336 Hours

336 Hours
Bab 54. Masa Sulit


__ADS_3

Elaina ingin memeluk David. Akan tetapi, dia berusaha menahan hasrat itu. Perasaannya saat ini masih mengambang. Untuk sayang dan cinta. Dia sudah mencintai pria itu setelah melihat kesungguhan darinya.


Namun, malam ini pernyataan David membuat Elaina berpikir berkali-kali. Apakah cinta David tulus atau tidak? Sejujurnya dia benci harus memikirkannya. Elaina tidak menjawab, dia berjalan melewati David. Dia ingin segera keluar dari kamar yang membuatnya sesak.


"Sayang berhenti, please!" seru David saat Elaina berjalan melewatinya. Dia tahu jika istrinya berniat untuk meninggalkan kamar mereka. Tentu saja David tidak akan tega. Yang seharusnya keluar adalah dia. David berdiri dan berjalan mendekati Elaina.


"Kau tetap di kamar. Biar aku saja yang keluar dari kamar," ucap David.


Air mata Elaina terus mengalir. Dia memalingkan wajah dari David. Tak ingin pria itu melihat wajahnya yang penuh air mata. David yang tadinya ingin memegang tangan Elaina, terpaksa diurungkannya. Dia tidak ingin memperkeruh keadaan. Dengan berat hati David berjalan melewati Elaina.


"Aku berada di ruang kerja," ucap David sebelum menutup pintu kamar.


Tubuh Elaina langsung merosot ke lantai setelah pintu kamar tertutup. Dia menangis sejadi-jadinya sambil memeluk tubuhnya sendiri.


Hal yang sama juga terjadi pada David. Tubuhnya merosot ke lantai sesaat setelah menutup pintu kamar. Dia terduduk menangis dalam diam.


* * *


Delapan hari kemudian.


"Masih belum bicara padanya?" tanya Brayan.


Pemuda itu sedang berada di ruang kerja David lengkap dengan wujudnya. Selama David terpisah dari Elaina, Brayan rutin mengunjungi David.


Bukan tidak ada alasan Brayan mengunjungi David. Pemuda itu selalu melaporkan pergerakan klan Black Meadow yang semakin hari semakin dekat dengan mereka.


David dan Brayan menyusun strategi agar dapat mengalahkan mereka. Di saat seperti ini, David sedikit bersyukur akan pisah ranjang dia dan Elaina. Dia bisa fokus mengurus masalah yang lebih penting saat ini.


David menatap tajam pada Brayan. Pertanyaan konyol seperti apa yang dilontarkan oleh pemuda itu. Tentu saja dia ingin berbicara pada Elaina. Bahkan, dia sangat merindukan istrinya. David hanya bisa ke kamar saat tengah malam. Menatap wajah Elaina dalam diam.


Bisa saja dia mencium kening Elaina. Namun, tidak dilakukannya. David tidak ingin Elaina berpikiran macam-macam. Cukup menatapnya saja sudah membuat hati David tenang dan menghapus sedikit kerinduannya. Sungguh masa tersulit yang dihadapi David.


Brayan sudah terbiasa dengan sikap David. Dia hanya ingin berbasa-basi saja atau setidaknya mencairkan suasana yang sangat suram. Pemuda itu kembali fokus pada penglihatannya.


Kali ini empat bersaudara B harus terpisah. Mereka menyebar di empat arah mata angin utama. Brigita di barat, Bree di timur, Bricia di Utara, dan Brayan di Selatan untuk mengawasi pergerakan klan Black Meadow. Mereka tidak ingin ada celah sedikit pun. Sedikit banyak keselamatan Elaina bergantung pada mereka.

__ADS_1


"Gawat!" seru Brayan.


David segera mengalihkan pandangan ke Brayan. Dia bisa menangkap dengan jelas bahwa pemuda itu mengatakan gawat yang artinya situasi sedang kurang baik. Dia segera beranjak dari kursi kebesarannya. David berdiri di dekat Brayan.


"Ada apa?" tanya David.


"Lihat!" perintah Brayan pada David.


David mengikuti arah pandang Brayan. Sesuatu berwarna ungu gelap tampak berkedip-kedip. Saat ini Brayan menampakkan peta ibu kota bagian selatan. Di ujung perbatasan antara Barat dan Selatan terlihat sesuatu berwarna ungu yang berusaha menerobos masuk.


