336 Hours

336 Hours
Bab 37. Terlalu Muda


__ADS_3

David belum sempat membuka pintu. Seseorang dari luar yang membuka pintu dari luar langsung menerobos masuk ke dalam ruang kerjanya. Dia sangat terkejut mendapati Elaina yang menerobos masuk ke ruang kerjanya.


Cepat sekali! Ucap David dalam hati.


Elaina menatap tajam David. Kedua tangannya di lipat di depan dada. David berdiri salah tingkah. Dia tahu apa yang dikenalkan oleh Elaina. Sebelum dia merasa bersalah, dua hampir lupa akan kesepakatan di meja makan dua hari yang lalu. Raut muka David yang tadinya merasa bersalah, kini datar.


"Hai, sayang," ucap David sambil melangkahkan kakinya hendak memeluk Elaina.


"Stop!" seru Elaina sambil mengarahkan sebelah tangan agar David berhenti berjalan.


"Kenapa?" tanya David berpura-pura tidak tahu.


Elaina hanya diam. Dia semakin menajamkan pandangan pada David. Tak ingin berlama-lama bermain adu kata. David akhirnya menyerah.


"Aku menerbangkan mereka kemari," ucap David.


Elaina yang terlihat akan membuka suara langsung bungkam karena David menutup mulut Elaina dengan sebelah tangannya.


"A, a, sebentar sayang. Aku ingin mengingatkan sesuatu. Pertama, kau sendiri yang bilang ingin kedua adikmu menghadiri pernikahan kita," ucap David.


Elaina memberontak hendak berbicara.


"Sst, dengarkan aku dulu, please!" ucap David lembut.


"Kau tenang saja, mereka tidak membolos sekolah. Mereka berangkat setelah sekolah mereka selesai. Apa kau tidak melihat pakaian seragam yang masih mereka kenakan?" tanya David.


Elaina melepaskan tangan David dengan satu kali jentikkan.


"Auw!" teriak David.


Aku lupa dia memiliki bakat. Gerutu David di dalam hati.


Tangan yang menutupi mulut Elaina terlepas. Gadis itu berjalan menuju kaca jendela. Dia menatap ke luar bawah melihat kedua adiknya. Ucapan David benar adanya. Kedua adiknya masih mengenakan pakaian seragam lengkap dengan atributnya.


Elaina tidak begitu memperhatikan pakaian mereka karena bagian atas ditutupi dengan jaket jeans.


"Bukannya hari Sabtu dan Minggu mereka libur," ucap David di dekat telinga Elaina.


Sensasi geli langsung menyambar tubuh Elaina. Mata Elaina sempat terpejam saat David berbisik di dekat telinganya. David merasa puas saat melihat Elaina menahan sensasi yang dia buat.


"Sayang, kau kenapa?" tanya David berpura-pura.


Elaina segera sadar karena ucapan David. Hampir saja. Geram Elaina di dalam hati.


"Hmm, kembalikan mereka di hari Minggu!" perintah Elaina.


"Memangnya kau tahu kapan hari pernikahan kita?" tanya David.


"Jika aku tidak salah menebak, besok," jawab Elaina.

__ADS_1


"Salah," balas David.


"Hah! Kenapa bisa salah? Besok adalah hari yang sangat memungkinkan untuk mengadakan pesta pernikahan," jawab Elaina bingung.


"Mengapa?" tanya David.


"Hah, begitu saja kau tidak tahu," keluh Elaina.


"Tidak. Aku tidak tahu. Coba kau beri tahu aku!" pinta David.


"Semua orang pasti tidak bekerja. Kebanyakan orang mengadakan pesta atau acara di hari Sabtu atau Minggu," jelas Elaina.


"Malam ini," jawab David sambil mengecup pelan ujung telinga Elaina.


"Oh, ok," jawab Elaina cepat sambil melepaskan diri dari David.


"Malam ini," David mengulangi ucapannya.


"Hah! What? Kau sudah gila ya!" teriak Elaina.


David berusaha menahan tawa. Ekspresi Elaina sangat lucu saat ini. Dia terkejut bukan main.


"Ah, ternyata kau di sini!" seru Rachel.


Rachel langsung menarik tangan Elaina menuju pintu.


Elaina berjalan sambil terseok. Dia sempat menoleh ke belakang melihat David. Pria itu tersenyum lebar dan melambaikan tangan kepadanya. Elaina dapat menangkap bahasa mulut David yang mengatakan " I love you."


"Maafkan bibi mu yang mulai tua ini. Aku lupa jika harus merias wajahmu. Untung saja MUA nya datang lebih awal dari jam seharusnya" ucap Rachel sambil menyeret


"Bibi, kenapa aku tidak diberitahu sebelumnya?" tanya Elaina sambil mensejajarkan langkah kaki dengan bibi nya.


