
"Tidak ada. Aku hanya teringat sesuatu," jawab Rachel keceplosan.
"Tentang apa bi?" tanya Elaina penasaran.
"Ah, bukan apa-apa," jawab Rachel yang baru saja sadar jika dia keceplosan.
"Bibi, kau sangat mencurigakan!" seru Elaina.
"Nanti akan aku ceritakan padamu. Tidak sekarang," akhirnya Rachel memutuskan untuk memberitahu Elaina tentang Samantha.
"Janji bi," ucap Elaina.
"Iya. Tapi ingat, jangan selalu kau tagih,ok!" Rachel mengingatkan Elaina.
"Ok," jawab Elaina sambil mengedipkan sebelah mata dan membulatkan jari telunjuk dan jempol tanda setuju.
"Apa rencana mu hari ini?" tanya Rachel.
"Di rumah saja, bi," jawab Elaina sambil memasukkan pie apel mini ke dalam mulutnya.
"Bagaimana jika kau ikut aku saja," ajak Rachel.
"Ke mana, bi?" tanya Elaina.
"Jalan-jalan. Aku sudah lama tidak pulang ke kota ini. Aku ingin mengobati rasa rinduku," ucap Rachel sambil membayangkan jalanan dan tempat-tempat favoritnya di kota ini.
"Bibi dulu berasal dari sini juga?" tanya Elaina penasaran.
"Aku lahir di kota ini," jawab Rachel sambil tersenyum.
"Hah! Bagaimana bisa, bi?" tanya Elaina penasaran.
"Bisa saja. Mengapa tidak bisa? Pasti karena wajah khas Eropa ku, ya!" goda Rachel sambil mengedipkan sebelah mata.
"Iya bi," jawab Elaina sambil tersipu.
"Aku keturunan asli Eropa. Kedua orang tuaku menikah dan melahirkan aku beserta dua saudariku di kota ini. Mereka kawin lari," jelas Rachel sambil terkekeh.
"Apa bi? Kawin lari?" Elaina terkejut mendengar istilah yang baru saja didengarnya.
"Hahaha. Ekspresi mu lucu sekali!" seru Rachel sambil tertawa.
Elaina tidak memikirkan ejekan dari sang bibi yang masih menertawainya. Dia membayangkan tentang kawin lari. Pasti sangat susah menikah sambil berlari. Belum lagi para tamu. Elaina membayangkan jika para tamu harus ikut lari untuk mengucapkan selamat kepada pasangan pengantin.
"Ribet sekali!" seru Elaina menyudahi pikiran tentang kawin lari.
"Apanya yang ribet?" tanya Rachel bingung. Dia langsung menghentikan tawa.
__ADS_1
"Ya, kawin larinya bibi!" seru Elaina.
"Hah! Hahaha," Rachel kembali melanjutkan tertawa hingga tersedak.
Elaina yang melihat bibinya tersedak, segera mengambil segelas air putih didekatnya dan memberikan pada sang bibi. Elaina menepuk pelan punggung belakang Rachel agar dapat bernapas dengan teratur.
"Ya ampun, bibi! Mengapa bisa tersedia parah begini?" tanya Elaina prihatin.
Rachel berusaha mengatur napas dengan baik. Setelah perjuangannya beberapa menit, akhirnya dia bisa bernapas dengan normal.
"Kau yang membuatku tersedak," jawab Rachel lemah.
"Hah, aku! Bagaimana mungkin aku membuat bibi tersedak?" tanya Elaina bingung.
"Ya, kau hanya diam saja. Akan tetapi, otak mu pasti tidak diam!" seru Rachel.
Elaina mengerutkan kening hingga tertekuk. Dia bingung dengan ucapan bibinya hingga dia memikirkan Bagaimana bisa dia membuat bibinya tersedak? Rachel tersenyum melihat tingkah Elaina yang bingung. Sejujurnya, wajah polos Elaina telah membuatnya jatuh hati saat pertama kali bertemu.
"Sudahlah, Lana! Kau memang tidak bersalah. Aku hanya menggodamu saja. Aku itu menertawai mu karena kau pasti sedang memikirkan tentang kawin lari," ucap Rachel.
"Bagaimana bibi bisa tahu?" tanya Elaina tak percaya.
"Akhirnya, aku tahu mengapa David sangat mencintaimu dalam beberapa hari," ucap Rachel.
