
Airin berdiri di balkon kamar hotelnya, matanya terpejam menikmati sapuan angin malam yang dingin dan menenangkan. Setelah percakapan hangat di sofa tadi, Airin meminta agar Azra tidur bersama mereka.
Tentu saja, Agas menolak dengan keras. Tetapi, jika sang istri sudah berkehendak besar kemungkinan sulit untuk di bantah.
"Kenapa berdiri di sini, hm?" Tanya Agas yang kini memeluk Airin dari belakang.
Airin menyandarkan kepalanya di dada bidang Agas dengan nyaman, seketika rasa dingin tadi terganti menjadi hangat, "Menghirup udara segar."
"Masuk yuk, angin malam tidak baik untuk tubuh," Ajak Agas.
"Sebentar lagi, aku masih pengen disini," Ucap Airin dengan tangannya yang kini menggenggam tangan Agas yang berada di depan perutnya.
"Yaudah deh," Pasrah Agas.
Kini keadaan menjadi hening, mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing masing hingga Airin membuka suaranya, "Coba ceritakan tentang Azralia."
"Hm, di mulai dari mana ya," Pikir Agas.
"Singkat saja, hal yang kamu tau tentang dia," Agas menganggukkan kepalanya.
"Anak perempuan kita itu baik, kadang dia cerewet, tapi juga dingin. Sikapnya ketus jika moodnya tak baik, hm pokoknya sikap dia itu mencerminkan moodnya. Tapi, dia misterius. Aku rasa...banyak yang dia rahasiakan dari semua orang."
Agas menyandarkan kepalanya di bahu Airin dengan mata terpejam, "Dia kadang kadang suka menghilang tanpa alasan. Bahkan waktu terlama dia menghilang itu sekitar lima bulanan, dan dia hanya menjawabnya dengan alasan pekerjaan."
"Aku adalah daddy nya, tapi banyak yang tidak aku ketahui tentangnya," Ucap Agas lesu.
Airin mengelus lengan Agas, "Menjadi orang tua memang sulit, apalagi di saat kamu yang masing singel. Sebenarnya kamu hebat bisa mengurus anak sendirian tanpa di bantu dengan istri atau pun baby sitter."
"Orangtua itu tidak pernah gagal, yang gagal itu anaknya sendiri. Jadi, jika kamu merasa kamu kurang terbuka dengan Azra, coba sekali kali kamu berlibur berdua. Berbincang dengan hangat, itu adalah salah satu cara agar Azra merasa lebih yakin denganmu hingga tidak ada yang dia tutupi darimu," Saran Airin.
"Hm, terima kasih sarannya. Nanti aku coba setelah pembuatan baby twins berhasil," Ucap Agas sambil tersenyum lebar.
Tak.
Satu jitak kan mendarat di kepala Agas, Agas hanya meringis pelan merasakan kulit kepalanya yang lumayan terasa perih, "Kenapa di jitak sih! gak sopan tau!"
"Lagian, salah kamu sendiri yang selalu saja bahas baby twins baby twins. Jangan terlalu berharap, keturuanan keluarga kita kan tidak ada yang punya gen kembar. Sudahlah aku mau tidur, ngantuk," Omel Airin lalu berjalan kedalam kamar meninggalkan Agas yang memasang wajah lemah, lesu, letoy itu.
"Ck, istri siapa sih? ngeselin banget!" Geramnya.
...~o0o~...
__ADS_1
Lima hari sudah Airin berada di negara Prancis, dan saat ini mereka berdua berada di depan mansion Agas. Mereka berdua baru saja sampai, dan tentunya tanpa sepengetahuan keluarga serta sahabat sahabatnya. Mengenai Azra, dia akan menyusul nanti dan pastinya Agas juga ragu untuk mempertemukan Azra dengan Azrel.
Ting nong...
"Sebentar!" Terdengar teriakan lelaki di dalam mansion.
Cklek...
Airin tersenyum saat pintu terbuka yang menampilkan muka bangun tidur Azrel. Agas terkekeh melihat Azrel yang memakai kostum sapi dengan, apalagi melihat muka bangun tidur Azrel. Sungguh menggemaskan!
"Siapa?" Tanya Azrel dengan mata yang sedikit terbuka.
"Mommy baru," Gumam Airin.
Azrel hanya mengangguk anggukan kepalanya sambil mengucek ngucek matanya. Sedetik kemudian matanya terbuka lebar lalu, "DADDY? MOMMY? HUAA DADDY MOMMY! AKHIRNYA AZREL TERSELAMATKAN!" Teriaknya.
Agas mengusap telinganya saat mendengar teriakan membahana Azrel, "Berisik Azrel!"
