
Setelah melaksanakan rencana awal, David segera kembali ke mansion miliknya. Seingatnya, dua Minggu yang lalu dia tidak pergi ke taman. Melainkan ke salah satu mall di Jakarta. Mungkin saja kejadian hari ini sedikit berbeda dengan masa lalu karena adanya lompatan waktu.
David menjalankan mobilnya perlahan. Dia ingin menikmati setiap detik waktu yang terulang. Sepanjang perjalanannya kembali ke mansion, dia berpikir keras tentang Elaina.
Sosok gadis yang menurutnya tidak terlalu menarik hatinya. Tapi mampu membangkitkan juniornya. Brayan sangat perhatian pada gadis itu dibandingkan dengan ketiga saudarinya. Hari ini saja sudah hampir dua kali dia mengingatkan David secara tiba-tiba dengan suara gaibnya.
Supernatural. Mungkin kata itu yang bisa disimpulkan oleh David. Mau percaya atau tidak, tapi terjadi pada dirinya. Kepalanya saja sampai sakit memikirkan hal yang menurutnya sangat tidak masuk akal. Seperti inilah dia saat ini. Hidup kembali. Dengan berat hati dia harus menerima kenyataan dan keberadaan manusia-manusia lain yang memiliki bakat alami.
Mobil sport berwarna hitam dop memasuki halaman mansion. Si pengemudi keluar dengan langkah ringan dan elegan. David menaruh kembali kunci mobil di tempat seharusnya kunci itu berada.
Saat ingin memasuki pintu depan mansion, sudut matanya menangkap sebuah bayangan. David menghentikan langkah kakinya. Dia beralih ke arah bayangan yang ditangkap oleh sudut mata kanannya.
David berjalan perlahan, tak ingin si pemilik bayangan mengetahui keberadaannya. Seorang gadis remaja berada di sisi kanan mansion. Dia berada diantara pepohonan cemara pua-pua. David sangat menyenangi pohon cemara jenis pua-pua.
Dia sengaja menyuruh tukang kebunnya untuk menanam beberapa pohon cemara pua-pua di sepanjang sisi kanan mansion. Cemara jenis itu sangat mudah untuk ditanam dan dirawat.
Gadis itu tidak menyadari jika ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Dia sangat fokus dengan yang dilakukannya saat ini. Dia menutup kedua matanya, dan mulai memusatkan konsentrasi pada satu titik.
Tubuh gadis itu perlahan terangkat dari tanah. Lima sentimeter, sepuluh, setengah meter, satu meter. Jarak ketinggiannya antara tanah dan udara sejauh satu meter.
Bruk
Gadis itu terjatuh. Raut wajahnya tampak sangat kesal. Dia sudah mencoba berkali-kali tapi masih belum membuahkan hasil yang mendekati rata-rata. Dia sedikit menyesali keadaannya yang saat ini harus bekerja sebagai seorang pelayan di sebuah mansion.
"Aih, apa karena tadi pagi aku melihat anak gajah milik tuan, ya?" kesal gadis itu.
Tanpa di sengaja, ucapannya terdengar oleh David. Tekanan darahnya langsung naik ke level tertinggi. Gadis itu menyebut junior miliknya dengan sebutan 'anak gajah'. Dia tidak terima jika juniornya dikatai seperti itu. Gadis itu belum tahu saja jika juniornya sudah dalam posisi on.
"Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya David.
Elaina tersentak. Dia terkejut mendengar suara yang sangat dikenalinya. Kedua matanya membulat sempurna. Dia sangat khawatir jika tuan David melihatnya sedang melatih kekuatannya.
"A-ku sedang ..." ucap Elaina terbata.
"Kau sedang apa?" tanya David sambil melipat kedua tangan di depan dada. Sebelah matanya menyipit menatap Elaina.
__ADS_1
"Ah, dia tidak lihat," ucap Elaina dalam hati.
"Aku sedang mencari jarum tuan," jawab Elaina. Tubuhnya langsung membungkuk. Tangan bergerak kesana kemari. Dia berpura-pura mencari jarum yang dimaksudnya.
"Jarum?" tanya David lagi.
"I-iya tuan. Jarum," jawab Elaina terbata.
"Bagaiman kau mencarinya di Padang rumput seperti ini?" tanya David.
"Astaga, banyak tanya sekali tuanku ini," gerutu Elaina dalam hati.
"Ya cari sajalah tuan. Kalau tidak dicari bagaimana mau ketemu," kesal Elaina.
"Mengapa kau jadi membentak ku?" tanya David.
