336 Hours

336 Hours
Bab 56. Dua Musuh Dalam Satu Waktu


__ADS_3

Ponsel David bergetar. Dia meletakkan ponsel di atas meja. Getarannya berhasil membuat David terbangun. Pria atletis itu sempat tertidur di meja kerja. David segera menjawab panggilan masuk tanpa melihat layar ponsel.


"Maaf tuan," ucap Theo.


"Ada apa?" tanya David sambil memijat pelan kedua mata.


"Tuan Arnold dan putranya telah tiba di Indonesia," ucap Theo dengan tegas.


"What? Bukannya tadi kau katakan sekitar setengah hari lagi mereka tiba di negara ini!" seru David.


"Tuan. Mereka telah memanipulasi data," jelas Theo.


David menggeram kesal. Dia kesal pada dirinya sendiri. Bagaimana dia bisa lupa akan kelicikan Arnold. Seharusnya tadi dia meminta Theo untuk mengecek jadwal penerbangan jet keluarga Benjamins.


"Di mana mereka?" tanya David sambil memijat kepalanya yang mulai pusing.


"Mereka dalam perjalan menuju apartemen. Sepertinya mereka tidak akan mengunjungi anda selama beberapa hari ke depan," jawab Theo.


"Putra tuan Arnold masih dalam keadaan jet lag tuan," Theo menimpali ucapannya.


"Theo, persiapkan semuanya! Aku tidak ingin mereka menyentuh mansion ku dan bertemu dengan Elaina!" perintah David.


"Baik tuan. Maaf sudah mengganggu istirahat tuan," ucap Theo.


"It's ok," jawab David sambil memutuskan sambungan telpon.


"Bisa-bisanya mereka datang bersamaan!" ucap David pada diri sendiri.


David menatap jam di atas meja kerjanya. Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari. Masih tersisa waktu sekitar tiga jam lagi untuk sarapan pagi. Dia harus sarapan lebih awal agar tidak bertemu dengan Elaina sementara waktu dengan alasan yang sangat tidak jelas. Bahkan, alasan yang dia sendiri tidak tahu.


David memutuskan untuk istirahat. Dia tidak ingin merusak tubuhnya sendiri. Untuk menjaga Elaina, dia harus memiliki tenaga yang cukup. Dalam tiga hari ke depan, dia akan mengurung diri di ruang kerja.


Selain itu, dia bisa meminta pak Griffin agar membawa makan siang dan malam ke ruang kerja. Pria atletis itu juga memutuskan untuk melakukan olahraga ringan untuk memperkuat tubuhnya.


Tiga hari. Tunggu aku setelah tiga hari, ok. Ucap David dalam hati.


Dua hari kemudian.


Elaina merasa sangat gelisah. Dari tadi kerjanya hanya mondar-mandir tidak jelas di dalam kamar. Sudah dua malam David tidak mengunjunginya saat tengah malam. Dia juga tidak menemukan David saat sarapan, makan siang, bahkan makan malam. Setidaknya dia dapat melihat suaminya di saat makan.

__ADS_1


Kali ini David menghilang secara misterius. Elaina dilanda keresahan yang tidak terkendali. Di saat seperti ini dia sangat merindukan La Tia nya. Paman Jeff dan La Tia Rachel tiba-tiba diberangkatkan ke Spanyol karena perusahan di sana sedang mengalami sedikit masalah.


Sedangkan Audrey, Bintang, dan Munel sedang berlibur ke Paris. Bagi Elaina, kepergian mereka sangat kebetulan dalam waktu yang bersamaan. Dia merasa akan terjadi sesuatu, akan tetapi dia tidak bisa menebaknya.


Elaina sudah lupa akan kejadian dua malam yang lalu. Dia bangun dalam keadaan normal seperti tidak pernah terjadi apa pun di malam itu.


Elaina ingin ke ruang kerja David. Tapi, dia sendiri tidak yakin apa David berada di sana atau tidak. Ingin bertanya pada pak Griffin, dia tidak bisa menemukan pak Griffin di mana pun. Semuanya terasa sudah dikendalikan. David yang menatap Elaina dari kamera cctv ruang kerja merasa kesal pada dirinya sendiri.


"Bersabarlah sayang! Tinggal satu hari lagi," ucap David pelan dari balik layar kamera cctv.