"Gandakan kekuatan!" perintah Brigita melalui telepati dengan Brayan.


"Ok," jawab Brayan singkat.


David tidak ingin menyela ucapan Brayan. Pemuda itu terlihat sedang fokus dengan peta di depannya dan mengeluarkan energi yang cukup besar. David merasakan dahsyatnya energi yang dilontarkan oleh Brayan.


Cukup lama waktu yang digunakan oleh Brayan dan Brigita. David berdiri di samping Brayan menatap ke arah peta. Kedipan ungu itu menghilang.


"Mereka pergi," ucap Brigita melalui telepati.


Brayan melontarkan energi lain dari dalam tubuhnya. David mengenal energi ini. Energi yang sudah delapan hari Brayan lontarkan di akhir sesi agar dia bisa istirahat sejenak. Setelah selesai melontarkan negeri pengamatan otomatis, Brayan segera berbalik dan menjatuhkan bokongnya di atas sofa.


David tidak langsung menghampiri pemuda itu. Apalagi bertanya. Dia terlihat sangat kelelahan. David berjalan ke arah rak minumannya. Dia mengambil satu botol wisky dan memberikannya pada Brayan.


"Ini," ucap David sambil menyerahkan botol wisky pada Brayan.


Mata Brayan yang tadinya terpejam langsung terbuka lebar saat mendapat sebotol wisky dari David. Dia segera meraih botol itu dan langsung meminumnya dari sana.


Setelah melepaskan dahaganya, Brayan meletakkan botol wisky. Dia tahu jika David sudah tidak sabar untuk bertanya.


"Black Meadow hampir memasuki negara ini," ucap Brayan.


David sudah menduga. Klan itu pasti sudah mulai dekat. Mereka harus memikirkan cara untuk menyelamatkan Elaina.


"Berapa lama lagi?" tanya David.

__ADS_1


"Mungkin sekitar tiga purnama atau kurang," jawab Brayan.


"Dengar! Aku akan segera berkumpul dengan tiga saudariku. Aku tidak ingin tahu bagaimana caramu berbaikan dengan Elaina. Kita membutuhkan dia untuk merencanakan melawan klan BM, dan sebaliknya," jelas Brayan sambil berlari meninggalkan David seorang diri.


David mengepalkan kedua tangannya. Dia geram pada dirinya sendiri yang tidak bisa memberi bantuan untuk istirnya. Belum selesai dengan pikiran rumitnya. Ponsel David yang terletak di atas meja bergetar berkali-kali. Dia segera meraih dan menjawab panggilan masuk.


"Halo tuan," sapa Theo.


"Ya," jawab David singkat.


"Tuan Arnold dan putranya sedang berada di dalam pesawat menuju negara ini," ucap Theo.


Ucapan Theo berhasil membuat David terkejut. Dia langsung berdiri dari kursi kebesarannya.


"Apa yang mereka lakukan di sini?" tanya David.


"Menurut informasi yang ku terima. Paman anda ingin berkunjung untuk menemui keponakan menantunya," jelas Theo.


"What? Si Al!" seru David sambil berjalan mondar-mandir.


"Berapa lama lagi?" tanya David.


"Kurang lebih sekitar lima belas jam," jawab Theo singkat.


"Persiapkan semuanya!" perintah David.


"Baik tuan," jawab Theo.


"Theo! Hubungi paman Jeff!" perintah David sebelum memutuskan panggilan telpon.


"Segera tuan," jawab Theo.


David menghempaskan tubuhnya di atas kursi kebesarannya. Dia memijat kepalanya yang tidak sakit. Hari ini sangat sulit baginya. Black Meadow dan Arnold Benjamins adalah dua kubu yang sangat berbahaya.


Ucapan Brayan terngiang-ngiang di kepala David. Pemuda itu benar. Bagaimana pun caranya dia harus segera berbaikan dengan istri tercintanya.

__ADS_1


David menatap jam tangan yang mengitari pergelangan tangan kanannya. Dia melihat waktu yang saat ini menunjukkan pukul sebelas malam. Biasanya pada jam segini, Elaina sudah tertidur pulas. David memilih beranjak dari kursi kebesarannya dan melangkah keluar menuju kamar utama.


__ADS_2