
"Bukannya sudah kukatakan berkali-kali!" teriak David pada seorang pemuda yang saat ini sedang duduk di salah satu sofa kulit termahalnya.
"Berhenti mengoceh! Ada hal penting yang harus kita bicarakan!" tegas Brayan.
"Seberapa penting?" tanya David menatap tajam pada pemuda yang duduk di seberang sofa.
"Menurutmu?" Brayan membalas tatapan tajam David.
"Katakan?" perintah David.
"Kita harus mempersiapkan Elaina," ucap Brayan.
"Apa maksudmu?" tanya David.
"Melatih Elaina sesegera mungkin. Kau tahu sendiri tentang bakatnya yang sangat luar biasa. Aku tahu ada hal yang selalu menjadi pertanyaan di dalam benakmu," jelas Brayan. "Ya, aku tidak bisa berada di dekatmu saat Elaina berada di sekitarmu," Brayan menimpali ucapannya sendiri.
David masih belum mengetahui alasan pasti Brayan yang selalu menghilang tiba-tiba saat berkunjung menurut versinya sendiri. Dia sedikit terkejut mendengar jawaban Brayan. Dia bingung bagaimana istri kecilnya itu memiliki bakat sebagai perisai.
Dia tahu perisai adalah sesuatu yang terbuat dari bahan tertentu yang digunakan untuk melindungi diri dari berbagai serangan. David berusaha mencerna kata perisai yang dimaksud oleh Brayan.
"Sangat jarang seseorang memiliki bakat perisai. Bahkan, hampir punah. Elaina pengecualian. Bakat yang dia miliki sangat unik. Tiga bakat utama yang hampir punah dimiliki oleh Elaina," jelas Brayan.
David berpikir keras saat mendengar penjelasan Brayan. Ada sesuatu dibalik penjelasannya. David yakin sesuatu yang buruk pasti akan terjadi pada istri tercintanya. Tanpa perlu bertanya apa tiga bakat utama Elaina, pasti bukanlah sesuatu yang sangat mudah didapat. David yakin akan terjadi pertikaian jika bakat Elaina diperebutkan.
"Tiga bakat utama Elaina yaitu perisai, penyembuh, dan abadi," ucap Brayan.
"Apa? Abadi?" tanya David tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Keabadian yang dimiliki Elaina jauh berbeda dengan kami. Jika kami hanya memperlambat masa tua, dan pada akhirnya juag akan mati. Elaina, gadis itu sangat jauh berbeda dengan kami. Abadi yang aku maksud yaitu dia tidak akan pernah bisa mati," jelas Brayan.
Kali ini penjelasan Brayan berhasil membuat David terkejut setengah mati. Bukan tentang keabadian Elaina. Akan tetapi, orang-orang yang ingin mengambil bakat alami Elaina. Terutama keabadian. Siapa yang tidak akan mau mendapat keabadian.
David mengukur dirinya sendiri. Jika saja Elaina bukanlah istrinya. Mungkin juga dia akan turut serta memperebutkan keabadian Elaina. Bersyukur saat ini Elaina adalah istrinya. Sudah dipastikan wanita itu akan aman bersama dirinya.
Tiba-tiba, David ingat jika Elaina saat ini berada di luar bersama bibinya. David bergegas beranjak dari kursi kebesarannya. Dia hendak menuju pintu keluar ruang kerja dan menyusul Elaina.
"Dua saudariku sudah menjaga Elaina dan bibi mu. Kau tidak perlu ke sana!" ucap Brayan berhasil menghentikan langkah kaki David.
"Kapan mereka tiba?" tanya David.
__ADS_1
"Kurang lebih dua Minggu lagi. Kak Brigita sudah bisa memprediksinya. Dan wow, mereka datang dalam jumlah yang cukup membuat heboh tiga ibu kota bahkan lebih," jawab Brayan.
"Kita harus menyamarkan keberadaan Elaina!" perintah David.
"Tidak begitu cara mainnya," jawab Brayan.
David yang terlihat tenang, kini sangat gusar. pria itu berjalan mondar-mandir tidak karuan di depan meja kerjanya.
"Jadi?" tanya David.
"Bukannya tadi sudah aku katakan. Kita harus mempersiapkan Elaina," Brayan mengulangi ucapannya.
"Jadi, maksudmu Elaina harus berlatih memanfaatkan semua bakatnya?" tanya David tak percaya.
"Ya. Kami berempat akan bergiliran mengajarinya mengambangkan bakat Elaina," jawab Brayan.
"Sekarang saatnya kami berlima bertemu kembali," Brayan menimpali ucapannya sendiri.
