
"Ada apa lagi Elaina?" tanya Bricia. Gadis itu ingin segera pergi dari sana. Dia juga butuh waktu untuk dirinya sendiri. Apalagi akan menghadapi klan Black Meadow dalam waktu dekat. Dia juga memiliki pasangan meskipun belum resmi, Bricia ingin menghabiskan waktu yang tersisa dengannya.
"Bagaimana dengan paman dan bibi ku?"
David hampir lupa dengan paman Jeff dan bibi Rachel nya. Mereka saat ini sedang dalam perjalanan dinas ke benua lain.
"S h i t! Aku hampir lupa dengan mereka." Giliran David yang sedikit frustasi mengingat keselamatan paman dan bibinya. Adik-adiknya sudah pasti selamat. Pertanyaan Elaina berhasil menarik perhatian David.
"Ah, aku belum memberitahu kalian juga ya!" Bricia terkekeh karena lupa memberitahu Elaina dan David mengenai keadaan paman dan bibi mereka.
Elaina menatap Bricia bingung. Dia sudah tidak sabar menantikan jawaban dari sang kakak sepupu.
"Mereka baik-baik saja. Kami sudah memikirkan segalanya. Black Meadow memang berencana untuk menyerang kelurga kalian dan dijadikan sebagai sandera. Tapi, kami sudah mempersiapkan segala sesuatunya sebelum hal itu terjadi."
Elaina menghela napas lega saat mendengar keluarganya dalam keadaan baik-baik saja. Begitu pula dengan David. Dia sangat bersyukur four B sudah memperhatikan dan mempersiapkan segala sesuatunya lebih dulu.
"Jadi kau sudah tenang sekarang?" tanya Bricia pada Elaina.
Elaina mengangguk dan tersenyum. "Terima kasih kak." Elaina sangat bersyukur memiliki keluarga yang sangat perhatian padanya.
Bricia tersenyum pada Elaina sambil memberikan dua jempol pada Elaina. "Jadi, apa aku bisa pergi sekarang?" Bricia ingin memastikan saat dia pergi nanti Elaina atau siapa pun tidak menghalanginya lagi dengan pertanyaan atau apa pun itu.
__ADS_1
Elaina tertawa mendengar pertanyaan kakak sepupunya itu. Apalagi ditambah ekspresi Bricia yang menurutnya lucu.
"Tentu saja kak. Maaf ya kak dari tadi aku menghalangi kepergian mu."
"Tidak apa. Aku tahu kau sangat menyayangi keluargamu," balas Bricia.
"Kau mau ke mana Brixie?" Brayan yang dari tadi diam akhirnya tidak tahan ingin tahu ke mana kakaknya itu akan pergi.
"Anak kecil mau tau saja," ketus Bricia.
"Ya sudah, aku ikut!" Brayan berkata sambil melangkahkan kakinya mendekati Bricia.
Brayan yang mendapat teriakan dari kakaknya langsung menghentikan langkah kakinya. "Mengapa aku harus berhenti? Aku kan ingin ikut denganmu!"
"No!" Bricia menolak dengan tegas.
"Mengapa kakakku tersayang?" tanya Brayan sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
"Tentu saja aku juga ingin berbulan madu."
"Oh, jadi kekasihmu juga berada di sini!" seru Brayan tak kalah sengit. "Justru bagus. Aku bisa bertemu langsung dengan calon kakak ipar." Brayan tidak peduli dengan ucapan Bricia. Di tetap bersikeras ikut Bricia.
__ADS_1
Pemuda itu tidak ada pilihan lain. Ingin ikut Elaina dan David sangat tidak mungkin. Pasangan suami istri beda usia yang cukup jauh itu pasti sedang di mabuk asmara. Ingin berjalan-jalan sendiri, negara bagian mana lagi yang belum di jamah olehnya. Sekali-kali dia ingin ikut ke mana pun Bricia pergi.
"Tidak! Aku bilang tidak ya tidak." Bricia terlihat sangat emosi dengan adik bungsunya itu. Jika Brayan ikut dengannya, bisa-bisa kencannya dengan kekasihnya, Doughlas akan berakhir tragis.
"Oh, ayolah Brixie!" Brayan mulai merengek pada kakaknya.
"Ah, apa itu di sana?" Bricia tiba-tiba menunjuk sesuatu dibelakang Brayan.
Sontak saja Elaina, David, dan Brayan langsung menoleh ke sumber yang ditunjuk oleh Bricia.
Bersambung.
* * *
Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended banget loh! Yuks mampir! Ceritanya seru banget loh!
Judul: Second Chance
Penulis: Ria Aisyah
__ADS_1