Young Mom

Young Mom
PART 57


__ADS_3

Cuaca hari ini sedikit mendung dengan angin yang berhembus lembut. Agion beserta Fiter berjongkok di depan gundukan tanah yang masih basah, Agion mengelus batu nisan di depannya.


"Kok lo cepat banget ninggalin gue?" Tanya Agion dengan suara pelan.


Fiter hanya terdiam dengan wajah lesunya, tangannya sesekali menabur bunga dan menyimpan buket bunga di samping batu nisan.


"Bagaimana bisa lo mengalami kejadian ini?" Tanya Agion lirih.


Matanya yang sedikit membengkak sebab dirinya menangis terus kemarin malam, dengan tatapan sayu yang sekarang terlihat di kedua mata yang selalu bersinar itu, "Gue tau ini konyol. Tapi gue sangat berharap, lo masih hidup."


"Gio kak Airin nanyain lo," Ucap Fiter, Agion menatap Fiter lalu mengangguk pelan.


"Gue pergi dulu ya Giri, besok gue bakalan datang lagi," Ucap Agion sambil berdiri dari jongkoknya.


"Kita pergi dulu Ri, semoga lo tenang di sana. Dan jangan lupa dengan kita," Gumam Fiter.


Mereka berdua pun mulai berjalan meninggalkan makam Giri, tanpa sadar seseorang yang tak jauh dari mereka menatapnya dengan penuh arti.


"Andai lo tau apa yang sebenarnya terjadi."


Di sisi lain, di pagi sebuah rumah yang lumayan besar. Kedua remaja yang tertidur dengan nyenyak ini saling berpelukan menyalurkan rasa nyaman. Mereka tidak terganggu dengan aktivitas di dapur maupun di luar yang terasa bising.


Joshua sedikit demi sedikit membuka matanya, mulutnya meringis kecil saat merasakan tangan sebelahnya terasa kebas dan kaku.


Joshua menundukan kepalanya melihat Ayla yang tertidur memeluknya dengan tangan Joshua sebagai bantalan. Senyum tipis muncul di bibir Joshua.


"Eh, Aden udah bangun," Ucap bi Darmi yang datang dengan nampan yang di bawanya.


"Iya bi, kesiangan hehe," Ucap Joshua pelan dengan kekehan diakhir kalimatnya.


"Yaudah, bangun atuh den. Masih bisa sholat subuh kok. Eh iya jangan lupa non Ayla nya di bangunin den, bibi mau ke post satpam dulu," Ucap bi Darmi.


"Iya bi," Bi Darmi pun berjalan keluar rumah meninggalkan mereka berdua yang masih berbaring di sofa dengan nyaman.


Joshua menundukan kembali wajahnya, tangannya mengelus dengan lembut setiap helaian rambut Ayla, "Bangun hey."


"Nggh," Lenguhan terdengar di telinga Joshua. Joshua tersenyum tipis melihat wajah Ayla yang terlihat lucu dengan rambut yang sedikit berantakan.


"Bangun sudah pagi," Bisik Joshua di telinga Ayla.


"Mmh nanti ih, masih ngantuk mama," Racau Ayla. Joshua terkekeh gemas dengan Ayla.


"Mau bangunnya kapan hm?" Tanya Joshua dengan jari jari tangannya mengelus pipi Ayla yang sedikit berisi.


Ayla mengerjap ngerjapkan matanya dengan pelan, tidurnya terasa terganggu membuatnya dengan terpaksa bangun dari alam sadarnya, "Ish ganggu!"


Joshua tertawa pelan lalu dengan cepat mencubit hidung Ayla gemas, "Bangun yuk, siang nih. Kita belum solat subuh loh."


Ayla membuka matanya lalu mengucek ngucek matanya dengan pelan, matanya melotot saat sebuah dada bidang yang pertama kali dia lihat. Ayla mendongakkan kepalanya dengan pelan, tatapannya bertemu dengan kedua mata teduh Joshua.


"Sudah?" Tanya Joshua dengan muka yang dibuat datar.

__ADS_1


"Apa?" Tanya Ayla dengan suara seraknya.


"Menatap mata indah gue."


Ayla dengan cepat mengalihkan pandangannya sedangkan Joshua tertawa pelan, "Ayok bangun."


Ayla mengangguk lalu duduk diikuti Joshua, Joshua turun dari sofa lalu tangannya dia sodorkan kepada Ayla, "Ayok."


"Kemana?" Tanya Ayla dengan wajah bingungnya.


"Sholat sayang."


blush.


Pipi Ayla memerah seketika, sedangkan Joshua terkekeh pelan. Dengan lembut Joshua membantu Ayla berdiri lalu mengangkat nya ke gendongan koala nya.


"Akh, Jojo!" Pekik Ayla kaget sedangkan Joshua kembali tertawa.


"Kenapa hm?" Tanya Joshua denga suara rendahnya. Ayla terlihat gugup, apalagi dengan jarak mereka berdua yang sangat dekat. Ayla meletakan kedua tangannya di bahu Joshua.


"Turunin," Pinta Ayla.


"Nggak," Tolak Joshua lalu berjalan dengan Ayla di gendongan nya. Sedangkan Ayla memeluk leher Joshua erat, dia takut jatoh mengingat tinggi Joshua yang dua meter itu.


"Erat banget meluknya, nyaman ya meluk gue," Goda Joshua dengan tawa di akhir.


"Ih nggak! gue takut jatoh tau, lo kan tinggi kayak tiang," Bantah Ayla.


