336 Hours

336 Hours
Bab 76. Kelemahan Brayan


__ADS_3

Setelah mendengar persetujuan dari Brayan, Bricia akhirnya dengan berat hati menolong adik bungsunya yang saat ini sedang berjuang antara ingin pingsan atau mengompol. Ya, meski Brayan memiliki bakat yang luar biasa di antara mereka berempat, dia memiliki sebuah kelemahan.


Kelemahannya yaitu dia sangat takut ketinggian. Tinggi yang biasa dia capai paling tinggi hanya tujuh meter dari permukaan tanah. Lebih dari itu, dia akan pingsan atau mengompol.


Dulu sekali, saat Brayan berusia sepuluh tahun, dia dan Bricia sedang berlatih terbang. Bricia mengajaknya berlomba adu ketinggian yang bisa mereka capai. Yang dapat meraih ketinggian terbang paling tinggi akan keluar sebagai pemenang.


Brayan yang waktu itu masih kecil tentu saja sangat menyukai sesuatu yang berupa tantangan. Apalagi ada imbalannya. Mereka beradu terbang dengan kecepatan maksimal. Awalnya Brayan melesat cepat, Bricia tertinggal cukup jauh sekitar tiga meter darinya.


Namun, tidak berapa lama Bricia mulai menyusul kecepatan Brayan dalam hitungan detik. Saat melewati adik bungsunya itu, Bricia berniat untuk meledeknya. Akan tetapi, yang didapati oleh Bricia adalah sesuatu yang sangat bersejarah.


Celana bagian depan Brayan terlihat basah. Wajah Brayan terlihat sangat pucat. Kecepatan terbangnya mulai melambat. Meski Bricia lebih unggul sekitar dua meter darinya, Bricia maish bisa melihat dengan jelas jika tubuh Brayan mulai berhenti terbang ke atas. Melainkan perlahan turun ke bawah dengan mata terpejam.


Mau tidak mau Bricia terbang turun mengejar tubuh Brayan agar tidak terhempas di permukaan tanah. Sebenarnya dia bisa saja membuat permukaan tanah menjadi empuk seperti spring bed. Akan tetapi, pikiran nakal Bricia langsung melesat mampir di otaknya.


Dia sengaja menangkap tubuh Brayan. Menggendongnya hingga mendarat di permukaan tanah dengan aman. Saat mendarat, kedua kelopak mata Brayan langsung terbuka. Pandangan pertama yang ditangkap oleh Brayan kecil waktu itu adalah wajah Bricia dengan senyuman yang terukir di wajahnya.


Senyum licik yang sangat dihindari oleh Brayan. Sejak saat itu, Bricia menjadikan kelemahan adik bungsunya sebagai senjata pamungkas setiap kali Brayan menjahilinya.

__ADS_1


"David!" Bricia mencoba menghubungi David melalui pikiran.


David masih bergeming. Dia masih fokus membawa Brayan terbang lebih tinggi. Bricia yakin, saat ini adik bungsunya pasti sudah pingsan ketakutan.


"David. Berhenti!" Kali ini Bricia berkata lebih keras. Namun, si lawan bicara masih fokus dengan kegiatannya saat ini.


"David! Kau sudah berhasil membuat adikku pingsan." Bricia berkata dengan lantang.


Ucapan terakhir Bricia berhasil membuat David sadar. Pria tampan itu tercengang melihat Brayan yang sudah pingsan di dalam genggamannya.


Dia memegang kerah belakang jaket kulit yang dikenakan David. "Aku akan membawa kalian turun ke bawah." Belum sempat David menguasai diri, Bricia sudah melancarkan rencananya bersamaan dengan berakhirnya kalimat yang dia ucapkan.


Untung saja tenaga gadis itu cukup kuat. Dia bisa membawa David dan Brayan bersamanya. Setiap manusia sama saja. Semakin dilarang semakin menjadi. Begitu pula dengan David. Jelas-jelas Bricia sudah mengatakan padanya untuk tidak melihat ke bawah.


David mengarahkan kepalanya ke bawah. Dia sedikit terkejut melihat hanya ada segerombolan awan putih. Pemandangan yang sangat indah yang belum tentu dapat dilihat oleh banyak orang. Kecuali jika menaiki pesawat.


Meski David terpana dengan pemandangan yang indah itu. Dia juga terkejut karena terbang setinggi ini. Tubuhnya sedikit limbung saat mengetahui ketinggian yang telah dia capai.

__ADS_1


"Ya ampun David! Aku sudah bilang padamu jangan lihat ke bawah!" Bricia menggerutu kesal. Menurutnya kaum laki-laki sama saja. Sama-sama keras kepala.


Kali ini David merasakan tubuhnya mengambang. Perutnya terasa dikocok-kocok. Detik berikutnya pandangan pria itu mulai menghitam. Tubuh David dan Brayan melesat turun ke bawah dengan kecepatan dua kali lebih cepat dari terbang. Bricia tidak bisa menahan dua tubuh itu bersamaan.


"Tidak!" Bricia berteriak panik saat melihat kedua tubuh laki-laki itu melesat turun.


Bersambung


* * *


Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended banget loh. Yukss mampir! Ceritanya seru banget loh.


Judul: My Possessive Billionaire


Penulis: Desy Puspita


__ADS_1


__ADS_2