336 Hours

336 Hours
Bab 36. Terkejut


__ADS_3

Elaina masih sibuk dengan makanannya. Dia tidak memperdulikan David yang dari tadi memanggilnya.


"Aku akan mencium mu di sini jika masih tidak memperdulikan aku," bisik David.


Elaina spontan menghentikan aktivitasnya. Dia menatap David jengah.


"Dave, aku masih ingin menyantap makananku. Kau urus saja semuanya. Lagipula aku sudah mengutarakan apa yang aku mau," jelas Elaina.


"Kau yakin?" tanya David sambil menyeringai di sudut bibirnya.


"Aku yakin," jawab Elaina cepat.


"Baiklah. Deal, ya! Kau sudah mengutarakan keinginanmu dan selebihnya terserah aku," David sengaja mengulang ucapannya agar Elaina tidak bisa menyalahkan atau komplain kepadanya nanti.


"Yups! Apa aku sudah boleh melanjutkan makan?" tanya Elaina.


"Tentu saja sayang. Nikmati sarapan pagi mu," ucap David sambil tersenyum.


*


*


Dua hari kemudian.


"David!" teriak Elaina.


Flash back on


Setengah jam yang lalu.


Elaina sedang menikmati waktu santai sorenya bersama Audrey dan bibi Rachel di halaman belakang mansion. Dalam dua hari terakhir, wajah Elaina kembali seperti semula setelah melakukan berbagai rangkaian treatment.


Salah seorang maid yang dikenal Elaina bernama Cici menghampiri mereka. Dia mengatakan bahwa Theo mengantar dua orang muda mudi yang merupakan kerabat dari Elaina. Meraka saat ini sedang berada di rumah tamu.


Elaina sempat menguras otaknya mengingat siapa kerabatnya yang tinggal di kota besar. Seingatnya tidak ada sama sekali.


"Mereka masih menunggu di ruang tamu, Ci?" tanya Elaina.


"Iya nyonya," jawab maid Cici.


"ish, kan sudah ku bilang jangan panggil nyonya saat David tidak ada," gerutu Elaina.


"Maaf, nyonya. Saya takut nanti tuan marah," jawab Cici sopan.


Elaina mengerti posisi Cici sangat sulit. Belum lagi kedudukannya saat ini berubah tiga ratus enam puluh derajat. Cici harus menghormatinya sebagai nyonya.


"Coba kamu sebutkan ciri-ciri mereka?" perintah Elaina.


"Mereka dua orang," jawab Cici.


"Itu aku tahu, Ci. Tadi akan sudah kamu sebut. Maksudku ciri-ciri mereka. Laki-laki atau perempuan, kurus, tinggi, atau lainnya," oceh Elaina.


"Oh, itu maksudnya, nyah. Hehehe, maklum nyonya tau sendiri kalau saya agak telmi," ujar maid Cici.

__ADS_1


"Telmi itu apa, Ci? Jenis makanan, minuman, atau apa?" tanya Elaina bingung.


"Wah, ternyata nyonya lebih parah telmi nya dari saya," ucap maid Cici sambil terkekeh.


"Telmi itu telat mikir, nyonya. Mikirnya lambat. Ibarat lari nih ya, nyah. Misalnya non Audrey larinya udah sampe pintu depan. Nah, nyonya larinya masih di halaman belakang," jelas maid Cici.


"Ish, kau itu. Memangnya aku tidak tahu artinya telat mikir," balas Elaina.


"Kakak!" teriak seseorang.


Elaina terdiam saat mendengar seseorang memanggilnya. Elaina merasa tidak asing dengan suara teriakan gadis itu, yang pasti bukan Audrey. Pandangannya terhalang oleh maid Cici yang berdiri tepat di depannya.


"Kakak!" teriak gadis itu lagi.


Elaina yakin jika pendengarannya tidak bermasalah sama sekali. Dia yakin itu adalah suara Moonela, adik perempuannya. Dia segera berdiri dan mengarahkan pandangannya ke arah pintu penghubung antara halaman belakang dengan ruang tengah.


"Munel!" teriak Elaina.


Elaina terkejut melihat adik perempuannya sudah berdiri di sana.


"Apa yang kau lakukan di sini? Kapan kau datang? Dengan siapa kau datang ke kota ini? Siapa yang mengantarmu ke bandara? Di mana Bintang?" serentetan pertanyaan meluncur begitu saja dari mulut Elaina.


"Aku di sini kak!" jawab Bintang.


Remaja pria itu terlihat berjalan ke arahnya bersama Audrey di sampingnya.


