336 Hours

336 Hours
Bab 59. Rindu Sentuhan


__ADS_3

Setelah berkutat cukup lama di depan cermin. Akhirnya Elaina memutuskan untuk naik ke tempat tidur. Dia akan menunggu David di sana. Lima belas menit, setengah jam, dan akhirnya Elaina tertidur.


Tepat pukul sebelas malam, David kembali ke kamar. Dia segera membersihkan diri di kamar mandi sebelum menyusul istri tercintanya ke alam mimpi. Ritual mandi David cukup singkat. Mengingat hari ini membuatnya banyak menguras tenaga.


Selesai membersihkan diri, David segera mengeringkan tubuh dan mengenakan celana pendek. Dia meraih kaos lengan buntung untuk tidur dan mengenakannya dengan cepat. Matanya sudah tidak sanggup untuk terbuka.


Saat tiba di samping tempat tidur, David terperangah melihat tubuh seksi istrinya. Tidak biasanya Elaina tidur mengenakan lingerie. Apalagi lingerie yang dikenakan Elaina sangat minim bahan.


Bohong besar jika David tidak tergugah sama sekali. Namun, tekadnya sudah bulat tidak akan menyentuh Elaina sampai semuanya usai.


David meraih selimut dan menyelimuti tubuh Elaina hingga leher. Dia mengecup kening istrinya cukup lama.


"Sweat dream sayang," bisik David.


Pria itu segera merebahkan tubuhnya di samping Elaina. Saat ini yang mereka butuhkan adalah tidur agar tenaga mereka kembali keesokan hari.


Seperti pagi biasanya, David bangun lebih dulu. Pria itu juga sudah sarapan terlebih dahulu tanpa menunggu Elaina.


Elaina juga tidak bisa menyalahkan David. Suaminya itu harus mengurus perusahaan meski tanpa pergi ke perusahaan. Sedangkan dia sendiri paling cepat bangun pagi jam delapan. Tenaganya terkuras semenjak masa latihan.


Saat bangun bagi tadi, Elaina terkejut saat teringat pakaian yang dikenakannya tadi malam. Lebih tepatnya lingerie. Wajahnya langsung merona. Dia menatap ke bagian bawah tubuhnya. Semuanya masih baik-baik saja. Tidak ada jejak di sana. Artinya, tadi malam David tidak menyentuhnya.


Semburat kekecewaan menyambut Elaina di pagi yang cerah. Tidak seperti dulu, saat David tidak menyentuhnya, dia akan merasa lega. Tapi, kali ini berbeda. Elaina kecewa David tidak menyentuhnya sama sekali.


Pertanyaan-pertanyaan konyol kembali menggema di kepala Elaina. Tak ingin larut dalam ketidakpastian, dia segera menghamburkan diri ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

__ADS_1


Usai sarapan, Elaina bingung ingin berbuat apa. Biasanya ada La Tia yang selalu menemaninya setelah sarapan. Ingin keluar mansion, David sudah melarangnya. Alasannya demi keselamatannya.


Klan Black Meadow semakin hari semakin dekat dengan keberadaan Elaina. Sehingga mereka harus ekstra hati-hati dalam bertindak. David tidak ingin terjadi sesuatu pada istri tercintanya.


Waktunya bertemu dengan David hanya saat akan pergi latihan, latihan, kemudian pulang ke mansion. Seperti itu terus selama satu Minggu terakhir.


Yang membuat Elaina bingung, David tidak menyentuhnya. Pikiran konyol kembali mampir di kepalanya. Tanpa sadar, Elaina memukul sendiri kepalanya. Cici yang berada tak jauh dari Elaina sampai terkejut melihat tingkah nyonya rumahnya.


"Ada apa nyonya?" tanya maid Cici.


Elaina sedikit terkejut saat menatap Cici. Dia lupa jika saat ini dia masih berada di meja makan.


"Tidak ada. Aku tadi lupa ingin mengerjakan sesuatu. Saat aku teringat, aku langsung menepuk kepala sendiri," jelas Elaina.


"Aku akan kembali ke kamar. Jika tuan mencari katakan saja jika aku di kamar!" perintah Elaina pada maid Cici.


"Baik nyonya," jawab Cici sambil tersenyum.


Elaina segera mengambil langkah seribu meninggalkan ruang makan. Saat menaiki anak tangga, sempat terbesit di kepalanya bahwa dia ingin menghampiri David di ruang kerja. Akan tetapi, pikiran waras Elaina melarangnya untuk melakukan demikian.


Dengan langkah pasti, Elaina segera memasuki kamar utama. Mansion sangat sepi tanpa adik-adiknya. Sebenarnya dia ingin sekali membujuk David agar mengembalikan mereka semua. Namun, alasan David sangat masuk akal ditambah dukungan dari keempat saudara sepupunya.


Hari ini libur latihan. Menurut Brigita, dia dan David harus istirahat karena sudah mengeluarkan tenaga yang cukup dahsyat. Satu hari cukup untuk mengembalikan tenaga.


Waktu berlalu begitu cepat tanpa latihan. Matahari sudah kembali pulang. Setelah seharian bertugas menyinari bumi. Saat ini, bulan dan bintang mulai muncul. Menemani kegelapan agar tetap bercahaya meski hanya berkelap-kelip.

__ADS_1


Malam ini Elaina bertekad tidak akan ketiduran lagi. Dia akan menunggu David kembali ke kamar. Pucuk dicinta ulam tiba. Baru saja Elaina hendak melangkahkan kaki ke kamar mandi, David memasuki kamar lebih awal dari biasanya.


"Pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Elaina.


"Sudah," jawab David.


"Sayang, apa kau ingin ke kamar mandi?" tanya David saat melihat Elaina mengenakan jubah handuk.


"Iya," jawab Elaina. "Apa kau ingin ke kamar mandi juga?" Elaina menimpali ucapannya dengan pertanyaan.


"Tadinya. Kau duluan saja sayang," jawab David sambil mendaratkan bokongnya di sofa.


"Bagaimana jika bersama," tawar Elaina malu-malu.


David terkejut saat mendengar ajakan istrinya yang mengajak membersihkan diri bersama. Jika saja David tidak ingat dengan keselamatan Elaina, dia pasti dengan senang hati menerima tawaran Elaina.


David berusaha menutupi wajahnya yang terkejut. Dia segera meletakkan lengan kanan di atas kening.


"Kau duluan saja sayang. Aku masih ingin merilekskan pikiranku," jawab David.


"Ok," jawab Elaina singkat.


Elaina sangat bersemangat malam ini. Dia yakin kali ini pasti akan berhasil. Dia tak ingin berlama-lama membersihkan diri. Selesai membersihkan diri, Elaina langsung menuju walk in closet. Kali ini dia mengenakan lingerie yang minim bahan tapi berbeda model. Dia menggerakkan rambut dan berjalan perlahan menghampiri David.


Rasa malu menghinggapi perasaannya. Namun, semua ditepisnya demi malam penyatuan mereka. Tidak bisa dipungkiri, dia sangat merindukan sentuhan David.

__ADS_1


__ADS_2