
Brayan membuka pintu kamar. Di sana sudah ada Bricia dan Bree yang duduk di masing-masing sisi tempat tidur. Elaina berdiri di belakang David. Dia hanya bisa mengintip dibalik tubuh atletis suaminya.
Dari balik tubuh David, Elaina dapat melihat seorang pria yang sedang terbaring. Elaina sangat yakin getaran yang ada di tempat tidur disebabkan oleh tubuh pria itu yang menggigil sangat kuat.
"Di mana putriku?" Suara pria itu terdengar serak dan berat. Dapat Elaina rasakan bahwa dia berusaha sekuat tenaga untuk berbicara.
"Tenanglah paman! Dia sudah tiba." Bree berusaha menenangkan pamannya.
"Di mana?" Bishop terdengar tidak sabar untuk melihat putrinya.
"Paman kau harus tenang. Jangan terburu-buru, please! Kau bisa menakuti Elaina." Giliran Bricia yang mencoba untuk menenangkan pamannya.
Pria paruh baya itu akhirnya berusaha tenang. Meskipun dia sangat merindukan putrinya, namun dia harus tetap tenang. Sedikit saja salah gerakan, Black Meadow akan dengan mudah menemukannya.
"Elaina .. Sayang ..." Brayan dan David memanggil Elaina bersamaan.
David menatap Brayan. Dia meminta untuk Brayan tidak berkata melalui tatapan matanya. Brayan yang menangkap sinyal dari tatapan mata David langsung terdiam.
"Waktunya bertemu ayahmu." David menarik lembut tangan kanan Elaina. Menariknya untuk melangkah ke depan agar dia dapat melihat dengan jelas kondisi ayah kandungnya.
Elaina menatap khawatir pada David. Ada sedikit keraguan dalam tatapan mata Elaina. Namun, David berhasil menenangkannya.
Akhirnya, Elaina memberanikan diri melangkah ke depan. Elaina terkejut saat menangkap sosok ayah kandungnya yang terbaring di atas tempat tidur. Wajahnya tampan meski sudah berumur sekitar lima puluh tahunan. Hanya saja tubuhnya sangat kurus.
Ayahnya terlihat sangat tidak terurus. Melihat tatapan sedih dari putrinya. Bishop berusaha untuk menjelaskan. Dia tahu waktunya tidak banyak. Dia harus menjelaskan semuanya. Bishop harus memanfaatkan sisa-sisa waktunya.
"Kau cantik seperti ibumu." Dengan sekali lambaian tangannya, mantra Elaina runtuh. Beberapa pasang mata yang berada di sana langsung terkejut. Mereka khawatir jika Elaina akan tertangkap. Bishop mengangkat tangan kirinya ke udara. Memberi kode pada mereka agar tetap tenang.
__ADS_1
"Mereka tidak akan menemukannya. Apa kau ingin melihat ke cermin?" Bishop berkata lembut pada putri kesayangannya. Elaina bergeming di tempatnya. Tubuhnya terasa kaku setelah ayahnya melepas mantra.
"Lihatlah!" Bishop menunjuk ke arah meja rias yang terdapat cermin yang cukup besar.
Pandangan mata Elaina mengikuti arah telunjuk sangat ayah. Wanita itu terkejut saat melihat wajahnya yang sedikit berbeda. Rambut hitamnya berganti menjadi cokelat. Mata hitamnya berganti menjadi warna hazel. Warna kulit Elaina lebih putih dari sebelumnya.
David tak kalah terkejutnya. Dia tidak menyangka sosok asli Elaina sangat cantik. Mungkin karena warna rambut dan matanya yang berubah. Selain itu, warna kulitnya lebih putih.
"Paman." Brayan menyela pamannya yang dengan sengaja melunturkan mantra Elaina.
"Selama ada aku, Elaina pasti akan aman. Black Meadow tidak akan mudah menemukannya ..." Ucapan Bishop terhenti. Kali ini dia menggigil lebih hebat dari sebelumnya. Seketika, rupa Elaina kembali seperti semula. Mantra kembali bekerja pada wanita itu.
"A-ayah." Elaina terkejut melihat tubuh ayahnya yang menggigil hebat dan roboh diatas tempat tidur. Dia segera mendekati sang ayah.
Bree memberi ruang pada Elaina agar bisa berada di samping sang ayah. "Ada apa denganmu?" Wajah Elaina memucat saat melihat ayahnya menahan sakit yang luar biasa.