"Hehe maaf daddy, hu hu hu...kangen banget sama daddy!" Ucap Azrel lalu dengan muka yang masih linglung nya itu melompat ke gendongan koala Agas.
"Ya ampun!" Pekik Airin kaget.
"Maaf sayang Azrel emang kayak gini, manja," Ucap Agas lalu mengajak Airin masuk dengan Azrel yang sudah tertidur kembali di gendongan Agas.
Agas mengangguk, "Yaudah aku ke kamarnya Azrel dulu. Kamu kekamar aku aja dulu."
Airin mengangguk lalu berjalan ke lantai atas dengan Agas di belakangnya yang menggendong Azrel, "Aku mau ke kamarnya Alga dulu," Ucap Airin.
"Iya, tapi jangan tidur di sana. Tidur di kamar kita aja," Ucap Agas, Airin hanya mengangguk mengiyakan.
Setelah berada di lantai dua, mereka berjalan terpisah dengan Agas ke kanan dan Airin yang berjalan ke kiri dimana terdapat kamar Alga yang mengarah langsung ke taman belakang rumah.
Setelah sampai di kamar Alga, Airin duduk di samping Alga yang sedang berbaring dengan nyaman. Tangannya mengusap lembut kepala Alga , "Selamat tidur prince Alga," Bisiknya.
...~o0o~...
Bintang bintang bersinar di gelapnya malam, lampu lampu taman juga tak ingin kalah bersinar dari bintang. Suasana malam hari memang sangat misterius, kadang nyaman dan juga kadang mencekam.
Di atas danau yang jernih itu terlihat lampion lampion yang terbang menerangi gelapnya malam. Ayla duduk di pinggir danau dengan sebuah lampion yang sedang di tuliskan sesuatu, bibirnya tersenyum manis saat membaca kembali harapannya yang dia tulis pada lampion.
Ayla segera menyalakan lilin lampion itu, sedikit demi sedikit balon lampion itu mengembung.
__ADS_1
"Lagi ngapai?" Tanya Joshua yang datang dengan membawa keresek hitam di tangannya.
Ayla dengan gugup memperlihatkan lampionnya dengan menyembunyikan tulisan pada lampionnya, "Boleh gue gabung?" Tanya Joshua.
"Hm boleh," Ucap Ayla, Joshua pun dengan segera memegang lampion di bagian lain.
Kini mereka berdiri saling berhadapan dengan kedua tangan menggenggam lampion dengan erat, "Lo buat harapan?" Tanya Joshua.
"He'em."
"Semoga, harapan Lo cepat terwujud," Ucap Joshua lalu tersenyum manis menatap muka Ayla yang sedikit demi sedikit terhalangi oleh lampion yang semakin membesar.
"Aamiin, terima kasih," Jawab Ayla.
"Kita terbangkan?" Ayla mengangguk lalu mulai menghitung mundur.
"Satu...Dua...Tiga!"
Syung....
Ayla menatap lampionnya yang terbang denga tersenyum manis, "Dah! datanglah ketempat yang tepat ya!" Teriaknya ssmbil melambaikan tangannya pada lampionnya.
Joshua tersenyum tipis, "Cantik."
"H-hah apa?" Tanya Ayla dengan gugup tak lupa dengan kedua pipi yang memerah.
"Lampionnya. Mereka cantik, seperti sekumpulan bintang yang palin bersinar," Ucapnya.
"A-hah, oh iya. Mereka memang cantik, seperti marshmellow terbang," Ucap Ayla dengan sedikit ejekan di akhir kalimatnya.
Joshua tersenyum tipis, " Kamu masih ingat?"
"Tentu! aku kan orang pertama yang mendengar itu," Kesal Ayla.
Joshua tersenyum dengan pandangan matanya tak teralihkan dari wajah Ayla yang sedang mendongak melihat kearah atas, "Tapi, di antara lampion dan bintang. Kamu yang selalu bersinar di dalam hidupku Ayla, lampion memang cantik...tapi kamu jauh lebih cantik."
Ayla menundukan kepalanya, "Jo, sebenarnya. Hubungan kita itu apa?"
"Bukankah kita bersahabat?" Tanya Balik Joshua.
"Sahabat ya," Gumam Ayla dengan mata yang berkaca kaca.
__ADS_1
Joshua tersenyum manis, "Sayangnya itu dulu sebelum aku terjebak dalam pesonamu. Maafkan jika selama ini aku terlihat seperti pengecut. Tapi, Ayla. Maukah kamu menjadi bagian penting dalam hidupku layaknya jantung dan nadi yang selalu berikatan?
"Hah?"