
"Akak cantik sekali!" seru Munel.
Elaina hanya bisa tersenyum pada Munel melalui cermin. Saat ini rambutnya sedang di tata. Tidak hanya dirinya, bibi Rachel, Audrey, dan Munel juga sedang di rias. Karena mereka hanya keluarga, riasan yang diberikan pada mereka hanya riasan sederhana. Apalagi ada dua anak perempuan yang wajahnya masih asli. Sangat disayangkan jika di beri riasan yang tidak sesuai.
Bibi Rachel memilih riasan yang sederhana. Riasan tipis di wajahnya justru membuat wajahnya terlihat jauh lebih muda. Hanya Elaina yang di rias lebih lama dari mereka karena dia adalah tokoh utama acara malam ini. Jadi, dia harus tampil berkilau di banding yang lain.
Sebelum pukul tujuh malam, Elaina sudah tampil sempurna. Gaun pengantin yang dipilih Elaina sangat sederhana. Akan tetapi, untaian mutiara dan berlian di bagian atas gaun membuat gaun itu terlihat istimewa. Terlebih lagi Elaina yang mengenakannya.
"Kakak Elaina sangat cantik. Aku yakin kak David pasti akan terpesona!" seru Audrey.
"Bibi, apa sudah aku sudah boleh keluar?" tanya Elaina.
"Wah, akak sudah tidak sabar ya!" goda Munel.
"Sebentar lagi sayang. Kita tunggu Theo datang," ucap Rachel sambil menatap lembut Elaina.
"Bibi!" seru Elaina.
"Ya," jawab Rachel singkat.
"Ah, tidak jadi," ucap Elaina.
Dia terlihat sangat gusar. Gaun pengantin yang panjang membuat Elaina sulit untuk bergerak. Jika saja, dia tidak sedang mengenakan gaun pengantin. Bisa dipastikan bahwa dia akan mondar-mandir..
"Kenapa?" tanya Rachel.
Elaina terlihat semakin gusar. Rachel yakin pasti ada sesuatu yang mengganjal di hati gadis itu.
"Ceritakan pada bibi apa yang membuatmu gusar," bisik Rachel.
Elaina menatap Munel dan Audrey. Mereka sedang sibuk bertukar cerita. Entah apa yang mereka ceritakan hingga kadang mereka tertawa bersama. Audrey sangat pandai membaur. Dalam waktu beberapa jam saja, gadis kecil itu sudah bisa akrab dengan Munel.
Begitu juga sebaliknya. Mungkin karena mereka sama-sama perempuan. Jadi, sangat mudah akrab.
"Bibi, aku tidak tahu malam pertama itu seperti apa," ucap Elaina yang berhasil membuat Rachel tertawa keras.
Suara tawa Rachel berhasil menarik perhatian Audrey dan Munel. Elaina sendiri langsung meraih lengan bibi nya agar berhenti tertawa.
"Kenapa mom?" tanya Audrey.
__ADS_1
"Tidak, tidak ada apa-apa. Kakakmu bercerita tentang sesuatu yang lucu," jawab Rachel bohong.
Audrey menekuk keningnya hingga kedua alis matanya bertemu. Dia kurang percaya dengan yang dikatakan mommy nya.
Rachel yang paham dengan tatapan Audrey langsung menimpali ucapannya.
"Memangnya mom dan kak El tidak boleh bersenda gurau juga seperti kalian."
Audrey tersenyum setelah mendengar ucapan mommy nya. Dia dan Munel melanjutkan kesibukan mereka sendiri.
"Bibi!" keluh Elaina dengan wajah merah padam.
"Maaf, sayang. Aku bukan menertawai mu, tapi pertanyaan mu," ucap Rachel sambil terkekeh.
"Bibi aku serius," rengek Elaina.
Meskipun pikirannya selalu travelling ke hal-hal yang mesum. Akan tetapi, dia sangat buta kayu mengenai hal itu. Mendiang ibunya tidak pernah memberinya ilmu tentang hal itu.
"Aku juga serius. Kau salah jika bertanya padaku," ucap Rachel sepekan mungkin agar dua remaja yang duduk di seberang mereka tidak mendengar.
"Bukannya bibi sudah pernah melakukan malam pertama," ujar Elaina heran.
"Hah! Tragis bagaimana maksudnya bi?" tanya Rachel bingung.
"Sst, jangan keras-keras nanti terdengar oleh dua bocah di sana!" perintah Rachel.
