336 Hours

336 Hours
Bab 35. Besok atau Minggu Depan


__ADS_3

"Sayang, bukannya sudah ku kata...," ucap David terpotong.


Elaina mengangkat jari telunjuknya dan menggoyangkan ke kiri dan ke kanan di hadapan David. Pria atletis itu segera menghentikan ucapannya.


Suasana kembali tenang. Mereka menunggu Elaina hingga berhenti tersedak. Setelah dirinya tenang. Elaina berdehem untuk mengetes suaranya.


"Besok?" tanya Elaina.


"Ya ampun, kak. Suaramu kenapa seperti itu?" tanya Audrey.


Lengkap sudah penampilan Elaina saat ini. Mata yang masih bengkak, wajah sembab, dan suaranya kini serak. Hampir mirip seekor hewan berwarna hijau yang berjalan dengan cara melompat.


"Kakak sepupumu yang menyebabkan ini semua sayang," jawab Elaina.


"Kenapa aku?" tanya David tidak terima disalahkan.


"Tentu saja kakak. Kakak membiarkan lebah madu masuk ke dalam kamar sehingga kak Elaina alergi," ucap Audrey membela Elaina.


David hanya diam. Dia tidak ingin melanjutkan serial drama tadi pagi.


"Kita lanjutkan pembicaraan rencana pernikahan saja," ujar David.


"Dave!" seru Elaina.


"Sayang, kau sudah setuju untuk segera menikah. Jadi, untuk apa menundanya?" tanya David.


"Jeff sayang, maafkan aku," ucap Rachel yang dari tadi hanya diam menyimak.


"Maaf kenapa?" tanya Jeff bingung.


"Dulu aku menganggap mu pria sombong yang sangat bodoh. Ternyata, keponakanmu lebih parah darimu," ucap Rachel lembut sambil menggenggam sebelah tangan Jeff.


Jeff yang mendengar kejujuran istrinya langsung menekuk keningnya.


"Memangnya aku sebodoh apa sayang?" tanya Jeff pelan.


"Ah, apa kau lupa saat pertama kali kita berhu ..." ucapan Rachel terhenti karena mulutnya langsung di tutup rapat dengan tangan Jeff.


"Ok. Aku sudah ingat. Jangan dilanjutkan!" pinta Jeff sambil menganggukkan kepala agar Rachel menurutinya untuk tidak melanjutkan ucapannya.


Rachel mengangguk pelan tanda mengerti. Jeff segera melepaskan tangan yang menutup mulut istri tercintanya.


"Berhubungan apa mom?" tanya Audrey tiba-tiba yang berhasil membuat Daddy nya terkejut.


"Kau salah dengar sayang. Sebaiknya kau kembali ke kamar jika sudah selesai sarapan," ucap Jeff pada putri kecilnya.


Putrinya memiliki otak yang jenius di bandingkan dengan anak-anak seusianya. Terkadang Jeff bingung akan kelebihan putrinya itu. Apa itu anugerah atau bukan? Bisa-bisanya Audrey menyambung kata yang masih belum selesai diucapkan istrinya.


Meski manja, Audrey selalu patuh pada perintah mom dan dad nya. Dia selalu menuruti ucapan mereka tanpa membantah.


"Ok. Aku akan kembali ke kamar. Tapi, aku tidak ingin ketinggalan berita apa pun," tuntut Audrey sambil melangkahkan kakinya kembali ke kamar.

__ADS_1


"Oh, my little baby girl (oh, bayi perempuanku)! Please, don't grow up fast (Tolonglah jangan cepat besar)!" ucap Rachel sedih.


"Mom!" seru Audrey tanpa membalikkan tubuhnya.


"Ehem, jadi kapan pastinya pernikahan kalian akan diselenggarakan?" tanya Jeff.


"Besok," jawab David.


"Minggu depan," jawab Elaina.


David dan Elaina segera menjawab pertanyaan dari paman Jeff mereka. David seketika menatap Elaina.


"Sayang, untuk apa menunda selama itu?" protes David.


"David! Apa kau tidak lihat wajah Elaina saat ini? Kau jangan hanya memikirkan hasrat mu saja!" ketus Rachel.


"I love you bibi," bibir Elaina berucap tanpa bersuara sambil tersenyum pada bibi Rachel di seberang meja


David menatap wajah Elaina. Wajahnya terlihat sembab dan matanya masih tampak bengkak. Tadi malam, David sempat mengompres wajah dan mata Elaina saat gadis itu tertidur lelap.


Untung saja dia mengompresnya. Jika tidak, pagi ini wajahnya pasti dua kali lebih parah dari sebelumnya.


"Sayang, boleh aku bertanya?" tanya David sambil menatap Elaina.


