
"Aku beri kau waktu sepuluh menit untuk mengganti pakaianmu dan kembali kesini!" perintah David.
"Tu-tuan dua puluh menit ya. Mansion sangat luas tuan. Mana cukup waktu sepuluh menit untuk ganti baju dan balik lagi kesini," pinta Elaina.
"Lima menit!" tegas David.
"Eh, kenapa semakin dipercepat tuan?" tanya Elaina.
"Tiga menit!" perintah David sambil menatap tajam pada Elaina.
"Yaa!" teriak Elaina sambil berlari keluar dari kamar David.
"Ya ampun. Mimpi apa aku punya majikan seperti ini," keluh Elaina sambil berlari menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, dia segera mengganti seragam maid nya dengan pakaian kasual miliknya. Pakaian terbaik yang dia miliki. Selama ini Elaina tidak pernah membeli pakaian lagi semenjak kedua orang tuanya meninggal. Dia harus berhemat. Bahkan harus membanting tulangnya saat ini agar kedua adiknya bisa makan dan bersekolah di kampung.
Dia mengenakan celana jeans botol dengan warna biru dongker, baju kaos putih lengan pendek, dan ditutupi oleh cardigan pink. Sanggul rambutnya sengaja dia lepaskan. Rambut hitam panjang tergerai indah di punggungnya. Sebelum keluar dari kamar, dia menatap kembali ke cermin. Memastikan bahwa penampilannya cukup baik.
Elaina segera berlari menuju kamar tuannya. Dia tidak ingin kehilangan pekerjaan. Sangat jarang mendapat gaji yang cukup besar sekaligus ditanggung biaya hidup di kota besar. Elaina akan melakukan apapun agar dia tetap bertahan disini. Semua ini untuk kedua adiknya dan dia.
Tok ... tok ...
Elaina mengetuk pintu kamar tuannya. Tak berapa lama pintu itu terbuka. Hatinya meleleh saat melihat sosok pria tampan yang membuka pintu untuknya. Jika saja dia tidak ingat bahwa pria itu adalah tuannya, dia pasti sudah meminta nomor ponsel pria itu. Namun, semua itu hanya khayalan Elaina. Nyatanya dia tidak berani melakukan hal itu.
Dia hanya berani membuat otaknya berselancar tanpa tindakan nyata. Berdekatan dengan seorang pria saja dia tidak berani. Baru kali ini dia berdiri dekat dengan seorang pria tampan yang merupakan majikannya. Terlebih lagi saat pertemuan pertama mereka. Bukan hanya berdiri dekat, tapi sangat dekat. Bahkan Elaina melihat dengan jelas tubuh polos tuannya.
Tanpa dia sadari, wajahnya bersemu merah saat mengingat kejadian tadi pagi antara dia dan tuan David. Elaina menganggapnya sebagai suatu keberuntungan.
"Mengapa wajahmu seperti udah rebus?" tanya David heran.
"Eh, i-ni karena aku tadi berlari tuan," jawab Elaina pelan. Si al. Rutuk Elaina dalam hati. Bisa-bisanya wajahnya memerah saat mengingat kejadian tadi pagi.
"Masuk!" perintah David.
"Ba-ik tuan," jawab Elaina sambil berjalan memasuki kamar tuannya.
"Tutup kembali pintunya dan kunci!" perintah David.
__ADS_1
"Mengapa harus dikunci tuan?" tanya Elaina antara takut dan bingung.
"Kau pikir aku akan tertarik dengan tubuhmu yang kurus itu!" ledek David.
"ish, tuan. Begini-begini juga isinya padat," balas Elaina.
"Mana mungkin," pancing David.
"Mau ku buktikan tuan!" seru Elaina.
"Tentu saja. Segala sesuatu perlu bukti jika ingin dianggap benar," jawab David. Tanpa sengaja dia ingin menjahili Elaina. Lagipula dia sudah merasa sangat dirugikan tadi pagi. Tidak ada salahnya dia meminta ganti rugi pada Elaina. Jauh di lubuk hatinya, dia juga penasaran dengan ukuran Elaina yang mengatakan bahwa kedua bukitnya sangat berisi.
"Awas saja jika anda sudah melihatnya masih mengatai ku kecil," gerutu Elaina.
