
David tersentak saat mendengar suara yang tidak asing di telinganya yang cukup mengejutkan. Siapa pun pasti akan terkejut mendengar suara yang datang tiba-tiba seperti itu.
"Bukannya sudah kukatakan memberi kode dulu jika kau mau bicara tanpa wujud," sergah David.
"Hehehe, aku lupa," jawab Brayan sambil terkekeh.
"Ada apa?" tanya David sambil merapikan lengan bajunya.
"Well, tadinya aku ingin menyapamu. Tidak tahunya aku malah mendapat sesuatu yang keren darimu. Kau tahu bro, kau sangat keren saat menembak. Ajari aku!" seru Brayan.
David mendengus saat mendengar penuturan Brayan. Dasar bocah ingusan. Ucap David dalam hati.
"Kau mengumpat ku ya?" tanya Brayan.
"Menurutmu?" David balik bertanya pada Brayan.
Pintu lift terbuka, David segera keluar. Dia segera berjalan ke arah ruang kerjanya. Melepas semua perlengkapan yang dia kenakan. Seketika suasana terasa hening. David menoleh ke sana kemari. Di mana suara yang dari tadi mengganggunya.
"Brayan!" seru David.
Tidak ada sahutan sama sekali. Dia berjalan keluar ruang kerja. Dia mencoba memanggil Brayan sekali lagi.
"Brayan!" panggilnya sedikit keras.
Nihil. Tidak ada sahutan sama sekali dari Brayan. David merasa aneh. Tidak biasanya bocah itu menghilang begitu saja. Apalagi tadi dia meminta David untuk mengajarinya menembak. David belum menanggapinya sama sekali. Tiba-tiba suara Brayan menghilang.
Tak ingin berlama-lama dengan kebingungan, David memutuskan untuk berendam di kamar mandi kamar utama. Elaina terlihat sedang tertidur di atas ranjang king size. David menghampiri Elaina. Dia merapikan selimut dan mengecup pelan kening Elaina.
"Sweet dream, babe," ucap David sambil mengecup kening Elaina dengan lembut.
David berjalan menuju kamar mandi. Dia berjalan sambil melepaskan pakaiannya satu per satu hingga tak ada sehelai benangpun menempel di tubuh atletisnya. Elaina terbangun saat David mengecup keningnya. hanya saja kelopak matanya masih sulit untuk di buka. Cuaca dingin dan kasur yang empuk membuat kelopak matanya enggan untuk terbuka.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian dengan sekali tarikan napas Elaina memaksa kedua bola matanya terbuka. Dia terbangun dengan posisi terduduk di atas kasur. Kedua bola matanya bukan hanya terbuka tapi melotot saat melihat pemandangan yang sudah beberapa hari yang lalu tidak di lihatnya, kini terpampang di hadapannya.
Tanpa dia sadari bibirnya mengukir sebuah senyuman licik saat melihat David berjalan ke arah kamar mandi tanpa sehelai benang pun di tubuhnya.
"Ah!" teriak Elaina pelan sambil menutup mulutnya.
Dia segera berbaring kembali dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Memeluk bantal dan membekap mulutnya agar dapat meredam suara teriakannya.
"Oh ya ampun! Benar-benar bisa tewas kalo aku seperti ini terus," ucap Elaina pelan.
"Mengapa kau harus tewas sayang?" ucap David pelan.
"Tentu saja. Bagaimana aku tidak tewas, setiap kali melihat tubuh atletis David tanpa sehelai benang pun!" ceplos Elaina.
"Ah, Kau sangat menyukai tubuhnya?" goda David.
"Tentu saja. Benar-benar sempurna! Apalagi di bagian pinggang ke bawah," ucap Elaina sambil menoleh ke sumber suara.
"David! Bukannya tadi kau berjalan ke kamar mandi?" tanya Elaina sambil menarik selimut hingga menutupi kepalanya.
"Bagaimana mungkin aku ke kamar mandi sedangkan ada seorang penguntit yang menikmati tubuh atletis ku," goda David.
Elaina menutup wajahnya dengan bantal yang tadi di peluknya. Bodohnya aku! Bisa-bisanya aku berbicara dengan dia seperti itu! ucap Elaina dalam hati.
David tersenyum melihat tingkah konyol gadisnya itu. Dia semakin termotivasi untuk terus menggodanya.
"Ayolah, sayang! Kita kan sedang dalam suatu hubungan. Jangan malu seperti itu!" ucap David sambil menarik pelan selimut yang menutupi wajah Elaina.
Elaina tidak berani membuka suara. Kali ini dia sangat kehilangan muka. Dengan santainya dia berkata jujur seperti itu secar la langsung. Dasar mulut ngga ada akhlak! Rutuk Elaina pada dirinya sendiri dalam hati.
Saat David membalikkan tubuhnya menuju kamar mandi, dia sempat menangkap gerakan Elaina yang baru saja bangun dari sudut matanya. Dia sengaja berjalan pelan agar dapat memanjakan kedua mata gadis tercintanya.
__ADS_1
David segera menarik handuk yang tergantung di hanger kamar mandi. Dia melilitkan handuk di sekeliling pinggang. David berlari kembali ke sisi tempat tidur Elaina dengan posisi gadis itu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Tebakan David tepat sasaran. Gadisnya dengan senang hati mencurahkan isi hatinya saat melihat tubuh atletisnya. Senyuman terukir di wajah David saat mengetahui Elaina sangat terpesona pada dirinya.
"Sayang, kita harus bergegas kembali ke mansion," ucap David sambil menggelitik perut Elaina.
"Hahaha, stop Dave! Geli!" teriak Elaina sambil tertawa karena kegelian.
"Dave?" ulang David.
David menghentikan jarinya menggelitik Elaina. Gadis itu membuka selimut yang menutupi wajahnya.
"Iya, Dave. Aku memanggilmu Dave saja. David terlalu panjang," jawab Elaina.
Sesaat dia lupa jika tadi dia malu tertangkap basah bercerita tentang tubuh David. Dia sangat mudah terbawa suasana.
"Ok. Aku rasa Dave cukup baik," jawab David.
David menyingkap selimut dan mengangkat tubuh Elaina ke dalam gendongannya. Elaina yang tidak siap, sempat berteriak karena terkejut tubuhnya terangkat ke atas.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Elaina sambil merangkul leher David dengan kedua tangannya. Leher David dijadikan pegangan olehnya agar dia tidak terjatuh.
Bersambung ...
* * *
Advertisement
...DUDA VS ANAK PERAWAN...
......(SANTI SUKI)......
__ADS_1