
David membuka pintu kamar dengan hati-hati. Dia melangkahkan kaki agar si pemilik tempat tidur tidak terbangun. Selimut yang menutupi tubuh istrinya merosot ke bawah. David meraih selimut dan menyelimuti tubuh Elaina hingga leher.
Ditatapnya wajah Elaina. Sudah tidak ada lagi jejak sembab di sana. Wajah Elaina saat tidur membuat nyaman hati David. Pria atletis itu memandangi wajah istrinya cukup lama. Dia ingin relung kerinduannya terisi penuh saat kembali ke ruang kerja.
"Apa yang harus aku lakukan?" David bertanya pada Elaina yang tertidur.
Keheningan kembali menghampiri untuk beberapa saat hingga David menjatuhkan dirinya ke lantai di samping tempat tidur. Pertahanan pria itu runtuh. David menangis tanpa peduli siapa dirinya.
Air mata Elaina tumpah. Selama ini dia selalu terbangun saat David membuka pintu kamar. Seperti ada aliran listrik yang menggetarkan hatinya untuk terjaga.
Setelah melewati delapan hari yang panjang. Elaina yakin jika David tulus mencintainya. Mungkin ini semua adalah takdir. Elaina menjulurkan tangan kanannya. Dia berniat untuk membelai rambut David. Namun, belum jejak jemarinya di sana, suaminya sudah bangkit.
Elaina mengurungkan niat dan kembali memejamkan mata. David tidak lagi menatap Elaina. Pria atletis itu segera berjalan keluar kamar dengan langkah tergesa.
Setelah pintu kamar tertutup. Elaina langsung membuka mata. Kantuk yang menderanya telah hilang total. Ingin menyusul David, tapi dia tidak tahu ke mana perginya. Akhirnya, Elaina memutuskan pergi ke balkon.
Angin malam ini tidak begitu kencang. Bintang-bintang tertutup awan. Elaina belum pernah melihat fenomena alam yang seperti ini. Awan gelap berarak sangat cepat. Akan tetapi, angin tidak bertiup kencang. Elaina dapat melihat kilat yang saling menyambar namun tanpa suara.
Kebingungan Elaina terhenti saat mendengar suara pintu kamar yang di buka dengan keras. Dia segera membalikkan tubuh saat pintu terbuka. Tidak ada seorang pun yang masuk.
Ketakutan mulai menyerang Elaina. Pintu seberat itu bagaimana mungkin sangat mudah di dobrak. Dia memberanikan diri untuk melihat. Elaina berjalan perlahan ke arah pintu.
"Dave!" teriak Elaina. "Apa itu kau?" tanya Elaina sambil berjalan.
Angin yang dari arah balkon bertiup sangat kencang. Membuat benda ringan di dalam kamar melayang. Perubahan ekstrim ini membuat Elaina semakin takut.
"Dave!" teriak Elaina dengan suara bergetar takut.
Elaina melihat ke sekeliling mencari sesuatu yang bisa dijadikan sebagai alat untuk melindungi diri. Namun, tidak ada satu pun alat yang dapat dijadikan alat untuk melindungi diri.
__ADS_1
Hantu. Apa mungkin hantu? Elaina bermonolog di dalam hati. Sekujur tubuhnya merinding saat kata itu menggema di kepalanya.
"Aaa!" teriak Elaina.
Dia langsung berlari ke atas tempat tidur dan langsung membungkus diri dengan selimut. Tubuhnya bergetar hebat saat sadar jika itu bisa jadi perbuatan hantu.
Di sisi lain, David yang melihat Elaina ketakutan setengah mati melalui visual yang ditampilkan oleh Bree hanya bisa mencengkram kursi dengan kuat hingga kukunya memutih. Dia harus bersabar saat ini. Semuanya demi Elaina.
Beberapa saat yang lalu, David terduduk di samping tempat tidur Elaina. Setelah beberapa saat, ponselnya bergetar. Dia meraih ponsel di dalam saku celana dan menyentuh layar ponsel.
Sebuah pesan masuk dari Brigita. David segera membuka pesan. Pesan dari Brigita membuat David terkejut. Dia segera beranjak meninggalkan kamar tanpa melihat Elaina.
