
Bricia dan Brayan sudah menghilang entah kemana. Mereka meninggalkan David sendirian. Untung saja, saat ini David berada di tengah hutan.
Jika saja dia berada di tengah kota Paris tepatnya di menara Eiffel, dia pasti sudah terlihat seperti orang yang tersesat. David mulai kesal dengan kelakuan dua bersaudara B. Sepertinya, mereka tidak memerlukan bantuan darinya sama sekali. Terbukti, mereka melakukannya tanpa dirinya.
"Dasar bocah!" David berteriak kencang. Dia melampiaskan amarahnya.
"Siapa yang kau sebut bocah?" Brayan berkata sambil berlari dengan kekuatan supernya.
David semakin kesal dengan tingkah laku pemuda itu. Dia sampai harus memutar tubuhnya. "S i a l! Tunggu saja kau!" David berteriak histeris.
"Oh, ayolah David! Gunakan kekuatanmu!" Lagi-lagi Brayan mengejeknya.
Baru beberapa hari yang lalu dia tahu bakat yang dimilikinya secara tidak sengaja. Bagaimana mungkin sekarang dia harus menggunakan bakatnya? Sedangkan dia sendiri tidak tahu bagaimana cara kerjanya.
"Konsentrasi!" Perintah pemuda yang berhasil membuat tingkat amarah David hingga keluar dari batas maksimal.
Tahu bahwa dirinya dalam bahaya, Brayan langsung memunculkan dirinya dihadapan David. Baru saja kaki kanannya mendarat, tubuhnya sudah dihantam oleh bobot tubuh David.
"Aw!" teriak Brayan saat tubuhnya terhempas di atas tanah yang cukup basah hingga membuat tubuh kanannya tercetak jelas di sana.
David mengunci tubuh Brayan. Dia sudah tidak bisa membendung kejengkelannya terhadap pemuda itu. Saking jengkelnya dia sampai tidak bisa berkata-kata. Hanya tatapan tajam yang hanya bisa dia berikan pada pemuda itu.
"Sa-bar, bro!" Brayan berusaha melepaskan diri dari David. Namun, semakin dia mengeluarkan tenaga untuk melepaskan diri, tekanan yang diberikan David semakin kuat. Hingga akhirnya, pemuda itu memutuskan untuk tidak melawan.
Ya, siapa pun pasti kesal jika diperlakukan seperti itu. Jika saja bukan karena untuk membantu David untuk mengembangkan bakatnya, Brayan tidak perlu repot-repot untuk mengorbankan dirinya seperti ini.
__ADS_1
Aku harap rencana mu berhasil Brixie. Brayan bergumam dalam hati.
Detik berikutnya, Brayan merasa tubuhnya sudah tidak berada di atas permukaan tanah. Pemuda itu sempat melirik ke kanan. Benar saja, tubuhnya berada sekitar tiga meter dari permukaan tanah.
Brayan tersenyum, menyadari David mulai menggunakan bakatnya. Pengorbanan yang dia lakukan kali ini membuahkan hasil.
"Aku bilang apa? Kau saja yang selalu tidak percaya." Bricia mengajak Brayan berkomunikasi melalui pikiran mereka.
"Untung saja rencana mu berhasil. Jika tidak, aku yakin tubuhku akan menjadi samsak tinju." Brayan membalas ucapan Bricia.
"Jangan senang dulu! Coba kau lihat posisimu sekarang!" Bricia memerintahkan Brayan untuk memperhatikan keadaanya saat ini.
Brayan langsung memalingkan kepalanya ke bawah. "What?" Kali ini Brayan terkejut karena posisi mereka saat ini sudah berada di lapisan stratosfer. Di mana pesawat melintas pada lapisan ini.
Pemuda itu langsung membalikkan keadaan. Dia langsung mengubah posisi tubuh dengan David yang berada di bawah. Niat awalnya seperti itu. Akan tetapi, David dapat menahan perlawanan Brayan dengan mudah.
Adik bungsunya itu tak sungkan-sungkan menjahili mereka dengan bakat yang dimilikinya. Bricia sengaja membiarkan Brayan dalam posisi terdesak saat ini. Setidaknya David memberinya tontonan yang menarik.
"Brixie, ayolah! Ini bukan main-main." Brayan mulai khawatir dengan keadaannya saat ini.
Meski memiliki bakat yang luar biasa. Pemuda tampan itu tetap memiliki suatu kelemahan, yang hanya ketiga kakak perempuannya saja yang tahu. "Brixie! Lakukan sesuatu!" Brayan berteriak dalam pikiran mereka dengan nada frustasi.
"Apa yang harus aku lakukan?" Goda Bricia.
"Ayolah Brixie." Nada bicara Brayan kali ini terdengar memohon.
__ADS_1
"Siapa Brixie? Aku tidak mengenalnya."
"Bricia, please!" Permohonan Brayan terdengar seperti rengekan saat ini.
Bricia tersenyum dari bawah. Dia mengikuti David dan Brayan dengan menyisakan jarak sekitar lima meter dari tempatnya melayang.
"Please, kak!" rengek Brayan.
"Ok. Satu syarat yang harus kau penuhi. Jangan mencari tahu tentang pasanganku! Jangan menjahili ku lagi! Turuti semua perintahku!"
"Itu tiga syarat kak, bukan satu." Brayan mulai kesal dengan kelakuan kakaknya. Pemuda itu mulai curiga pada Bricia. Selain menguji bakat David, kakaknya pasti sengaja mengerjainya.
"Terserah aku. Bukannya itu lebih dari satu! Tetap saja ada kata 'satu'." Bricia tak ingin kalah berdebat. Lagipula posisi Brayan saat ini tidak menguntungkan.
"Ok, ok. Deal (setuju)." Brayan sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Saat ini yang dia butuhkan adalah Bricia. Hanya dia yang bisa membantunya dalam kondisi saat ini.
Bersambung
* * *
Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recomended banget loh! Yukss mampir! Ceritanya dijamin seru banget loh!
Judul: Super God System: HEALER
Penulis: Covievy
__ADS_1