Brigita memasukkan aura hitam itu ke dalam sebuah wadah seperti mangkok. Dia memutar tangannya di atas mangkok. Aura hitam berputar-putar. Kemudian, menghilang dalam hitungan detik.
"Aku rasa waktuku sudah tidak lama lagi." Bishop berkata sambil membenarkan posisi tubuhnya.
"Maksud ayah?" Elaina bingung mendengar ucapan ayahnya.
"Aku tidak akan menyimpan rahasia kepada kalian. Duduklah! Dengarkan ucapanku!" Bishop menegakkan tubuhnya.
"Saat aku dipisahkan secara terpaksa dengan belahan jiwaku. Aku melihat klan Black Meadow menyerang rumah kalian. Aku berusaha sekuat tenaga melepaskan diri. Kalian pasti sudah tahu aku memiliki bakat yang luar biasa. Padahal aku manusia murni. Dulu aku tidak mengerti mengapa aku bisa terlahir dengan memiliki bakat yang sangat luar biasa. Kini, aku tahu jawabannya." Bishop menatap wajah anak, menantu, dan para keponakannya satu persatu.
Tersirat perasaan sedih dan tidak tega saat melihat wajah mereka. Bishop yakin, sesuatu yang akan diungkapkan olehnya pasti akan membuat mereka terkejut.
__ADS_1
"Bakat yang aku miliki kan mengembalikan semuanya ke titik awal. Tidak akan ada lagi manusia atau keturunan yang memiliki bakat murni. Begitu pula klan Black Meadow. Semua akan kembali ke titik awal seperti kodratnya manusia diciptakan oleh Tuhan." Bishop menjelaskan sambil menatap langit-langit.
"Maksud paman apa?" Brayan tidak tahan dengan rasa penasaran yang sangat menggebu di hatinya.
"Semua akan kembali seperti semula, Brayan." Bishop menoleh ke arah pemuda tampan itu. "Meskipun kau memiliki bakat murni, kau akan menjadi manusia biasa." Bishop menjawab pertanyaan Brayan yang masih belum sempat dilontarkan olehnya.
"Bagaimana dengan reinkarnasi?" David mengajukan pertanyaan yang mengganggu hatinya.
"Kau bisa tetap ada dengan hilang ingatan atau benar-benar tewas." Bishop tidak tega mengatakan yang sebenarnya. Kejujurannya itu pasti akan melukai perasaan putrinya.
"Apa kami semua akan hilang ingatan?" Pertanyaan Bree mewakili Elaina yang ingin bertanya namun tak bisa berkata-kata karena terlalu terkejut mendengar penuturan ayahnya.
"Ya. Kalian semua akan hilang ingatan. Kalian tidak akan saling mengenal. Kecuali, jika kalian memiliki ikatan saudara kandung atau sepupu."
Tess ...
Air mata Elaina jatuh saat mendengar kenyataan dari ayahnya. Bibirnya bergetar. Kedua tangannya meremas celana di lutut. David segera mendekati Elaina. Dia berjongkok di depan Elaina dan memegang kedua tangan istrinya yang bergetar.
"Hei, jangan menangis please!" David berusaha menenangkan Elaina. Padahal dia sendiri sangat membutuhkan seseorang yang dapat menenangkannya. Perasaannya kacau dan hancur. Selama hidupnya dia tidak pernah berhubungan dengan seorang wanita.
Setelah sekian lama, akhirnya David menemukan belahan jiwanya. Akan tetapi, mendengar kenyataan yang sangat pahit membuat perasaannya tidak mampu untuk menahan. Namun, David harus tetap kuat dan tegar. Dia tidak ingin membuat Elaina bertambah khawatir.
"Jika semudah itu, mengapa klan Black Meadow mencari Elaina?" Brigita bertanya dengan datar.
"Jika mereka mendapati Elaina. Mereka akan abadi. Bakat-bakat baru akan terus muncul tanpa bisa dituntun. Kalian juga akan tetap memiliki kekuatan. Tidak akan ada yang berubah di antara kalian." Bishop menjelaskan dengan santai.
Elaina merasa sedikit lega mendengar penjelasan ayahnya. Ternyata masih ada cara lain agar mereka dapat terus bersama. Akan tetapi, raut wajah David menunjukkan tidak suka. Pria tampan itu tahu maksud tersirat dari balik ucapan ayah mertuanya tanpa harus dijelaskan.
__ADS_1
"Apa yang akan mereka lakukan pada Elaina untuk mendapat keabadian?" Pertanyaan Zack berhasil membuat suasana kamar menjadi hening.