336 Hours

336 Hours
Bab 34. Lebah Penghisap Madu


__ADS_3

Elaina sampai menyipitkan kedua mata saat menatap David. Dia ingin memastikan bahwa penglihatannya tidak salah. Wajah pria itu tidak terlihat sembab..Hanya ada jejak air mata di pipinya saja. Elaina menyadari sesuatu yang membuatnya mencubit perut sebelah kiri pria atletis itu dengan kuat.


"Ouch, ouch, sayang ini sakit!" teriak David kesakitan.


Cubitan Elaina memang menyakitkan. Mungkin karena dia berbeda dari wanita biasanya dan manusia lainnya. Sedikit saja dia mencubit atau memukul David terasa sangat menyakitkan dan pedas.


"Kau mengerjai ku!" teriak Elaina.


Tangannya tidak berhenti mencari celah agar bisa menghujani David dengan cubitan. David hanya bisa mengelak tak ingin mendapat cubitan lain dari Elaina.


"Aku tidak mengerjai mu!" seru David.


"Aku tahu kau bohong!" oceh Elaina.


"Bagian mananya sayang?" tanya David. "Sayang, stop! Kau menyakitiku. Aku takut refleks seperti kejadian di hotel tadi," timpal David.


Elaina berhenti mencubit David. Dia teringat kejadian tadi sore yang berhasil membuat hidungnya patah. Sesuatu yang bersifat refleks memang berbahaya.


"Huh!" David menghembuskan napas lega.


Elaina mendaratkan bokongnya di ujung kasur sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Wajahnya terlihat sangat cemberut. David tahu apa yang ahrus dilakukannya jika pujaan hatinya sudah merajuk seperti itu. Lagipula dia yang bersalah telah menjahili dan membuat gadisnya menangis hingga wajahnya sembab dan matanya bengkak seperti itu.


"Hei, jangan cemberut, please!" bujuk David.


Elaina masih terdiam. Dia masih sangat kesal dengan kelakuan David. Dia tidak bergeming sama sekali.


"Ayolah, sayang!" bujuk David sambil berjongkok di depan Elaina.


Dia memeluk kedua kaki Elaina yang terjuntai ke bawah. Menggesekkan kepalanya seperti seekor anak kucing yang minta di belai kepalanya.


Elaina sedikit tidak tahan saat melihat David bertingkah manja. Mungkin karena dia anak tertua, dia selalu saja luluh jika kedua adiknya sedang manja pada dirinya. Sekarang ditambah David yang perlahan menempati hatinya. Tentu saja saat David manja padanya, hatinya akan luluh.


"Berhenti melakukan itu!" Ketus Elaina.


"Melakukan apa? Aku tidak melakukan apapun," jawab David sambil mendongakkan kepalanya ke atas menatap Elaina.


Uh, wajahnya imut sekali! Mana tahan aku melihat wajahnya seperti ini. Ucap Elaina dalam hati.


David membulatkan kedua mata dan memberi Elaina senyum terbaiknya. Dia yakin Elaina tidak akan tahan melihat ekspresinya saat ini.


Elaina meraih bantal yang tidak jauh darinya. Dia menutup wajah David dengan bantal yang berhasil membuat David terjungkal ke belakang. Setelah itu, dia segera merebahkan dirinya di atas kasur.


"Ya ampun sayang. Belum resmi saja kau sudah melakukan KDM beberapa kali padaku!" ucap David sambil berdiri.


"Apa itu ***?" tanya Elaina penasaran sambil membalikkan tubuhnya.

__ADS_1


"Kekerasan dalam mansion," jawab David polos.


"ish, kau itu. Mana ada singkatan seperti itu. Yang benar itu KDRT," ujar Elaina.


Untuk sesaat dia lupa jika sedang dalam mode on kesal pada David.


"Kita berada di mana sekarang?" tanya David sambil melepas pakaiannya hingga tertinggal boxer.


