
Keesokan paginya, David bangun lebih awal. Sinar matahari pagi yang menembus kaca jendela langsung mengenai matanya hingga membuatnya terganggu.
Dia meregangkan ototnya dengan perlahan. Sensasi nyeri menjalar di tubuh bagian belakang dan kepalanya. Dia berusaha mengingat kejadian tadi malam setelah meninggalkan hall hotel tempat pesta pernikahannya berlangsung.
"Elaina," ucap David.
Dia teringat dengan istrinya. David langsung terduduk, menoleh ke samping tempat tidur. Saat dia melihat Elaina yang masih terlelap di sampingnya membuat David merasa lega.
Namun, dia merasa aneh dengan pakaian tidur istrinya itu. Elaina mengenakan jubah mandi saat tidur. David berusaha keras memikirkan kejadian tadi malam. Sayangnya dia tidak bisa mengingatnya sama sekali.
David berusaha bangkit dari tempat tidur. Saat ini, dia ingin ke kamar mandi. Dia menurunkan kedua kakinya ke bawah. Kepalanya terasa berat, kadang terasa berdenyut.
David tidak serta merta langsung bangkit. Dia duduk di pinggir tempat tidur. David mengatur napas agar bisa berdiri dengan tegap. Setelah merasa lebih baik, dia berdiri perlahan dan mulai melangkahkan kaki menuju kamar mandi.
David meringis kesakitan saat berjalan. Tubuh bagian belakangnya terasa remuk redam. Tiba di kamar mandi, David langsung melihat ke arah cermin.
"Pantas saja, kepalaku sakit. Ini penyebabnya," ucap David di depan cermin.
Ujung kening kanannya terlihat sedikit memerah. Tidak terlalu kentara saat dilihat dari jauh. Tapi, jiak diperhatikan dari dekat terlihat jejak merah di sana.
David membalikkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri agar dapat melihat bagian belakang tubuhnya. Tidak ada jejak apapun di sana. Tapi, tubuhnya terasa sangat remuk.
Tak ingin berpikir keras, David memutuskan untuk bertanya pada Elaina nanti setelah dia bangun. Sakit seperti ini dapat dia tahan daripada sakit saat kematiannya.
David bergidik ngeri saat mengingat kejadian itu. Dia segera beralih ke bath tub. Membuka keran air. Mengisi air ke dalam bath tub dengan volume yang sesuai. Sambil menunggu air di dalam bath tub terisi. David mengambil pasta dan sikat gigi.
Dari dulu dia kurang suka menggunakan obat kumur. Rasanya masih kurang bersih. Sungguh pria modern yang berjiwa lokal. Selesai membersihkan gigi, David mencuci muka dengan sabun muka. Kini dia merasa sedikit lebih segar setelah mencuci muka dan menggosok gigi.
Air bathtub sudah terisi sesuai dengan volume yang diinginkannya. David menuangkan beberapa tetes sabun cair ke dalam bath tub hingga berbusa.
Dia masuk ke dalam bathtub dan mulai merendam dirinya. David menikmati waktu saat berendam. Dia berusaha mengingat kembali kejadian tadi malam.
Dia merilekskan tubuh sambil menutup matanya. Baru saja dia merasa nyaman, pintu kamar mandi di gedor cukup keras hingga dia tersentak.
David segera berdiri dan berjalan menuju pintu. Wajah Elaina terlihat menahan sakit. Sebelah tangannya memegang perut dan sebelah lagi di pinggang. David terkejut melihat ekspresi Elaina seperti itu.
"Sayang, ada apa denganmu?" tanya David khawatir.
Elaina yang dari tadi menahan kram di perutnya langsung terlonjak saat melihat junior David yang tertutup bisa sabun. Bahkan busa balonnya ada yang meletup.
__ADS_1
"Ah, Dave! Mengapa kau tidak memakai celana?" tanya Elaina bingung.
"Sayang, aku sedang berendam. Masa harus mengenakan celana," jawab David.
"Oh. Ah, perutku!" teriak Elaina.
Gadis itu teringat alasan dia menggedor pintu kamar mandi. Saat bangun tidur tadi, perut Elaina tiba-tiba kram. Dia sudah hapal akan sakit seperti ini. Elaina berusaha mengingat tanggal dan menghitungnya.