Salah satu sifat buruk Elaina adalah dia sangat mudah terpancing. Jika emosinya sudah terpancing akan sangat mudah baginya bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu. Elaina mengangkat ujung bajunya dengan kedua tangannya.
David menatapnya dengan intens. Baju kaosnya kini sudah terangkat setengah badan. Menampilkan perutnya yang ramping. Warna kulitnya sangat putih dan halus. David sampai kesusahan menelan salivanya. Ada perasaan ingin menyentuh kulit itu. Tanpa dia sadari juniornya kembali dalam posisi on.
Si al, rutuk David pada dirinya sendiri. Ketegangan juniornya tidak berlangsung lama. Elaina tiba-tiba berteriak. Teriakan berhasil membuat gendang telinganya sakit dan juniornya langsung dalam kondisi off.
"Aaa ...." teriak Elaina. Teriakannya sangat kencang.
"Diam!" perintah David.
Elaina terdiam saat mendengar bentakan dari David.
"Kau itu hobi sekali berteriak. Kali ini aku harus pergi ke dokter THT untuk memeriksakan telingaku," sergah David.
"Anda curang tuan," tutur Elaina.
"Aku curang?" tanya David sambil menunjuk dirinya.
"Anda sengaja melakukannya agar aku memperlihatkan gundukan bukit kecilku padamu. Hiks," keluh Elaina. Dia mulai terisak mengingat kebodohan yang dilakukannya sendiri.
"Ok. Kalau aku curang. Jadi kau itu apa? Ala kau lupa yang sudah kau lakukan tadi pagi kepadaku?" tanya David sambil menatap Elaina.
Elaina terkejut dan terdiam.
__ADS_1
"Aku kan tadi pagi tidak sengaja tuan," jawab Elaina malu-malu. Tangisnya berganti senyum malu-malu.
"Dan tadi, bukannya kau sendiri yang ingin menunjukkannya padaku," jawab David santai.
Elaina kembali terdiam. Yang dikatakan tuannya ada benarnya juga. Memang dia yang terpancing dan ingin memperlihatkan dua bukit kembarnya. Dia langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Kau ikut aku sekarang!" perintah David.
"Kemana tuan?" tanya Elaina sambil mengikuti langkah kaki tuannya dari belakang.
"Mengepak pakaianmu karena kau ku pecat," goda David sambil tersenyum.
"Aaa jangan tuan!" teriak Elaina.
David segera mengelak sebelum Elaina sempat bersimpuh dan memeluk kedua kakinya.
"Kau itu hobi sekali melakukan itu. Aku hanya bercanda. Makanya jangan banyak bertanya. Cukup kau ikuti saja aku!" perintah David.
Dia kembali berjalan keluar kamar.
Elaina berdiri perlahan. Kedua lututnya sangat sakit karena tadi dia menghempaskan tubuhnya ke lantai dengan sangat kuat. Dia menggosok kedua lututnya sambil menggerutu.
"Enak sekali kau tuan mengerjai aku. Tunggu saja nanti!" gerutu Elaina.
"Apa yang harus aku tunggu?" tanya David.
"Eh, maksudku tunggu aku tuan," elak Elaina.
Tajam sekali telinganya. Lain kali aku harus berhati-hati jika ingin mengutuknya. Elaina bermonolog di dalam hati.
David sendiri merasa heran. Setelah kehidupan keduanya. Telinga lebih sensitif. Dia masih bisa mendengar dengan sangat jelas ucapan Elaina. Padahal posisi gadis itu dengan dirinya cukup jauh. Mungkin dia harus bersyukur akan kelebihan yang dia miliki sekarang.
Setelah melewati drama satu episode. Mereka tiba di ruang makan. David segera duduk di kursi makan. Sedangkan Elaina tetap berdiri. Melihat Elaina yang masih berdiri, David menyuruhnya untuk segera duduk di sebelahnya.
Elaina ragu untuk menerima tawaran tuannya itu. Tapi begitu melihat tatapan tajam tuannya. Elaina segera duduk di sampingnya.
"Pak Griffin, panggil seluruh karyawan mansion kemari!" perintah David.
__ADS_1
"Baik tuan," jawab pak Griffin sopan.
Saat dia berjalan untuk memanggil semua karyawan, dia sempat melihat Elaina. Begitu juga Elaina. Mereka berdua sama-sama melemparkan tatapan kebingungan dengan perintah tuan mereka.