"Mansion," jawab Elaina polos.


"Nah, betulkan!" seru David.


Elaina tampak berpikir sesaat. Dia membayangkan bangunan rumh dan mansion versi ingatannya sendiri. Setelah itu, dia membandingkan kedua bangunan itu.


"Eh, iya. Benar juga ya," ucap Elaina sambil membukukan tubuhnya.


David merebahkan tubuhnya di samping Elaina. Posisinya menyamping menghadap Elaina dan menyanggah kepala dengan tangan kanannya.


"Ngomong-ngomong, kau ingin pesta pernikahan yang seperti apa?" tanya David sambil membelai lembut rambut kekasih hatinya.


Elaina menatap langit-langit. Dia tidak pernah membayangkan tentang pernikahan. Baginya pernikahan cukup sederhana saja, yang terpenting ikatan pernikahan.


"Sederhana saja," jawab Elaina.


"Apa kau tidak ingin pesta pernikahan yang, yah, bisa dikatakan mewah seperti di televisi?" tanya David.


"Baiklah, sesuai keinginanmu saja sayang," ucap David sambil mengecup lembut kening Elaina.


Aku akan memberikan yang terbaik untukmu. Ucap David dalam hati.


...* * *...


Keesokan hari di ruang makan.


"Kak, matamu kenapa?" tanya Audrey yang tidak sengaja menatap wajah Elaina saat hendak mengambil jus jeruk.


"Ah, ini ..."


"Kakakmu alergi," David meneruskan ucapan Elaina yang di potong olehnya.


Elaina melirik David sambil membulatkan matanya.


"Alergi apa?" tanya Audrey penasaran.


"Alergi dengan lebah penghisap madu," ketus Elaina santai.

__ADS_1


David tersedak saat mendengar jawaban Elaina.


"Mom, nanti minta maid cek kamar kita. Aku takut di gigit lebah penghisap madu," ucap Audrey polos.


Kali ini bukan hanya David saja yang tersedak. Elaina, Rachel, dan Jeff ikut tersedak saat mendengar ucapan Audrey yang polos. Hanya Theo yang tersenyum.


"Mengapa semuanya tersedak?" tanya Audrey bingung.


"Airnya pedas," jawab Elaina asal.


"Sayang," ujar David.


"Apa?" tanya Elaina.


"Jawabanmu tidak masuk akal," jelas David.


"Kau sendiri yang berulah," balas Elaina.


Setelah drama kecil di meja makan, David meminta paman dan bibinya untuk tetap tinggal. Dia ingin menyampaikan perihal pernikahannya dengan Elaina.


Pamannya adalah satu-satunya keluarga terdekat yang di milikinya. Kecuali Arnold. David teringat akan peristiwa kematiannya sendiri. Tanpa dia sadari, dia mengepalkan tangan kanannya sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih.


"Ada apa David?" tanya Jeff yang melihat raut wajah David berubah sedikit serius.


"Ah, tidak. Maksudku, aku ingin membicarakan tentang pernikahanku dengan Elaina," jelas David yang tersadar dari lamunannya.


"Apa?" tanya Elaina yang kemudian tersedak.


"Sayang, apa kau bisa berhati-hati dengan minuman mu?" tanya David.


Elaina hanya diam saja. Dia berusaha mengatur napas dan mengetes tenggorokannya berkali-kali agar normal.


"Aku berencana akan menyelenggarakan pernikahanku besok," ucap David.


Lagi-lagi ucapan David membuat Elaina tersedak. Kali ini lebih parah dari yang tadi Baru saja tenggorokannya merasa sedikit lega, dia harus merasakan sakitnya tersedak lagi.


Bersambung ...


* * *


Advertisement


Hai my lovely readers! Mampir yuk ke karya temanku. Ceritanya seru banget loh!


...**PEMBALASAN GADIS ABNORMAL...

__ADS_1


...(Dhevy Yuliana**)...



__ADS_2