
Suasana dalam mobil hening, Airin sedari tadi memikirkan ucapan Agas yang membuat hatinya tak karuan. Ingin menjawab tidak tapi dia tidak berani, didalam hatinya ada secercah ruang yang sudah dimasuki Agas tapi keraguan masih ada didalam dirinya.
Agas melirik Airin yang sedang merenung, "Sudah saya bilang, jangan jadikan pikiran."
Airin mendelik kesal, "Gimana gak mikir, orang om aja ngasih waktu sehari, bingung jadinya hati saya."
Agas tersenyum tipis saat Airin mengucapkan kata katanya dengan gamblang tanpa ada ucapan malu malu.
"Yasudah jawab saja iya, bereskan."
"Dih, itumah maunya om!" Airin mendelik kesal.
"Ya terus, kamu akan jawab tidak?" Tanya Agas sambil melirik Airin.
Airin terdiam tak menjawab, "Kenapa?" Tanya Agas.
Agas tersenyum tipis, "Benar ya ucapan saya."
"Nggak! kata siapa!" Ucap Airin sewot, Agas hanya tersenyum singkat.
"Sudah ayok keluar," Ucap Agas setelah mereka sampai di kantor Agas.
Airin keluar dengan pelan sambil melihat sekitar yang terlihat mewah, "Kantor om gede juga."
"Kamu baru melihat luarnya saja, ayok masuk," Ucap Agas sambil menarik tangan Airin. Ah bukan, lebih tepatnya menggenggam tangan Airin.
Airin melihat kearah tangannya yang berada digenggaman Agas, tangannya terlihat sangat kecil jika dibandingkan dengan tangan Agas. Jari jari tangan Airin yang lentik dan jemari Agas yang besar terasa pas saat keduanya bergandengan tangan.
"Om ngapain gandeng gandeng? kita gak akan nyebrang juga," Ucap Airin heran.
"Biarpun gak lagi nyebrang, saya akan gandeng tangan kamu," Ucap Agas sambil terus berjalan.
Airin masih berjalan beriringan disamping Agas, "Kenapa?"
Ting.
Lift terbuka, Agas masuk dengan genggaman tangan mereka yang belum terlepas, lalu memencet tombol lantai paling atas.
"Saya takut kamu hilang," Ucap Agas sambil menghadap Airin.
"Saya gak akan hilang om, gak ada yang mau nyulik saya yang suka makan ini," Ucap Airin.
"Bukan itu."
Airin mengerutkan dahinya bingung, "Terus apa?"
Diam, Agas tidak menjawab pertanyaan Airin tetapi terlihat jelas dipancaran matanya bahwa ada kekhawatiran disana. Airin mundur kebelakang kala badan Agas semakin condong ke depan, wajah mereka berjarak sangat dekat sampai sampai Airin bisa mencium wangi nafas Agas.
__ADS_1
"Kamu tau, ini pertama kalinya saya jatuh cinta. Airin, saya itu posesif, egois, saya tidak suka berbagi sesuatu yang sudah menjadi milik saya."
Airin merasa geli saat helaan nafas Agas terasa di telinganya, "Geli om."
Bukannya menjauhkan wajahnya, Agas malah menggesek gesekan hidungnya dileher Airin. Airin tertawa pelan saat rasa geli menggerayangi tubuhnya.
"Om!" Pekik Airin.
Agas terkekeh pelan, dirinya gemas dengan tubuh mungil Airin. Tinggi Airin hanya sampai dadanya saja padahal tinggi Airin sudah mencapai batas ideal tinggi perempuan Indonesia.
"Saya gemas sama kamu," Ucap Agas sambil mencubit kedua pipi Airin.
Airin menatap Agas dengan tatapan elangnya, pipinya terasa sakit saat dicubit kuat oleh Agas. Sedangkan Agas hanya menatapnya dengan senyum menyebalkan nya.
Ting.
Lift terbuka, seseorang berdiri didepan lift dengan muka yang tak terbaca sedangkan Agas dan Airin hanya melihatnya santai.
"A-a, sa-saya pergi dulu," Ucapnya gugup lalu berjalan cepat meninggalkan lift.
Wajahnya terlihat syok, bagaimana bisa bos nya yang setiap hari bermuka datar itu tersenyum dengan seorang wanita ah lebih tepatnya gadis remaja.
"Ini gak adil, tersenyum padaku saja tidak pernah yang ada hanya marah marah terus. ckckck ternyata kalau udah bucin berasa hidup paling bahagia di dunia," Gumamnya dengan langkah yang terus berjalan.
Tanpa disadari, diujung lorong lebih depatnya didepan lift Agas dan Airin menatapnya heran, "Itu sekretaris om kan?"
"Iya emang kenapa?" Tanya Agas.
"Tidak tau, mungkin ingin naik gaji," Ucap Agas dengan santainya.
"Oh gitu toh," Ucap Airin sambil mengangguk anggukan kepalanya.