"Aku lupa. Kita terlalu terlena dengan perawatan wajah. Hihihi," jawab Rachel sambil terkekeh.


Bugh.


"Auw, bibi!" teriak Elaina saat wajahnya membentur tubuh bagian belakang Rachel.


Rachel yang dari tadi kalang kabut menyeret Elaina, tiba-tiba menghentikan langkah kaki dan membalikkan tubuh dan menatap lekat Elaina.


"My dear! Mau dilaksanakan kapan pun pernikahanmu, toh, akhirnya tetap akan menikah. Ini adalah takdir kalian. Malam ini kalian akan resmi menjadi sepasang suami istri," ucap Rachel sambil memperbaiki rambut Elaina yang keluar dari jalurnya.


Elaina tersenyum mendengar ucapan sang bibi.


"Nah, begini baru cantik. Kau tahu, aku baru saya bertemu dengan mu beberapa hari. Tapi aku sudah merasa sangat dekat denganmu. Aku dapat merasakan jika kau adalah gadis yang baik. Gadis yang tepat untuk David. Aku yakin David tidak salah memilih pasangan hidup," jelas Rachel panjang lebar.


"Tapi bibi, usiaku masih sangat muda. Apa aku bisa menjadi istri yang baik untuk David?" ucap Elaina ragu.


"Jadi, yang membuatmu kurang bersemangat saat menjelang hari bahagia karena pertanyaan konyol ini?" tanya Rachel tak percaya.

__ADS_1


"Iya," jawab Elaina sambil menundukkan kepala.


"Ya ampun, El. Memangnya kau pikir aku menikah dengan paman Jeff mu saat aku berusia berapa?" tanya Rachel.


Elaina mendongak melihat Rachel. Wanita itu tersenyum sambil memainkan kedua alisnya.


"Kau masih beruntung menikah di usia delapan belas tahun," ucap Rachel.


"Memangnya bibi menikah dengan paman Jeff saat usia berapa?" tanya Elaina bingung.


"Enam belas tahun tiga bulan. Kau tahu, dia sangat bersusah payah menahan diri untuk tidak menyentuhku saat itu. Karena usiaku terlalu muda," jelas Rachel sambil terkekeh.


"Ya ampun, bibi! Yang benar?" tanya Elaina.


"Tentu saja, masa aku berbohong. Hihihi," jawab Rachel sambil terkekeh.


"Ku pikir kalian menikah di usia yang matang," ujar Elaina.


"Kau tertipu dengan dandanan ku. Coba kau perhatikan aku sekarang!" perintah Rachel.


Elaina menatap lekat wajah Rachel. Wajah wanita itu sangat jauh berbeda dari beberapa hari sebelumnya. Rachel terlihat lebih cantik, wajahnya sangat berseri. Tidak ada tanda menua di wajahnya.


Elaina menatap wajah Rachel tanpa berkedip. Bagaimana bisa wajah seseorang bisa berubah cepat dalam hitungan hari. Bibi Rachel terlihat sangat muda. Sangat pantas di sebut kakak. Elaina menghitung dengan jemarinya. Dia terkejut mendapati usai Rachel yang berkisar dua puluh empat atau dua puluh lima tahun.


"Aku sengaja menggunakan riasan yang sedikit lebih tebal agar dapat menyamai roman wajah paman mu. Lagipula, pamanmu tidak suka jika aku di lirik oleh laki-laki lain. Banyak alasan yang membuatku harus menggunakan riasan tebal agar terlihat seperti wanita paruh baya. Nanti saja, kapan-kapan kita bercerita," jelas Rachel panjang lebar.


Elaina mengangguk setuju dan tersenyum.


"Tapi, khusus acara hari ini. Pamanmu mengizinkan aku untuk menjadi diriku sendiri," jelas Rachel sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Dear, percayalah pada dirimu sendiri. Aku yakin kau bisa menjadi istri yang baik untuk David dan calon anak-anak kalian nanti," tutur Rachel.


Wajah Elaina langsung merah padam saat Rachel mengatakan calon anak-anak mereka. Pikirannya langsung travelling tanpa membawa koper. Bayangan tubuh David tanpa busana membuatnya tidak karuan.


"Sekarang ayo kita rias dirimu! Kau harus tampil sempurna malam ini!" seru Rachel sambil menarik tangan Elaina dan berjalan menuju kamar utama.


Bersambung . . .


* * *


Advertisement


Hai my lovely readers! Aku ada cerita yang keren loh. Yuks mampir!


...RANJANG PANAS OM DUDA...


...(MORATA)...


__ADS_1


__ADS_2