"Hei, Brayan! Bagaimana?" tanya David setelah selesai menatap Elaina.


"Mereka perlahan menghilang. Menurutku, mereka hampir menyelesaikan semua mansion di sekitar sini untuk mencari Elaina," jawab Brayan.


"Aku harap mereka dapat menyelesaikannya segera. Setelah ini, apa lagi yang harus dilakukan?" tanya David.


"Tentu saja melatih Elaina," jawab Brayan sambil memainkan game online di ponselnya.


"Harus secepat itu?" tanya David singkat.


"Lebih cepat lebih baik. Setelah selesai, kalian bisa memberi kami keponakan," jawab Brayan sambil terkekeh. "Para gadis B sudah tidak sabar menjadi tante," Brayan segera menimpali ucapannya sendiri.


"Argh! Ucapan mu membuat aku kalah," gerutu Brayan sambil meletakkan ponsel di atas meja dengan kasar.


David tersenyum licik saat menatap Brayan.


"Kau tahu! Kau sangat hebat dalam mendekatkan diri pada masalah," ucap Brayan sambil membuka minuman kaleng.


"Maksudmu?" tanya David.


"Dua musuh datang dalam satu waktu. Seharusnya kau diberi pengarahan untuk itu," jawab Brayan.


"Tidak bisa kubayangkan jika mereka berkerjasama," Brayan menimpali ucapannya.


Ucapan Brayan benar adanya. Klan Back Meadow dan si tua Arnold sama-sama memiliki tujuan yang sama yaitu menyakiti Elaina. Tidak menutup kemungkinan jika mereka bisa bertemu dan saling bekerjasama.


* * *


Keesokan hari, Elaina sudah tidak begitu gelisah sepeti dua malam sebelumnya. Malam ini dia kembali berdiri di balkon. Gadis itu lupa total jika dia pernah berdiri di balkon kemudian diserang oleh sesuatu yang tidak terlihat.

__ADS_1


Tatapan mata Elaina kosong. Kesunyian yang dirasakannya jelas sangat jauh berbeda dengan suasana hatinya yang kini hampa. David berjalan mendekati Elaina perlahan. Dia tidak ingin membuat wanitanya terkejut yang berakhir dengan keterkejutan Elaina.


David melingkarkan tangan di pinggang Elaina. Dia membisikan sesuatu yang menurutnya sangat romantis.


"Maafkan aku sayang," bisik David.


Elaina yang mendapat serangan romantis yang tiba-tiba tidak bisa bereaksi lebih. Dia ingin menghindar akan tetapi tubuh David berhasil mengunci tubuhnya.


Elaina sangat terkejut saat tahu David kembali ke kamar mereka. Tiga hari dia mencari David. Dia sangat merindukan suaminya.


"Kesalahanmu banyak, Dave!" seru Elaina sambil menatap lurus ke depan.


"Dengan senang hati aku akan menebusnya,* jawab David.


"Bagaimana caramu agar dapat maaf dariku?" tanya Elaina.


"Aku tidak membutuhkan cara untuk mendapat maaf dari mu," balas David.


"Sombong! Hiks," ucapan Elaina berhasil membuat air matanya sendiri tumpah.


David memeluk erat tubuh istrinya yang sangat dia rindukan dari belakang. Tidak hanya Elaina. Air mata David tumpah karena dia bisa mendapat kembali cinta sejati. Mereka menangis dalam pelukan.


"Aku mencintaimu selamanya," bisik David setelah beberapa saat mereka saling menangis.


"Aku mencintaimu, Dave! Maaf, aku sempat meragukan mu," ucap Elaina.


"It's ok sayang. Aku tahu kau perlu waktu untuk mencerna semuanya," ucap David sambil membalikkan tubuh Elaina.


Kedua mata mereka saling bertabrakan. David membelai lembut pipi kanan Elaina dengan tangan kanannya. Setelah itu, dia mengecup pelan kening Elaina. Sebuah kecupan hangat namun dalam.


"Semua akan baik-baik saja," ucap David sambil memeluk tubuh Elaina.


Elaina menangis sejadi-jadinya malam itu. Dia melepaskan seluruh kerinduannya pada David.


Bersambung ...


Hai my lovely readers! Aku ada cerita yang seru banget loh! Yukss mampir!


__ADS_1


__ADS_2