336 Hours

336 Hours
Bab 40. Persiapan


__ADS_3

"Selamat atas pernikahan kalian," ucap Brigita sambil tersenyum.


"Kau cantik sekali! Pantas saja David tidak mau jauh darimu," seru Bree sambil tersenyum pada Elaina.


"Terima kasih," jawab Elaina tersipu.


"Hai, Bro! Selamat atas pernikahan kalian. Halo adik kecil!" seru Brayan.


Bricia yang berdiri di belakang adik bungsunya itu langsung mencubit punggungnya. Bree menginjak kaki David dengan ujung heel, dan Brigita menatap tajam pada Brayan.


Elaina sempat terkejut mendengar Brayan berkata seperti itu. David yang melihat air muka Elaina berubah, segera berujar.


"Jangan mentang-mentang tubuh istriku mungil seenaknya saja kau menyebutnya adik!" ucap David sambil merangkul Elaina dengan sebelah tangannya.


"Hehehe. Maaf, aku terbawa suasana!" ucap Brayan.


"Perkenalkan ini istriku, Elaina," ujar David pada four B.


"Aku Brigita. Senang bertemu dan berkenalan denganmu!" ucap Brigita sambil menyalami Elaina dan memeluk hangat tubuh Elaina.


"Senang bertemu denganmu, kak Brigita," jawab Elaina.


Mata Brigita sempat memanas karena terharu dipanggil dengan sebutan kakak oleh Elaina.


Brigita segera mengurai pelukannya saat Bricia menyela pelukan mereka.


"Aku Bricia. Kau benar-benar cantik seperti ..." ucapan Bricia terpotong.


Elaina menekuk alis menanti lanjutan kalimat gadis yang baru saja memperkenalkan dirinya.


"Kau seperti bidadari. Wow!" seru Bricia.


Hampir saja di kelepasan bicara. Dia hendak mengatakan bahwa Elaina sangat mirip dengan mendiang ibu kandungnya.


Bree dan Brayan sempat tegang mendengar ucapan Bricia. Khawatir jika Bricia terlepas ucapan seperti yang dilakukan Brayan tanpa sengaja tadi.


"Ah, tidak. Jangan berbicara seperti itu! Kak Bricia juga cantik," ucap Elaina sambil menatap gadis yang mirip dengan Bricia.


Gadis itu berdiri di samping seorang pemuda yang menurut Elaina, tampan. Elaina yakin jika mereka kembar. Bree merasa bahwa Elaina menatap dirinya penasaran sehingga dia maju ke depan dan memperkenalkan diri.


"Hai, aku Bree. Adik kembar dari Brixi," ucap Bree.


"Bricia, Bree!" ketus Elaina.


"Namamu kepanjangan," jawab Bree asal.

__ADS_1


"Ish, itu!" ketus Bricia.


Elaina tertawa melihat tingkah gadis kembar di depannya. Kembar selalu menjadi daya tarik bagi Elaina. Bahkan, dia bercita-cita ingin memiliki anak kembar.


"Senang bisa berkenalan dengan kalian berdua. Aku Elaina," jawab Elaina sambil tersenyum.


"Hei! Apa aku tidak di beri kesempatan untuk berkenalan dengan gadis cantik ini!" seru Brayan.


Elaina terkesiap dengan penampilan Brayan. Warna rambutnya hampir sama dengan warna rambut asli Elaina, cokelat tua. Wajahnya juga tampan. Tentu saja tampan, dia laki-laki sendiri di antara ketiga saudarinya.


"Aku Brayan," ucap Brayan sambil mengulurkan tangan.


"Elaina," jawab Elaina hendak membalas uluran tangan Brayan.


David menghentikan tangan Elaina. Gadis itu menatap bingung pada suaminya.


"Rule number two. Tidak boleh bersentuhan dengan pria lain!" bisik David.


"Ish, kau itu!" seru Elaina.


"Bukannya aku ..." protes David.


Lagi-lagi Elaina menangkap kalimat yang terpotong dari empat bersaudara itu. Keluarga yang aneh. Mungkin berbicara sepotong-sepotong adalah ciri khas mereka. Ucap Elaina dalam hati.


Kali ini Elaina tidak ambil pusing karena ini sudah ketiga kalinya mereka berbicara terpotong terus.


"Terima kasih sudah bersedia menghadiri pesta pernikahan kami," ucap David.


"Sampai jumpa, Elaina," ucap Bree sambil memeluk pelan Elaina.


"Sampai jumpa," balas Elaina.


Di dalam kamar hotel.


Elaina berjalan mondar-mandir di dalam kamar mandi. Kamar mandi kamar VVIP di hotel ini memang sangat berkelas. Jangankan mondar-mandir untuk lomba lari anak-anak lima tahun saja sangat memungkinkan.


