336 Hours

336 Hours
Bab 17. Yang Pertama


__ADS_3

David dan Elaina terpana akan posisi mereka saat ini. Tak satupun diantara mereka yang berniat untuk beranjak dari sana. Kedua mata mereka saling beradu pandang. Elaina yang terpana melihat kedua mata David justru semakin memajukan wajahnya. Begitu juga sebaliknya. Hingga kecupan itu terdengar lagi.


Cup


"Aaa ..." teriak Elaina.


Dia baru sadar dengan yang baru saja terjadi padanya. Otak mesumnya selalu saja mendominasi sehingga perbuatan yang dilakukannya selalu bertentangan dengan hatinya.


David terkejut mendengar teriakan Elaina. Dia segera menolak tubuh Elaina yang membuat gadis itu terguling ke samping.


"Apa yang kau lakukan?" tanya David dan Elaina bersamaan.


"Kau!" seru David dan Elaina bersamaan.


"ish," dengus Elaina.


"Ah," keluh David.


"Aaa ..." teriak Elaina.


David spontan menutup kedua telinganya.


"Kau itu. Bisa tidak, tidak berteriak terus?" tanya David dengan geram.


"Ciuman pertamaku. Hiks ..." teriakan Elaina berganti isakan tangis.


"Apa yang yang ciuman?" tanya David.


"Hei tuan! Yang tadi itu bukan ciuman ya? Kau jahat! Ciuman pertamaku sudah kau rampas, hiks ..." hardik Elaina.


Emosinya langsung naik saat tuannya itu menanyakan kejadian tadi. Dia kesal pada tuannya yang menganggap kejadian tadi bukanlah ciuman.


Pletak


"Aw, sakit tuan! Kenapa justru aku yang di jitak? Bukannya aku korban di sini?" tanya Elaina.


Elaina tidak terima jika keningnya di jitak oleh tuannya. Dia sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun yang merugikan. Justru dia yang dirugikan.


"Aku menjitak-mu karena otak mu itu otak udang," jawab David.


"ish, enak saja otak udang. Tuan kali yang punya otak udang," balas Elaina.


"Heh, sudahlah! Aku mala berdebat dengan orang yang otaknya dangkal," tutur David.

__ADS_1


"TUAN! Otakku tidak dangkal!" geram Elaina.


"Tapi ..." ucap David sambil menghentikan langkah kakinya.


"Cuma cetek," ketus Elaina.


"Hmm... sama saja," gerutu David.


Dia kembali melangkahkan kakinya ke tempat tidur. Segera mengenakan pakaian yang tadi sudah dia siapkan sendiri.


Elaina masih dengan posisi duduk. Dia memijat pelan kedua kakinya yang kesemutan.


"ish, siapa suruh kau membungkus-ku seperti burito!" gerutu Elaina.


Elaina mengangkat kepalanya sedikit. Bermaksud melirik David. Wajah cemberutnya seketika berubah ceria. David sedang mengenakan pakaiannya. Gerakan David sangat keren di mata Elaina.


Gadis itu mengagumi setiap inci lekuk tubuh David. Baru kali ini dia melihat tubuh seorang pria. Apalagi pria itu adalah tuannya. Elaina lupa dengan kedua kakinya kesemutan. Dia juga tidak menyadari saat David berbalik.


"Hei!" seru David sambil menepuk kedua tangannya untuk menyadarkan Elaina dari lamunannya.


Tapi sayangnya, gadis itu masih setia dengan lamunannya. David berjalan ke arah Elaina. Dia dengan sengaja menyenggol kaki kiri Elaina yang kelihatannya masih sulit untuk digerakkan.


"Aw, David!" teriak Elaina sambil memegang kaki kiri yang di senggol David.


"Ups!" seru Elaina.


Dia langsung menutup mulut dengan kedua tangannya.


Kedua mata David beralih pada tubuh Elaina. Gaun tidur yang di kenakan-nya tercetak sempurna mengikuti lekuk tubuh gadis itu. Selama hidupnya, dia tidak pernah memperhatikan tubuh seorang gadis lekat-lekat seperti saat ini. Teman wanitanya banyak yang mengenakan pakaian minim, tapi David tidak pernah tergoda sedikitpun.


Elaina adalah pengecualian. Setiap kali menatap tubuh sexy gadis itu, junior David sangat susah di kontrol. Tubuh Elaina sudah seperti magnet. Bahkan lebih dari itu, tubuh gadis itu seperti candu baginya.


