
"Auw! Kau menyakitiku sayang," ucap David sambil bangkit dari lantai.
"Siapa suruh kau begitu!" tukas Elaina.
Elaina masih berada dalam posisi telungkup di atas tempat tidur. Dia menyembunyikan wajahnya di sana. Berharap David tidak melakukan apapun. Justru dengan posisi seperti itu membuat David dengan mudahnya kembali menghimpit tubuh Elaina.
"David!" teriak Elaina.
David tidak memperdulikan teriakan Elaina. Dia dengan senang hati menciumi leher kekasihnya di bagian belakang. Menyesap aroma stoberi di leher Elaina dalam-dalam.
"Biarkan seperti ini sebentar, please!" pinta David.
"Tapi, kau berat!" keluh Elaina.
"Aku lupa," balas David santai.
David memperbaiki posisi tubuhnya. Dia kini berdiri di samping tempat tidur. David membalik tubuh Elaina. Tubuh Elaina kini terlentang di atas tempat tidur, dan sedikit menggoda David.
Dia mencium lembut kening Elaina. Menyelimuti Elaina, dan memperbaiki letak batal guling.
"Istirahatlah!" perintah David sambil mengecup lagi kening Elaina.
Dia mengusap pelan kening Elaina berulang kali. Anehnya, sentuhan lembut jari David membuat Elaina rileks dan perlahan memejamkan kedua matanya.
David segera meninggalkan kamar. Elaina sudah tertidur sangat pulas. Dia bisa mendengar dari suara napasnya yang mulai teratur.
David melangkahkan kaki ke kamar sebelah. Dia duduk di sebuah kursi kayu. David mengeluarkan ponsel jadul yang berisi pesan tentang eksekusinya Selasa nanti.
Dia mengeluarkan tablet dari laci meja kerja. Kamar hotel ini selalu menjadi kamar tetap David setiap kali berkunjung. Dia berniat untuk membeli hotel ini. Tapi sayang, sahabatnya berhasil merayunya untuk tidak membelinya. Karena hotel ini adalah usaha rintisan dari hasil kerja kerasnya sendiri. Alhasil, David mendapat fasilitas gratis dan sebuah kamar tetap seumur hidup.
Sebelum mengeksekusi target. David selalu mencari tahu informasi mengenai targetnya. David mengetik sesuatu di layar tab. Hanya beberapa detik saja, informasi beserta wajah si target sudah di dapatnya.
"A," gumam David.
"Sangat pantas jika aku memberimu sedikit tato lingkaran di kaki kirimu," gumam David.
David beranjak, dia berjalan menuju rak buku. Rak buku dengan berbagai jenis buku yang dia sendiri tidak tahu apa isinya. Ada sebuah buku ensiklopedia berwarna merah marun di sisi kanan rak buku. Tepatnya pada baris ketiga. David menyingkirkan buku itu dan menggesernya sedikit.
Dia menekan tombol yang berada di bawah buku. Tembok yang terlihat seperti tembok, ternyata sebuah pintu. Pintu tembok itu bergerak mundur sedikit kemudian menggeser ke kanan secara otomatis.
Pintu itu mengarah ke sebuah ruangan. Ruangan yang tadinya gelap, kini terang karena cahaya dari lampu yang menyala otomatis. Berbagai jenis alat pem Bu Nuh tertata rapi di sana. David masuk ke dalam. Dia mulai memilih dan mempersiapkan senjata yang akan dia gunakan nanti.
Setelah berbenah dengan senjata, David keluar dan menutup kembali pintu rahasia tempat penyimpanan senjatanya. Namun, saat dia berbalik, David dikejutkan oleh seseorang dengan rambut acak-acakan. Dia terkejut dan berteriak. Spontan saja David meninju wajahnya.
"Aaa,"
Bugh ...
__ADS_1
"Auw!" teriak Elaina.
"Sayang! Itu kau?" tanya David.
Tubuh Elaina tidak kuat menahan serangan di wajahnya. Dia terhuyung dan jatuh terduduk. David yang menyadari jika seseorang yang tadi di tinjunya adalah Elaina, segera membantunya berdiri.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya David sambil mengangkat tubuh Elaina.
"Pelan-pelan. Ini sakit sekali," rengek Elaina.
Tentu saja sakit. Elaina mendapat bogem mentah langsung dari David. Untung saja dia tidak pingsan.
"Sorry, sayang. Aku tidak tahu jika kau berada di belakangku," sesal David.