Gadis itu tahu, hal seperti ini pasti akan terjadi. Padahal sebelumnya dia sudah melewati beberapa adegan panas dengan David. Tapi kali ini justru berbeda. Mungkin karena Elaina sudah tahu akan melakukan aktivitas malam bersama David.


Berbeda dengan sebelumnya yang tidak terduga. Eliana dapat mengikuti alur permainan David. Sekarang saja, saat dia membayangkan akan tidur di ranjang yang sama dengan David, Elaina merasa sangat canggung.


"Aaa ... bagaimana ini!" Elaina berteriak frustasi.


Bersyukur saat ini David belum kembali ke kamar mereka. Dia ditahan oleh paman Jeff dan beberapa kerabat untuk minum bersama sehingga Elaina memiliki banyak waktu untuk mempersiapkan diri.


Elaina duduk diatas closet yang tertutup. Dia berpikir keras bagaimana cara melakukannya? Apa yang harus dilakukan pertama kali? Apa perlu pemanasan terlebih dahulu agar tidak terjadi cedera otot?

__ADS_1


"Ya, pemanasan!" teriak Elaina sambil berdiri.


Dia melepas gaun pengantin hingga meninggalkan pakaian dalam miliknya. Elaina segera melepas seluruh penutup tubuh hingga polos. Dia membersihkan sisa make up dan kemudian membersihkan diri.


Berhubung kamar mandi memiliki fasilitas yang lengkap, Elaina dengan senang hati mencuci rambutnya. Dia tidak suka jika tidur dalam keadaan rambut basah.


Elaina kemudian mengeringkan rambut dengan hair dryer. Benda modern satu ini selalu ada di rumahnya dulu. Tapi, dia jarang menggunakannya jika tidak terdesak, seperti saat ini.


Setengah jam kemudian, Elaina selesai dengan urusan pribadinya. Seperti kebanyakan wanita pada malam pertama, pasti akan mengenakan pakaian sexy untuk suami. Begitu pula dengan Elaina. Namun, dia tidak mengira jika lemari pakaian hampir penuh dengan lingerie. Dari sekian banyak lingerie, hanya ada tiga dress yang bisa dipakai. Untuk situasi saat ini, sangat tidak mungkin mengenakan dress.


"Huh, ini sih sudah direncanakan," keluh Elaina.


Dia memang berniat memberikan segalanya pada David malam ini. Tapi, setelah melihat isi lemari, dia jadi merasa dicurangi oleh David.


Dengan terpaksa Elaina mengenakan lingerie yang menurutnya sangat kekurangan bahan. Tidak ada satu pun lingerie yang kelebihan bahan sedikit.


"Jika potongannya tidak begini. Bukan lingerie juga sih namanya," ucap Elaina sambil mengangkat lingerie hitam pilihannya dan membolak-balik lingerie itu ke depan dan belakang.


Elaina mengenakan lingerie hitam. Setelah itu, dia melangkahkan kakinya menuju cermin besar di samping lemari pakaian. Dia terkejut saat melihat penampilannya sendiri.


"Aaa ...!" Elaina berteriak kencang.


Gadis yang di lihat nya di dalam cermin memang cantik. Tapi pakaian kurang bahannya membuat dia berteriak histeris. Semua bagian vitalnya terlihat samar saat mengenakan lingerie itu. Dia yakin seratus persen, jika David melihatnya seperti ini pasti akan langsung di makan. Elaina menggelengkan kepala.


"Tidak, tidak. Aku tidak akan mengenakan ini!" seru Elaina sendiri.


Dia segera menuju lemari. Mencari lingerie yang lebih normal daripada yang dikenakannya saat ini. Baru saja dua memilah beberapa lingerie. Bel kamar berbunyi berkali-kali.


"Aduh! Siapa yang datang di waktu yang tidak tepat begini?" seru Elaina.


Dia bergegas mengambil jubah mandi yang tadi di taruh asal di atas kasur. Elaina tidak ingin asal membuka pintu. Dia mengintip melalui lubang intip.


Elaina merasa lega karena pria yang berdiri tegap di depan pintu kamar adalah David. Dia segera membuka pintu. David masuk dengan langkah sedikit gontai. Meski begitu, dia masih saja bisa mengamati tubuh Elaina dari atas hingga ke bawah.


Elaina merasa canggung saat di tatap seperti itu. Dia membetulkan letak jubah mandi agar tidak menampilkan tubuh sexy nya. Seringai terbentuk di sudut bibir David. Elaina yang menangkap seringai David berusaha lari.


Bersambung . . .


* * *


Advertisement


Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recomended banget loh. Yukss mampir!


...APA SALAHKU TUAN?...

__ADS_1


...(Muda Anna)...



__ADS_2