
Dalam waktu kurang lebih sepuluh menit David, Brayan, dan Bricia tiba di kota Paris. Perbedaan waktu yang signifikan dan perjalanan melalui portal membuat keseimbangan tubuh David sedikit terganggu.
Brayan langsung menahan tubuh David sebelum pria itu jatuh terjerembab di tanah. "Anggap saja jet lag." (mabuk pasca terbang). Brayan berkata sambil tertawa.
Jika saja kondisi tubuhnya tidak seperti ini, David pasti sudah memelototi pemuda itu. Dia berani mengatai David di saat dalam kondisi kurang baik. Belum selesai penderitaan David, rasa mual langsung mendera pria itu.
David segera mencari tempat untuk mengeluarkan seluruh isi perutnya. Setelah puas mengeluarkan isi perutnya, keadaannya perlahan membaik. Suara tawa renyah Brayan menggema. David tahu jika pemuda itu sedang menertawainya.
"Kau pikir bagaimana saat kau menggunakan portal!" Terkadang Bricia tidak habis pikir dengan tingkah ****** adik bungsunya. Hal kecil yang tidak penting saja bisa membuatnya bahagia hingga tertawa tidak jelas.
"Hei, kak. Kita ini saudara." Brayan berusaha mengingatkan Bricia agar tidak membocorkan rahasianya saat pertama kali menggunakan portal.
"Bukannya aku dan David juga bersaudara sekarang!" Sekali-kali menggoda Brayan tidak ada ruginya. Lagipula selama ini dia selalu menjahili mereka.
"Oh, ayolah Brixie!" Brayan berusaha membujuk Bricia agar tidak membuka aib nya.
"Hmm, kau salah menyebut namaku, bro." Balas Bricia sambil membalikkan tubuhnya.
"M a m p u s aku!" Brayan bergumam sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Yah, setidaknya David jauh lebih baik saat menggunakan portal pertama."
"Kak!" teriak Brayan.
"Kau kenapa sih? Aku hanya berkata seperti itu. Kau sudah seperti kebakaran jenggot." Bricia mulai kesal pada adik bungsunya. Salah satu sifat Brayan yang kurang disukai oleh Bricia yaitu jika dia menggoda orang lain, dia senang. Tapi saat dibalas, dia tidak akan terima.
Terkadang Bricia kesal dibuatnya. Mau bagaimana lagi. Meski menyebalkan, kadang tingkah Brayan menghibur mereka. Mungkin itu salah satu sifat anak bungsu.
__ADS_1
"Kurang dari lima menit lagi, matahari akan. terbit. Kita harus bersiap." Bricia menatap langit. Dia terlihat sedang menghitung sesuatu yang David sendiri tidak mengerti.
"Apa kita akan bertempur?" tanya David.
"Tidak. Belum waktunya. Yang bisa kita lakukan saat ini hanya bisa memberi mereka pelindung dan mengukur radius yang biasa mereka lalui." Bricia membalikkan tubuh setelah selesai melakukan perhitungannya.
"Bagaimana jika mereka melewati radius yang sudah kita beri mantra pelindung?" David bertanya lagi. Dia ingin ketiga saudaranya dalam keadaan baik-baik saja.
"Tidak akan. Selain memberi mereka mantra pelindung, aku juga akan memberi mantra penarik. Jika salah satu dari mereka atau mereka berniat keluar dari kota Paris, dengan sendirinya tubuh mereka akan membawa mereka kembali ke titik asal mereka berdiri."
"Apa mereka tidak curiga?" tanya David lagi. Ini adalah kali pertama dia melakukan hal yang menurutnya 'aneh'.
"Mereka akan lupa dengan sendirinya." Penjelasan Bricia cukup masuk akal membuat David tidak bertanya lagi. David rasa penjelasannya sudah cukup membuatnya mengerti cara kerja mantra pelindung.
"Kenapa kau tiba-tiba membisu adik bungsu tersayang?" Bricia tidak tahan untuk menggoda Brayan yang langsung terdiam setelah Bricia menggodanya.
Bricia tersenyum melihat tingkah Brayan yang berubah menjadi pendiam dan penurut. Matahari mulai perlahan naik. Bricia merasa sudah waktunya mereka menyisir negara Paris.
"Ok, sudah waktunya. Rencana kita yang pertama kau dan Brayan menyisir setiap penjuru negara Perancis, terutama kota Paris. Rencana kedua, aku akan mengikuti kalian dari belakang untuk menyebar mantra pelindung jika kalian tidak menemukan klan Black Meadow." Bricia memberi perintah pada David dan Brayan.
"Apa Black Meadow ini seperti vampir?" tanya David sambil bersiap.
"Bisa dibilang begitu." Brayan menjawab asal.
"Mereka menuntut ilmu hitam. Tentu saja ada pantangan. Mereka tidak bisa terkena cahaya matahari saat menggunakan sihir." Bricia menimpali jawaban Brayan.
"Apa yang akan terjadi?" tanya David penasaran.
__ADS_1
"Sedikit saja sihir yang mereka gunakan, tubuh mereka akan lenyap." Gadis itu dengan sabar memberi penjelasan pada David.
"Tapi, seingat ku, mereka pernah menyerang di sore hari."
"Tentu saja mereka menggunakan mantra pelindung yang hanya bertahan beberapa menit."
"Bisa tidak kita mulai sekarang? Mumpung warga kota Paris sedang sarapan pagi." Brayan tidak tahan untuk menyela pembicaraan David dan Bricia.
Ucapan Brayan ada benarnya. Mereka segera bersiap untuk menyisir negara Paris dimulai dari Utara.
"Oops, aku lupa mengatakan padamu bro, saatnya kau menggunakan kekuatanmu sendiri." Brayan berkata sambil meninggalkan David.
Tangan kanan David menggantung di udara saat Brayan melesat dengan cepat. David bingung harus bagaimana memulai menggunakan bakatnya.
"Brici-" ucapan David terpotong saat melihat Bricia langsung menghilang menyusul adik bungsunya.
"Oh, perfect!" David menggerutu kesal. Dia merasa telah dikerjai oleh dua bersaudara itu.
Bersambung
* * *
Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended banget loh. Yukss mampir! Ceritanya seru banget loh.
Judul: Bukan Istana Impian
Penulis: Santi Suki
__ADS_1