
Elaina mengunyah makanannya dengan cepat. Dia meraih segelas air putih agar melancarkan makanan itu masuk ke dalam lambungnya. Hampir saja dia tersedak karena ulah David.
"Kau itu." Ketus Elaina sambil mencubit perut kanan David.
"Aw, aku kenapa sayang?" tanya David bingung tiba-tiba Elaina mencubit perutnya.
"Mana ada saat bicara tidak boleh makan!" sergah Elaina.
"Memangnya aku mengatakan begitu?"
Elaina hanya bisa menghela napas kesal. Dia segera merampungkan makan. Begitu pula dengan David. Sesuatu yang lebih penting harus mereka urus lebih dulu.
* * *
"Kita pergi sekarang!" ucap David saat memasuki ruang kerja sambil menggandeng tangan istrinya.
"Stop!" Brayan menghentikan langkah pasangan suami istri itu. Dia mengangkat tangannya ke udara tanda meminta mereka berhenti.
"Ada apa lagi?" tanya David kesal.
"Kau saja. Elaina tidak ikut."
"Kenapa tidak boleh?" Elaina langsung melontarkan pertanyaan tidak terima pada Brayan.
__ADS_1
"Adik sepupuku tersayang. Bukannya paman sudah mengatakan padamu untuk tetap berada di mansion." Pemuda itu mengingatkan kembali Elaina tentang pesan pamannya yang tak lain adalah ayah Elaina.
"Tapi me-"
"Tidak ada tapi-tapi. Kau tunggulah di sini!" Perintah Brayan terdengar tegas.
Elaina tak ingin patah semangat. Dia beralih menatap David berusaha mendapat dukungan dari sana. "Dave." Elaina mulai merengek.
David mengusap pelan pipi dan mengecup kening Elaina. Dia memandang Elaina penuh kasih. Elaina tahu arti tatapan David.
"Aku berjanji akan melindungi mereka. Kau baik-baik di mansion, ok!" David berkata pelan dan tegas. Jika harus dibandingkan dengan perasaannya. Sangat jelas, dia tidak lebih memilih untuk tetap tinggal di mansion menghabiskan waktu bersama Elaina.
"Dave." Elaina mulai merengek.
"Maaf sayang. Untuk kali ini aku tidak bisa mengabulkan keinginanmu." David mengecup pelan kening Elaina sekali lagi. Kemudian dia memanggil Brayan untuk membantunya mengatasi Elaina. "Brayan!"
"Untuk apa itu?" tanya David.
"Satu membuatnya tertidur lebih lama. Dua melindungi Eliana meski sementara."
"Seberapa lama bisa bertahan?" David khawatir jika serbuk itu memberi efek samping pada istrinya.
"Tergantung." Brayan menjawab asal. Tapi, setelah melihat tatapan dari David, dia langsung ciut. Brayan selalu saja takut jika David menatapnya tajam. Padahal mereka sudah akrab. "Tergantung kekuatan Elaina. Paling cepat sebelum tengah malam dia sudah sadar."
__ADS_1
"Tidak begitu buruk." Jawab David sambil menggendong tubuh Elaina. "Beri aku lima menit!"
Brayan membantu David membuka pintu ruang kerja agar memudahkan David. Pria atletis itu segera membawa Elaina kembali ke kamar mereka. Setelah memposisikan tubuh Elaina dengan nyaman di atas kasur empuk mereka, David segera melepas sepatu dan mengganti pakaian Elaina dengan pakaian tidur. Selesai dengan Elaina, pria itu segera kembali ke ruang kerja.
"Pegangan yang kuat! Kali ini perjalanan kita sedikit jauh." Perintah Brayan pada David.
Mereka melesat secepat kilat. Sesampainya di kediaman four B, Brigita sudah menunggu mereka untuk melakukan teleportasi melalui portal. Bricia akan ikut serta bersama David dan Brayan. Sedangkan Brigita dan Bree akan menjaga paman mereka.
Bricia akan mengirim sinyal jika tiga mereka telah usai pada Brigita. Sehingga dia bisa membuka portal untuk mereka kembali.
Brigita membuka mengangkat kedua tangannya di udara. Dia memusatkan pikirannya ke suatu tempat. Percikan kecil seperti kembang api perlahan terbuka dengan bentuk seperti lingkaran yang memiliki lubang di tengah.
Lubang itu semakin lama semakin membesar. Seukuran orang dewasa. "Sekarang!" perintah Brigita pada David, Brayan, dan Bricia.
Mereka bertiga segera memasuki portal. Setelah orang terakhir masuk, portal itu langsung tertutup dengan diakhiri bunyi meletup seperti kelabang api yang padam.
Bersambung
* * *
Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended banget loh! Yukss mampir! Ceritanya seru banget loh.
Judul: Terpaksa Menikah
__ADS_1
Penulis: Lena Laiha