
Tak ingin menyia-nyiakan waktu, David segera meraih tangan Elaina. Menuntunnya berjalan bersama menuju ke garasi di lantai bawah. Sesampainya di garasi, David meraih kunci mobil. Dia sendiri yang berniat mengemudikan mobil tanpa supir.
"Ke mana kita akan menemuinya?" tanya Elaina setelah mengenakan sabuk pengaman.
"Ke sebuah hotel di pusat kota. Kau bisa memejamkan matamu sayang. Waktu yang cukup untuk melanjutkan tidurmu yang tadi terganggu." David menghidupkan mesin mobil dan mulai mengarahkan mobil ke luar pagar mansion.
"Bagaimana mungkin aku bisa melanjutkan tidur lagi!" Ucapan Elaina tidak senada dengan mulutnya yang terbuka lebar karena menguap.
David tersenyum melihat tingkah istrinya. Aku hitung sampai tiga. Kau pasti tertidur sayang. Satu, dua, tiga. David bermonolog di dalam hati.
Benar saja, Elaina kembali tertidur dalam hitungan ketiga. David tertawa tanpa bersuara. Wajar jika Elaina tertidur. David tahu jika dia masih mengantuk. David membiarkan Elaina memiliki waktunya.
Mobil yang dikendarai David memasuki halaman parkir hotel M. Detik terakhir saat David akan mematikan mesin mobil, Elaina terbangun.
"Kita sudah sampai, ya?" tanya Elaina sambil menatap keluar.
"Bagaimana tidurmu? Nyenyak?" tanya David sambil tersenyum.
Elaina mengangguk sambil meregangkan otot-ototnya yang kaku. Sesekali wanita itu menguap. "Lumayan." Elaina menimpali tindakannya dengan ucapan.
"Ayo!" David mengajak Elaina segera keluar dari mobil. Pria tampan itu juga membantu istrinya membuka sabuk pengaman.
David dan Elaina berjalan bergandengan. Setibanya di depan pintu hotel, Elaina takjub melihat kemewahan hotel tersebut. Padahal sebelumnya dia sudah pernah pergi ke hotel yang lebih mewah dari hotel M. Namun, wanita itu tetap saja takjub melihat kemewahan yang dihadirkan.
"Lantai berapa?" tanya Elaina tanpa melepas pandangannya ke setiap sudut hotel.
__ADS_1
"Tujuh," jawab David santai.
"What? Lantai tujuh!" Elaina menahan lengan David agar berhenti.
"Kenapa sayang?" David bingung melihat Elaina yang terkejut mendengar lantai tujuh.
"Dave! Aku kan baru bangun tidur. Bagaimana mungkin aku menaiki tangga hingga lantai tujuh," jelas Elaina.
Jika saja saat ini mereka tidak berada di tempat umum, David pasti sudah tertawa dan menghujani Elaina dengan cubitan lembut. Dia hanya bisa menahan dengan menundukkan kepala.
"Kau kenapa Dave?" Elaina bingung melihat Dave yang terlihat menahan sesuatu.
David tidak bisa menjawab pertanyaan Elaina. Dia hanya bisa mengangkat tangan kanannya di hadapan Elaina agar memberinya sedikit waktu. David bingung harus bersyukur atau kesal akan kepolosan istrinya itu. Beberapa menit kemudian, David kembali berdiri tegap. Dia sudah bisa menguasai diri.
"Ya, ada apa Dave?" Elaina masih bertanya dengan nada polos.
"Sekarang kita berada di hotel." David tidak bisa langsung berbicara dengan kalimat panjang. Dia masih berusaha untuk mengendalikan diri.
"Tentu saja di hotel. Memangnya di mansion." Elaina sedikit kesal dengan ucapan suaminya.
"Mall yang hanya memiliki tiga lantai saja memiliki lift, apalagi hotel." David berkata sambil tersenyum. Dia kembali menghitung dalam hati. Kapan istrinya itu akan sadar jika di hotel pasti ada lift.
Lily menatap ke sekeliling hotel. Tidak begitu jauh dari meja resepsionis, dia dapat melihat dengan jelas ada dua buah lemari besi berwarna abu-abu yang mengeluarkan dan memasukkan penumpang.
"Ah, kenapa kau tidak bilang dari tadi sih!" Bukannya malu, Elaina justru mengomeli suami tampannya.
__ADS_1
"Ini hal dasar. Aku yakin kau pasti sudah tahu." David tidak ingin membuat Elaina semakin bertambah marah.
Masalah kali ini, sangat jelas dia yang salah. Bisa-bisanya dia lupa jika hotel pasti memiliki lift untuk memudahkan tamu-tamu hotel menuju ruangan mereka yang berada di lantai yang tinggi.
Elaina langsung menarik tangan David dengan kasar menuju lift. Tubuh David sedikit limbung. Hampir saja dia terjatuh. David dan Elaina sedang menunggu lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai tujuh.
Beberapa menit kemudian, pintu lift terbuka. Dua orang keluar dari sana. Giliran David dan Elaina memasuki lift.
Beberapa menit kemudian, David dan Elaina sudah berdiri di depan pintu kamar lima ratus dua belas. Elaina terlihat sangat gugup. David meremas erat genggaman tangan Elaina. Memberi istrinya dukungan melalui genggaman tangannya.
Elaina mengatur napas. Setelah dia merasa sedikit tenang. Dia menarik lengan David agar mengetuk pintu terlebih dahulu. "Ok, baiklah. Aku akan mengetuknya."
Dalam hitungan menit, Brayan keluar. Dia takjub melihat seseorang yang mau datang ke tempatnya.
"Suka rela atau paksaan?" Brayan berusaha menggoda David.
"Tentu saja sukarela," David segera menjawab pertanyaan Brayan.
"Di mana paman Bishop?" David menimpali pertanyaannya.
"Dia bersama kedua kakak kembar ku. Ayolah, kita harus segera masuk!" David mengajak Elaina dan David segera masuk ke dalam kamar hotel.
"Tenanglah sayang! Aku akan selalu mendukungmu." Bisik David saat mereka berjalan masuk ke dalam kamar hotel bersama.
Elaina mengangguk. Dia mengikuti setiap langkah kaki David. Pertemuan Elaina dan ayah kandungnya adalah pertemuan pertama kali. Wajar saja jika wanita itu gugup. David merasakan genggaman tangan Elaina yang cukup kuat dan dingin.
__ADS_1