"Ya ampun, nyonya. Bisa-bisanya tepat sekali perumpamaan yang aku buat. Non Audrey sudah di pintu depan, nyonya masih berdiri di halaman belakang. Hihihi," ujar maid Cici sambil terkekeh.


"Mengapa kalian berdua ada di sini?" tanya Elaina bingung.


Elaina berjalan melangkahkan kaki menghampiri kedua adiknya yang baru saja tiba dari pulau Borneo.


"Aku sangat merindukanmu, Munel. Bagaimana mungkin aku tidak suka kau berada di sini," ucap Elaina sambil memeluk erat tubuh Munel.


"Uuh, akak. Munel rindu ..." ucap Munel sambil membalas pelukan kakaknya dengan erat.


"Baru juga sebulan," ujar Bintang yang sudah berdiri di dekat mereka.


Remaja pria itu mengurai pelukan Elaina dan Munel. Dia meminta giliran untuk memeluk Elaina.


"Hai, gantengnya kakak. Makasih udah jadi abang yang baik jagain Munel," ucap Elaina sambil memeluk Bintang.


"Terpaksa," ujar Bintang pelan di dekat telinga Elaina.


"ih, kakak," rengek Munel.


"Kau itu!" seru Elaina.


"Bercanda. Hahaha," ucap Bintang sambil tertawa.


Mereka saling berpelukan melepas kerinduan. Mereka tidak pernah berpisah dari kecil. Baru kali ini Elaina hidup terpisah dengan kedua adiknya karena harus mencari nafkah untuk mereka.


"Oh, sayang. Kalian manis-manis sekali!" seru Rachel yang langsung turut memeluk mereka.

__ADS_1


"Ehem," Audrey kecil berdehem.


Audrey sedikit iri melihat keakraban keluarga kecil kakak iparnya. Dia ingin merasakan bagaimana rasanya memiliki saudara.


"Audrey, ayo bergabung!" seru Elaina.


Gadis kecil itu tersenyum. Meskipun dia sangat ingin bergabung dengan kesenangan mereka, tapi dia cukup tahu diri. Audrey merasa tidak enak jika harus berpelukan dengan seorang anak laki-laki yang tidak memiliki hubungan saudara.


Munel yang mengerti segera menghampiri Audrey.


"Apa aku tidak bisa mendapat pelukan darimu?" tanya Munel.


Audrey tersenyum. Dia merentangkan kedua tangannya dan meraih tubuh Munel ke dalam pelukannya.


"Aku Moonela. Kau bisa memanggilku Moon atau Munel," ucap Munel sambil memeluk erat Audrey.


"Aku Audrellie Benjamin. Kakak bisa memanggilku Audrey," jawab Audrey sambil.


"Baiklah. Aku rasa kalian bisa berbincang-bincang dulu di sini. Cici, tolong bantu aku persiapkan kamar untuk kedua adikku!" pinta Elaina pada Cici.


"Baik, nyonya," jawab Cici sambil undur diri.


"Kakak! Aku ingin kamar kak Munel berdekatan denganku. Apa boleh?" tanya Audrey.


"Tentu saja sayang," jawab Elaina sambil tersenyum.


"Terima kasih kak," ucap Audrey dan Munel bersamaan.


"Baiklah urusan kalian sudah selesai. Sekarang aku harus mencari si biang keladinya," ketus Elaina sambil berjalan masuk ke ruang tengah.


Flash back off.


"David!" teriak Elaina.


David yang dari tadi berdiri di jendela ruang kerjanya segera melarikan diri saat melihat Elaina berjalan masuk ke dalam rumah dengan wajah kesal.


Ruang kerja David terletak di lantai dua. Dari jendela ruang kerjanya dapat terlihat pemandangan halaman belakang mansion. Dari awal Bintang dan Munel tiba di mansion, dia sudah mengetahuinya karena Theo sudah menghubunginya terlebih dahulu.


Dia juga melihat pertemuan tiga bersaudara yang mengharukan. Namun, hanya sebentar saja karena dia tahu, Elaina pasti menuntut sebuah penjelasan darinya. Niat hati ingin kabur dari Elaina.


David segera berlari menuju pintu ruang kerjanya. Dia ingin bersembunyi di dalam kamar mandi kamarnya sendiri. Elaina tidak akan berani mencarinya sampai ke sana. Gadis itu sedikit trauma dengan kejadian panas di kamar mandi hotel.


Tangan kanannya sudah berada di gagang pintu. Saat pintu terbuka, David terkejut bukan kepalang.


Bersambung ...


* * *


Advertisement


Hai my lovely readers! Yuks mampir ke karya temanku. Ceritanya bagus banget loh!


...DOKTER MISTERIUS VS MAFIA KEJAM...

__ADS_1


...(Anisyah S)...



__ADS_2