
"Haah!" Elaina merebahkan tubuhnya ke kasur sambil mengeluh.
Sejujurnya dia sangat menikmati saat jalan-jalan bersama bibinya. Mungkin karena waktunya saja yang tidak tepat sehingga Elaina merasakan kelelahan yang teramat sangat.
Niat hanya ingin merebahkan diri melepas lelah. Alhasil, Elaina tertidur. David yang berada di dalam kamar mandi tidak mengetahui jika Elaina telah kembali. Dia pun tertidur di dalam bathtub karena kelelahan memikirkan cara menjelaskan pada Elaina.
Dua sejoli yang tertidur beda tempat terbuai dalam bunga tidur mereka masing-masing. Padahal waktu masih sore tadi. Sudah bukan tidur siang lagi. Hingga Munel, dengan terpaksa mengetuk pintu kamar sang kakak karena sudah saatnya makan malam.
Cukup lama Munel mengetuk pintu kamar. Tak seorang pun di antara Elaina dan David terbangun. Untung saja, pintu kamar tidak tertutup rapat, Munel dapat melihat ke dalam.
"Akak! Munel masuk ya!" seru Munel sebelum memasuki kamar Elaina.
Masih tidak ada jawaban. Suasana kamar tampak gelap. Munel menepuk tangan. Dia ingat kamar kakaknya sedikit modern daripada kamarnya. Dengan sekali tepukan, lampu kamar menyala.
Munel dapat melihat, seorang gadis sedang tertidur pulas di atas kasur tanpa mengganti pakaian. Jendela kamar juga terbuka. Munel segera berlari pelan ke arah jendela dan menutupnya. Angin malam kurang baik bagi kesehatan.
Setelah menutup jendela, Munel berjalan mendekati sang kakak yang masih pulas. Munel mengguncang pelan tubuh kakaknya agar terbangun.
"Akak! Akak!" panggil Munel.
Si pemilik tubuh masih enggan untuk merespon. Munel berusaha untuk membangunkan kakaknya. Dia kasihan jika kakaknya belum makan malam. Seketika dia melihat ke sekeliling kamar. Suasana kamar sangat sunyi. Berbeda dari biasanya. Munel mencari sosok kakak iparnya yang tidak kelihatan dari tadi pagi.
Biasanya kakak iparnya itu akan sulit berjauhan dari kakaknya. Tapi kini, bayangannya saja tidak terlihat. Munel tak ingin ambil pusing. Dia mencoba untuk membangunkan sang kakak.
"Akak! Akak! Ayo, bangun! Apa kau tidak lapar?" kali ini Munel berkata sedikit kencang sambil mengguncang tubuh sang kakak.
"Kak! Kakak!" teriak Munel.
Elaina langsung bangun terduduk saat mendengar seseorang yang berteriak memanggil namanya. Si tersangka langsung terkekeh saat melihat si korban bangun terduduk.
"Akhirnya, bangun juga," ucap Munel.
"Ish, Munel!" kesal Elaina.
"Habisnya kakak dari tadi tidak mau bangun. Munel hampir menyerah untuk membangunkan kakak," jelas Munel.
Elaina berusaha menyesuaikan pandangan mata. Dia meregangkan otot-ototnya yang kaku.
"Jam berapa sekarang? tanya Elaina sambil menguap.
"Jam tujuh," jawab Munel santai.
"Hah! Pagi atau malam?" tanya Elaina.
"Maunya kakak gimana?" Munel balik bertanya.
__ADS_1
"Ih, Munel!" kesal Elaina sambil mencubit pipi kanan gadis itu.
"Malam akak," jawab Munel manja.
"Pantesan kakak lapar," jawab Elaina sambil terkekeh.
"Udah ah, Munel turun duluan ya!" seru Munel sambil beranjak turun dari kasur.
"Tunggu, Munel!" perintah Elaina.
"Ada apa lagi kak?" tanah Munel sambil menghentikan langkah kakinya.
"Apa kau melihat kakak iparmu?" tanya Elaina penasaran.
"Ih, baru aja sehari ngga ketemuan. Udah kangen aja kak. Susuwiwit," ucap Munel..
"Ish. Apa itu Susuwiwit?" tanya Elaina bingung.
"Bersiul kakak. Kan Munel tidak bisa bersiul. Jadilah Munel hanya mengucapkan bunyinya saja," jelas Munel.
"Udah ah, kak! Munel lapar. Munel duluan ya!" bujuk Munel.