Biasanya pendengarannya sangat tajam. Kali ini dia tidak tahu jika ada seseorang yang akan masuk ke ruang kerjanya. Mungkin dia yang terlalu berkonsentrasi saat memilih senjata yang akan di gunakan. Sehingga tidak mengetahui Elaina masuk.
"Masa kau tidak tahu? Aku tadi sudah memanggilmu berkali-kali!" gerutu Elaina.
David menggendong Elaina kembali ke kamarnya. Setelah berada di kamar, David mendudukkan Elaina di atas sofa. Dia ingin mengecek wajah Elaina yang tadi tanpa sengaja di tinjunya.
"Sayang, singkirkan tanganmu! Biarkan aku melihatnya!" David mengurai tangan Elaina yang dari tadi menutupi wajahnya.
"Tidak! Nanti tambah sakit," rengek Elaina.
David cukup tercengang di buat Elaina. Dia meninju wajah Elaina sangat keras tadi. Seorang pria saja jika terkena tinjunya pasti meringis kesakitan. Tapi berbanding terbalik dengan Elaina. Gadis itu masih bersikap tenang. Meskipun, masih menutupi wajahnya.
"Apa kau tidak sakit?" tanya David khawatir.
Elaina masih bisa melayangkan sebuah pukulan ke kepala David. Pria itu sedikit meringis saat Elaina memukul keningnya.
"Sakit?" tanya Elaina.
"Tentu saja, sayang," ringis David.
"Nah, sudah tahu sakit kenapa masih bertanya padaku. Sungguh pertanyaan yang bodoh," kesal Elaina.
"Sorry. Ayo lepaskan tanganmu! Biar aku lihat," bujuk David.
Elaina melepas kedua tangannya dengan perlahan. Dia masih menundukkan kepalanya.
David mengangkat wajah Elaina perlahan.
"Ah!"
"Kenapa?" tanya Elaina penasaran.
"Tidak. Tidak ada apa-apa sayang," David sengaja membohongi Elaina.
__ADS_1
"Kau pasti berbohong. Jelas-jelas tadi kau terkejut melihat wajahku," cecar Elaina.
Elaina hendak beranjak dari sofa. Dia ingin melihat ke cermin bagaimana bentuk wajahnya saat ini. David tahu kemana arah tujuan Elaina. Dia segera menghentikan gadis itu.
"Kenapa aku tidak boleh melihat cermin?" tanya Elaina.
"Tidak perlu. Aku bisa memperbaikinya," tutur David.
"Memperbaiki?" tanya Elaina.
"Iya, aku bisa memperbaikinya," timpal David.
"Apanya yang harus diperbaiki?" desak Elaina.
David segera sadar dengan ucapannya yang hampir saja keceplosan. Elaina adalah seorang gadis. Tentu saja, kebanyakan dari gadis-gadis itu pasti sangat memperhatikan diri mereka, terutama wajah. David tidak bisa membayangkan jika Elaina melihat hidungnya bengkok ke kanan akibat tinju darinya.
"Kau diam saja sayang."
David mulai mengambil ancang-ancang. Dia akan mencoba untuk memperbaiki hidung Elaina. Kedua tangannya sudah berada di antara hidung Elaina.
"Tahan napasmu. Aku akan mengembalikan hidungmu di hitungan ketiga," tutur David.
"Apa? Hidungku! Hidungku patah ya?" tanya Elaina.
"Sayang!" ucap David sambil membulatkan kedua matanya.
"Ok. Di hitungan ketiga," Elaina mengatur napas.
"Ok. Siap?" tanya David.
Elaina hanya mengangguk.
"Satu!" seru David.
Kletak
Elaina meringis kesakitan tanpa bersuara. Dia menahan nyeri di hidung dengan menahan napasnya dalam-dalam.
"Sayang. Are you okay?" tanya David.
Dia sangat khawatir saat melihat reaksi Elaina yang diam dan menahan hidungnya. David dapat melihatnya dengan sekilas, wajah putih Elaina berganti merah.
Setelah mengatur napasnya dengan baik. Elaina kembali menegakkan tubuhnya. Dia menghujani David dengan beberapa pukulan di lengan kanan pria itu.
"Kau bilang hitungan yang ketiga? Dua dan tiga nya mana?" Elaina memukul David berkali-kali hingga dia berhenti saat merasa puas.
💕💕💕
__ADS_1
Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended banget loh! Penasaran kan... Yuks mampir 😘😘😘