Empat saudara B telah menunggunya di ruang kerja. Bree menampilkan visual dalam bentuk nyata keadaan kota saat ini. Bahkan, kekuatan dibaliknya.
"Jangan pernah meninggalkan ruangan ini apa pun yang terjadi!" perintah Brigita.
Brigita, Bricia, dan Brayan mengambil posisi mereka masing-masing. Dalam hitungan detik masing-masing dari mereka mengeluarkan aura dengan warna berbeda. David tidak ingin berlama-lama memperhatikan yang dilakukan mereka.
David dapat melihat dengan jelas wajah ketakutan Elaina. Dia ingin berlari kembali ke kamar. Bree segera memberinya kode melalui matanya yang menatap tajam pada David agar tetap diam di tempat.
Pertahanan David hampir runtuh saat Elaina memanggil namanya berkali-kali. Dia mencengkram kepala.kursindnegan kuat. Dia harus bersabar sedikit lagi.
Insting David mengatakan jika dia beranjak sekarang, dia pasti akan mengacaukan sesuatu yang dia sendiri tidak tahu menahu. Satu hal yang sangat diyakininya yaitu sesuatu itu pasti akan melindungi Elaina-nya.
David melihat Elaina berlari ke atas tempat tidur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Setidaknya itu lebih baik. David tersenyum saat melihat tingkah Elaina. Dari caranya berlari, pasti dia pikir yang dihadapinya adalah hantu.
Beberapa saat kemudian pintu kamar tertutup. Tubuh Elaina yang meringkuk di atas kasur terlihat rileks seperti orang yang sedang tidur.
"Sst! Nanti!" seru Brayan sambil mengeluarkan serbuk dari tangan dan meniupkan nya ke arah visual.
__ADS_1
"Apa yang dia berikan?" tanya David pada Brigita.
"Itu adalah serbuk mimpi. Elaina tertidur, jadi besok pagi dia akan berpikir jika itu adalah mimpi.
"Bagaimana bisa jadi secepat ini? Bukannya tadi terakhir kali Brayan mengecek keadaan, semuanya baik-baik saja dan bisa diatasi. Mengapa sekarang berubah?" tanah David.
"Mereka menggunakan sihir hitam. Keberadaan Elaina hampir ketahuan. Untung saja, kami tiba tepat waktu sehingga memiliki waktu untuk menyamarkan kekuatan Elaina. Untung saja tadi Elaina bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan kekuatannya. Jika iya, kita benar-benar hanya tinggal nama saja," jelas Brayan.
"Tenang saja. Mereka hanya mengecek satu persatu mansion yang berada di lingkungan sekitarmu," Bree menimpali ucapan Brayan setelah memutus gambar visual.
"Kami harus segera pergi," ucap Brayan.
"Secepat ini! Dengar! Apa kalian tidak merasa berhutang penjelasan padaku?" tanya David berusaha menahan emosi.
"Tugas kami saat ini lebih besar. Sedikit saja lengah, semuanya menjadi debu. Tidak akan ada gunanya," jelas Bree.
"Aku bingung dengan keadaan saat ini. Setidaknya beri aku sedikit penjelasan agar tidak kebingungan seperti ini," tuntut David.
"Penjelasan memakan banyak waktu, bro. Lakukan saja seperti yang kami katakan. Kau bisa sambil menganalisa keadaan. Untuk saat ini, selama tiga hari kau harus menghindar dari Elaina. Termasuk menemuinya saat tengah malam!" perintah Bricia.
"Kami harus pergi sekarang. Ingatlah pesan Brixie!" seru Bree.
"Bricia!" ucap Bricia membenarkan saudara kembarnya.
Belum sempat David berucap lagi, ke empat saudara itu sudah pergi dari hadapan David. Mereka berlari sangat cepat karena di bantu oleh Brayan.
David duduk di kursi kebesarannya. Dia berusaha mengumpulkan beberapa potong gambar yang sudah terekam jelas di kepalanya.
Bersambung . . .
__ADS_1
Hai my lovely readers! Aku ada novel yang recommended banget loh! Yukss mampir