
"Di bagian mananya aku salah paham? Sangat jelas sekali kau menghindari ku!" kesal Elaina.
"Percayalah, aku juga merindukanmu. Hanya saja waktu saat ini tidak tepat." Elaina melepaskan diri dari pelukan David. Dia bingung saat David mengatakan waktu yang tidak tepat. David paham akan pertanyaan yang akan dilontarkan Elaina. Segera saja dia meneruskan kalimat berikutnya.
"Klan Black Meadow semakin dekat. Aku rasa kita tidak bisa mengulur waktu lagi. Cepat atau lambat mereka pasti akan menemukanmu," jelas David sambil memainkan ujung rambut Elaina.
"Tapi Dave, apa hubungannya?" Elaina setengah merengek. Kadang David dibuat kalang kabut oleh tingkah Elaina. Dia dapat memahaminya karena usia Elaina yang masih belia.
"Tentu saja ada," jawab David singkat.
Elaina menatap David lekat. Dia membutuhkan penjelasan yang sangat masuk akal karena bersangkutan dengan perihal rumah tangganya.
"Aku takut kau hamil. Aku tidak ingin mengambil resiko jika kau hamil dan kita diserang oleh klan Black Meadow. Bahkan aku tidak ingin membayangkan yang akan terjadi. Sudah tentu kau dan calon bayi kita sangat penting bagiku. Untuk itu, aku harus berpuasa untuk tidak menyentuhmu. Kau tahu, aku juga sangat tersiksa dengan keadaan seperti ini," jelas David panjang lebar.
"Oh, Dave! Maafkan keegoisanku. Aku tidak berpikir sampai ke sana," sesal Elaina.
"Kau tidak bersalah. Seharusnya aku membicarakannya dulu denganmu." David mengecup kening Elaina memberinya ketenangan.
* * *
"Bagaimana selanjutnya?" tanya David pada Brayan.
"Sebaiknya kita memberitahu Elaina tentang ayahnya lebih dulu. Lagipula pamanku sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya. Semakin cepat semakin baik," jawab Brayan.
Mereka kini berada di ruang kerja David. Setelah drama tangisan tadi siang, David menemani Elaina di kamar hingga dia tertidur. Hari ini David putuskan untuk tidak latihan karena kondisi Elaina yang tidak stabil.
"Ok. Aku akan bicarakan pada Elaina setelah kau pergi."
__ADS_1
"Kau mengusirku, ya?" tanya Brayan sambil menyipitkan sebelah mata.
"Bukannya tadi kau bilang semakin cepat semakin baik!" seru David sambil menyandarkan punggung belakangnya ke sandaran sofa.
"Ish, kau itu!" geram Brayan.
"Kemari lah! Aku sudah menyelidikinya," perintah David pada Brayan sambil menyodorkan laptop.
Brayan mendekati David. Dia melihat ke layar laptop. Di sana terlihat jelas pergerakan klan Black Meadow. Brayan takjub melihat hasil kerja David. Sangat pantas menjadi adik iparnya meski usia David lebih tua beberapa tahun darinya.
"Bagaimana kau melakukannya?" tanya Brayan takjub.
David tidak menjawab. Di meletakkan jari telunjuk kanan ke kepalanya dan menggerakkannya beberapa kali.
"Hmm, iya, iya, kau jenius," oceh Brayan.
"Dia masih menutup rapat mulutnya. Klan Black Meadow sangat setia. Meski mereka dalam keadaan tersedak, mereka tidak akan pernah buka suara," jelas Brayan.
"Sangat disayangkan kesetiaan mereka berada ditempat yang salah," ucap David.
"Baiklah. Aku pulang sekarang. Pastikan kau berbicara pada Elaina," Brayan mengingatkan David sebelum melesat pergi.
David menatap jam tangan di pergelangan tangan kanannya. Sudah jam tujuh malam. Waktunya makan malam. David beranjak dari kursi kebesarannya. Dia berjalan menuju ke kamar utama. Sesampainya di kamar, David tidak menemukan Elaina di kamar.
Pria atletis itu langsung berjalan menuju tangga. Dia menuruni anak tangga, menuju ke ruang makan. Benar saja, Elaina sudah duduk di meja makan.
"Aku pikir tadi kau sudah di ruang makan," ucap Elaina saat melihat David menarik kursi di sampingnya.
__ADS_1
"It's okay sayang," ucap David.
Mereka menyantap makan malam dengan tenang. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Elaina memikirkan apa yang akan mereka lakukan setelah makan malam. Sedangkan David memikirkan bagaimana cara menyampaikan tentang ayah kandung Elaina.
"Apa yang akan kita lakukan setelah ini?" tanya Elaina.
"Sayang, ada yang ingin aku bicarakan," David dan Elaina berbicara bersamaan.
"Apa yang ingin kau katakan?" Elaina ... David ...
Lagi-lagi mereka mengeluarkan pertanyaan bersama. Cici yang berdiri tidak jauh dari meja makan mengulum senyum melihat kekompakan majikannya.
"Dave ... Sayang ... kau duluan," ucap Elaina dan David bersamaan.
"Cie ... cie ... nyonya sama tuan kompak amat." Cici tidak tahan lagi menahan mulutnya untuk menggoda majikannya.
Wajah Elaina langsung tersipu malu. Dia menundukkan kepala agar David tidak bisa melihat wajahnya yang memerah. Jika saja klan Balck Meadow tidak datang, dia pasti sudah membopong Elaina kembali ke kamar. Wajah tersipu Elaina salah satu favorit David. Dia sangat imut jika malu.
Mereka menyelesaikan suapan terakhir tanpa bicara. David meraih tangan Elaina, mengajaknya kembali ke kamar. Sesampainya di kamar, David meminta Elaina untuk duduk di sofa.
"Sayang, aku tidak pandai memulai sesuatu dengan basa-basi," ucap David.
"A-pa yang ingin kau bicarakan?" Elaina tahu pasti ada sesuatu yang serius. "Apa klan Balck Meadow?" Elaina menimpali pertanyannya.
"Tidak." David meraih tangan Elaina dan menggenggam erat kedua tangan Elaina. "Seseorang yang sangat penting ingin bertemu denganmu," ucap David.
"Siapa?" tanya Elaina.
__ADS_1
"Ayah kandungmu."