Agas melihat kearah Airin lalu merangkul bahu Airin, "Ngapain kita mikirin sekretaris jones itu, mending kita mikirin masa depan kita."
Airin terkekeh lalu melipat kedua tangannya didepan dada, "Asal om tau, om juga masih jomblo."
Agas merengut seketika, lalu menggoyang goyangkan bahu Airin, "Makanya buruan terima."
"Nanti ah kalo om udah beliin Airin pulau Bali," Ucap Airin lalu berjalan meninggalkan Agas yang menatapnya tak percaya.
"Emang pulau Bali bisa dibeli? jika bisa, mungkin sudah saya beli dari dulu. Lagian minta kok cuman pulau, gampang banget itu mah, saya kasih pulau ular aja tuh yang lagi trending."
...~o0o~...
Azila saat ini tengah duduk didepan meja riasnya sambil terus memuji wajahnya yang menurutnya cantik.
"Gila sih gue cantik banget, pantes itu kepsek bokek deket deket gue mulu. Siapa coba yang gak kecantol sama kecantikan gue yang cetar membahana, artis papan atas aja kalah sama gue."
__ADS_1
Azila mengoleskan Lip mate kebibir kecilnya tapi mempunyai suara yang cetar membahana, "Dah, cakep nih gue."
"Aish, lupa gue belum pake farfume. Masa ia cewek cantik kayak gue bau, gak banget kan?"
Azila membuka lemari kaca kecilnya, tangannya menunjuk nujuk beberapa koleksi farfumenya, "Yaelah bingung gue, mau pake yang buah tapi kayak anak anak, ntar gue dibully lagi sama sikepsek bokek itu."
Azila pun mengambil farfume yang beraroma mawar bercampur dengan salah satu buah musim panas yaitu peach, wangi manis dan segar tercium semerbak oleh hidungnya.
"Nah bagus kan gue kayak orang dewasa, eh gue kan emang udah dewasa ya," Monolog Azila.
Azila berjalan kearah kaca full body miliknya, terlihat pantulan dirinya yang memakai celana panjang berwarna biru, tanktop putih, cardigan hijau mint serta sepatu berwarna putih.
"Perfect, sorry sorry aja nih ntar ke si kepsek. Karena gue tomboy gue gak mau pake rok," Gumam Azila saat mengingat ucapan Arsen bahwa dirinya harus mengenakan pakaian feminim dengan bawahan rok.
"Non Azila, itu ada yang nyari didepan," Teriak satpam rumah Azila.
"Iya pak, bentar lagi saya turun."
Azila mengambil tas berwarna putihnya lalu turun dengan tergesa gesa tanpa pamitan kepada orang tuanya, toh pasti mereka sedang kencan sekarang.
"Sudah saya bilang pakai rok, kenapa memakai celana?" Tanya Arsen saat pertama kali melihat Azila keluar dari rumahnya.
"Eh kepsek, sorry nih kepsek saya tuh gak suka ribet, dan pake rok tuh ribet gak enak tau," Ucap Azila.
Arsen mendelik kesal, Azila pun mendekat kearah mobil Arsen, "Wah, ganti mobil lagi ya? hasil Nganjuk lagi kah?" Tanya Azila dengan tidak sopannya.
"Terserah kamu mau ngomong apa, buruan masuk," Ucap Arsen lalu masuk kedalam mobilnya diikuti Azila yang masuk dengan ogah ogahan.
Azila duduk dikursi penumpang, tatapannya melirik kesana kemari didalam mobil Ferarri Arsen. Arsen yang melihat tingkah Azila pun bingung.
"Kamu ngapain sih, pelanga pelongo kayak orang orang udik seperti itu, kenapa? belum pernah naik mobil mahal?" Tanya Arsen.
"Gak usah ngarang deh," Ucap Azila kesal.
Azila membuka buka laci dashboard mobil Arsen, "Pak, gak ada cemilan gitu saya lapar nih."
"Gak sopan," Ucap Arsen gemas.
Azila hanya menghedihkan bahunya, Arsen pun membuka laci dashboard dan mengeluarkan cemilan cemilan yang tertata rapi dalam wadah wadah kecil.
"Wah, gini dong pak mobil mewah itu bukan karena harganya tapi karena banyaknya makanan, itu baru namanya mewah," Ucap Azila sambil mencoba satu satu cemilan Arsen.
Sedangkan Arsen hanya menatapnya dengan mengelus dada sabar. Azila melirik Arsen sebentar, "Ngomong ngomong pak, bapak mau bawa saya kemana?"
"Nanti juga tahu," Ucap Arsen santai.
Azila menatap Arsen curiga, "Jangan jangan saya dijadiin babu lagi!"
__ADS_1
Arsen tertawa jenaka, "Ah, ketahuan ternyata."
"Kepsek sialan! gue gak mau jadi babu Lo lagi!"