336 Hours

336 Hours
Bab 71.


__ADS_3

"David!" Brayan berteriak sambil mengulurkan tangannya. David segera meraih tangan Brayan dengan Elaina yang berada di dalam pelukannya. "Pegangan!" perintah Brayan.


Brayan berlari tanpa ancang-ancang. Bukan jejak tapak kaki yang ditinggalkan pemuda itu. Melainkan angin yang cukup kencang hingga membuat beberapa perabotan ringan beterbangan.


Dalam hitungan tidak sampai dua menit, mereka sudah tiba di mansion David. "Sebaiknya aku segera kembali," ucap Brayan sambil menyampingkan tumbuhnya. "Dave! Jaga Elaina!" perintah Brayan sebelum meninggalkan David dan Elaina di ruang kerja David.


Brayan langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari David. Pria bertubuh atletis itu hanya bisa menghela napas. Kemudian dia beralih menatap Elaina.


"Apa masih sakit?" David meraih lengan kiri Elaina. Dia melihat tidak ada bekas luka di sana. David mengusap pelan lengan kiri Elaina.


"Tidak. Ayah menyembuhkan aku dengan baik." Elaina menjawab tanpa ragu.


David merapikan rambut Elaina dan mengusapnya berkali-kali. Seolah dia merekam setiap momen yang sedang dia lakukan saat ini.


"Kau kenapa Dave?" Elaina menatap wajah suaminya dengan penuh kasih. Tersirat raut kesedihan di wajah suaminya.


"Nope (tidak)," jawab David sambil menyisipkan rambut Elaina ke belakang telinga.


"Kau bohong!" Elaina kesal suami tampannya itu berbohong padanya.

__ADS_1


"Aku hanya ingin menikmati momen di setiap detik denganmu." David mengangkat dagu Elaina lembut. Dia tersenyum, kemudian menyatukan bi bir mereka dengan lembut.


Sentuhan yang sudah lama Elaina rindukan membuat gadis itu tidak bisa menahan keinginannya. Elaina membalas setiap sentuhan yang diberikan David.


"Sayang," ucap David mengurai pelukan.


"Ya," Elaina menawan sambil menarik napas menahan keinginannya yang hampir me le dak.


"Apa kau ingin pindah ke kamar atau tetap di sini?" David bertanya dengan suara serak. Dia berusaha menahan h a s r a t n y a yang hampir tak terbendung. Namun, David tetap ingin memberi kenyamanan untuk Elaina.


Elaina menarik napas dalam. T u b u h n y a sudah menginginkan lebih. "Bawa aku ke kamar sekarang!" perintah Elaina pada David dengan tegas sambil menahan geram.


Tanpa aba-aba David langsung menggendong Elaina menuju kamar sambil menyatukan kembali b i b i r mereka.


Sesampainya di kamar, David merebahkan t u b u h Elaina perlahan di atas kasur kebesaran mereka. David tidak bisa menahan lagi keinginannya saat melihat wajah Elaina yang merona dan ekspresinya yang membuat David ingin memakannya.


Tanpa aba-aba, David melepas seluruh pakaian yang melekat di tubuh Elaina. Mereka melampiaskan h a s r a t yang telah mereka tahan selama beberapa Minggu terakhir.


Keesokan sore, Elaina terbangun di dalam pelukan David. Dia mengangkat kepala dan menatap wajah tampan suaminya. Suami. Elaina berkata dalam hati. Dia mengulang kata itu berkali-kali dalam hati. Tanpa Elaina sadari, air mata mengalir turun di sudut mata. Kata suami membuat Elaina takjub. Dia memiliki seorang yang mencintai dan melindunginya dengan sepenuh hati.

__ADS_1


Bayangan akan perpisahan menari-nari di pikiran Elaina. Itulah yang membuatnya sedih. "Bagaimana akhir dari pertempuran ini?" Elaina bergumam sambil mem be lai lembut wajah David.


"Hey!" ucap David lembut sambil memeluk Elaina lebih erat.


"Jangan menangis, please!" bujuk David sambil memeluk erat tubuh istrinya.


"Siapa yang bilang aku menangis?" Elaina sengaja menyangkal.


"Hahaha, kau lucu sekali!" David tertawa sambil memeluk Elaina. Namun, bertolak belakang dengan perasaan yang dia rasakan saat ini. Wajahnya bisa mengukir senyuman dan mengeluarkan suara tawa. Tapi, hatinya perih memikirkan perpisahan. Jika saja dia disandingkan dengan Elaina dalam lomba menangis. Sudah pasti dia pemenangnya.


"Sebaiknya kita turun!" goda David saat mendengar cacing di perut Elaina sudah berdemo. Wajar saja saat ini Elaina kelaparan. Mereka tidur hampir sepanjang hari.


"Ok," jawab Elaina sambil menahan tawa. Dia perlahan menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dan David.


Akan tetapi, Sesuatu memasuki kamar mereka saat Elaina membuka selimut. Untung saja David dengan sigap menutup tubuh Elaina kembali dengan selimut.


Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended banget loh! Yukss mampir ...


Judul: Jerat Hasrat Kakak Ipar

__ADS_1


Penulis: Lady Mermad



__ADS_2