336 Hours

336 Hours
Bab 82. Lebih Dari Bakat


__ADS_3

David memeluk erat tubuh Elaina. Dia juga khawatir mendapati kenyataan bahwa Elaina bisa siuman dalam waktu yang sangat tidak masuk akal. Entah hal itu baik atau buruk bagi mereka. Bersyukur jika hal ini baik.


"Sudahlah, jangan kita bahas lagi!" Bricia akhirnya membuyarkan lamunan mereka. "Anggap saja Elaina memiliki kekuatan super." Gadis itu berusaha menenangkan keadaan.


"Lebih dari super ku rasa." Brayan menatap Elaina. Tatapannya seperti sedang menyelidiki sesuatu. Otak yang berada di dalam kepalanya berpikir keras tentang kemungkinan-kemungkinan yang cocok dengan analisanya sendiri.


"Jika kau masih ingin berpikir mengenai bakat Elaina, terserah kau saja. Aku tidak ingin menghabiskan banyak waktu." Bricia berjalan melewati adik bungsunya. Dia memberi kode pada David dan Elaina untuk segera mengikutinya.


David mengurai pelukannya. Dia meraih tangan Elaina. Memimpinnya mengikuti Bricia.


"Hei, tunggu aku!" Brayan berteriak tak ingin tertinggal.


Mereka berlatih kurang lebih dua jam. Tapi kali ini, khusus melatih bakat David. Untuk itulah, mereka tidak mengajak Elaina turut serta bersama mereka.


Latihan hari ini sangat membuahkan hasil. David dapat mengembangkan bakatnya diluar ekspektasi. Bahkan, muncul bakat baru yang menguntungkan.


"Bagaimana jika kita bersantai lebih dulu menikmati keindahan kota Paris sebelum kembali?" David menawarkan Elaina bukan madu singkat.


"Maksudmu berbulan madu?" tanya Elaina yang mengerti ke mana arah pembicaraan mereka.


"Hmm, enak ya yang punya pasangan," ketus Brayan dari belakang.

__ADS_1


"Makanya kau jangan bermain-main terus!" Bricia menasihati adik bungsunya.


Ucapan Bricia ada benarnya. Mengingat pemuda seumuran Brayan sudah memiliki pacar bahkan sudah bergonta-ganti pacar.


"Masih belum ada yang cocok untuk ku," Brayan segera menjawab ujaran Bricia.


"Bukannya tidak ada yang cocok. Tapi, tingkah konyol mu yang harus diperbaiki lebih dulu," ketus Bricia.


"Aku lebih nyaman begini. Jika ada seorang gadis yang menyukaiku, dia bisa menerima aku apa adanya." Brayan tak ingin kalah berdebat.


"Aku pasti akan menaruh simpati pada calon adik ipar ku," balas Bricia.


"Tidak ada," Bricia segera menjawab salah satu pertanyaan konyol adik bungsunya. Dia tidak ingin berlama-lama terjebak dengannya. "Aku ingin menghabiskan waktu beberapa jam ke depan. Jadi kita berpisah di sini dan berkumpul lagi di sini."


"Tunggu kak!" Elaina mencegah Bricia untuk tidak pergi lebih dulu.


"Ada apa, El?" tanya Bricia.


"Ada sesuatu yang terlupa," Elaina segera menjawab. "Bagaimana dengan keadaan adik-adikku?" Elaina hampir saja lupa dengan keadaan adik-adiknya.


Mungkin saja mereka menggunakan alasan seperti itu agar David bisa keluar sendiri tanpa dirinya untuk berlatih. Namun, kekhawatiran Elina sangat beralasan. Mengingat klan Balck Meadow sedang mengincar mereka.

__ADS_1


"Apa kau lupa?" Bricia balik bertanya.


Elaina terlihat bingung. Jelas sekali jika dia lupa akan sesuatu. Wajar saja Brayan sangat mudah menipunya. Adik sepupunya ini sudah cantik, polos, mudah dikerjai pula. Brayan yakin seratus persen rencananya akan berhasil. Ternyata dia sudah hafal dengan sifat pelupa Elaina.


"Kami sudah membuat perlindungan untuk mereka." Bricia dengan sabar menjelaskan pada Elaina.


Elaina terkejut mendengarnya. Bagaimana mungkin dia bisa melupakan hal itu. Dasar otakku! Mengapa kau mudah sekali lupa? Elaina menyalahkan otaknya yang selalu lupa akan sesuatu yang penting.


Baru saja Bricia hendak melangkahkan kakinya, Elaina lagi-lagi menghentikannya dengan melontarkan sebuah pertanyaan hingga membuat Bricia sedikit kesal.


Bersambung


* * *


Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended banget loh. Yuksss mampir! Ceritanya seru banget loh!


Judul: Because I see Only You


Penulis: Nezha Ageha


__ADS_1


__ADS_2