
Lima hari kemudian.
"Sayang, sudah belum?" tanya David sambil merebahkan tubuh dan meletakkan kepalanya di pa ha Elaina.
"Menurutmu?" Elaina balik bertanya.
David menggerakkan jari menghitung sesuatu. Di penghujung hitungan, wajah David terlihat frustasi.
"Ah, belum! Mengapa waktu berjalan sangat lambat," kesal David.
Elaina tersenyum, dia kembali menatap majalah yang masih setia di tangannya. Padahal tamu bulanan Elaina sudah pulang kemarin. Hari ini dia sudah bebas. Namun, Elaina masih takut untuk menyerahkan diri kepada suaminya.
Flash back on
Dua hari yang lalu, Elaina menghampiri Munel di kamarnya. Saat itu, Munel sedang mengerjakan tugas IPA. Kebetulan tentang alat reproduksi.
Bintang dan Munel sudah dipindahkan oleh David ke mansion. Begitu pula dengan sekolah mereka. Awalnya Elaina menolak, dengan alasan sangat sulit menyesuaikan pelajaran di saat sudah nanggung.
Bintang saat ini duduk di kelas tiga dan Munel duduk di kelas dua sekolah menengah atas. Elaina ingin kedua adiknya menyelesaikan pendidikan mereka di sekolah lama lebih dulu. Setelah itu, baru pindah dan melanjutkan di sini.
Bukan David namanya jika tidak bisa menyakinkan Elaina. Dia bersikeras jika kedua adik Elaina dan sekarang telah menjadi adiknya sangat pintar. Mereka dengan cepat bisa menyesuaikan pelajaran. David juga telah memilih beberapa guru privat terbaik untuk mereka.
Jika sudah seperti itu, Elaina sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Belum lagi Bintang dan Munel terlihat bersemangat untuk tinggal bersama mereka. Akhirnya, Elaina hanya bisa mengikuti keinginan mereka.
Elaina tertarik saat melihat Munel mengerjakan tugas sekolahnya. Mereka saling bercerita dan bertukar ilmu hingga mereka memutuskan menonton video penjelasan di aplikasi merah.
Dari ilmu tentang alat reproduksi, film tentang hubungan kontak fisik yang sehat hingga yang menyimpang. Terakhir, mereka menonton tentang pertama kali melakukan hubungan kontak fisik.
Elaina dan Munel menontonnya sampai berteriak ngeri. Di jelaskan di video dan beberapa wanita yang melakukan hubungan kontak fisik pertama kali, mereka mengatakan sangat nyeri dan sakit.
Ada yang mengatakan tidak ingin melakukan hubungan kontak fisik lagi karena sakit. Mendengar itu, Elaina semakin takut untuk meyerahkan diri pada suaminya. Dia pikir tidak akan sesakit itu. Mungkin jika hanya satu atau dua orang yang berbicara seperti itu, dia tidak akan terlalu percaya.
Akan tetapi, semua wanita di video yang menceritakan pengalaman mereka melakukan hubungan kontak fisik, merasa sakit dan jera.
"Akak, apa benar seperti itu?" tanya Munel penasaran.
"Entahlah," jawab Elaina sambil memeluk bantal.
"Kak, bukannya kau dan kak David ..." ucapan Munel terpotong saat menatap wajah Elaina.
__ADS_1
"Jangan-jangan kau belum melakukannya!" teriak Munel sambil menutup mulut.
Elaina menggeleng lemah.
"Mengapa belum kalian lakukan?" tanya Munel penasaran.
Gadis remaja itu semakin mendekatkan diri pada Elaina. Dia ingin mendengar cerita kakaknya secara langsung.
"Malam setelah pernikahan, David mabuk. Kau tahu? Dia tertidur begitu saja," jawab Elaina.
"Hah! Bisa-bisanya dia melewatkan malam pertama kalian!" teriak Munel.
"Tapi, aku bersyukur tidak jadi karena aku sendiri belum siap," jelas Elaina.
"Bagaimana dengan keesokan harinya?" tanya Munel semakin penasaran.
Di dalam pikiran Munel, dia hanya ingin mengetahui apa benar yang dikatakan semua wanita di video tadi. Tidak ada pikiran yang lain.
"Keesokan paginya, aku kedatangan tamu bulanan," jawab Elaina sambil memainkan kedua alisnya ke atas dan ke bawah.
"Hah! Apes sekali nasib Kaka ipar ku!" teriak Munel sambil tertawa terbahak-bahak.
"Sudah selesai tertawanya?" tanya Elaina sambil berpura-pura marah.
"ish, akak. Kan lucu!" seru Munel.
"Begitu-begitu, dia itu suamiku," jawab Elaina.
"Iya, iya," jawab Munel sambil menatap Elaina. Kemudian mereka tertawa hingga wajah mereka kram.
Flash back off
Gara-gara menonton video itulah, Elaina jadi takut. Dia tidak bisa membayangkan rasa perih dan sakit di daerah bagian intinya nanti.
"Kau sedang memikirkan apa sayang?" tanya David penasaran.
"Tidak ada," jawab Elaina.
"Kenapa kau tersenyum sendiri dan bahu mu bergidik ngeri?" tanya David lagi.
__ADS_1
"Tidak ada, Dave! Aku hanya membaca cerita di majalah. Ceritanya sedikit lucu," jawab Elaina asal.
David bangkit dari tidurnya. Posisinya saat ini duduk berdampingan dengan Elaina. Dia melihat majalah ke arah pandangan yang sama dengan Elaina.
"Ini kan majalah fashion sayang. Aku tidak melihat ada bacaan di sana," jawab David.
Elaina yang tertangkap basah telah berbohong tanpa sengaja, segera menutup majalah dan beranjak pergi dari kasur. David meraih tangan Elaina dan menariknya langsung ke dalam pelukannya.
"Mau ke mana kau pembohong kecil!" seru David.
"Dave! Lepaskan! Aku ingin ke kamar mandi," rengek Elaina.
"Katakan dulu padaku! Apa yang tadi kau pikirkan?" tanya David.
"Tidak ada," elak Elaina.
"Baiklah, jika kau tidak mau mengatakannya. Aku akan me-rapel semuanya setelah kau selesai," ucap David sambil tersenyum licik.
"Apanya yang dirapel?" tanya Elaina bingung.
"Malam pertama," bisik David sambil menggigit pelan ujung telinga istri tercintanya.
"Aaa," teriak Elaina.
Elaina berteriak karena teringat dengan video yang dia tonton. Semua wanita di dalam video itu mengatakan sakit saat pertama kalim. Satu kali saja sakit. Apalagi berkali-kali. Gadis polos itu berpikir bahwa dirinya pasti akan tewas jika begitu.
Bersambung . . .
* * *
Advertisement
Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recomended banget loh. Yukss mampir!
...PENDAWA...
...(Pesona Janda Anak Dua)...
...(Neng Syantik)...
__ADS_1