Astaga! Baru melihatnya saja sudah seperti ini. Apalagi menyentuhnya. David bermonolog di dalam hatinya. Tanpa dia sadari tubuhnya perlahan condong ke depan. Hasratnya sebagai seorang lelaki lebih dulu menguasai tubuhnya.


Elaina hanya diam saja. Otaknya masih traveling gara2 melihat tubuh atletis milik tuannya.


Cup


Lagi. David mengecup pelan bibir Elaina. Merasa tidak ada perlawanan, dia ******* bibir ranum Elaina dengan lembut. Si pemilik bibir yang tadinya diam, mulai bergerak perlahan. Ciuman lembut itu perlahan berubah menjadi ciuman panas.


"Aaa ...," teriak Elaina sambil mendorong tubuh David.


Dia segera mendorong tubuh David saat merasakan sesuatu yang mengganjal di pa ha nya. Sesuatu yang besar dan terasa sangat aneh. Kedua bola mata Elaina membulat saat teringat kejadian yang baru saja terjadi antara dia dan David.

__ADS_1


"Aaa ..." Elaina berteriak lagi.


David tidak merespon seperti biasanya. Cukup dengan juniornya yang langsung tertidur kembali saat mendengar teriakan yang cempreng itu.


"David! Kau menciumku!" teriak Elaina.


David hanya menaikkan sebelah alisnya. Dia berdiri, dan berlalu pergi meninggalkan Elaina.


"Aku tunggu sarapan di bawah!" perintah David tanpa membalikkan tubuhnya sebelum menutup pintu kamar.


"Aaa ..." Elaina berteriak kesal.


Dia merasa sangat kesal dengan kelakuan David.


"Ok. Bagus tadi aku keceplosan. Mulai saat ini aku akan memanggilmu David, titik!" kesal Elaina.


Kedua kakinya yang kesemutan sudah tidak terasa lagi. Dia segera bangkit dari lantai, dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Elaina sangat terkejut saat menatap ke cermin. Di depannya terlihat seorang wanita yang mengenakan gaun tidur sexy. Buah dadanya terekspos sangat menggoda. Pantas saja jika David ingin memakan Elaina.


"Aaa ..." Elaina berteriak kesal di dalam kamar mandi.


Dia sangat kesal pagi ini. Elaina ingat jika dia terkahir berendam di dalam bathtub. Artinya yang memindahkan dia dari bathtub pasti David. Yang mengenakan gaun tidur pasti juga pria itu. Elaina mengangkat gaun tidur hingga ke pinggang. Benar saja dugaannya. Berarti David juga yang memakaikan pakaian dalam untuknya.


"Aaa ... Aku benar-benar kesal. Sangat kesal. Super-duper kesal!" teriak Elaina.


Kruyuk


Di saat teriakan kekesalannya pada David. Cacing di dalam perutnya justru protes minta makan. Dengan sangat terpaksa, Elaina segera membersihkan dirinya. Lagi-lagi dia terkejut. Perlengkapan mandi untuk wanita sudah berjejer rapi disana.


"Strawberry," ucap Elaina sambil membaca wangi sabun cair yang di pegangnya.


Elaina tahu siapa yang menyiapkan semua ini untuknya. Maid Silvi. Dia sudah sangat hafal dengan aroma sabun dan shampo kesukaan Elaina.


"Terima kasih Silvi," ucap Elaina sambil menatap botol sabun cair.


Dia segera melakukan ritual mandinya. Perutnya sudah berdemo minta diisi. Selesai dengan ritual mandi, Elaina segera membuka lemari pakaian David. Lagi-lagi dia tercengang melihat pakaian wanita yang berjejer sangat rapi. Elaina tersenyum. Sudah pasti semua pakaian itu miliknya.


Tak ingin berlama-lama. Elaina segera memilih pakaian yang akan dikenakannya hari ini. Kaos polos warna hijau botol, dan celana jeans biru dongker. Elaina mengenakan pakaiannya secepat kilat. Saking cepatnya dia sampai lupa mengenakan sesuatu yang cukup penting bagi seorang gadis.


Elaina menyisir asal rambutnya. Setelah semuanya dirasa sempurna, dia segera berjalan turun ke bawah menuju ruang makan.


David mendengar langkah kaki yang tergesa-gesa. Dia menoleh ke arah suara langkah kaki itu. Matanya membulat saat melihat Elaina berlari ke arahnya. Dia ingin sekali menghukum dan menerkam gadis itu sekarang.

__ADS_1


__ADS_2