Joshua tersenyum jahil, kakinya terus melangkah di tangga dengan pelan. Senyumnya semakin lebar kala mendapatkan sebuah ide kejahilan.


Joshua tertawa pelan sedangkan Airin dengan cepat memeluk Joshua erat. Matanya dia memejam erat saat melihat mereka berada di tengah tengah tangga, "Jo! please pengang lagi kaki gue! gue gak mau jatoh. Gue masih sayang nyawa!"


Joshua yang masih tertawa pun kembali memegang kedua kaki Ayla yang melingkar di perutnya, "Dasar penakut," Ejeknya.


Ayla menjauhkan wajahnya di bahu Joshua lalu menatap Joshua berang, "Lo gak mikir ya. Lo itu tinggi banget kek tiang, dan gue itu kecil banget kek kancil. Lihat gue meluk lo aja kaki gue ada di perut lo bukan pinggang lo! kalau gue jatoh otomatis nyawa gue tujuh puluh lima persen tak tertolong. Apalagi kita di atas tangga, kalo gue jatoh nanti gue terguling guling terjengkang jengkang. Terus isdet gimana!"


Joshua hanya mendengarkan Omelan Ayla dengan kaki yang terus melangkah menuju mushola di lantai dua.


"Ih lo dengerin gue gak sih!" Ucap Ayla kesal dengan kaki yang digerak gerakan menendang.


"Iya gue dengerin kok," Ucap Joshua malas.


"Bohong. Lo dari tadi gak dengerin gue," Marah Ayla dengan pipi yang mengembung. Joshua mengalum bibirnya gemas, cup.


Mata Ayla meloto saat Joshua mencium pipinya dengan lembut. Sedangkan Joshua menatap Ayla teduh, "Masih pagi udah marah marah. Mending kita solat yuk."


Suasana di dalam sebuah ruangan mewah itu terasa hening, Mereka berkumpul tetapi tidak saling berbicara. Suara helaan nafas terdengar jelas.


"Sebenarnya kalian ini mengajak ku berkumpul untuk apa? sudah satu jam lamanya kita hanya berdiam diri dengan kesibukan masing masing. Dasar, kalian membuat waktu berhargaku terbuang sia sia," Oceh Daniel.


"Kau ini cerewet sekali. Pantas saja semua wanita pergi darimu," Timpal Angel.

__ADS_1


Daniel merengengut tak terima, Agas hanya menghela nafas kasar, "Kita bahas kejadian kemarin."


"Kejadian apa?" Tanya Angel penasaran.


"Pembunuhan si bajingan kecil," Sahut Daniel.


Angel berdiri sambil memukul meja, "APA! KALIAN MEMBUNUHNYA TANPA MENGAJAKU? BERANI SEKALI KALIAN!" Teriaknya.


Arsen yang berada di sebelah Angel menutup kedua telinganya dengan kencang, sungguh. Suara Angel itu melengking sampe ke tulang.


"Bisa kau tidak teriak! sadarlah dengan suara toa mu itu!" Kesal Arsen, Angel hanya cengengesan tak jelas lalu duduk kembali dengan tenang.


"Kita melakukan penyerangan tanpa briefing. itu darurat," Jelas Jehon.


"Tapi? Aish, kalian kan sudah tau. Sejak dulu aku menginginkan bajingan itu!" Kesal Angel.


Agas memutar bola matanya malas, "Sudahlah Angel, sekarang ada yang ingin aku beritahukan."


"Dia itu hanya sebuah boneka, setiap apa yang dia lakukan itu ada yang mengendalikan. Kejadian yang sudah lampau itu pun, ada orang yang berada di belakangnya," Jelas Agas.


Jehon menyandarkan tubuhnya di kursi, "Maksudmu, semua yang telah terjadi itu...bukan kesalahannya?"


"Bisa dibilang," Ucap Agas.


"Tapi siapa yang mengendalikan nya, ayahnya? ibunya? mereka sudah tidak ada, semua keluarganya tidak ada yang masih hidup," Timpal Daniel.


Agas menggelengkan kepalanya, "Tidak. Ada seseorang yang masih hidup, dan sepertinya kita juga pernah bertemu."


"Siapa? kita sudah bertemu dengan jutaan orang selama hidup," Ucap Angel.


"LC, mafia asal China yang baru terbentuk beberapa tahun lalu. Dia juga mendirikan perusahaan yang bahkan kita pernah bekerja sama dengannya," Jelas Agas.


"Perusahaan? China?" Gumam Arsen.


"Ah! apa dia si perusahaan abal abal itu, yang sudah memakan uangku beberapa miliar!" Pekik Arsen.


"that's right," Ucap Agas.


"Sial! bukankah perusahaannya sudah aku hancurkan? bagaimana bisa dia bangun kembali," Kesal Arsen.


Agas meminum minuman miliknya dengan tenang, "Dia menggunakan berbagai cara yang tidak manusiawi, termasuk kejadian hari itu."


"Aish, dasar pak tua sialan!" Desis Arsen.


"Tunggu. Jika bajingan itu mati, dia tidak punya boneka lagi. Jadi kita akan sedikit tenang sekarang," Ucap Angel.


"Tidak," Bantah Agas.


"Maksudnya?" Tanya Angel bingung.


Daniel mengerutkan dahinya, "Apa, kau tidak membunuhnya?"

__ADS_1


"Aku membunuhnya, tapi aku menyelamatkannya," Ucap Agas.


Mereka menatap Agas bingung, apa maksud dari ucapan Agas itu? sedangkan Agas hanya tersenyum miring.


__ADS_2