Young Mom

Young Mom
PART 38


__ADS_3

Azila termenung di balkon kamar Arsen, pikirannya kembali menerawang pada kejadian tadi. Bagaimana bisa kedua orangtuanya dengan santainya membolehkan anak gadis satu satunya menginap dirumah orang tak di kenal.


Pikiran pikiran negatif bermunculan dibenaknya, "Kenapa mereka malah seneng anak gadisnya diculik om om? jangan jangan gue bukan anak kandung mereka lagi? atau, gue mau dijual sama si om om mesum itu?"


"Aish menyebalkan," Gumam Azila sambil menendang nendang kakinya.


Tak.


Secangkir teh tersimpan di meja yang ada didepannya, Azila melihat kearah sampingnya. Ternyata itu Arsen yang membawanya, "Kenapa?"


"Duduk deh pak, saya mau bicara," Titah Azila, Arsen pun dengan nurut duduk disampingnya.


Azila menggeser duduknya hingga berdempetan dengan Arsen tak lupa matanya menatap Arsen dengan tatapan menyelidik, "Saya mau tanya, tapi bapak harus jawab dengan jujur."


"Iya apa?"


"Orangtua saya bapak apain sampai sampai diperbolehkan nginap dirumah bapak ini? Bapak gak aneh aneh kan? bapak gak hipnotis orang tua saya kan?" Tanya Azila.


Arsen terkekeh kecil mendengar pertanyaan absrud Azila, tangannya mencubit pipi Azila gemas, "Saya tidak melakukan apa apa."


"Bener? bapak gak bohong kan? gak aneh aneh kan?" Tanya Azila dengan tatapan tak percaya.


"Hm. Eh tidak, saya hanya bilang jika saya ingin membawa calon istri saya. Sudah begitu," Ucap Arsen.


Azila menatap tak percaya, bagaimana mungkin orang tuanya akan percaya begitu saja hanya karena ucapan Arsen tadi. Sedangkan Arsen meminum kopinya dengan santai.


Sret.


"****, Azila!" Ucap Arsen kesal saat kopinya direbut begitu saja oleh Azila. Padahal dia baru saja meneguknya sekali.


"Jangan minum kopi lagi! hari ini udah 3 kali minum kopi! bapak mau sakit!" Ucap Azila saat sadar bahwa Arsen sedang meminum kopi.


Arsen merengut kesal lalu merebut kembali cangkirnya, "Tapi saya mau."


Azila menatapnya geram lalu mengambil kopi Arsen lalu meminumnya dengan sekali teguk, Arsen melongo dibuatnya, "Azila! kopi saya."


Tak.


Azila menyimpan cangkir itu dimeja dengan kasar lalu mengusap bibirnya, matanya menatap Arsen tajam, "Apa! mau marah?"


"Huft," Arsen menghela nafas pelan mencoba untuk tidak memarahi Azila.


"Kenapa kamu meminum kopi saya? nanti kamu gak bisa tidur," Ucap Arsen.


Azila melipat kedua tangannya didepan dada sambil menatap Arsen dengan sebelah alis mengangkat, "Terus? bapak juga ngapain minum kopi malam malam? mau gak bisa tidur?"


"Bapak tuh udah tua, gak baik minum kopi banyak banyak. Nanti bapak sakit gimana? pokoknya dari sekarang bapak hanya boleh minum kopi sehari sekali! itu juga untuk siang aja, pagi minum susu, sorenya bolehlah teh anget, malam minum susu lagi. Ngerti?"


Arsen melongo mendengar tuturan Azila, yang benar saja minum kopi sehari sekali? Biasanya saja dia minum kopi empat kali sehari atau lima kali, "Gak mau! enak aja sehari sekali, saya tuh gak bisa hidup tanpa kopi. Nanti saya lemas."


"Kalo mau jadi suami saya, bapak harus nurut sama saya. Saya tuh mau punya suami yang sehat, gak mau nantinya saya punya suami yang penyakitan. Nanti saya ditinggal duluan," Terang Azila.

__ADS_1


"CK, saya itu sehat Azila. Tiap hari saya olahraga, hari Sabtu saya renang malamnya saya badminton. Hari Minggu saya golf, sebulan sekali saya cek up ke rumah sakit."


"Percuma pak, tiap hari olahraga kalo makanan sama minumannya gak di toleran. Pokoknya saya gak mau tau, minum kopi sekali sehari, titik."


Arsen menghela nafas berat tubuhnya dia sandarkan disofa, lalu meminum teh Azila dengan kasar.


...~o0o~...


Mobil mewah berjajar diparkiran gedung bertingkat tinggi itu, bodyguard dengan rapinya berjajar didepan pintu masuk. Suara musik mengalun indah terdengar didalam gedung, orang orang berbaju hitam gold itu saling berbincang serius hingga suara seseorang menginterupsi kan.


"Cek cek, Attention everyone, the event will start soon, please line up according to your respective ranks. ekhm, to the head of the TG you invite."


Suara tepuk tangan menggemuruh digedung yang luas ini, seorang lelaki paruh baya berjalan keatas panggung dengan dua bodyguard disampingnya.


"Malam semua, kalian pasti sudah tau acara apa ini. Saya tidak mau banyak berbicara, satu saja yang ingin sampaikan. Bahwa hari ini saya akan lengser dari ketua TG, dan akan digantikan kembali oleh cucu saya."


pria paruh baya itu menyuruh seseorang menaiki panggung, "Kalian pasti sudah tau siapa orang yang berdiri disamping saya. Hari ini, tepatnya hari Jum'at tanggal 12. Saya Alexander Xaverius menyerahkan jabatan saya sebagi ketua TG kepada cucu saya Agas Rion Xaverius."