"Ih, Munel tunggu sebentar! Kamu tunggu kakak dulu di sini! Kakak mau cuci muka sama ganti baju," perintah Elaina.
"Yakin kak cuma cuci muka sama ganti baju?" tanya Munel meyakinkan Elaina.
"Tidak pakai lama ya kak! Munel masih trauma dengan kata sebentar nya kakak?" teriak Munel.
Baru saja Munel hendak merebahkan tubuh di atas kasur. Tiba-tiba dia mendengar suara teriakan dari arah kamar mandi. Munel segera beranjak dan berlari menuju kamar mandi. Ya ampun! Ini sih namanya karma dibayar tunai. Baru mau rebahan sudah dikejutkan dengan suara teriakan kak Elaina. Munel bermonolog dalam hati.
"Ada apa kak?" tanya Munel.
"Aaa," kini giliran Munel yang berteriak.
Bukannya berlari keluar, Munel justru menutup mata dengan lima tangannya renggang.
"Ih, Munel! Jangan kesempatan dalam kesempitan!" teriak Elaina.
"Kapan lagi melihat objek nyata kak!" seru Munel sambil berjalan mundur dan menutup pintu kamar mandi.
"Dave! Mengapa kau tidur di sini?" tanya Elaina bingung.
"Aku tadi bermaksud hanya ingin berendam saja. Justru ketiduran," jawab David.
Pria itu berusaha menyesuaikan pandangan matanya karena baru saja bangun dari tidur dengan terkejut.
__ADS_1
"Hmm. Untung Munel hanya melihat tubuh bagian atas mu saja. Coba kal..." ucap Elaina terpotong.
"Kalau?" tanya David.
"Ah, sudahlah! Cepat bersihkan tubuhmu! Kita harus bergegas turun ke bawah karena mereka semua sedang menunggu untuk makan malam," perintah Elaina.
"Oh, ok sayang," jawab David tanpa perlawanan.
Karena baru bangun tidur, David kurang bertenaga. Dia hanya bisa menuruti perintah Elaina tanpa membantah. Elaina segera membersihkan diri di bagian lain kamar mandi.
* * *
Usai makan malam bersama keluarga, Elaina dan David memutuskan untuk kembali ke kamar. Tentu saja kepergian mereka ke kamar membuat sedikit keriuhan di meja makan. Terutama Munel dan bibi Rachel.
"Bibi! Apa menurutmu aku akan segera mendapat keponakan?" tanya Munel setengah berbisik karena dua tokoh utama masih dalam setengah perjalanan menaiki anak tangga.
"La Tia," ucap Rachel.
"Hah! Bibi bicara apa?" tanya Munel bingung.
"Sayang, mulai saat ini jangan panggil aku bibi. Panggil aku La Tia atau Tia!" perintah Rachel.
"Oh, memang apa artinya bi?" tanya Munel.
"Ya ampun Munel! Bibi lagi, bibi lagi. Bukannya sudah ku katakan La ..." ucapan Rachel terpotong.
"La Tia," sambung Munel.
"Pintar," ucap Rachel. "Menurutku, tidak akan lama lagi," Rachel menimpali ucapannya sendiri.
"Semoga saja. Aku tidak sabar menjadi seorang La Tia," ujar Munel.
"Ah, kau lebih pintar dari kakakmu," ucap Rachel sambil terkekeh.
"La Tia! Jika aku jadi tante. Bukannya La Tia akan menjadi nenek," ucapan Munel berhasil membuat Rachel terdiam.
Kedua mata Rachel membulat saat mendengar kata nenek. Dia senang jika Elaina dan David bisa memiliki keturunan secepatnya. Tapi sebutan nenek, Rachel belum siap untuk itu.
Gadis ini ternyata jauh lebih pintar. Dia sangat pandai bermain kata-kata. ucap Rachel dalam hati.
* * *
"Sayang, ada yang ingin aku katakan padamu," ucap David sambil memeluk Elaina dari belakang.
Saat ini mereka sedang berada di balkon kamar mereka. Elaina sangat senang menatap langit malam yang cerah ditambah hamparan bintang-bintang. Dia selalu melakukan kegiatan itu sebelum tidur. Rasanya lebih nyaman. Kecuali, hujan.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, David menghampiri Elaina. Bagaimana pun cepat atau lambat Elaina harus mengetahui rahasia hidup keduanya.
"Apa itu, Dave?" tanya Elaina sambil mengelus pelan tangan David yang melingkar di pinggangnya.