"Kau ingin bertanya apa?" tanya Elaina dengan suaranya masih sedikit serak.


"Mengapa wajah mu bisa seperti itu setelah menangis?" tanya David.


"Maksudmu?" tanya David bingung.


"Jika situasinya hanya membuatku menitikkan air mata atau biasa saja, tidak akan separah ini," ketus Elaina sambil menunjuk wajahnya sendiri dengan telunjuknya.


David terkekeh mendengar ucapan Elaina. Dia ingat kejadian kemarin sore yang memang tidak bisa dipungkiri menguras air mata. Termasuk air matanya.


"Begini saja, aku akan menyuruh sekretaris perusahaan mencari spesialis kulit atau apa pun yang bisa membuat wajah mu kembali dalam waktu kurang dari satu minggu," saran David.


"Dave!" keluh Elaina manja.


"No, bantah-bantah! Apa kau ingin kejadian sebelumnya terulang lagi? Jika iya, aku tidak yakin bisa menahan diri," goda David sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Ok. Aku setuju. Tapi aku ingin kedua saudaraku hadir meskipun pernikahan sederhana. Mereka tidak mungkin bisa hadir dalam waktu dekat," rengek Elaina.


Ya ampun, aku lupa dengan kedua adiknya. Untung saja Elaina mengingatkanku. David bermonolog di dalam hati.


"Aku bisa mengurusnya nanti," jawab David.


"Tidak! Aku tidak ingin mereka bolos sekolah," ujar Elaina.


David diam dan berpikir sejenak.


"Tentu saja tidak. Mereka tidak akan bolos sekolah," ucap David sambil tersenyum.

__ADS_1


"Apa yang kau rencanakan?" tanya Elaina curiga.


"Tidak menaruh curiga pada suami sendiri," goda David.


"Calon, Dave. Calon suami," balas Elaina.


"Ok. Jika begitu keputusan kalian. Aku dan bibi mu akan selalu mendukung kalian," ucap Jeff sambil tersenyum.


"Theo, mulai hari ini kau mengurus pernikahan ku saja. Paman Dan Theo jangan mengurusi perusahaan dulu. Setelah pernikahan selesai baru kalian kembali ke perusahaan," ucap David.


"Baik tuan," jawab Theo.


"David, untuk gaun pengantin Elaina dan penata riasnya, biar bibi yang urus. Apa boleh?" tanya Rachel.


Wanita itu menawarkan dirinya untuk terjun langsung mengurusi persiapan pernikahan David dan Elaina.


"Aku sangat berterima kasih, bibi. Sangat bersyukur kalian mau pindah ke sini," ujar David.


"Hah! Sejak kapan kau bisa mengucapkan kalimat baik?" tanya Rachel terkejut.


"Hahaha. Bibi ada-ada saja. Sejak ak ..." ucapannya terpotong.


David hampir saja keceplosan mengatakan bahwa dia bisa bersyukur sejak hidup kembali. Jika dia sampai mengatakan hal seperti itu, dapat dipastikan dia membuat sebuah lelucon. Dia sudah pasti akan ditertawakan.


"Sejak apa?" desak Rachel.


Semua yang berada di sana menanti jawaban David. Beberapa maid yang berdiri tidak jauh di dekat meja makan juga menanti ucapan David selanjutnya.


Hanya Elaina yang bersikap biasa saja. Di saat semua orang diam dan menantikan jawaban David, Elaina justru sibuk mengisi perutnya dengan berbagai makanan yang tersaji di atas meja.


Suara dentingan sendok dan suara seseorang yang sedang minum terdengar menggema di seluruh ruang makan. Gadis itu menyantap semua makanan tanpa dosa.


Tadi malam, dia tidak memiliki nafsu untuk makan karena David membuatnya kesal. Insiden mandi bersama di kamar mandi hotel kemarin sore membuat Elaina hampir kehilangan kesuciannya.


Saat dia pasrah dengan keadaan. David dengan mudahnya menghentikan permainan panasnya. Sekarang dia tahu bagaimana rasanya di saat sedang tinggi, tiba-tiba terjun bebas ke tingkat paling bawah, rasanya sangat fantastis kesalnya.


Pagi ini, sedang enaknya dia menikmati sarapan pagi, David membuat sebuah drama yang berhasil membuatnya terkejut sampai tersedak. Jadi, saat ini yang ada di dalam pikiran Elaina adalah menikmati kembali sarapan paginya. Lagipula dia sudah mengutarakan semua isi hatinya.


"Sayang!" seru David.


Bersambung ...


* * *


Advertisement


Hai my lovely readers! Aku ada karya yang recommended banget loh. Yuks mampir!


...MUTIARA TERABAIKAN UNTUK ADAM...


...(Julia Fajar)...

__ADS_1



__ADS_2