Ucapan Rachel berhasil membuat Elaina bingung. Tak ingin berlama-lama membuat keponakannya terjerumus dalam kepolosan, Rachel segera mengajak Elaina berangkat ke tempat favoritnya.
"Oh iya, satu lagi. Jangan panggil aku dengan sebutan Bibi! Hmmm, La Tia. Yups. Panggil aku La Tia!" perintah Rachel pada Elaina sebelum melenggang pergi meninggalkan Elaina.
Elaina tak ingin memberatkan pikirannya dengan ucapan sang bibi. Dia segera menuju ruang kerja suaminya untuk meminta ijin.
Saat berada di depan pintu ruang kerja David, Elaina dapat mendengar David berbicara dengan seseorang. Dia teringat jika tadi David menerima panggilan telpon sebelum meninggalkannya di meja makan.
Namun, suara yang didengar Elaina bukanlah suara seseorang dari panggilan telpon. Melainkan suara dua orang pria yang sedang bercakap-cakap dengan sangat jelas. Elaina yakin, pasti ada seseorang di dalam sana.
"Lana!" teriak Rachel dari bawah tangga.
"Cepat sekali!" seru Elaina saat mendengar sang bibi memanggilnya.
Elaina hendak berjalan ke arah tangga, namun pintu ruang kerja David terbuka. Dia terkejut saat mendapati David sudah berdiri diambang pintu.
"Sayang, apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya David.
"Aku baru saja tiba. Aku ingin meminta ijin darimu untuk pergi menemani bibi Rachel jalan-jalan. Apa boleh?" tanya Elaina berusaha menyembunyikan terkejutnya.
Setidaknya dia tidak sepenuhnya berbohong. Bukannya tadi dia juga berniat menemui David di ruang kerja untuk meminta ijin.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya David.
__ADS_1
Ah, apa dia tahu tadi aku menguping? ucap Elaina dalam hati. Elaina berusaha memikirkan apa yang dimaksud oleh suaminya. Dia tidak ingin salah menjawab.
"Kau tahu sendiri, tadi pagi saja kau sulit berjalan!" bisik David.
Elaina tidak menyadari David sudah berada di dekatnya sambil meraih tubuhnya masuk ke dalam pelukannya. Elaina sedikit tergelak saat David melakukannya. Syukurlah dia tidak tahu aku menguping tanpa sengaja. Elaina bermonolog di dalam hati.
"Ya ampun, Lana! Tadi malam masih belum puas ya!" seru Rachel sambil berpura-pura kesal.
Baik Elaina maupun David tidak menyadari akan kehadiran bibi mereka. Wajah Elaina seketika memerah. Sedangkan David biasa saja. Dia justru semakin mengeratkan pelukannya pada Elaina.
"Dave, lepas!" pinta Elaina setengah berbisik.
"No!" tegas David.
"Dasar keponakan tidak ada akhlak!" ucap Rachel sambil menarik tangan Elaina.
"Hei, Bibi! Dia istriku!" seru David yang tidak terima istrinya dirampas begitu saja darinya.
"Dia keponakanku!" balas Rachel.
Elaina khawatir akan terjadi perebutan dirinya antara suami dan bibinya. Dia segera bersuara untuk menengahi mereka.
"Dave, please! Aku juga butuh udara segar. Bukannya kau mengurungku selama dua hari!" nada suara Elaina yang awalnya memohon, kini beralih ke mode menyindir.
"Kau marah padaku, sayang?" goda David.
"Sudah, sudah! Tidak akan selesai jika begini terus! Aku bawa istrimu ya, keponakan Tia yang paling ter ter," bujuk Rachel.
"Ter ter?" tanya David saat mendengar kata yang menurutnya sangat aneh.
"Iya. Terbaik, terganteng, ter ..." jawab Rachel sambil menghentikan kata terakhirnya.
David senyum-senyum sendiri saat mendengar pujian dari sang bibi. Namun, kesenangannya terhenti saat sang bibi menghentikan kata terakhir dari kalimatnya. Rachel memberi kode pada Elaina untuk mengambil ancang-ancang kabur dari jangkauan David.
Untuk hal aneh-aneh seperti itu, pikiran Elaina berjalan mulus seperti pesawat yang akan lepas landas. Rachel memegang erat lengan kiri Elaina dan memutar tubuh Elaina.
"Ter-sombong!" teriak Rachel sambil menyeret Elaina berlari bersamanya.
Bersambung
* * *
Advertisement
Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended banget loh. Yuks mampir! Ceritanya seru banget loh!
__ADS_1