David terdiam. Kali ini dia memilih duduk di sofa seberang Brayan. Dia merebahkan kepala di senderan sofa. Memijat pelan keningnya yang tidak sakit.
"Yakin tidak ada cara lain?" tanya David.
"Nihil. Dengar, bung! Kita tidak akan pernah bisa menghindari hal ini. Yang akan terjadi, biarlah terjadi. Kabur dan bersembunyi tidak akan pernah memutus akar masalahnya," jelas Brayan.
"Kau ingin memujiku kan!" seru Brayan sambil menaikturunkan alisnya.
David enggan membalas ucapan Brayan. Meladeni pemuda itu sama saja dengan bermain bola dengan seorang anak kecil, kemudian terjatuh karena tidak sengaja disepak kakinya. Kurang lebih seperti itu David menggambarkan Brayan.
"Kapan?" tanya David.
"Semakin cepat semakin baik," jawab Brayan sambil memasang ancang-ancang untuk pergi.
"Beri aku waktu!" pinta David.
"Berapa lama yang kau butuhkan?" tanya Brayan.
Untuk hal ini dia tidak ingin menggoda David. Dia tahu jika berbicara pada wanita sangat sulit.
"Tiga hari," jawab Brayan.
__ADS_1
"Tidak bisa selama itu. Tadinya aku ingin memintamu mengatakan pada Elaina malam ini juga," ucap Brayan.
"Satu hari," balas David.
"Deal. Sampai jumpa lusa," jawab Brayan.
"Ah, aku hampir lupa! Ini yang terpenting. Sebaiknya kalian menunda untuk memiliki keturunan. Tunggu hingga semuanya beres. Kami dengan senang hati akan menyambut kehadiran keponakan kami nantinya," jelas Brayan sebelum meninggalkan David.
Pemuda segera pergi setelah mengatakan semua yang harus dikatakan. David kembali merenung. Dia memikirkan langkah apa yang selanjutnya akan dia ambil.
Pagi ini dia sudah dikejutkan dengan dua masalah yang menyangkut keselamatan istri tercintanya. Masalah yang lebih serius dari dua masalah itu adalah David bingung bagaimana caranya memberitahu Elaina.
Dia khawatir Elaina akan salah paham. David beranjak dari sofa, menuju kamar utama mereka. Dia memutuskan untuk berendam. Setidaknya dia harus menenangkan diri sebelum menceritakan kepada Elaina semuanya.
Brayan hanya menyampaikan sekedarnya. Mungkin dia menjaga perasaan David. Makna tersirat dari ucapan Brayan yaitu dia harus memberitahu Elaina bahwa dia telah mengalami reinkarnasi. Semuanya saling berhubungan bagai menang merah yang sulit terurai.
Air bathtub sudah terisi sesuai dengan volume yang diinginkan oleh David. Dia melepaskan seluruh pakaiannya dan perlahan masuk ke dalam bathtub. Air dingin membantunya menahan emosi di dalam hati dan pikiran.
* * *
"La Tia! Kita akan ke mana lagi?" tanya Elaina.
Kakinya sudah pegal minta ampun. Dia salut pada bibinya yang tidak merasa pegal sedikit pun selama berbelanja tadi. Hampir setiap toko dan sudut mall dijelajahi oleh mereka
"Sebaiknya pulang saja. Lagipula sudah hampir jam makan malam. Aku tidak ingin diomeli suamiku dan keponakannya yang ter ter itu," jawab Rachel yang sebenarnya tidak rela jika harus pulang secepat ini.
Elaina masih memijat kedua kaki sesampainya di dalam mobil. Rachel duduk santai tanpa harus memijat kakinya. Rachel memutuskan untuk pulang saat melihat Elaina sudah tidak mampu untuk berjalan lagi.
"La Tia!" seru Elaina.
"Ya," jawab Rachel masih sibuk dengan tas belanjaannya.
"Apa Tia tidak merasa pegal sama sekali?" tanya Elaina penasaran.
Rachel menghentikan aktivitasnya saat mendengar pertanyaan Elaina yang menurutnya lucu. Bagi Rachel, setiap pertanyaan Elaina terdengar sangat lucu. Dia sampai tertawa pelan.
"Ada apa Tia? Apanya yang lucu?" tanya Elaina bingung.
"Tentu saja kau, Lana!" seru Rachel sambil tertawa.
__ADS_1
"Aku!" seru Elaina sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Yups. Mi Amor (sayang) wajar saja jika kakimu pegal. Kau lupa sudah dikurung oleh suamimu selama dua hari!" ucap Rachel sambil tertawa lepas.