Waktunya pas. Tamu bulanannya saat ini sedang datang berkunjung. Elaina segera bangkit hendak melihat seprai. Beruntung masih belum ramai yang datang berkunjung. Seprai putihnya aman dari tamu Elaina.
Akan sangat memalukan jika David melihat tamu bulanannya meninggalkan jejak di sana. Karena itulah dia akhirnya harus menggedor pintu kamar mandi dan mendapati David membuka pintu dengan tubuh polosnya plus busa sabun.
"Sayang, perutmu kenapa?" tanya David khawatir.
"Cepatlah kau bersihkan diri! Aku sangat membutuhkan bantuan mu," perintah Elaina pada David.
David hendak protes. Tapi, telunjuk Elaina sudah berada di bibirnya. Dengan terpaksa, David mengikuti kemauan Elaina.
Gadis itu segera masuk ke kamar mandi dan duduk di atas kloset yang tertutup.
"Sayang, kau yakin duduk di situ?" tanya David.
Elaina tak kuasa menjawab David. Dia hanya mengangguk sambil membungkuk memegang perutnya yang sakit.
David melangkahkan kaki menuju shower. Dia berdiri di bawah shower dan mulai menghujani tubuh ya dengan air dari shower. Elaina yang dari tadi meringis kesakitan, spontan berhenti saat melihat David mandi.
Dalam penglihatan Elaina, gerakan David sangat sensual. Ada sensasi aneh yang dia rasakan saat melihat David. Sensasi nyaman bercampur dengan sakit perut yang Elaina rasakan menciptakan sebuah sensasi lain yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.
Anehnya, karena sensasi nyaman itu, membaut tamu bulanan Elaina semakin cepat datang dan berdesakan keluar. Kram di perutnya juga sedikit berkurang.
David tak ingin berlama-lama membersihkan diri. Elaina saat ini sangat membutuhkannya. Meskipun otak nya saat ini belum bekerja sempurna dan sinkron dengan tubuhnya, satu hal yang harus segera dia lakukan adalah memberi pertolongan pada Elaina.
Dia segera mengeringkan tubuhnya dan melilitkan handuk kering di pinggangnya. David segera menghampiri Elaina dan berjongkok.
"Perutmu sakit?" tanya David khawatir.
"Iya," jawab Elaina.
"Aku akan menggendong mu kembali ke kasur," ucap David.
__ADS_1
David hendak mengangkat tubuh istrinya yang langsung di tahan oleh Elaina.
"Tidak. Jangan!" perintah Elaina.
"Mengapa? Di sini dingin sayang," ucap David lembut.
"Tamu bulanan ku datang," ucap Elaina.
David menekuk kening mendengar ucapan Elaina. Dia berpikir keras tentang tamu yang Elaina maksud. Jika ada tamu mengapa Elaina justru duduk di dalam kamar mandi.
David beranjak dan segera berlari keluar kamar mandi. Dia mengecek ke setiap sudut dan luar kamar. Akan tetapi, dia tidak menemukan tamu yang dimaksud oleh istrinya. David kembali ke kamar mandi dan berjongkok di dekat Elaina.
"Sayang, tidak ada seorang pun di sini. Di mana tamu yang kau maksud?" tanya David bingung.
Elaina sudah tahu jika suami tercintanya yang belum genap berumur satu hari salah menyangka. Elaina menahan napas dan menghembuskan pelan.
"Tamu yang aku maksud di sini," ucap Elaina sambil menunjuk ke arah bagian intinya.
David yang melihat arah jari telunjuk Elaina langsung tersenyum. Pria ini lagi-lagi salah mengerti. Dia menatap Elaina lembut.
"Sayang, apa kau yakin ingin melakukannya di sini?" tanah David.
"Tentu saja. Mau di mana lagi?" Elaina balik bertanya pada David.
"Baiklah, jika itu keinginanmu. Aku akan mewujudkannya," ucap David sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang dan melepaskan handuk yang melilit di pinggangnya..
Kedua mata Elaina membulat saat melihat junior David yang setengah bangun.
"Aaa," Elaina berteriak kencang.
Bersambung . . .
* * *
Advertisement
Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended banget loh. Yukss mampir!
...TANTE CEO I LOVE YOU...
__ADS_1
...(Momputt)...