"Eh, maaf tuan. Mana mungkin aku berani membentak anda," ucap Elaina dengan suara yang di buat-buat.
David yang sudah merasa puas mengerjai Elaina langsung membalikkan tubuhnya. Dia melangkahkan kedua kakinya menuju mansion.
Elaina yang melihat tingkah tuannya hanya bisa mendengus kesal. "Enak sekali jadi orang kaya. Mau ini itu bebas. Seperti ini nih kelakuan tuan David. Main pergi saja tanpa memperhatikan perasaan orang lain" ucap Elaina pelan.
David tiba-tiba menoleh dan bertanya. Elaina semakin salah tingkah. Sepertinya tuannya itu memiliki telinga yang tajam.
"Tidak ada tuan. Mana aku berani tuan," jawab Elaina.
David tersenyum mendengarnya. Sebenarnya dia sama sekali tidak mendengar ucapan Elaina. Dia hanya ingin mengerjainya lagi. David kembali melangkahkan kedua kakinya menuju mansion.
Elaina menatap kepergian David. Dia ingin memastikan jika tuannya itu sudah masuk ke dalam mansion. Setelah dirasa aman, Elaina segera berdiri dan mengelus dadanya.
"Hampir saja ketahuan," ucap Elaina.
Dia segera menyusul David masuk ke dalam mansion. Sepuluh menit lagi waktu istirahatnya usai. Dia tidak ingin dimarahi oleh maid yang lain karena dianggap tidak layak bekerja di mansion tuan David.
David segera menuju ruang kerjanya. Setelah masuk kedalam ruang kerja, dia segera mengunci pintu itu rapat-rapat. Dia tidak ingin di ganggu saat ini.
__ADS_1
Dia menarik kursi dibalik meja kerja dan menghempaskan tubuhnya disana. Setengah hari ini sudah menyita pikirannya. Disaat akan masuk ke dalam mansion, dia menangkap sosok bayangan. Setelah didekatinya ternyata sosok itu adalah Elaina.
Dia semakin terkejut saat melihat tubuh Elaina perlahan naik ke udara. Dari beberapa sentimeter sampai satu meter. Kemudian tubuh mungil itu terhempas jatuh ke tanah. Siapapun pasti terkejut melihat sesuatu yang belum pernah dilihat, ternyata berada di depan mata.
Meskipun tadi dia sudah melihat kekuatan Brigita, tetap saja dia terkejut melihat kekuatan Elaina.
"Mengapa aku di kelilingi oleh orang-orang aneh?" tanya David pada dirinya sendiri.
"Siapa yang kau bilang aneh?" tanya Brayan.
"Si al!" umpat David.
Dia sangat terkejut mendengar suara yang lagi-lagi tanpa permisi berbisik di telinganya. Dia berdiri secara spontan saat suara itu menghampiri telinganya.
"Bukannya sudah ku katakan!" tegas David.
"Hehehe ..." Brayan hanya terkekeh mendengar keluhan David.
"Kebetulan sekali kau menghampiriku. Ada yang ingin aku tanyakan padamu," ucap David.
"Apa yang ingin kau tanyakan?" balas Brayan.
"Apa Elaina seperti kalian?" tanya David.
"Seperti apa maksudmu?" Brayan kembali membalas pertanyaan David dengan pertanyaan lagi.
David merasa sangat jengah dengan kondisi seperti ini. Berbicara dengan seorang tapi tidak ada wujudnya. Sangat aneh rasanya. Apalagi disaat dia merasa kesal. Dia tidak bisa memberi tatapan tajam pada lawan bicaranya itu.
"Hahaha ..." Brayan tertawa sangat kencang. Suaranya mengisi seluruh ruangan itu. Dia merasa sangat puas bisa mengerjai David untuk sementara. Sesekali, dia ingin mengerjainya di tempat umum agar orang lain yang melihatnya merasa dia sudah gila berbicara sendiri.
David sengaja membiarkan Brayan tertawa sepuasnya sampai suara tawa itu menghilang.
"Apa kau sudah puas tertawa?" tanya David.
"Hobi mu bertanya, ya! Pasti saat duduk di bangku sekolah dasar kau adalah murid teladan yang selalu memperhatikan guru saat memberi penjelasan. Hehehe ..." balas Brayan sambil terkekeh.
__ADS_1
Mendengar David tidak membalas ucapannya membuat dia merasa tidak enak hati. Jika saja Brigita tahu dia selalu menggunakan kekuatan yang satu ini, dia pasti sudah diomeli habis-habisan.
Akhirnya dia memutuskan untuk segera menceritakan pada David tentang Elaina.