Elaina mengangguk pelan.
"Singkatnya, karena aku begitu malu, aku tidak ingin kamar dalam keadaan menyala terang. Jadi, Jeff setuju untuk mematikan lampu. Cahaya malam itu hanya bersumber dari cahaya bulan. Sangat romantis dan mendukung suasananya," jelas Rachel sambil mengingat malam pertama dengan suami tercintanya.
Elaina mendengarkan dengan seksama. Ini adalah pengalaman pertama baginya. Jadi, dia harus mendengarkannya dengan seksama.
"Aku kira Jeff sudah berpengalaman dalam berhubungan dengan wanita. Akan tetapi, aku salah besar. Dia memang seorang casanova, tapi tidak pernah berhubungan ba dan dengan wanita manapun. Hasilnya, malam pertama kami gagal karena Jeff selalu salah menempatkan juniornya. Aku juga bingung harus bagaimana karena nihil pengalaman," ucap Rachel sambil terkekeh.
"Jadi, apa berhasil?" tanya Elaina.
"Kami berhasil melakukannya setelah yang ketiga kalinya. Seingat ku, waktu itu Jeff sampai menonton film biru agar tidak salah tempat lagi," jelas Rachel sambil tersenyum.
Rachel teringat akan kejadian sembilan tahun yang lalu. Sebenarnya tidak tragis. Hanya saja, karena Jeff gagal beberapa kali membuat Rachel memberi status malam pertama dengan kata tragis.
"Bibi, penjelasan mu membuat aku bingung," ucap Elaina.
__ADS_1
Saat Rachel akan berkata pada Elaina, pintu kamar hotel sudah di ketuk dari luar. Seorang maid mansion membuka pintu dan mempersilahkan Theo masuk ke dalam.
"Maaf nyonya, semuanya sudah siap," ujar Theo sambil menunduk.
Munel yang melihat Theo masuk ke dalam kamar hotel langsung berdiri. Dia sendiri bingung mengapa dia langsung berdiri saat Theo masuk ke dalam kamar hotel. Rachel tersenyum saat menangkap sinyal cinta yang mulai bersemi.
"Baiklah, kami akan segera keluar. Audrey, Munel jangan lupa keranjang bunganya!" perintah Rachel.
Pernikahan David dan Elaina diselenggarakan di salah satu hotel bintang lima di ibu kota. Wajar jika dia tidak mengetahui kapan dia akan menikah karena di mansion sama sekali tidak terlihat sibuk kesana kemari mengurus tempat resepsi. Ternyata, David memilih hotel sebagai tempat pernikahan dan resepsi mereka.
Elaina berjalan perlahan. Kini dia berdiri tepat di depan pintu masuk hall. Karpet merah sebagai tempat yang akan dilewatinya untuk berjalan terlihat sangat indah karena diujung karpet itu berdiri seorang pria yang telah berhasil mengambil hatinya.
David Walker
David mengenakan setelan jas abu-abu terang. Dasi kupu-kupu bersorak kotak sangat pas melingkar di lehernya.
Elaina berjalan perlahan memasuki hall. Rachel menyibakkan ekor gaun Elaina agar bergelombang saat gadis itu berjalan. Audrey dan Munel mengikuti langkah kaki Elaina dari belakang. Mereka menaburkan bunga setiap kali Elaina melangkah.
David terpesona melihat kecantikan Elaina yang sangat memukau. Dia terlihat sangat susah menelan saliva. Bintang yang berdiri di samping David hanya bisa tersenyum. Kakaknya memang cantik. Paling cantik di kampungnya. Selama ini banyak pria yang berusaha mendekati kakaknya.
Puncaknya saat mendiang kedua orang tua mereka meninggal. Bel pintu rumah mereka tidak pernah berhenti berbunyi dari pria-pria yang berusaha masuk ke dalam untuk melamar kakaknya.
Awalnya dia sangat terkejut dengan keputusan Elaina yang menikah muda. Tapi, setelah bertemu dengan David dan berbincang dengannya, Bintang yakin David bisa menjaga kakaknya dengan baik.
"Kak David! Kak David!" Bintang memanggil David sedikit keras karena pria itu sama sekali tidak bergeming.
Bersambung . . .
* * *
Advertisement
Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recomended banget loh! Yuks mampir!
...JANGAN HINA KEKURANGANKU...
...(Ocybasoaci)...
__ADS_1