Suara tepuk tangan serta ucapan selamat terdengar riuh saat Alex menyerahkan pin hitam gold dengan tanda mahkota yang menonjol ditempelkan dijas Agas.


"Terimakasih kakek," Ucap Agas sambil menyalami tangan kakeknya.


"Kakek titipkan ini padamu, jadilah pemimpin yang dermawan dan adil. Lindungi TG seperti kamu melindungi gadismu," Ucap Alex sambil menepuk nepuk bahu Agas.


Agas mengangguk yakin, pilihannya yang masuk kembali kedunia gelap ini merupakan pilihan yang sulit. Akan ada masalah yang pastinya selalu merengut nyawa, Tapi Agas mampu jika ini pilihan yang terbaik untuk melindungi gadisnya.


Agas berjalan kedepan mikrofon, lalu menyampaikan pidato singkatnya lalu bersalaman dengan ketua ketua kelompok. Setelah itu berjalan kembali ketempat duduknya, yang terdapat keluarganya serta sahabatnya dan tak lupa Angel yang senantiasa mengikutinya.


Agas mengangguk lalu duduk ditempatnya lagi, "Sejak kapan ada dia disini?" Tanya Agas sambil menunjuk lelaki disamping Jehon.


"Cih, aku dari tadi disini sebelum kau datang. Menyebalkan sekali, badan sebesar ini kau tidak melihatnya," Ucapnya.


Agas menghedihkan bahunya acuh, "Hawa keberadaan mu tipis, kau juga hitam jadi tidak terlihat ditempat remang remang ini."


Lelaki tersebut menendang kaki Agas kesal sedangkan Agas menatapnya tajam, "Kau ini! Kenapa aku harus mempunyai sahabat sepertimu!"


Agas mengangkat sebelah alisnya, "Sejak kapan kau jadi sahabatku?"


Semua orang yang berada dimeja tersebut tertawa mengejek sedangkan lelaki itu meminum minumannya kesal, "Menyebalkan."


"Kau ini, tidak dimana mana selalu saja tertindas. Menyedihkan sekali," Timpal Angel.


"Diamlah kau perawan tua!"


Angel dan Laila menatap lelaki itu tajam, Laila merasa tersindir dengan ucapannya pun menjitak kepala lelaki itu, "Dasar arang tak tau diri."


"Aish, kenapa kau menjitakku? merasa tersindir heh!" Ucapnya.


Laila mengambil pistolnya yang berada dibalik bajunya lalu menempelkan ujung pistol itu dikepala lelaki tersebut, "Bicara sekali lagi ku lubangi kepala mu."


"Aish, kalian ini. Daniel sudah jangan menggoda wanita wanita tua itu, dan Laila simpan pistolmu," Ucap Gina.

__ADS_1


Lelaki itu yang ternyata bernama Daniel tertawa kecil sedangkan Laila menyimpan kembali pistolnya tetapi sebelum itu, dia memukul kepala Daniel dengan pistolnya.


"Akh, sakit pabo!" Ringis Daniel sedangkan Laila hanya mengangkat bahunya acuh.


Agas memutar bola matanya malas melihat pertengkaran yang sudah biasa untuknya, apalagi jika Daniel, Laila, Angel dan Reyhan disatukan. Mungkin akan ada pertumpahan darah.


"Maaf saya terlambat."


Ucapan seseorang membuat mereka mengalihkan pandangannya pada kursi yang baru saja diduduki nya.


"Ah Arsen, tumben kau ikut?" Tanya Jehon.


"Hanya ingin," Jawab Arsen lalu mengambil minum yang ada didepannya.


"Siapa yang mengundang mu?" Tanya Agas.


"Aku sendiri," Ucap Arsen dengan santainya sedangkan Agas mencibik kesal.


"Rumor kau yang akan menikah itu benar tidak?" Tanya Daniel.


"Benar," Angel membulatkan matanya kaget, wanita sial mana yang akan menikah dengan Arsen.


"Hah! Siapa wanita yang tidak beruntung itu? kenapa kalian sudah mempunyai pasangan? Agas juga, dia akan menikah," Ucap Angel.


"Apa? Agas akan menikah? yang benar saja, ahahaha," Ucapa Daniel lalu tertawa keras.


Buk.


"Aws," Ringis Daniel saat serbet mendarat tepat dimukanya.


"Kau tidak harus tau," Ucap Arsen lalu mengeluarkan undangan berwarna biru tua dan putih itu dihadapan semua orang, "Datanglah."


Agas mengambil undangan itu lalu membacanya pelan, "Harusnya aku yang lebih dulu menikah."


"Makanya kau harus gerak cepat seperti Arsen, lihatlah satu bulan saja sudah bisa mendapatkan restu. Amazing," Ucap Jehon.


Agas menyimpan undangan itu dimeja dengan kasar, lalu menatap Arsen, "Bagaimana caramu meminta restu?"


"Pikirkan sendiri," Agas menghela nafas kasar melihat tingkah menyebalkan temannya itu.


"Pelit sekali."


"Tunggu, bukannya Azila itu sahabatnya gadis Agas?" Tanya Jehon saat mengingat jika Airin a.k.a gadisnya sahabatnya itu mempunyai teman bernama Azila.


"Iya kenapa?" Tanya Arsen.


"Wah hahaha, gila! kalian itu pedofil," Ucap Daniel sambil tertawa keras, lucu sekali menurutnya kedua temannya yang hati es itu luluh dengan gadis remaja.


"Tertawa lah terus sebelum aku mematahkan rahangmu," Ucap Agas sinis lalu memejamkan matanya.


Pikirannya kini campur aduk, bagaimana dia bisa mendapatkan restu untuk menikahi Airin. Agas tak sabar untuk memiliki Airin dengan status yang sah.

__ADS_1


__ADS_2