336 Hours

336 Hours
Bab 69. Kehangatan Keluarga


__ADS_3

"Ayo kita keluar!" Bree berbisik pada Elaina.


"Tidak." Elaina menolak ajakan Bree sambil menggelengkan kepala.


"Kau yakin akan baik-baik saja?" Bree berusaha meyakinkan Elaina.


"Aku yakin," jawab Elaina tegas. "Ayahku sedang membutuhkan aku saat ini." Elaina menimpali ucapannya.


"Baiklah kalau begitu. Panggil aku jika kau membutuhkan aku!" perintah Bree pada Elaina.


"Elaina!" Bishop memanggil putrinya.


Elaina langsung menatap wajah ayahnya sambil tersenyum. "Iya ayah."


"Ini." Bishop menyerahkan sebuah kalung dengan sebuah liontin yang berbentuk seperti kunci. "Ini adalah peninggalan ayah untukmu," ujar Bishop. Keadaannya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Tidak ayah. Jangan berkata seperti itu! Kita baru saja bertemu." Elaina hampir terisak saat mendengar ucapan sang ayah.


"Kematian adalah sesuatu yang pasti, sayang. Cepat atau lambat pasti akan terjadi. Kapan waktunya? Aku yakin tak seorang pun di antara kita yang tahu." Bishop berkata sambil membelai wajah putrinya.


Elaina terpaku mendengar nasihat sang ayah. Ayahnya benar, kematian itu pasti. Kapan itu terjadi? Tidak ada yang tahu. Perasaan Elaina terenyuh saat menyimak kalimat itu. Namun, kalimat sedih itu memberi kekuatan untuknya.


"Ayah benar. Daripada kita hanya menunggu kematian, lebih baik kita melawan. Setidaknya aku tidak akan mati sia-sia." Elaina berkata dengan wajah tegas. Gurat kesedihan tidak terukir lagi di wajah wanita itu.


"Aku juga," David menimpali ucapan Elaina. Dia baru saja tiba dari patroli. Saat hendak masuk ke dalam kamar. Dia mendengar ucapan istri kecilnya yang menyentuh hati. David mengurungkan niatnya untuk segera masuk ke dalam.


Setelah Elaina meyelesaikan ucapannya, David berjongkok dan memeluk belahan jiwanya dari belakang.


"Kau sudah kembali?" tanya Elaina sambil mengusap wajah David.


"Menurutmu?" David sengaja menggoda Elaina.

__ADS_1


"Ish, kau itu!" Elaina berpura cemberut.


David tertawa dengan kelakuan Elaina. Wanitanya itu selalu saja bisa berubah setiap waktu. "Tidak ada air mata lagi, ok!" David berkata sambil menatap kedua netra Elaina.


"Ya. Tidak ada air mata lagi." Elaina berjanji dan mengulangi ucapan David.


"I love you," bisik David.


"I love you, too." Elaina membalas dengan bisikan.


"Ehem, bisa tidak kalian menghargai aku yang jomblo?" Brayan sengaja mengganggu keharmonisan David dan Elaina.


"Makanya cari pasangan!" ketus Bree.


"Memangnya kau sudah punya pasangan?" Brayan bertanya tak kalah ketus.


"Tentu saja," jawab Bree singkat.


"Oh, maafkan aku adik bungsu!" Bree berkata dengan nada mengejek.


"What? Serius? Siapa? Di mana dia tinggal? Apa aku pernah bertemu dengannya?" Serentetan pertanyaan meluncur tanpa halangan.


"Biasa saja kali!" seru Bricia.


"Gaya bahasa mana lagi yang kau serap?" tanya Brayan.


"Brayan. Jangan mengurus masalah yang tidak penting!" seru Brigita.


"Ini penting bagiku kak. Bagaimana bisa aku tidak tahu di antara kita sudah ada yang memiliki pasangan." Brayan masih kesal karena baru mengetahui bahwa Bree sudah memiliki pasangan.


"Brayan, Kami bertiga sudah memiliki pasangan." Bricia tidak tahan dengan kegalauan adik bungsunya yang tidak jelas. Tentu saja tidak jelas. Brayan terlihat seperti orang yang sedang kebakaran jenggot. Padahal dia sendiri tidak memiliki jenggot.

__ADS_1


"What?" Brayan berteriak sambil melambungkan tubuhnya. "Ba-gaimana kalian bisa melakukan hal itu padaku?" tanya Brayan.


"Melakukan apa?" Brigita akhirnya bersuara.


"Menyembunyikan bahwa kalian sudah memiliki pasangan," ketus Brayan.


"Satu hal yang harus kau tahu! Kami tidak pernah menyembunyikannya darimu." Brigita menjawab kemarahan Brayan.


"Ya, kak Brigit benar." Bree menjawab dengan santai.


Sebelum Brayan kembali mengoceh, Bricia langsung menimpali, "Kau kan sibuk bermain, mana mungkin kau peduli dengan pasangan kami. Lagipula, bukannya kau suka menggoda salah seorang pelayan di mansionnya David!"


Mulut Brayan seperti diberi lem K yang merekat sangat kuat. Ucapan Bricia tepat mengenai sasaran sehingga membuat pemuda itu kikuk. Brayan sampai menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Kelakuan four B membuat Bishop tertawa. Seandainya saja dia muncul lebih awal, mungkin dia bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga. Namun, untuk sekarang dia cukup bersyukur. Setidaknya dia bisa bertemu dengan putri, menantu, dan four B sebelum waktunya di dunia habis.


Sedangkan Elaina dan David hanya tersenyum melihat kelakuan empat bersaudara itu. Bukannya mereka egois, melainkan hanya memanfaatkan waktu setiap detik untuk menikmati rasa yang bisa mereka rasakan sebelum perpisahan.


Baru saja menikmati kehangatan sebuah keluarga, tiba-tiba gedung hotel bergoyang sepeti gempa. David segera berdiri dan memeluk Elaina. Sebelah tangannya langsung meraih ayah mertuanya yang terbaring. Brayan segera merentangkan kedua tangannya agar dapat terhubung dan membawa mereka pergi dari gedung itu.


"Aaa!" Elaina berteriak kesakitan saat sesuatu mengenai lengannya.


Hai my lovely readers! Yukss mampir ke karya teman Thor. Ceritanya seru banget loh!


Judul: Pesona Istri yang Diabaikan


Penulis: The Biggest


seorang istri yang selalu diabaikan tak pernah disapa apalagi disentuh oleh suaminya dan suatu malam saat suaminya mabuk mereka berdua melakukan sentuhan untuk pertama kalinya dan disaat itu lah kisah cinta mereka dimulai.


__ADS_1


__ADS_2