangga punya Daddy kayak aku, yang diatas standard kehidupan manusia," Ucap Arsen percaya diri.
...~o0o~...
"woy, katanya mommy Daddy sama yang lainnya bakalan datang kesini!" Teriak Azrel saat membaca chat dari mommynya yang dikirimkan malam tadi.
"Yaelah, kita belum masak. Mana bahan bahan masakan dikit lagi," Ucap Aira sambil mengecek dapur dadakannya.
"Bilang aja ke mommy, bawa bahan makanan," Saran Azralia.
Azrel mengangguk lalu mengirim pesan kepada mommynya, "Mommy katanya udah bawa bahan makanan banyak, katanya masak aja yang ada nanti di bantu sama mommy."
Aira mengangguk lalu mulai mengajak Azralia dan Cindy memasak, sementara para lelaki membersihkan sekitaran tempat kemah mereka. Agion duduk di batang kayu yang sudah jatoh, tatapannya mengarah pada Cindy. Bibirnya tersenyum tipis melihat tingkah Cindy yang kepedihan karena memotong bawang.
"Lo suka sama dia?" Tanya Azrel yang duduk di samping Agion sambil menyerahkan kopi dalam kemasan kaleng pada Agion.
"Sepertinya, kenapa?" Tanya balik Agion tanpa mengalihkan pandangannya.
"Tidak, di cocok sama lo yang pencicilan. Kali aja kalo lo sama dia, sifat lo kebawa kalem," Ucap Azrel sedikit menyindir.
"Gak ngaca. Lo sendiri juga pencicilan," Sinis Agion.
__ADS_1
Azrel hanya mendelik lalu meminum kopinya, Agion meliriknya sekilas, "Gimana sama kakak gue? lo gak jahat kan?"
"Ck, gue gak kayak yang lo pikirkan. Mommy baik, banget malah. Gue rasa, gue bakalan punya adek lagi."
Seketika Agion melihat kearah Azrel, "Lo serius?"
Azrel mengangguk yakin, "Hm, tingkah mommy belakangan ini aneh. Sukanya nyemil sambil nonton kartun, kadang gak mau tidur di kasur. Maunya tidur di sofa, badan mommy juga sekarang sedikit berisi. Apalagi pipinya semakin chuby."
Baru saja Agion akan menjawab, terdengar sahutan suara mobil. Dan benar saja, datang empat mobil mewah ke perkemahan mereka, "Mereka datang," Ucap Azrel lalu berdiri di ikuti Agion.
"Sayang!" Teriak Airin sambil berlari menghampiri Azrel lalu memeluknya erat.
"Mommy kangen banget," Ucap Airin, Azrel membalas dengan pelukan tak kalah erat.
"Azrel juga."
"Lebay, gue gak ketemu beberapa hari bahkan Minggu aja biasa aja," Ucap Agion sinis.
Airin melepaskan pelukannya dari Azrel lalu merangkul bahu Agion, "Ulululu, adek kecil kakak ngambek."
"Ck Apasih kak, aku udah besar! bukan adek kecil lagi!" Pekik Agion tak terima sedangkan Airin hanya tertawa sambil mencubit kedua pipi Agion gemas.
"Sudah sayang, kamu gak kasihan dengan Agion? Lihat, pipinya sampai merah," Ucap Agas sambil mengangkat barang bawaan mereka.
"Hehehe, maaf ya adek kecil. Kakak kelepasan," Airin melepaskan cubitan nya dan di ganti dengan elusan di pipi Agion.
"Ya ampun adek kakak yang romantis," Ucap Azila yang datang bersama Arsen serta Joshua dan Ayla.
"Ya ampun, ibu hamil yang semakin jelek," Ejek Agion, Azila mendelik mendengar nya.
"Kurang ajar, gue cantik membahana gini di bilang jelek. Katarak mata lo!" Sinis Azila.
"Baby!" Ucap Arsen memperingati, sedangkan Azila hanya cengengesan sambil meminta maaf.
"Loh om sugar daddy?"
Dengan kompak mereka melihat pada Cindy yang datang dengan tampang polosnya, Arsen tersenyum lebar lalu memeluk Cindy erat.
"Sugar baby nya om, om kangen," Ucap Arsen.
Cindy membalas pelukan Arsen dengan erat, "Cindy juga kangen!"
"Loh? ini?" Ucap Azila bingung.
"Hehehe, maaf baby. Ini sugar baby pertama aku," Ucap Arsen sedangkan Cindy mengulum bibirnya menahan tawa.
__ADS_1
"APA?"