
"Aaa," Elaina berteriak sangat kencang.
David tersentak saat Elaina berteriak.
"Sayang, kau kenapa?" tanya David bingung.
"Mengapa kau membuka handuk mu?" tanya Elaina.
"Bukannya kau ingin melakukannya di sini?" David balik bertanya.
"Melakukan apa menurutmu?" tanya Elaina sambil memalingkan wajahnya ke samping.
"Ya, melakukan malam pertama," jawab David santai.
"David! Apa otakmu ketinggalan di mansion?" teriak Elaina.
"Maksudmu apa sayang? Aku tidak mengerti sama sekali," ucap David polos.
"Kau ini! Pria tampan, pintar, dan kaya raya. Tapi, mengapa IQ menjadi jongkok begini! Saat begini, aku tidak bisa kemana-mana selain di sini," ketus Elaina.
David terlihat menekuk alisnya sangat dalam. Elaina tidak bisa menggunakan kalimat kiasan lagi karena David tidak mengerti akan maksudnya.
"Dave! aku sedang datang bulan!" seru Elaina sambil menutup wajah dengan kedua tangannya menahan malu.
Cukup lama David mencerna kalimat yang diucapkan Elaina. Hingga beberapa menit kemudian, dia baru mengerti yang dimaksud lelah istrinya.
David segera meraih handuk yang tadi dilepasnya. Dia melilitkan kembali handuk di pinggang.
"Mengapa tidak kau katakan langsung saja, sayang. Aku kan jadi tidak salah paham begini," ucap David sambil terkekeh.
"Aku malu," jawab Elaina tanpa melepas kedua tangan yang menutupi wajahnya.
"Kita sudah menjadi suami istri. Untuk apa kau malu," balas David.
"Dave!" rengek Elaina.
"Ok, ok. Sekarang katakan padaku apa yang bisa kulakukan untukmu?" tanya David lembut.
"Belikan aku roti tawar," jawab Elaina.
"Hah! Sayang, kau benaran tidak apa-apa?" tanya David.
"Aku tidak apa-apa. Memangnya kenapa? tanya Elaina bingung.
"Yang kau pinta itu roti tawar," ujar David pelan.
__ADS_1
Elaina hanya mengangguk pelan.
"Aku perlu penjelasan di sini. Apa hubungannya roti tawar dengan tamu bulanan mu?" tanah David.
"Tentu saja aku bu ..." ucapan Elaina terpotong, dia ingat jika pikiran David sedikit lemot tentang masalah wanita.
"Ah, aku hampir lupa kalau kau itu sedikit lemot masalah wanita. Pembalut. Aku membutuhkan pembalut," jawab Elaina.
"Jadi, roti tawar yang kau maksud adalah pembalut?" tanya David meyakinkan diri.
"Iya. Ku mohon, cepatlah pergi membelinya! Kau pasti tidak ingin melihat yang seharusnya kau tidak lihat," ujar Elaina.
David langsung berdiri dan bergegas keluar dari kamar mandi. Dia segera menuju pintu keluar. Baru beberapa langkah David keluar dari kamar, dia baru menyadari bahwa saat ini sedang berada di sebuah hotel. David kembali ke kamar berniat mengambil dompet.
Untung saja dia tidak lupa membawa serta kunci kamar. Setelah mendapat yang dia cari. David bergegas keluar menuju mini market atau apa pun yang terdekat untuk membeli roti tawar Elaina.
Koridor yang dilewati David saat ini sedang sepi hingga dia mendekati lift. Dalam hitungan detik, pintu lift terbuka. Tiga orang wanita yang berada di dalam lift langsung tersenyum, menggoda David. Beruntung Theo juga berada di dalam lift yang sama dengan ketiga wanita.
Theo keluar dari lift dan meraih tubuh David, membuatnya menjauh dari lift. David tidak siap akan perlakuan Theo yang tiba-tiba sehingga membuat tubuh David sedikit limbung ke belakang. Padahal tubuh Theo jauh lebih ringan dari bobot tubuhnya.
"Maaf, tuan..Aku menyeret anda seperti ini," ucap Theo sambil berjalan.
David hanya diam dan menatap Theo tajam. Theo tahu yang dilakukannya sedikit tidak sopan.
"Anda masih mengenakan handuk, tuan," ucap Theo.
"Sh it! Aku terburu-buru tadi," ucap David sambil melangkah kembali ke kamarnya.
"Thanks, Theo," ucap David sambil mengangkat sebelah tangan ke atas tanpa menoleh.
Theo geleng-geleng kepala melihat kelakuan tuannya itu. Dia kembali menuju kamarnya yang bersebelahan dengan kamar tuannya. Satu koridor hotel, di sewa khusus untuk keluarga David. Jadi, tidak ada tamu lain yang menginap di koridor lantai tujuh.
"Kak Theo!" panggil Munel yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Ya! Apa ada yang bisa saya bantu nona?" tanya Theo sopan pada Munel.
"Kakak, jangan panggil aku nona! Panggil saja Munel," seru Munel.
"Maaf, nona. Kakak anda adalah nyonya saya. Jadi, anda juga adalah seorang nona," jelas Theo.
"Kan kakakku! Bukan aku yang menjadi nyonya," rajuk Munel.
"Maaf nona. Saya tidak bisa mengabulkan keinginan anda," ujar Theo pelan.
"Terserah kau saja. Temani aku sarapan di bawah!" perintah Munel.
__ADS_1
"maaf nona. Saya masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan," tolak Theo sopan.
"Aku tidak pernah menginap di hotel. Aku tidak mengerti cara sarapan di hotel," ucap Munel sambil tertunduk malu.
Perasaan Theo tersentuh saat Munel berkata seperti itu. Akhirnya, dia menuruti keinginan Munel yang satu ini. Mereka turun bersama ke resto hotel di lantai tiga untuk sarapan.
*
*
*
"Jadi, aku tidak bisa menyentuhmu?" tanya David pada Elaina.
Saat ini mereka sedang bersantai di balkon hotel kamar meraka. Elaina menggeleng kepala sambil menyeruput teh mint yang dipesannya.
"Ah!" teriak David frustasi.
"Besok sudah bisa?" tanya David penuh harap.
"Belum juga," jawab Elaina sambil tersenyum.
"Jadi, berapa lama aku harus menunggu?" tanya David yang terlihat putus asa.
"Satu Minggu," jawab Elaina santai.
"What? Satu Minggu!" teriak David.
Elaina tertawa lepas melihat David yang langsung merosot kan tubuhnya ke lantai. Pria itu terlihat sedikit tersiksa. Siapa suruh kau mabuk semalam? Rasakan sendiri akibatnya! Ucap Elaina dalam hati.
"Ya ampun, junior! Tragis sekali nasibmu!" seru David sambil melihat ke arah juniornya.
Bersambung . . .
* * *
Advertisement
Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended banget loh. Yukss mampir!
...SUAMIKU SEORANG MAFIA:...
...ZOMBIE THE SERIES...
...(Rahayu Ningtyas Bunga Kinanti)...
__ADS_1